Program Studi Agama Lintas Budaya, Sekolah Pascasarjana, Universitas Gadjah Mada (UGM) menorehkan prestasi internasional dengan meraih akreditasi dari Foundation for International Business Administration Accreditation (FIBAA) pada level tertinggi: Premium Quality Seal. Pengakuan tersebut menempatkan program studi yang populer dengan nama Center for Religious and Cross-cultural Studies (CRCS) UGM ini di jajaran program unggulan dunia, terutama dalam studi agama dan lintas budaya.
FIBAA, lembaga akreditasi berbasis di Bonn, Jerman, dikenal dengan standar penilaian ketat yang meliputi mutu akademik, tata kelola, hingga relevansi sosial sebuah program. Sejak berdiri, FIBAA telah menerbitkan lebih dari 2.500 sertifikat Quality Seal untuk program studi di berbagai negara. Namun, Premium Seal hanya diberikan kepada program yang dinilai melampaui standar dan jumlahnya sangat terbatas. Pada tahun 2022, menurut laporan Hochschule Coburg, hanya sekitar 20 program di dunia yang menyandang predikat tersebut.
Kepala Program Studi CRCS UGM, Samsul Maarif, menegaskan keberhasilan ini adalah buah dari infrastruktur administrasi yang solid dan bangunan kerja sama semua anggota tim: dari staf administrasi, dosen, mahasiswa, alumni, hingga mitra. “Capaian ini adalah salah satu modal utama untuk bersaing di planet pendidikan secara lebih bermakna,” ujarnya. Keberhasilan ini juga tidak lepas dari peran strategis Sekolah Pascasarjana UGM yang telah memberikan dukungan kelembagaan selama proses akreditasi. Sinergi dengan jajaran pimpinan Sekolah Pascasarjana turut memperkuat posisi CRCS UGM sebagai salah satu pusat kajian agama lintas budaya di tingkat nasional maupun internasional.
Dalam laporan akreditasi, FIBAA menilai program Magister Agama dan Lintas Budaya melampaui standar kualitas pada 27 kategori penilaian, dengan tiga di antaranya sangat menonjol yaitu: pemikiran interdisipliner, dosen tamu, serta materi internasional dan aspek antarbudaya. Reputasi global CRCS ini juga diperkuat oleh kemitraan akademik dengan berbagai universitas global, seperti program student exchange dengan Paris Lodron Universitas Salzburg, joint class dengan Florida International University, hingga menjadi bagian dalam Crossculture Religious Studies Program dengan 5 universitas lain di Eropa, Asia, dan Afrika.
Di samping itu, CRCS UGM juga berkontribusi pada diskursus kebijakan publik di Indonesia terkait kebebasan beragama atau berkeyakinan dan kewargaan yang inklusif. ”Dengan status premium tersebut, CRCS dituntut untuk makin aktif melintasi batas, membangun jembatan keilmuan, kemanusiaan dan keadilan, untuk milestone-milestone berikutnya, seturut dengan visi dan misi program studi, fakultas, dan universitas,” pungkas dosen yang akrab dipanggil Anchu ini.
Dengan predikat Premium Seal ini, CRCS UGM tidak hanya memperkuat reputasi UGM sebagai kampus riset kelas dunia, tetapi juga menegaskan bahwa kajian agama dan lintas budaya dari Indonesia memiliki daya saing global.