Nama saya Lailatin Mubarokah, teman-teman biasa memanggil saya Ten. Saya adalah bagian dari angkatan 2019 di CRCS UGM. Saat ini, saya sedang melanjutkan perjalanan belajar dan bertumbuh bersama Yayasan Kalyanamitra, sebuah organisasi masyarakat sipil yang fokus pada isu gender dan pemenuhan hak-hak perempuan di Indonesia.
Sebelum aktif dalam isu gender, perhatian saya banyak tercurah pada persoalan keberagaman, khususnya terkait kebebasan beragama atau berkeyakinan. Pendidikan saya sebelumnya menjadi titik tolak penting yang mendorong saya untuk mengkritisi dan meninjau kembali berbagai dogma agama yang selama ini saya terima begitu saja sejak kecil. Dari sana, lahir ketertarikan saya untuk mengkaji bagaimana agama dan keberagaman bisa berdialog secara setara dan terbuka.
Penelitian saya di CRCS berfokus pada scriptural reasoning (SR), sebuah model dialog antaragama yang berbasis pada pembacaan teks suci secara bersama-sama oleh penganut berbagai agama. Penelitian ini dilandasi oleh kegelisahan atas mengapa dialog berbasis teologi semakin kurang diminati. Saya menemukan dua penyebab utamanya: pertama, kecenderungan paradigma modern yang menghindari pembicaraan teologis dalam dialog antaragama; kedua, eksklusivitas dialog teologis yang sering kali hanya dilakukan oleh para ahli, sehingga tidak menyentuh komunitas akar rumput.
Temuan saya menunjukkan bahwa SR memiliki potensi sebagai model dialog alternatif, karena ia tidak hanya memberi ruang kembali pada teks-teks suci, tetapi juga menekankan pentingnya nilai keadilan dan kesetaraan. Bagi saya, inilah kekuatan SR: ia bisa menjembatani antara kebutuhan spiritual dan realitas sosial, serta bisa diterapkan dalam konteks akar rumput, khususnya di kalangan pemuda lintas agama.
Belajar di CRCS memperluas cara pandang saya dalam melihat agama dan realitas sosial yang menyertainya. Di sana, saya belajar bahwa agama bukan hanya sumber kebaikan, melainkan juga bisa menjadi kekuatan yang merugikan kelompok-kelompok tertentu, terutama mereka yang rentan. Saya mulai bertanya: apa yang bisa saya lakukan untuk turut menciptakan perubahan? Saya sadar bahwa masalah-masalah yang muncul akibat interpretasi dan praktik keagamaan yang eksklusif dan diskriminatif bersifat kompleks, terstruktur, sistemik, dan masif. Maka, upaya untuk menghadapinya pun harus dilakukan dengan strategi yang sama: terstruktur, sistemik, dan masif. Saya menyadari bahwa perjuangan ini tidak bisa dilakukan sendirian. Jika saya ingin melihat dunia yang lebih adil, saya harus menjadi bagian dari gerakan yang lebih besar.
Salah satu pelajaran penting yang saya dapat dari CRCS adalah soal paradigma beragama dengan pendekatan intersubjektivitas. Intersubjektivitas mengajarkan bahwa setiap makhluk manusia, alam, dan segala yang ada harus diposisikan sebagai subjek, bukan objek. Ini adalah cara berpikir yang menolak relasi kuasa sepihak, dan sebaliknya membangun hubungan yang setara dan kesalingan. Dalam konteks beragama, pendekatan ini mengajak kita untuk melihat makhluk lain bukan sebagai pihak yang harus ditaklukkan, dikasihani, atau diselamatkan; melainkan sebagai sesama subjek yang punya pengalaman spiritual, nilai-nilai, dan suara yang valid. Paradigma ini sangat berpengaruh dalam membentuk cara saya berinteraksi dengan komunitas dan kelompok marginal, terutama perempuan, dalam kerja-kerja yang saya lakukan saat ini.
Kesadaran itulah yang membawa saya untuk bergabung dengan Yayasan Kalyanamitra. Di sini saya menemukan keterhubungan antara pengetahuan akademik yang saya pelajari dan kerja-kerja nyata untuk keadilan sosial, khususnya dalam isu kesetaraan gender. Salah satu kerangka berpikir penting yang saya dapatkan dari CRCS adalah poskolonialisme. Tidak hanya sebagai refleksi atas sejarah kolonialisme Barat, poskolonialisme membantu saya memahami bagaimana dominasi bisa terus berlangsung dalam bentuk baru. Dalam perspektif ini pula saya mengenal konsep subaltern, yaitu kelompok-kelompok yang tersubordinasi dalam tatanan sosial, ekonomi, dan politik. Perspektif ini penting untuk terus saya bawa dalam kerja-kerja pemberdayaan perempuan dan komunitas akar rumput.
Di Kalyanamitra, kami bekerja melalui tiga strategi utama: pengembangan komunitas, pengelolaan pengetahuan, dan advokasi kebijakan. Ketiganya selalu berangkat dari suara dan kebutuhan komunitas, agar kebijakan yang didorong benar-benar mencerminkan realitas yang mereka hadapi. Saya merasa bersyukur bisa terlibat dalam ruang yang tidak hanya memperjuangkan kesetaraan, tetapi juga mengedepankan prinsip keadilan, keberpihakan, dan keberlanjutan.
Perjalanan saya masih panjang dan saya tahu bahwa belajar tidak pernah berhenti. Namun, saya percaya bahwa perubahan hanya bisa terjadi ketika kita tidak hanya berpikir, tetapi juga bertindak bersama.
Saya berharap CRCS terus menjadi ruang yang aman dan kritis bagi siapa pun yang ingin memahami agama secara lebih adil, reflektif, dan transformatif. Semoga CRCS juga terus menjadi penggerak dalam membangun dialog yang inklusif, menguatkan suara-suara dari pinggiran, dan menciptakan ekosistem akademik yang berpihak pada kemanusiaan. Karena dalam dunia yang kian kompleks, CRCS adalah bagian dari ruang-ruang penting untuk berpikir, merasakan, dan bergerak bersama.
______________________
Lailatin Mubarokah adalah alumni Program Studi Agama dan Lintas Budaya (CRCS), Sekolah Pascasarjana UGM, angkatan 2019.