• Tentang UGM
  • Portal Akademik
  • Pusat TI
  • Perpustakaan
  • Penelitian
Universitas Gadjah Mada
  • About Us
    • About CRCS
    • Vision & Mission
    • People
      • Faculty Members and Lecturers
      • Staff Members
      • Students
      • Alumni
    • Facilities
    • Library
  • Master’s Program
    • Overview
    • Curriculum
    • Courses
    • Schedule
    • Admission
    • Scholarship
    • Accreditation and Certification
    • Academic Collaborations
      • Crossculture Religious Studies Summer School
      • Florida International University
    • Academic Documents
    • Student Satisfaction Survey
  • Article
    • Perspective
    • Book Review
    • Event Report
    • Class Journal
    • Interview
    • Wed Forum Report
    • Thesis Review
    • News
  • Publication
    • Reports
    • Books
    • Newsletter
    • Monthly Update
    • Infographic
  • Research
    • CRCS Researchs
    • Resource Center
  • Community Engagement
    • Film
      • Indonesian Pluralities
      • Our Land is the Sea
    • Wednesday Forum
    • ICIR
    • Amerta Movement
  • Beranda
  • Berita Wednesday Forum
  • Evolusi dan Penciptaan dalam Dunia Muslim

Evolusi dan Penciptaan dalam Dunia Muslim

  • Berita Wednesday Forum
  • 16 September 2009, 00.00
  • Oleh:
  • 0

Pembukaan Wednesday Forum untuk semester ini ditandai dengan presentasi dari Pak Zainal Abidin Bagir yang juga direktur CRCS. Dalam forum yang dihadiri sekitar 30 peserta ini Pak Zain mempresentasikan ?Evolution and Creation in the Muslim World: Ambiguities in the Moslem World?. Argumentasi utama yang diajukan oleh Pak Zain adalah teori evolusi belumlah dianggap penting dalam agenda keagamaan di dunia, dan penentangan teori Darwin lebih ditekankan pada isu kreasionisme yang didalam kitab suci sendiri masih bersifat ambigu. Pak Zain juga mengajukan argumentasi lainnya bahwa penafsiran terhadap anti evolusionisme sekarang juga bagian dari politik identitas masyarakat. Gerakan anti evolusionisme ini menyebar di berbagai Negara dan di berbagai komunitas keagamaan Hindu, Yahudi dan Kristen di dunia, seperti di Amerika Latin, Eropa Utara, Australia, bahkan di Asia seperti Asia India, Korea, Japan, Taiwan, Sri Lanka dan Hongkong.

Anti darwinisme juga muncul di Negara-negara mayoritas Islam, seperti di Timur Tengah dan Afrika Utara. Dengan demikian gerakan anti evolusionisme telah mengglobal dengan latar belakang agama yang beragam. Referensi yang paling mencolok dan tegas menentang ide anti evolusionisme ini datang dari seorang anti Darwin dari Turki yakni Harun Yahya. Buku-buku Harun diterbutkan dalam tampilan yang mewah, dengan format bagus, kertas berkualias dan sampul yang menarik. Selain dalam bentuk bahasa Turki, buku ini juga telah diterjemahkan ke dalam bahasa Urdu, Ingris, Rusia, Perancis dan juga bahasa Indonesia. Bukan hanya dalam bentuk buku, namun pemikiran Harun Yahya ini juga dapat ditemukan di website-website berbahasa Indonesia, dan semua butir pemikirannya kemudian dikutip oleh berbagai media massa Islam di Indonesia. Selain itu, Pak Zain juga menunjukkan bahwa VCD-VCD Harun Yahya yang menyerang Darwinisme, Materialisme dan Marxisme juga terjual luas di samping jalan besar di berbagai kota di Indonesia. Persebaran ide Harun Yahya ini kemudian juga mempengaruhi pelajaran Biologi di klas-klas, dimana guru-guru sekolah menerima ide ini dan mengajarkannya dalam kelas.

Dalam pandangan Pak Zain munculnya penentangan terhadap evolusionisme ini bukan hanya terhadap terhadap kreasionisme semata, melainkan pula ide materialisme dan progresivitas evolusi yang diajukan oleh Darwin. Dan hampir semua komunitas penganut ide evolusionis adalah orang yang percaya dengan adanya linearitas sejarah dan rasionalitas pemikiran. Karena itu, penentangan terhadap evolusionisme bukan hanya permasalahan penafsiran agama, melainkan juga karena munculnya politik identitas antara kekuatan Barat dan Timur. Di samping itu, ide evolusionisme yang dibukukan oleh Darwin dalam karyanya Origins of Species, tahun 1859 merupakan wacana baru bagi mayoritas kaum Muslim sehingga belum mendapatkan tempat yang serius untuk diperbincangkan secara terbuka. Mengingat ide yang masih baru, maka tak heran jika dalam literatur tafsir Al Qur?an, berbagai penafsiran yang berbeda sering saling bertentangan dan ambigu dalam menanggapi ide kreasionisme.

Dalam sesi tanya jawab, Sita, seorang alumni CRCS, mengomentari berbagai ide Darwinisme yang sebenarnya juga digunakan sebagai alat pengesah kekuatan kolonialisme yang berasumsi bahwa Negara-negara jajahan berisi masyarakat yang belum melewati tahap evolusi secara linear dan maju seperti Negara-negara di Eropa, karena itu patut untuk dicerahkan dan dididik melalui sistem kolonialisme. Menanggapi hal tersebut Pak Zain mengatakan bahwa memang benar bahwa anti ide Darwinisme lebih dikarenakan oleh politik identitas pada masyarakat. Hal ini dibuktikan olehnya dengan mengemukakan penelitian yang dilakukan oleh Scott, Miller and Okamoto (2006) yang menunjukkan bahwa penolakan terhadap Darwinisme di Eropa dan Amerika kini melonjak dua kali lebih tinggi dari sebelumnya. Hal ini menunjukkan kuatnya adanya fundamentalisme, konservatisme dan kuatnya kepercayaan individu terhadap ide keTuhanan. Hal ini dapat disimpulkan sementara bahwa ada sebuah relasi positif antara menjadi lebih relijius dengan melakukan penolakan terhadap teori evolusi. Dan kritik terhadap Darwinisme lebih dikarenakan oleh para penganut teori Darwinisme sosial yang kemudian menerapkannya dalam kolonialisme, fasisme dan terakhir adalah terorisme.

Di samping itu, terdapat seorang mahasiswi Biologi yang mengatakan bahwa di jurusannya, Biologi UGM terdapat dua kubu, baik yang percaya terhadap teori evolusi dan yang tidak sepakat dengan teori tersebut. Karena itu tak heran jika mahasiswa juga dipandu dengan dua buku dari versi yang berbeda tersebut. Menanggapi hal ini Pak Zain mengatakan bahwa meski buku Darwin sangat rasional, namun di bagian lain, buku-buku Harun Yahya menampilkan dirinya dengan kesan mudah dicerna, penuh warna dan menarik. Banyak orang yang menentang teori evolusionisme lebih didasarkan pada politik identitas dan pembacaan terhadap Harun Yahya yang mengutip berbagai ayat-ayat Al-Quran. Para penentang teori evolusionisme tidak benar-benar tahu bagaimana pemikiran Darwin yang sesungguhnya, sehingga banyak terjadi misinterpretasi terhadap teori ini, karena asumsi yang sering dikemukakan dalam menolak teori Darwin adalah bagian dari refleksi terhadap relijiusitas agama. Dan di akhir diskusi ini Pak Zain mengatakan bahwa ?anda tetap bisa menjadi seorang Muslim atau Kristen yang baik meski menerima teori evolusi?.

Presentasi ini merupakan bagian dari artikel yang tengah ditulis oleh Pak Zain dan akan diterbitkan dengan kerjasama sebuah lembaga di Australia mengenai respon dari beragam agama terhadap teori evolusionisme. Penulisan buku ini merupakan bagian dari perayaan 150 tahun buku Charles Darwin ?The Origins of Species?.

(HAK)

Leave A Comment Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Instagram

crcs_ugm

Sedang tidak baik-baik saja, kamu biasanya mencari Sedang tidak baik-baik saja, kamu biasanya mencari apa di internet?

Banyak anak muda hari ini menemukan ketenangan, nasihat, bahkan jawaban atas kegelisahan melalui media sosial, konten keagamaan, akun kesehatan mental, hingga AI chatbot. Namun, bagaimana sebenarnya pengalaman itu terjadi?
Kami sedang melakukan penelitian untuk memahami bagaimana generasi muda usia 10–24 tahun mencari informasi keagamaan maupun kesehatan mental saat menghadapi masa-masa sulit.
Jika kamu merasa topik ini dekat dengan pengalamanmu, kami mengundangmu menjadi responden.
Partisipasi bersifat sukarela dan seluruh jawaban dijaga kerahasiaannya.
Kamu bisa langsung kirim DM jawabanmu atau mau tanya-tanya dulu juga boleh.

Kami tunggu ya.
Katanja koeliah S2 itoe mahal? Eitss , djangan s Katanja  koeliah S2 itoe mahal? 
Eitss , djangan salah
Bersama keempat mahasiswa angkatan 2025, kita akan ngobrolin djoeroes-djoeroes djitoe mendapatkan beasiswa di CRCS UGM

Begitoe?
Before petroleum fueled the world, it fractured th Before petroleum fueled the world, it fractured the archipelago

The raise of the colonial petroleum industry in the Dutch East Indies was also the emergence of new spatial inequalities. Outer Java was not merely discovered as a resource zone. It was politically produced as an extractive territory through imperial concessions, colonial state-building, and global struggles over resource control.

Join us in this presentation on capitalism, oil, and the colonial fractures that continue to haunt the geography of modern Indonesia. We provide snacks and drinks, don't forget to bring your tumbler. This event is free and open to public.
M B G Satu kotak makan berisi nasi putih pulen seb M B G
Satu kotak makan berisi nasi putih pulen sebagai sumber karbohidrat utama, dimasak dari beras medium pilihan, air, sedikit garam, dan beberapa tetes minyak agar tidak cepat basi. Di sampingnya terdapat ayam semur kecap, dibuat dari potongan daging ayam, bawang merah, bawang putih, kecap manis, daun salam, lengkuas, garam, dan sedikit gula sehingga memberi asupan protein hewani yang cukup untuk pertumbuhan. Sebagai pendamping lauk utama, disediakan tempe orek manis gurih dari tempe iris tipis, bawang merah, bawang putih, cabai, kecap, dan gula merah. Tempe ini berfungsi menambah protein nabati sekaligus membuat kotak makan tampak lebih penuh, sebab protein memang sering lebih meyakinkan bila hadir rangkap dua. Untuk unsur sayuran, ada tumis wortel dan buncis yang dimasak dari wortel segar, buncis, sedikit kol, bawang putih, garam, merica, dan minyak sayur. Warna oranye-hijau pada sayur ini penting: bukan hanya untuk vitamin A dan serat, tetapi juga agar foto dokumentasi tidak terlihat terlalu pucat.Sebagai pelengkap vitamin alami, satu buah pisang atau sepotong pepaya matang diletakkan di sudut kotak. Buah dipilih yang murah, tahan banting, tidak gampang memar, dan cukup fotogenik ketika dibagikan massal. Terakhir, ditambahkan susu UHT kotak kecil berbahan susu sapi, gula, dan fortifikasi vitamin, atau kadang telur rebus utuh sebagai penutup protein tambahan.

Berbuih-buih seperti pelaksanaannya ...
Follow on Instagram

Twitter

Tweets by crcsugm

Universitas Gadjah Mada

Gedung Sekolah Pascasarjana UGM, 3rd Floor
Jl. Teknika Utara, Pogung, Yogyakarta, 55284
Email address: crcs@ugm.ac.id

 

© CRCS - Universitas Gadjah Mada

KEBIJAKAN PRIVASI/PRIVACY POLICY