• Tentang UGM
  • Portal Akademik
  • Pusat TI
  • Perpustakaan
  • Penelitian
Universitas Gadjah Mada
  • About Us
    • About CRCS
    • Vision & Mission
    • People
      • Faculty Members and Lecturers
      • Staff Members
      • Students
      • Alumni
    • Facilities
    • Library
  • Master’s Program
    • Overview
    • Curriculum
    • Courses
    • Schedule
    • Admission
    • Scholarship
    • Accreditation and Certification
    • Academic Collaborations
      • Crossculture Religious Studies Summer School
      • Florida International University
    • Academic Documents
    • Student Satisfaction Survey
  • Article
    • Perspective
    • Book Review
    • Event Report
    • Class Journal
    • Interview
    • Wed Forum Report
    • Thesis Review
    • News
  • Publication
    • Reports
    • Books
    • Newsletter
    • Monthly Update
    • Infographic
  • Research
    • CRCS Researchs
    • Resource Center
  • Community Engagement
    • Film
      • Indonesian Pluralities
      • Our Land is the Sea
    • Wednesday Forum
    • ICIR
    • Amerta Movement
  • Beranda
  • Cerita Alumni
  • Kelahiran Ketiga

Kelahiran Ketiga

  • Cerita Alumni
  • 24 November 2025, 17.22
  • Oleh: crcs ugm
  • 0

 

Tahun 2005 di suatu siang yang terik. Seseorang datang bertamu ke rumah kami di Pamekasan, Madura. Temannya kakak dari tetangga desa. Namanya Hasan Basri. Nanti, dia akan menjadi kakak kelas saya di Center for Religious and Cross-Cultural Studies (CRCS). Mereka bercengkerama dan mengobrol asik di teras rumah. Seru sekali. Percakapan yang disatukan oleh cerita kota penuh romansa bernama Jogja. Kakak saya kuliah S-2 di UIN Sunan Kalijaga, sementara Hasan sedang kuliah di Universitas Gadjah Mada. Waktu itu saya baru beberapa minggu pulang dari Kairo, setelah merampungkan studi S-1 di Universitas Al-Azhar.

Kakak memperkenalkan Hasan sebagai mahasiswa CRCS-UGM. Kata CRCS menjadi kunci. Saya memang sedang mencari kampus untuk melanjutkan studi S-2. Hasan bercerita banyak tentang CRCS. Gaya bicaranya kalem, tapi penjelasannya sangat informatif. Salah satu yang menjadi daya tarik CRCS, bagi saya waktu itu, adalah perkuliahannya menggunakan bahasa Inggris. Saya pikir ini kesempatan  menantang. Saya sudah kuliah di negeri Arab, belajar bahasa Arab, pasti menarik untuk kuliah lanjutan di program yang berbahasa Inggris. Saya sadar tidak punya bekal bahasa Inggris  memadai; hanya lulusan pesantren salaf (yang santrinya sering mengejek bahasa Inggris sebagai bahasa munafik, sebab bacaan dan tulisannya sering tidak sama, haha) dan tak pernah kursus bahasa Inggris secara intensif.

“Syarat TOEFL-nya minimal 475,” kata Hasan. Wah, tidak mudah, pikir saya. 

Namun, saya sudah bertekad. Saya pun pergi ke Pare, Kediri. Menuju Kampung Inggris. Mengikuti kursus TOEFL secara intensif selama sebulan. Saya ambil program khusus pre-TOEFL dan TOEFL. Setelah sebulan di Pare, saya ke UGM. Ikut tes AcEPT. Alhamdulillah, dapat skor 477. Masih ingat betul angka itu, karena hanya dua poin di atas batas minimal syarat masuk ke CRCS: 475. 

Berbekal hasil tes AcEPT, saya urus berkas pendaftaran. Datanglah undangan wawancara. Langkah mengarah ke Gedung Lengkung. Sesi wawancara berbahasa Inggris menunggu. Ini wawancara pertama saya menggunakan bahasa Inggris. Sudah lupa di ruangan mana dan lantai berapa. Sepertinya lantai tiga. Deg-degan. Seingat saya, ada Pak Irwan Abdullah, Pak Mursidi, dan Nathaniel (Biasa dipanggil Net, pendamping Academic English CRCS saat itu, yang setelah lama di Indonesia memilih nama Notonegoro). 

Hasilnya? Lulus!

Di bulan-bulan awal belajar di CRCS, saya harus berjibaku dengan problem kemampuan bahasa. Saya yang tidak biasa (untuk tidak mengatakan jarang sekali) membaca buku-buku berbahasa Inggris, harus membuka-buka referensi dalam bahasa Inggris. Memahami pemikiran, teori, dan sejarah dalam bahasa Inggris. Mendengarkan penjelasan dosen berbahasa Inggris. Menulis tugas kuliah dengan bahasa Inggris. Saat itu dunia belum akrab dengan Google Translate, belum ada ChatGPT atau DeepL. Modalnya adalah kamus sejuta umat karya John M Echols (Inggris-Indonesia dan Indonesia-Inggris) yang berwarna kuning-hijau-merah dan merah-kuning-ungu. Setiap membaca satu paragraf, bisa lima hingga sepuluh kali saya membuka kamus. Sungguh masa-masa sulit yang menyenangkan!    

Di CRCS saya menemukan ruang belajar yang baru. Perkuliahan dengan metode diskusi dan dialog yang inklusif menjadi pembeda. Relasi dosen-mahasiswa lebih egaliter. Jika sebelumnya saya merasa, sebagai mahasiswa, lebih diposisikan sebagai pendengar dan dosen memberikan ceramah, di CRCS ruang diskusi dua arah lebih terbuka. Di CRCS saya dikenalkan dengan tugas-tugas lapangan dan diajari melakukan riset. Saya masih ingat, di semester pertama, kami sudah diajak ke Jatinom, menapaktilasi penelitian the Muslim Businessmen of Jatinom-nya Prof. Irwan Abdullah. Melakukan praktik wawancara, observasi singkat, dan menyusun laporan field-research berbentuk esai. Bagi saya, yang berlatar belakang studi Islam dan pesantren, semua itu adalah hal baru yang istimewa.

Saya menyebut fase akademik saya di CRCS sebagai “kelahiran ketiga”. Mendapatkan pencerahan tentang teori-teori ilmu sosial, studi agama-agama (tidak hanya Islam), dan tentu perjumpaan dengan komunitas agama lain di luar Islam. Sebagai seorang muslim yang tumbuh di pesantren, yang kemudian melanjutkan kuliah di Al-Azhar, pergaulan saya sebelumnya sangat terbatas: pada keluarga dan masyarakat santri, pelajar dan mahasiswa muslim, serta dosen-dosen yang semuanya beragama Islam. Sementara di CRCS, saya bisa duduk bersebelahan dengan teman kelas yang beragama Buddha, Kristen, dan Katolik. CRCS menjadi pintu gerbang menuju petualangan baru: secara akademik dan di luar akademik. CRCS juga yang mengenalkan saya pada jejaring akademik internasional. Memberi kesempatan ikut short course di National University of Singapore selama 3 bulan, dan kemudian ke Temple University selama satu semester. 

CRCS juga mengasah kemampuan menulis (terutama dalam bahasa Inggris) mahasiswanya. Tugas-tugas perkuliahan yang dibebankan bermuara pada peningkatan skill kepenulisan: mulai dari tugas book review mingguan yang ditulis dalam bentuk esai-esai pendek, hingga makalah/artikel di akhir semester. 

“Kelahiran kedua” saya adalah fase kuliah di Al-Azhar Kairo. Ketika sebelumnya bacaan dan kajian yang saya geluti di pesantren berkutat pada kitab kuning (Safinah, Sullam, Taqrib, Iqna’, I’anah, Tafsir Jalalayn, dan lainnya), bersinggungan dengan nama-nama imam klasik (al-Sayuthi, al-Baihaqi, Ibn Hajar, al-Nawawi, dan lainnya), di Al-Azhar saya berkenalan dengan nama-nama seperti Abdul Halim Mahmud, Mutawalli Sya’rawi, Rifa’ah Tahtawi, Jamal al-Banna, Hassan Hanafi, Abid al-Jabiri, Arkoun, Husain Mu’nis, dan sebagainya. Saya bisa membaca buku-buku semisal Naqd al-Khitab al-Dini, al-Haqiqah al-Ghaibah, Min al-Turats ila al-Tsaurah, al-Islam wa Ushul al-Hukm, dan lainnya, yang tidak saya temukan di pesantren. Buku-buku yang ditulis dengan bahasa yang sama, tetapi memuat perspektif dan pemikiran inklusif yang jauh berbeda. Al-Azhar membuka cakrawala pemikiran Islam modern yang lebih terbuka, kritis, dan progresif.

Apa yang saya pelajari di CRCS terus tumbuh dan berlanjut. Saat ini saya mendapat anugerah tugas mengajar di Program Studi Agama-Agama UIN Sunan Ampel Surabaya dan menekuni wilayah kajian yang tak pernah terpikirkan sebelumnya: agama Kristen! Saya juga mengakrabi hal ihwal hubungan antaragama. Sesekali saya menemani mahasiswa berkunjung ke gereja dan menyemangati mereka untuk juga mengenal ajaran agama, pemeluk, dan tempat ibadah selain Islam: vihara, pura, atau kelenteng. Tak jarang, kami mendiskusikan kembali nama-nama dan teori-teori yang dulu pernah dipelajari di ruang kelas CRCS. Terkadang saya tersenyum sendiri, bahwa CRCS telah mengantarkan saya “berjalan sangat jauh” dalam menekuni area studi ini: menjumpai beragam komunitas beda agama, menyelami sejarah dan ajaran agama lain, bahkan menulis buku Mengenal Tema-Tema Pokok Agama Kristen (2022) dan Kristen Madura: Agama, Identitas, dan Pergulatan Sosial (2023). 

Perjumpaan dan jejaring pembelajaran dan pertemanan selama belajar di CRCS masih terus saya rawat. Bahkan, ketika saya punya keinginan melanjutkan studi doktoral, pilihan saya tidak jauh dari CRCS. Saya berlabuh di ICRS. Tetangga dekat. Satu kantor. Di Gedung Lengkung. Mulai 2015 hingga 2019. Selama lebih dari tiga tahun itu, saya merasa kembali ke rumah. Tempat kelahiran ketiga. 

______________________

Akhmad Siddiq adalah alumni Program Studi Agama dan Lintas Budaya (CRCS), Sekolah Pascasarjana UGM, angkatan 2006. Saat ini ia menjadi salah satu staf pengajar di Program Studi Agama-Agama UIN Sunan Ampel Surabaya.

Tags: Akhmad Siddiq Cerita Alumni

Leave A Comment Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Instagram

crcs_ugm

Sedang tidak baik-baik saja, kamu biasanya mencari Sedang tidak baik-baik saja, kamu biasanya mencari apa di internet?

Banyak anak muda hari ini menemukan ketenangan, nasihat, bahkan jawaban atas kegelisahan melalui media sosial, konten keagamaan, akun kesehatan mental, hingga AI chatbot. Namun, bagaimana sebenarnya pengalaman itu terjadi?
Kami sedang melakukan penelitian untuk memahami bagaimana generasi muda usia 10–24 tahun mencari informasi keagamaan maupun kesehatan mental saat menghadapi masa-masa sulit.
Jika kamu merasa topik ini dekat dengan pengalamanmu, kami mengundangmu menjadi responden.
Partisipasi bersifat sukarela dan seluruh jawaban dijaga kerahasiaannya.
Kamu bisa langsung kirim DM jawabanmu atau mau tanya-tanya dulu juga boleh.

Kami tunggu ya.
Katanja koeliah S2 itoe mahal? Eitss , djangan s Katanja  koeliah S2 itoe mahal? 
Eitss , djangan salah
Bersama keempat mahasiswa angkatan 2025, kita akan ngobrolin djoeroes-djoeroes djitoe mendapatkan beasiswa di CRCS UGM

Begitoe?
Before petroleum fueled the world, it fractured th Before petroleum fueled the world, it fractured the archipelago

The raise of the colonial petroleum industry in the Dutch East Indies was also the emergence of new spatial inequalities. Outer Java was not merely discovered as a resource zone. It was politically produced as an extractive territory through imperial concessions, colonial state-building, and global struggles over resource control.

Join us in this presentation on capitalism, oil, and the colonial fractures that continue to haunt the geography of modern Indonesia. We provide snacks and drinks, don't forget to bring your tumbler. This event is free and open to public.
M B G Satu kotak makan berisi nasi putih pulen seb M B G
Satu kotak makan berisi nasi putih pulen sebagai sumber karbohidrat utama, dimasak dari beras medium pilihan, air, sedikit garam, dan beberapa tetes minyak agar tidak cepat basi. Di sampingnya terdapat ayam semur kecap, dibuat dari potongan daging ayam, bawang merah, bawang putih, kecap manis, daun salam, lengkuas, garam, dan sedikit gula sehingga memberi asupan protein hewani yang cukup untuk pertumbuhan. Sebagai pendamping lauk utama, disediakan tempe orek manis gurih dari tempe iris tipis, bawang merah, bawang putih, cabai, kecap, dan gula merah. Tempe ini berfungsi menambah protein nabati sekaligus membuat kotak makan tampak lebih penuh, sebab protein memang sering lebih meyakinkan bila hadir rangkap dua. Untuk unsur sayuran, ada tumis wortel dan buncis yang dimasak dari wortel segar, buncis, sedikit kol, bawang putih, garam, merica, dan minyak sayur. Warna oranye-hijau pada sayur ini penting: bukan hanya untuk vitamin A dan serat, tetapi juga agar foto dokumentasi tidak terlihat terlalu pucat.Sebagai pelengkap vitamin alami, satu buah pisang atau sepotong pepaya matang diletakkan di sudut kotak. Buah dipilih yang murah, tahan banting, tidak gampang memar, dan cukup fotogenik ketika dibagikan massal. Terakhir, ditambahkan susu UHT kotak kecil berbahan susu sapi, gula, dan fortifikasi vitamin, atau kadang telur rebus utuh sebagai penutup protein tambahan.

Berbuih-buih seperti pelaksanaannya ...
Follow on Instagram

Twitter

Tweets by crcsugm

Universitas Gadjah Mada

Gedung Sekolah Pascasarjana UGM, 3rd Floor
Jl. Teknika Utara, Pogung, Yogyakarta, 55284
Email address: crcs@ugm.ac.id

 

© CRCS - Universitas Gadjah Mada

KEBIJAKAN PRIVASI/PRIVACY POLICY