Apa yang terjadi ketika dua orang mengalami kekerasan yang serupa, tetapi memiliki cara yang berbeda untuk memahami dan menceritakan pengalaman tersebut? Apakah trauma selalu memiliki bahasa yang sama?
Pertanyaan itu menjadi salah satu refleksi yang saya bawa dari Asia Region Anti-Trafficking (ARAT) Conference yang berlangsung pada 21–23 Juli 2026 di Chiang Mai, Thailand. Forum regional ini mempertemukan peneliti, praktisi, aktivis, organisasi masyarakat sipil, dan penyintas dari berbagai negara untuk membahas modern slavery and human trafficking(MSHT). Bagi saya, konferensi ini menjadi kesempatan untuk menguji kembali cara saya memahami trauma, terutama ketika psikologi bertemu dengan agama dan lintas budaya.
Pada konferensi ini, tim peneliti CRCS UGM mempresentasikan temuan sementara dari proyek Trauma in a Majority-World Context: Understanding Diverse Survivor Experiences and Improving Organizational Capacity, kolaborasi antara UGM dan The Salvation Army. Penelitian ini berupaya memahami bagaimana “trauma” dimaknai oleh penyintas MSHT dalam konteks budaya dan pandangan dunia yang beragam, sekaligus melihat bagaimana praktik trauma-informed dapat dikembangkan agar lebih sesuai dengan konteks tersebut.
Tim penelitian terdiri dari akademisi, praktisi, konsultan, dan mahasiswa pascasarjana yang berasal dari UGM, University of Leeds, The Salvation Army. Saya sendiri berada di persimpangan dua bidang: psikologi dan studi agama serta lintas budaya. Kesempatan menjadi asisten dalam proyek ini sekaligus membawa saya kembali ke forum internasional setelah tiga belas tahun lalu menyelesaikan studi S-1 Psikologi.
Ketika Psikologi Bertemu Studi Agama
Berbicara tentang trauma dari perspektif psikologi lalu mempertemukannya dengan studi agama dan lintas budaya ternyata tidak sesederhana yang dibayangkan. Psikologi membantu memahami trauma melalui aspek kognitif, emosional, dan perilaku. Sementara itu, studi agama dan lintas budaya membantu melihat bagaimana pengalaman tersebut dimaknai melalui keyakinan, budaya, komunitas, dan lingkungan sosial.
Dalam konteks tertentu, agama dapat menjadi sumber kekuatan dan membantu seseorang menghadapi trauma. Namun, agama juga dapat memengaruhi cara seseorang memahami penderitaan, rasa bersalah, atau pemulihan. Karena itu, pengalaman traumatis yang serupa tidak selalu menghasilkan cara pemaknaan yang sama.
Argumen utama yang kami bawa ke Chiang Mai cukup sederhana: sebagian besar kajian psikologi berkembang dari konteks Western, Educated, Industrialized, Rich, and Democratic (WEIRD). Kerangka tersebut telah memberikan kontribusi penting bagi perkembangan ilmu psikologi. Namun, pertanyaan yang perlu terus diajukan adalah sejauh mana konsep-konsep tersebut mampu menjelaskan pengalaman manusia di masyarakat Majority World, yang dibentuk oleh konteks budaya, agama, dan struktur sosial yang berbeda.
Pertanyaan ini menjadi penting dalam memahami penyintas MSHT. Pengalaman kekerasan dan eksploitasi mungkin memiliki pola yang serupa, tetapi cara seseorang memahami dan mengungkapkan pengalaman tersebut dapat dipengaruhi oleh agama, komunitas, relasi sosial, serta lingkungan tempat ia hidup.
Temuan awal penelitian kami menunjukkan adanya berbagai cara penyintas dan praktisi memaknai trauma. Dalam ekspresi religius, trauma dapat dipahami sebagai takdir atau kehendak Tuhan, ujian, serangan spiritual, hukuman Tuhan, atau pengalaman merasa “dihancurkan” secara batin. Dalam konteks budaya, pengalaman tersebut juga dapat muncul melalui tekanan emosional, kecenderungan menyalahkan diri sendiri, maupun normalisasi terhadap kekerasan dan eksploitasi.
Seorang praktisi, misalnya, menceritakan bagaimana pengalaman MSHT yang berulang di komunitas membuat kekerasan tersebut dianggap sebagai sesuatu yang “common and so normalized”. Sementara seorang penyintas mengatakan bahwa ia tidak menyalahkan Allah atau orang lain atas keputusan yang pernah diambilnya karena saat itu ia merasa membutuhkan uang.
Temuan-temuan ini masih bersifat awal. Hingga tahap tersebut, penelitian mencakup 47 respons survei daring dari staf mitra, 22 peserta listening dialogue dari berbagai kawasan, 12 wawancara penyintas, dan 6 wawancara staf. Data dikumpulkan melalui survei, listening dialogue, dan wawancara semi-terstruktur.
Presentasi kami berlangsung pada hari terakhir konferensi. Salah satu pertanyaan yang paling berkesan datang melalui kanal daring: apa hal yang paling mengejutkan dari temuan penelitian sejauh ini?
Bagi saya, pertanyaan itu membawa kembali proses belajar yang sedang saya jalani. Dari psikologi, saya terbiasa memahami trauma melalui pengalaman kognitif dan emosional. Studi agama dan lintas budaya kemudian memperluas cara pandang tersebut: pengalaman yang serupa belum tentu dimaknai dengan cara yang sama. Dari sini saya semakin melihat bahwa pendekatan terhadap penyintas MSHT tidak dapat sepenuhnya diseragamkan. Trauma-informed practice tetap penting, tetapi penerapannya perlu cukup fleksibel untuk mendengarkan konteks kehidupan setiap penyintas. Apa yang membantu seseorang belum tentu memiliki makna yang sama bagi orang lain. Pertanyaan yang kemudian saya bawa pulang adalah: sejauh mana praktik trauma-informed saat ini benar-benar cukup terbuka untuk mendengar keberagaman pengalaman penyintas?
Membawa Pulang Pertanyaan
Selama tiga hari di ARAT, saya bertemu peserta dari berbagai negara dan latar belakang, mulai dari peneliti, praktisi, aktivis, organisasi, hingga penyintas. Pertemuan tersebut menunjukkan bahwa MSHT tidak memiliki satu wajah. Setiap konteks memiliki pengalaman dan tantangannya sendiri, meskipun ada perhatian yang sama: bagaimana menciptakan lingkungan yang lebih aman dan mencegah lebih banyak orang mengalami eksploitasi.
Salah satu sesi yang paling dekat dengan penelitian kami bertajuk The Biology of Trauma: A Universal Language for Cross-Cultural Healing. Sesi tersebut kembali membawa saya pada pertanyaan mendasar: apakah bahasa trauma benar-benar universal, atau selalu perlu dipahami kembali melalui konteks budaya dan pengalaman hidup seseorang?
ARAT menjadi pengingat bahwa pengalaman manusia tidak selalu dapat dijelaskan melalui satu disiplin ilmu. Psikologi membantu saya memahami trauma dari sisi pikiran dan emosi; studi agama dan lintas budaya mengajarkan saya untuk melihat bagaimana pengalaman tersebut diberi makna.
Alih-alih jawaban final tentang “trauma dalam berbagai pandangan dunia”, yang saya bawa ulang ialah berbagai pertanyaan yang membuat saya ingin terus belajar. Memahami trauma bukan hanya tentang mengetahui apa yang terjadi pada seseorang, melainkan juga tentang mendengar bagaimana ia sendiri memahami pengalaman tersebut.
______________________
Pinasti Almi Kusuma adalah mahasiswa Program Studi Agama dan Lintas Budaya (CRCS), Sekolah Pascasarjana UGM, angkatan 2025. Baca tulisan Pinasti lainnya di sini.
Artikel ini merupakan salah satu usaha CRCS UGM untuk mendukung SDGs nomor 4 tentang Pendidikan Berkualitas.
Foto tajuk artikel: dokumentasi panitia ARAT.