• Tentang UGM
  • Portal Akademik
  • Pusat TI
  • Perpustakaan
  • Penelitian
Universitas Gadjah Mada
  • About Us
    • About CRCS
    • Vision & Mission
    • People
      • Faculty Members and Lecturers
      • Staff Members
      • Students
      • Alumni
    • Facilities
    • Library
  • Master’s Program
    • Overview
    • Curriculum
    • Courses
    • Schedule
    • Admission
    • Scholarship
    • Accreditation and Certification
    • Academic Collaborations
      • Crossculture Religious Studies Summer School
      • Florida International University
    • Academic Documents
    • Student Satisfaction Survey
  • Article
    • Perspective
    • Book Review
    • Event Report
    • Class Journal
    • Interview
    • Wed Forum Report
    • Thesis Review
    • News
  • Publication
    • Reports
    • Books
    • Newsletter
    • Monthly Update
    • Infographic
  • Research
    • CRCS Researchs
    • Resource Center
  • Community Engagement
    • Film
      • Indonesian Pluralities
      • Our Land is the Sea
    • Wednesday Forum
    • ICIR
    • Amerta Movement
  • Beranda
  • Perspective
  • Maquwoli Hutan: Mempraktikkan Agama dengan Nalar Ekologis ala Huaulu

Maquwoli Hutan: Mempraktikkan Agama dengan Nalar Ekologis ala Huaulu

  • Perspective
  • 18 March 2025, 10.09
  • Oleh: crcs ugm
  • 0

Dalam kunjungan pertama ke Huaulu, saya diajak untuk masuk ke wilayah hutan yang menjadi tanah ulayat masyarakat untuk mengamati perangkap buruan yang dipasang beberapa hari sebelumnya. Ketika sampai pada sebuah sungai kecil yang menjadi batas antara desa (Ninianiam) dan hutan (kaitahu), salah seorang warga yang bersama kami berkata, “Ketika masuk ke hutan, biarkan parang tetap dalam sarungnya.” Saya yang kebingungan lalu bertanya alasannya. “Agar tidak membabat sembarangan. Bagi orang Huaulu, banyak sekali pamali di hutan, dan tindakan itu maquwoli ,” jawabnya. Ada sedikit rasa takut ketika mendengar jawaban itu. Selama ini, kata “pamali” sering diasosiasikan sebagai kepercayaan yang lekat dengan kesan horor dan terkait hal-hal celaka.

Pandangan saya itu mungkin mewakili banyak orang yang seringkali melabeli pamali masyarakat Huaulu dengan hal-hal negatif. Misalnya, pamali hutan dianggap sebagai bentuk keyakinan sesat oleh masyarakat di sekitar Huaulu (yang sebagian besar muslim atau umat Kristen). Namun, sepanjang interaksi saya bersama masyarakat Huaulu, saya jadi meragu dan mempertanyakan klaim yang selama ini saya jumpai; Benarkah pamali hutan adalah hal negatif seperti yang diklaim banyak orang? Jangan-jangan pamali tersebut merupakan mekanisme kontekstual dan relevan dalam menunjang kehidupan masyarakat?

Pamali Hutan di masyarakat Huaulu

Pamali atau yang biasa disebut maquwoli bagi masyarakat adat Huaulu memiliki peranan sentral dalam kehidupan mereka secara sosial, budaya, ekonomi, bahkan spiritual (Valeri, 1999). Dalam hal ini, masyarakat Huaulu mengenal beragam jenis maquwoli yang berlaku di berbagai lini kehidupan mulai dari hutan (kaitahu), desa (niniani), hingga norma-norma sosial antarmasyarakat seperti berburu dan berkebun. Di antara berbagai maquwoli tersebut, saya tertarik dengan maquwoli hutan sebab hal itu berkaitan erat dengan kebutuhan pangan dan keseharian masyarakat Huaulu. Di sisi lain, maquwoli hutan mengikat siapa pun yang masuk ke wilayah ulayat hutan Huaulu. 

Dalam maquwoli hutan, terdapat beberapa areal yang tidak boleh dibabat. Jika melanggar akan mendapatkan sanksi yang berdampak berat: kami dan banyak warga lain berisiko tidak mendapatkan hewan buruan dalam kurun waktu tertentu. “Bagian itu adalah milik babi, kasuari, rusa. Kita tidak boleh membabat sembarangan,” ujar Sinana Tamatae, salah satu kepala urusan di desa masyarakat Huaulu.

Ada juga pamali untuk terus-terusan mendapatkan hasil buruan menggunakan perangkap. Seperti yang diungkapkan etika seseorang terus-terusan mendapatkan hasil buruan lewat perangkap yang ia pasang. Ia memberikan contoh,

“Misalnya seseorang memasang 20 perangkap dan sebagian besar perangkap tersebut berhasil membunuh hewan buruan, semua perangkap yang tersisa wajib dibongkar, dan orang tersebut dilarang melakukan perburuan untuk durasi waktu yang cukup lama. Itu adalah maquwoli. Jika pamali itu dilanggar, Kaitahu Upuam (sang penjaga hutan) akan membalaskan dendam kematian hewan-hewan dalam bentuk sakit atau musibah”

Melalui diksusi yang lebih intens bersama beberapa anggota masyarakat lain, saya kemudian mendapatkan gambaran mengenai alasan di balik kedua maquwoli tersebut. Dalam paradigma masyarakat Huaulu, membabat dianggap sebagai “mengusir” hewan dari wilayah tersebut, sedangkan membiarkan perangkap tetap terpasang selepas mendapatkan banyak buruan justru meningkatkan potensi hewan menjadi semakin “curiga” akan kehadiran objek asing di zona hidup mereka. Dampaknya tentu besar. Akses terhadap hewan buruan akan menjadi semakin sulit padahal berburu merupakan salah satu cara bagi bagi masyarakat Huaulu untuk memperoleh asupan pangan tinggi protein. Dari sini, terlihat bahwa kedua maquwoli tersebut menjadi semacam mekanisme etis dalam memahami keberlanjutan ekosistem hutan sebagai ruang hidup bersama..

Maquwoli hutan: Integrasi Nalar Ekologis dalam Praktik Religius

Kedua cerita tersebut agaknya sejalan dengan teori yang dicetuskan oleh Evans-Pritchard. Melalui pendekatan interpretatif dalam Witchcraft, Oracles, and Magic among the Azande (1937), ia menjelaskan bahwa agama dalam praktiknya harus dipahami sebagai sebuah sistem yang dilandaskan dengan rasionalitas masyarakat yang mempraktikkannya. Sejalan dengan Pritchard, Harris dalam Sapi, Babi, Perang, dan Tukang Sihir: Menjawab Teka-Teki Kebudayaan (2019) juga menjelaskan bahwa sebuah praktik, tradisi maupun ajaran keagamaan erat berkaitan dengan konteks masyarakat yang menghidupinya. Ia menamainya sebagai materialisme kultural . Singkatnya, tak ada ide maupun praktik keagamaan yang tidak terlepas dari dinamika kontekstual yang melatarbelakanginya.Dengan menggunakan kedua argumen tersebut, agaknya relevan bahwa praktik itu tentunya bukan datang dari kekosongan, melainkan sebuah produk olah pikir masyarakat secara kolektif untuk kehidupan yang berkelanjutan.

Lebih lanjut, saya juga melihat bahwa Maquwoli dalam konteks masyarakat Huaulu terbentuk lewat kaidah-kaidah berbasis nalar saintifik (scientific reasoning), ketika pengamatan, analisis, dan penarikan kesimpulan dilakukan secara mendalam dan objektif (Giere et.al, 2006). Hal tersebut termanifestasi secara alami di masyarakat Huaulu melalui beberapa tahapan. Masyarakat Huaulu mengumpulkan data melalui pengamatan intens mengenai ekosistem hutan, perilaku hewan, jalur lalu lintas hewan yang seringkali dibarengi dengan uji coba secara langsung maupun tidak langsung di areal hutan. Temuan-temuan tersebut kemudian mereka diskusikan di ruang-ruang keseharian maupun dalam forum adat yang lebih formal secara kolektif.  

Yang menarik, hasil simpulan tersebut kemudian mereka integrasikan ke dalam maquwoli hutan  dan praktikkan dalam hidup sehari-hari sebagai sebuah norma sosial-ekologis. Dalam konteks demikian, nalar saintifik dan nalar religius saling melebur. Dengan kata lain, maquwoli hutan bagi masyarakat Huaulu merupakan praktik yang tercipta melalui proses analisis kolektif terhadap hutan sebagai ruang hidup bersama. Alih-alih sebuah pengetahuan takhayul tak berdasar, Maquwoli adalah sebuah gagasan dan praktek hidup yang sangat kontekstual secara sosial-ekologis, yang berakar dari analisis empirik yang mendalam tentang alam, hutan dan keselarasan hubungannya dengan manusia.

______________________

Hanry Harlen Tapotubun adalah alumnus Program Studi Agama dan Lintas Budaya (CRCS), Sekolah Pascasarjana UGM, angkatan 2017. Kini menjadi pengajar di program studi Agama dan Budaya, Fakultas Ilmu Sosial Keagamaan, IAKN Ambon.

Baca tulisan Hanry lainnya di sini.

Artikel ini merupakan salah satu usaha CRCS UGM untuk mendukung SDGs nomor 13 tentang Penanganan Perubahan Iklim; dan nomor 15 tentang Menjaga Ekosistem Darat.

Tags: ekologi adat Hanry Harlen Tapotubun huaulu

Leave A Comment Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Instagram

crcs_ugm

Sedang tidak baik-baik saja, kamu biasanya mencari Sedang tidak baik-baik saja, kamu biasanya mencari apa di internet?

Banyak anak muda hari ini menemukan ketenangan, nasihat, bahkan jawaban atas kegelisahan melalui media sosial, konten keagamaan, akun kesehatan mental, hingga AI chatbot. Namun, bagaimana sebenarnya pengalaman itu terjadi?
Kami sedang melakukan penelitian untuk memahami bagaimana generasi muda usia 10–24 tahun mencari informasi keagamaan maupun kesehatan mental saat menghadapi masa-masa sulit.
Jika kamu merasa topik ini dekat dengan pengalamanmu, kami mengundangmu menjadi responden.
Partisipasi bersifat sukarela dan seluruh jawaban dijaga kerahasiaannya.
Kamu bisa langsung kirim DM jawabanmu atau mau tanya-tanya dulu juga boleh.

Kami tunggu ya.
Katanja koeliah S2 itoe mahal? Eitss , djangan s Katanja  koeliah S2 itoe mahal? 
Eitss , djangan salah
Bersama keempat mahasiswa angkatan 2025, kita akan ngobrolin djoeroes-djoeroes djitoe mendapatkan beasiswa di CRCS UGM

Begitoe?
Before petroleum fueled the world, it fractured th Before petroleum fueled the world, it fractured the archipelago

The raise of the colonial petroleum industry in the Dutch East Indies was also the emergence of new spatial inequalities. Outer Java was not merely discovered as a resource zone. It was politically produced as an extractive territory through imperial concessions, colonial state-building, and global struggles over resource control.

Join us in this presentation on capitalism, oil, and the colonial fractures that continue to haunt the geography of modern Indonesia. We provide snacks and drinks, don't forget to bring your tumbler. This event is free and open to public.
M B G Satu kotak makan berisi nasi putih pulen seb M B G
Satu kotak makan berisi nasi putih pulen sebagai sumber karbohidrat utama, dimasak dari beras medium pilihan, air, sedikit garam, dan beberapa tetes minyak agar tidak cepat basi. Di sampingnya terdapat ayam semur kecap, dibuat dari potongan daging ayam, bawang merah, bawang putih, kecap manis, daun salam, lengkuas, garam, dan sedikit gula sehingga memberi asupan protein hewani yang cukup untuk pertumbuhan. Sebagai pendamping lauk utama, disediakan tempe orek manis gurih dari tempe iris tipis, bawang merah, bawang putih, cabai, kecap, dan gula merah. Tempe ini berfungsi menambah protein nabati sekaligus membuat kotak makan tampak lebih penuh, sebab protein memang sering lebih meyakinkan bila hadir rangkap dua. Untuk unsur sayuran, ada tumis wortel dan buncis yang dimasak dari wortel segar, buncis, sedikit kol, bawang putih, garam, merica, dan minyak sayur. Warna oranye-hijau pada sayur ini penting: bukan hanya untuk vitamin A dan serat, tetapi juga agar foto dokumentasi tidak terlihat terlalu pucat.Sebagai pelengkap vitamin alami, satu buah pisang atau sepotong pepaya matang diletakkan di sudut kotak. Buah dipilih yang murah, tahan banting, tidak gampang memar, dan cukup fotogenik ketika dibagikan massal. Terakhir, ditambahkan susu UHT kotak kecil berbahan susu sapi, gula, dan fortifikasi vitamin, atau kadang telur rebus utuh sebagai penutup protein tambahan.

Berbuih-buih seperti pelaksanaannya ...
Follow on Instagram

Twitter

Tweets by crcsugm

Universitas Gadjah Mada

Gedung Sekolah Pascasarjana UGM, 3rd Floor
Jl. Teknika Utara, Pogung, Yogyakarta, 55284
Email address: crcs@ugm.ac.id

 

© CRCS - Universitas Gadjah Mada

KEBIJAKAN PRIVASI/PRIVACY POLICY