• Tentang UGM
  • Portal Akademik
  • Pusat TI
  • Perpustakaan
  • Penelitian
Universitas Gadjah Mada
  • About Us
    • About CRCS
    • Vision & Mission
    • People
      • Faculty Members and Lecturers
      • Staff Members
      • Students
      • Alumni
    • Facilities
    • Library
  • Master’s Program
    • Overview
    • Curriculum
    • Courses
    • Schedule
    • Admission
    • Scholarship
    • Accreditation and Certification
    • Academic Collaborations
      • Crossculture Religious Studies Summer School
      • Florida International University
    • Academic Documents
    • Student Satisfaction Survey
  • Article
    • Perspective
    • Book Review
    • Event Report
    • Class Journal
    • Interview
    • Wed Forum Report
    • Thesis Review
    • News
  • Publication
    • Reports
    • Books
    • Newsletter
    • Monthly Update
    • Infographic
  • Research
    • CRCS Researchs
    • Resource Center
  • Community Engagement
    • Film
      • Indonesian Pluralities
      • Our Land is the Sea
    • Wednesday Forum
    • ICIR
    • Amerta Movement
  • Beranda
  • Cerita Alumni
  • Cross-culture sebagai Metode Kajian Agama dan Spiritualitas

Cross-culture sebagai Metode Kajian Agama dan Spiritualitas

  • Cerita Alumni
  • 5 May 2025, 14.38
  • Oleh: crcs ugm
  • 0

Ini mungkin hanya narasi kecil dari narasi besar gagasan pembelajaran ala CRCS UGM.

Pengajaran agama dalam kurikulum pendidikan nasional Indonesia telah diterapkan sejak level pendidikan usia dini. Lembaga pendidikan dasar hingga menengah atas berbasis keagamaan, khususnya di perkotaan, menjadi plihan utama bagi para orang tua dalam menyekolahkan anak-anaknya. Pengetahuan dan pemahaman agama diyakini dapat menjadi modal penting bagi pengembangan karakter, moral, dan iman sebagai bekal kehidupan di masa depan. Meskipun sebagian besar sekolah berbasis keagamaan relatif lebih mahal dan eksklusif dibanding sekolah negeri yang mendapat subsidi negara dan inklusif. Namun, hal itu tetap dipandang sebagai alternatif yang lebih baik, tentu dengan merujuk alasan-alasan lain mengapa itu menjadi pilihan para orang tua.

Di level pendidikan tinggi, pendidikan agama merupakan mata kuliah wajib yang diamanatkan oleh Undang-Undang No 12 tahun 2012 tentang Pendidikan Tinggi pasal 35 (3), bersama dengan pendidikan Pancasila & Kewarganegaran, dan Bahasa Indonesia. Dalam praktiknya, perguruan tinggi negeri dan sebagian besar swasta menerapkan mata kuliah agama partikular berdasar latar belakang agama mahasiswa.

Namun, sebagian lain perguruan tinggi swasta mengembangkan mata kuliah agama sebagai bagian dari pengembangan karakter dengan mengintegrasikan mahasiswa dari semua latar belakang agama dan kepercayaan dalam satu kelas. Secara metodologis, cara ini menggunakan berbagai pendekatan ilmiah seperti sosiologis, antropologis, filosofis-metafisis, dan pendekatan praktikal guna mengejawantahkan substansi agama atau kepercayaan yang diyakini sebagai pembawa ajaran kesucian dan moral dan spiritual. Secara ekonomis, cara ini cukup mengurangi beban finansial bagi perguruan tinggi swasta karena tidak harus merekrut dosen tetap untuk mengajar agama-agama tertentu sesuai dengan agama yang dianut mahasiswa, sehingga hanya merekrut dosen berkualifikasi tertentu yang sudah memiliki nomor induk (NIDN) sebagai tenaga pengajar paruh waktu.

Dalam situasi seperti ini, alumni CRCS memiliki kualifikasi untuk dapat  mengembangkan ruang pembelajaran agama dengan multipendekatan di perguruan tinggi sekaligus dapat menjadi peluang untuk berkiprah sebagai tenaga akademik (dosen). Pengalaman saya di area Jakarta, Tangerang, Tangerang Selatan dan sekitarnya, beberapa perguruan tinggi swasta dengan cukup antusias menerima model pengembangan mata kuliah agama yang terintegrasi ini dengan menggunakan nama mata kuliah berbeda menyesuaikan visi dan misi perguruan tinggi masing-masing seperti agama atau pendidikan agama. Sebuah perguruan tinggi swasta internasional menggunakan Ethics and Religious Philosophy sebagai subjek mata kuliah. Perlu diketahui juga, setiap perguruan tinggi swasta mengemban penanaman karakter dan nilai moral dalam visi misinya dan mata kuliah agama dipandang akan memberikan kontribusi.

Impresi mahasiswa dari model kelas agama yang terintegrasi ini cukup beragam dan bernada positif. Pada awal perkuliahan, sebagian mahasiswa merasa kaget belajar “agama” dalam satu kelas yang mengundang mahasiswa dari berbagai iman atau kepercayaan karena sejak pendidikan dasar hingga menengah terbiasa berada dalam kelas yang semuanya berlatar belakang iman atau kepercayaan yang sama. Beberapa mahasiswa merasa memiliki hambatan psikologis karena merupakan pengalaman baru, apalagi sebagian mahasiswa berasal dari sekolah yang berbasis keagamaan yang cukup eksklusif.

Bagi mahasiswa yang tengah dalam masa dan proses pengembangan diri dan pengetahuan, pendekatan ini cukup menantang. Ketika mahasiswa dihadapkan pada pendekatan dialogis lintas iman, mereka memahami akhirnya bahwa selain memiliki aspek transenden dan spiritual, agama juga punya aspek material sebagai bagian dari ekspresi kehidupan manusia (human being). Pada level kognitif, mahasiswa diberi tantangan dan didorong untuk mengkaji kasus (case studies) terkait agama dari berbagai sisi sehingga bisa memahami kasus secara menyeluruh tidak terbatas pada satu sumber dan pendekatan. Hal itu juga dapat memancing mereka untuk lebih kritis terhadap isu dan kasus yang terkait dengan agama di masyarakat.

Ketika harus melakukan tugas praktik lintas iman berupa ekskursi (kunjungan rumah ibadah di luar agamanya), sebagian merasakan beban psikologis seperti khawatir tidak diterima, takut diusir, atau dianggap menyimpang. Hal ini tak terlepas dari berbagai asumsi atau stigma bahwa dialog lintas iman dan isu-isu agama dalam konteks Indonesia masih sangat sensitif untuk dibicarakan. Berdasar kesaksian mahasiswa, situasi yang sama dirasakan juga oleh sebagian pengurus komunitas rumah ibadah yang dikunjungi. Mereka merasa khawatir, tak jarang menutup diri dan tidak memberi izin.

Namun, banyak di antara mahasiswa yang merasa mengalami transformasi diri menjadi lebih terbuka dan terinspirasi oleh pendidikan agama dengan multipendekatan ini. Seorang mahasiswa yang telah mengikuti tugas ekskursi memberikan testimoni:

“Secara akademik, kunjungan ini mengajarkan saya bahwa pemahaman terhadap agama tidak cukup hanya melalui teori. Pengalaman langsung, observasi lapangan, dan dialog dengan pemeluk agama lain memberikan sudut pandang yang lebih menyeluruh. Hal ini memperkaya pengetahuan saya sekaligus membentuk kepekaan sosial yang sangat dibutuhkan dalam kehidupan berbangsa dan bermasyarakat” (Nuno Abiyyu P., Universitas Pradita).

Ada banyak hal yang masih perlu dikembangkan agar “cross-culture” sebagai metode kajian agama bagi pendidikan agama di perguruan tinggi bisa mapan. Perlu upaya membangun kerangka sistematik menyesuaikan dengan aturan perundang-undangan, visi-misi perguruan tinggi khususnya PTS yang masing-masing ingin memiliki diferensiasi dan kekhususan yang menjadi brand atau nilai jual. Hal ini bisa diupayakan jika pihak pengelola PTS juga terbuka terhadap gagasan-gagasan transformatif dalam pendidikan yang inklusif dan universal, tidak sektarian. Model pendekatan ini pun bisa ditawarkan kepada perguruan tinggi negeri melalui lembaga-lembaga di atasnya hingga ke tingkat kementerian yang menaungi pendidikan tinggi. Ini bisa menjadi tantangan pula bagi para alumni dan CRCS untuk mengadvokasi model pendekatan ini supaya bisa menjadi alternatif yang bisa diimplementasikan di perguruan tinggi secara lebih luas.

Meskipun bisa dikatakan bahwa saya bukan mahasiswa yang menonjol saat belajar di CRCS yang kala itu masih mencari bentuk karena pada formasi awal (2001), tetapi saya menemukan sebuah konstruksi identitas metodologis yang bisa dibangun dari dan oleh CRCS yaitu lintas budaya sebagai metode mengkaji agama. Pendekatan ini cukup membantu saya dalam mengembangkan karya-karya akademik sebagai alat analisis, menyelesaikan masalah, maupun dalam melakukan advokasi kasus-kasus terkait dengan agama di masyarakat. Saya berharap CRCS terus mengembangkan metodologi ini dengan mengadopsi perkembangan kajian kontemporer serta melakukan sinergi dengan komunitas akademik global dalam bidang yang sama.

Dalam era interdisipliner dan multidisiplin, metodologi dan pendekatan ini diperlukan untuk mengurai kompeksitas masalah-masalah agama yang terkait dengan bidang lain dalam sains dan kehidupan masyarakat, atau struktur sosial, politik dan pemerintahan. Apalagi, dalam konteks Indonesia, agama akan tetap menjadi salah satu faktor determinan dalam keberlanjutaan negara ini yang sering kali menggunakan cara dan kebijakan yang kurang tepat, tidak sistematik dan holistik dalam menangani isu dan kasus terkait agama dan komunitas beragama. Khususnya ketika kebijakan dan peraturan pemerintah pusat tidak dijalankan secara konsisten pada level pemerintah daerah yang memiliki kapasitas beragam serta kepentingan lokal yang berbeda.

Tabik.

______________________

Ubed A. Syarif adalah alumni Program Studi Agama dan Lintas Budaya (CRCS), Sekolah Pascasarjana UGM, angkatan 2001. 

Tags: Cerita Alumni ubed a syarif

Leave A Comment Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Instagram

crcs_ugm

Sedang tidak baik-baik saja, kamu biasanya mencari Sedang tidak baik-baik saja, kamu biasanya mencari apa di internet?

Banyak anak muda hari ini menemukan ketenangan, nasihat, bahkan jawaban atas kegelisahan melalui media sosial, konten keagamaan, akun kesehatan mental, hingga AI chatbot. Namun, bagaimana sebenarnya pengalaman itu terjadi?
Kami sedang melakukan penelitian untuk memahami bagaimana generasi muda usia 10–24 tahun mencari informasi keagamaan maupun kesehatan mental saat menghadapi masa-masa sulit.
Jika kamu merasa topik ini dekat dengan pengalamanmu, kami mengundangmu menjadi responden.
Partisipasi bersifat sukarela dan seluruh jawaban dijaga kerahasiaannya.
Kamu bisa langsung kirim DM jawabanmu atau mau tanya-tanya dulu juga boleh.

Kami tunggu ya.
Katanja koeliah S2 itoe mahal? Eitss , djangan s Katanja  koeliah S2 itoe mahal? 
Eitss , djangan salah
Bersama keempat mahasiswa angkatan 2025, kita akan ngobrolin djoeroes-djoeroes djitoe mendapatkan beasiswa di CRCS UGM

Begitoe?
Before petroleum fueled the world, it fractured th Before petroleum fueled the world, it fractured the archipelago

The raise of the colonial petroleum industry in the Dutch East Indies was also the emergence of new spatial inequalities. Outer Java was not merely discovered as a resource zone. It was politically produced as an extractive territory through imperial concessions, colonial state-building, and global struggles over resource control.

Join us in this presentation on capitalism, oil, and the colonial fractures that continue to haunt the geography of modern Indonesia. We provide snacks and drinks, don't forget to bring your tumbler. This event is free and open to public.
M B G Satu kotak makan berisi nasi putih pulen seb M B G
Satu kotak makan berisi nasi putih pulen sebagai sumber karbohidrat utama, dimasak dari beras medium pilihan, air, sedikit garam, dan beberapa tetes minyak agar tidak cepat basi. Di sampingnya terdapat ayam semur kecap, dibuat dari potongan daging ayam, bawang merah, bawang putih, kecap manis, daun salam, lengkuas, garam, dan sedikit gula sehingga memberi asupan protein hewani yang cukup untuk pertumbuhan. Sebagai pendamping lauk utama, disediakan tempe orek manis gurih dari tempe iris tipis, bawang merah, bawang putih, cabai, kecap, dan gula merah. Tempe ini berfungsi menambah protein nabati sekaligus membuat kotak makan tampak lebih penuh, sebab protein memang sering lebih meyakinkan bila hadir rangkap dua. Untuk unsur sayuran, ada tumis wortel dan buncis yang dimasak dari wortel segar, buncis, sedikit kol, bawang putih, garam, merica, dan minyak sayur. Warna oranye-hijau pada sayur ini penting: bukan hanya untuk vitamin A dan serat, tetapi juga agar foto dokumentasi tidak terlihat terlalu pucat.Sebagai pelengkap vitamin alami, satu buah pisang atau sepotong pepaya matang diletakkan di sudut kotak. Buah dipilih yang murah, tahan banting, tidak gampang memar, dan cukup fotogenik ketika dibagikan massal. Terakhir, ditambahkan susu UHT kotak kecil berbahan susu sapi, gula, dan fortifikasi vitamin, atau kadang telur rebus utuh sebagai penutup protein tambahan.

Berbuih-buih seperti pelaksanaannya ...
Follow on Instagram

Twitter

Tweets by crcsugm

Universitas Gadjah Mada

Gedung Sekolah Pascasarjana UGM, 3rd Floor
Jl. Teknika Utara, Pogung, Yogyakarta, 55284
Email address: crcs@ugm.ac.id

 

© CRCS - Universitas Gadjah Mada

KEBIJAKAN PRIVASI/PRIVACY POLICY