• Tentang UGM
  • Portal Akademik
  • Pusat TI
  • Perpustakaan
  • Penelitian
Universitas Gadjah Mada
  • About Us
    • About CRCS
    • Vision & Mission
    • People
      • Faculty Members and Lecturers
      • Staff Members
      • Students
      • Alumni
    • Facilities
    • Library
  • Master’s Program
    • Overview
    • Curriculum
    • Courses
    • Schedule
    • Admission
    • Scholarship
    • Accreditation and Certification
    • Academic Collaborations
      • Crossculture Religious Studies Summer School
      • Florida International University
    • Academic Documents
    • Student Satisfaction Survey
  • Article
    • Perspective
    • Book Review
    • Event Report
    • Class Journal
    • Interview
    • Wed Forum Report
    • Thesis Review
    • News
  • Publication
    • Reports
    • Books
    • Newsletter
    • Monthly Update
    • Infographic
  • Research
    • CRCS Researchs
    • Resource Center
  • Community Engagement
    • Film
      • Indonesian Pluralities
      • Our Land is the Sea
    • Wednesday Forum
    • ICIR
    • Amerta Movement
  • Beranda
  • Cerita Alumni
  • Intersubjektivitas dalam Beragama

Intersubjektivitas dalam Beragama

  • Cerita Alumni
  • 22 December 2025, 14.33
  • Oleh: crcs ugm
  • 0

Nama saya Lailatin Mubarokah, teman-teman biasa memanggil saya Ten. Saya adalah bagian dari angkatan 2019 di  CRCS UGM. Saat ini, saya sedang melanjutkan perjalanan belajar dan bertumbuh bersama Yayasan Kalyanamitra, sebuah organisasi masyarakat sipil yang fokus pada isu gender dan pemenuhan hak-hak perempuan di Indonesia.

Sebelum aktif dalam isu gender, perhatian saya banyak tercurah pada persoalan keberagaman, khususnya terkait kebebasan beragama atau berkeyakinan. Pendidikan saya sebelumnya menjadi titik tolak penting yang mendorong saya untuk mengkritisi dan meninjau kembali berbagai dogma agama yang selama ini saya terima begitu saja sejak kecil. Dari sana, lahir ketertarikan saya untuk mengkaji bagaimana agama dan keberagaman bisa berdialog secara setara dan terbuka.

Penelitian saya di CRCS berfokus pada scriptural reasoning (SR), sebuah model dialog antaragama yang berbasis pada pembacaan teks suci secara bersama-sama oleh penganut berbagai agama. Penelitian ini dilandasi oleh kegelisahan atas mengapa dialog berbasis teologi semakin kurang diminati. Saya menemukan dua penyebab utamanya: pertama, kecenderungan paradigma modern yang menghindari pembicaraan teologis dalam dialog antaragama; kedua, eksklusivitas dialog teologis yang sering kali hanya dilakukan oleh para ahli, sehingga tidak menyentuh komunitas akar rumput.

Temuan saya menunjukkan bahwa SR memiliki potensi sebagai model dialog alternatif, karena ia tidak hanya memberi ruang kembali pada teks-teks suci, tetapi juga menekankan pentingnya nilai keadilan dan kesetaraan. Bagi saya, inilah kekuatan SR: ia bisa menjembatani antara kebutuhan spiritual dan realitas sosial, serta bisa diterapkan dalam konteks akar rumput, khususnya di kalangan pemuda lintas agama.

Belajar di CRCS memperluas cara pandang saya dalam melihat agama dan realitas sosial yang menyertainya. Di sana, saya belajar bahwa agama bukan hanya sumber kebaikan, melainkan  juga bisa menjadi kekuatan yang merugikan kelompok-kelompok tertentu, terutama mereka yang rentan. Saya mulai bertanya: apa yang bisa saya lakukan untuk turut menciptakan perubahan? Saya sadar bahwa masalah-masalah yang muncul akibat interpretasi dan praktik keagamaan yang eksklusif dan diskriminatif bersifat kompleks, terstruktur, sistemik, dan masif. Maka, upaya untuk menghadapinya pun harus dilakukan dengan strategi yang sama: terstruktur, sistemik, dan masif. Saya menyadari bahwa perjuangan ini tidak bisa dilakukan sendirian. Jika saya ingin melihat dunia yang lebih adil, saya harus menjadi bagian dari gerakan yang lebih besar.

Salah satu pelajaran penting yang saya dapat dari CRCS adalah soal paradigma beragama dengan pendekatan intersubjektivitas. Intersubjektivitas mengajarkan bahwa setiap makhluk manusia, alam, dan segala yang ada harus diposisikan sebagai subjek, bukan objek. Ini adalah cara berpikir yang menolak relasi kuasa sepihak, dan sebaliknya membangun hubungan yang setara dan kesalingan. Dalam konteks beragama, pendekatan ini mengajak kita untuk melihat makhluk lain bukan sebagai pihak yang harus ditaklukkan, dikasihani, atau diselamatkan; melainkan sebagai sesama subjek yang punya pengalaman spiritual, nilai-nilai, dan suara yang valid. Paradigma ini sangat berpengaruh dalam membentuk cara saya berinteraksi dengan komunitas dan kelompok marginal, terutama perempuan, dalam kerja-kerja yang saya lakukan saat ini.

Kesadaran itulah yang membawa saya untuk bergabung dengan Yayasan Kalyanamitra. Di sini saya menemukan keterhubungan antara pengetahuan akademik yang saya pelajari dan kerja-kerja nyata untuk keadilan sosial, khususnya dalam isu kesetaraan gender. Salah satu kerangka berpikir penting yang saya dapatkan dari CRCS adalah poskolonialisme. Tidak hanya sebagai refleksi atas sejarah kolonialisme Barat, poskolonialisme membantu saya memahami bagaimana dominasi bisa terus berlangsung dalam bentuk baru. Dalam perspektif ini pula saya mengenal konsep subaltern, yaitu kelompok-kelompok yang tersubordinasi dalam tatanan sosial, ekonomi, dan politik. Perspektif ini penting untuk terus saya bawa dalam kerja-kerja pemberdayaan perempuan dan komunitas akar rumput.

Di Kalyanamitra, kami bekerja melalui tiga strategi utama: pengembangan komunitas, pengelolaan pengetahuan, dan advokasi kebijakan. Ketiganya selalu berangkat dari suara dan kebutuhan komunitas, agar kebijakan yang didorong benar-benar mencerminkan realitas yang mereka hadapi. Saya merasa bersyukur bisa terlibat dalam ruang yang tidak hanya memperjuangkan kesetaraan, tetapi juga mengedepankan prinsip keadilan, keberpihakan, dan keberlanjutan.

Perjalanan saya masih panjang dan saya tahu bahwa belajar tidak pernah berhenti. Namun, saya percaya bahwa perubahan hanya bisa terjadi ketika kita tidak hanya berpikir, tetapi juga bertindak bersama.

Saya berharap CRCS terus menjadi ruang yang aman dan kritis bagi siapa pun yang ingin memahami agama secara lebih adil, reflektif, dan transformatif. Semoga CRCS juga terus menjadi penggerak dalam membangun dialog yang inklusif, menguatkan suara-suara dari pinggiran, dan menciptakan ekosistem akademik yang berpihak pada kemanusiaan. Karena dalam dunia yang kian kompleks, CRCS adalah bagian dari ruang-ruang penting untuk berpikir, merasakan, dan bergerak bersama.

______________________

Lailatin Mubarokah adalah alumni Program Studi Agama dan Lintas Budaya (CRCS), Sekolah Pascasarjana UGM, angkatan 2019. 

Tags: Cerita Alumni Lailatin Mubarokah

Leave A Comment Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Instagram

crcs_ugm

Sedang tidak baik-baik saja, kamu biasanya mencari Sedang tidak baik-baik saja, kamu biasanya mencari apa di internet?

Banyak anak muda hari ini menemukan ketenangan, nasihat, bahkan jawaban atas kegelisahan melalui media sosial, konten keagamaan, akun kesehatan mental, hingga AI chatbot. Namun, bagaimana sebenarnya pengalaman itu terjadi?
Kami sedang melakukan penelitian untuk memahami bagaimana generasi muda usia 10–24 tahun mencari informasi keagamaan maupun kesehatan mental saat menghadapi masa-masa sulit.
Jika kamu merasa topik ini dekat dengan pengalamanmu, kami mengundangmu menjadi responden.
Partisipasi bersifat sukarela dan seluruh jawaban dijaga kerahasiaannya.
Kamu bisa langsung kirim DM jawabanmu atau mau tanya-tanya dulu juga boleh.

Kami tunggu ya.
Katanja koeliah S2 itoe mahal? Eitss , djangan s Katanja  koeliah S2 itoe mahal? 
Eitss , djangan salah
Bersama keempat mahasiswa angkatan 2025, kita akan ngobrolin djoeroes-djoeroes djitoe mendapatkan beasiswa di CRCS UGM

Begitoe?
Before petroleum fueled the world, it fractured th Before petroleum fueled the world, it fractured the archipelago

The raise of the colonial petroleum industry in the Dutch East Indies was also the emergence of new spatial inequalities. Outer Java was not merely discovered as a resource zone. It was politically produced as an extractive territory through imperial concessions, colonial state-building, and global struggles over resource control.

Join us in this presentation on capitalism, oil, and the colonial fractures that continue to haunt the geography of modern Indonesia. We provide snacks and drinks, don't forget to bring your tumbler. This event is free and open to public.
M B G Satu kotak makan berisi nasi putih pulen seb M B G
Satu kotak makan berisi nasi putih pulen sebagai sumber karbohidrat utama, dimasak dari beras medium pilihan, air, sedikit garam, dan beberapa tetes minyak agar tidak cepat basi. Di sampingnya terdapat ayam semur kecap, dibuat dari potongan daging ayam, bawang merah, bawang putih, kecap manis, daun salam, lengkuas, garam, dan sedikit gula sehingga memberi asupan protein hewani yang cukup untuk pertumbuhan. Sebagai pendamping lauk utama, disediakan tempe orek manis gurih dari tempe iris tipis, bawang merah, bawang putih, cabai, kecap, dan gula merah. Tempe ini berfungsi menambah protein nabati sekaligus membuat kotak makan tampak lebih penuh, sebab protein memang sering lebih meyakinkan bila hadir rangkap dua. Untuk unsur sayuran, ada tumis wortel dan buncis yang dimasak dari wortel segar, buncis, sedikit kol, bawang putih, garam, merica, dan minyak sayur. Warna oranye-hijau pada sayur ini penting: bukan hanya untuk vitamin A dan serat, tetapi juga agar foto dokumentasi tidak terlihat terlalu pucat.Sebagai pelengkap vitamin alami, satu buah pisang atau sepotong pepaya matang diletakkan di sudut kotak. Buah dipilih yang murah, tahan banting, tidak gampang memar, dan cukup fotogenik ketika dibagikan massal. Terakhir, ditambahkan susu UHT kotak kecil berbahan susu sapi, gula, dan fortifikasi vitamin, atau kadang telur rebus utuh sebagai penutup protein tambahan.

Berbuih-buih seperti pelaksanaannya ...
Follow on Instagram

Twitter

Tweets by crcsugm

Universitas Gadjah Mada

Gedung Sekolah Pascasarjana UGM, 3rd Floor
Jl. Teknika Utara, Pogung, Yogyakarta, 55284
Email address: crcs@ugm.ac.id

 

© CRCS - Universitas Gadjah Mada

KEBIJAKAN PRIVASI/PRIVACY POLICY