• Tentang UGM
  • Portal Akademik
  • Pusat TI
  • Perpustakaan
  • Penelitian
Universitas Gadjah Mada
  • About Us
    • About CRCS
    • Vision & Mission
    • People
      • Faculty Members and Lecturers
      • Staff Members
      • Students
      • Alumni
    • Facilities
    • Library
  • Master’s Program
    • Overview
    • Curriculum
    • Courses
    • Schedule
    • Admission
    • Scholarship
    • Accreditation and Certification
    • Academic Collaborations
      • Crossculture Religious Studies Summer School
      • Florida International University
    • Academic Documents
    • Student Satisfaction Survey
  • Article
    • Perspective
    • Book Review
    • Event Report
    • Class Journal
    • Interview
    • Wed Forum Report
    • Thesis Review
    • News
  • Publication
    • Reports
    • Books
    • Newsletter
    • Monthly Update
    • Infographic
  • Research
    • CRCS Researchs
    • Resource Center
  • Community Engagement
    • Film
      • Indonesian Pluralities
      • Our Land is the Sea
    • Wednesday Forum
    • ICIR
    • Amerta Movement
  • Beranda
  • Laporan Wednesday Forum
  • Membebaskan Raga, Membongkar Paradigma

Membebaskan Raga, Membongkar Paradigma

  • Laporan Wednesday Forum, Wednesday Forum Report
  • 25 September 2023, 18.47
  • Oleh: crcs ugm
  • 1

Membebaskan Raga, Membongkar Paradigma

Hanny Nadhirah – 22 September 2023

Apa yang terjadi jika tubuh manusia “dibebaskan” untuk bergerak?

Gerakan rupanya memungkinkan individu untuk lebih memahami diri mereka sendiri, membuka pintu ke pengalaman dialog lintas budaya, serta memperkuat koneksi dengan alam. Temuan inilah yang Emma Meehan—Associate Professor di Centre for Dance Research, Universitas Coventry—bagikan dalam presentasinya di Wednesday Forum (30/8) bertajuk “Dialogue Moves: Practicing Research with Amerta Movement”. Dalam proyek riset kolaborasi dengan CRCS UGM, sosok yang akrab dipanggil Emma ini mengeksplorasi Joged Amerta atau Amerta movement sebagai medium untuk dialog lintas budaya melalui pendekatan practicing research.

Joged Amerta dan Pendekatan Practicing Research

Joged Amerta adalah serangkaian gerakan yang dikembangkan oleh Suprapto Suryodarmo dari perjalanan hidupnya bersentuhan dengan praktik Buddhisme dan tradisi meditasi Jawa, Sumarah. Rangkaian gerak dalam Joged Amerta mengambil inspirasi dari gerak sehari-hari manusia, seperti berdiri, berjalan, bahkan berbaring. Pada prinsipnya, Joged Amerta menekankan agar manusia dapat lebih fokus terhadap kondisi di dalam dan di luar diri mereka. 

Konsep Joged Amerta inilah yang memantik Emma untuk melakukan penelitian dengan pendekatan practicing research. Pendekatan ini melibatkan peneliti secara langsung dalam subjek penelitiannya, salah satunya melalui praktik langsung, untuk mendapatkan pemahaman yang lebih mendalam. Pendekatan practicing research kerap digunakan dalam seni, desain, dan bidang kreatif lainnya. Namun, metode penelitian ini belum banyak digunakan di ranah dialog lintas agama dan budaya.

Kebebasan Berekspresi dan Berefleksi

Gerak dalam Joged Amerta tidak terikat pada interpretasi atau aturan khusus. Setiap individu dapat mengekspresikan gerakan tubuh tanpa perasaan takut akan penilaian orang lain. Kebebasan ini memiliki makna yang mendalam. Gerakan tubuh kita sering kali dibatasi oleh pola pikir, budaya, dan norma sosial di sekitar kita. Menurut Emma, kondisi yang demikian membuat tubuh kita tidak bisa mencapai potensi maksimalnya. Emma menyarikan praktik Joged Amerta dalam tiga tahap: mengenali diri sendiri, mengenali lingkungan sekitar, dan membiarkan tubuh bergerak sesuai “kehendaknya”. Dengan demikian, Joged Amerta dapat memberikan ruang untuk tubuh agar dapat bergerak lebih leluasa demi meraih kebebasan raga dan jiwa. 

Tidak terbatas pada praktik fisik, Joged Amerta juga menjadi sarana untuk berefleksi diri lebih mendalam. Pemaknaan gerakan dalam Joged Amerta bersifat subjektif. Apa pun gerakan yang dilakukan memiliki makna sesuai dengan interpretasi individu yang mempraktikkannya—baik sekadar melepas penat atau berefleksi terkait kehidupan dan asal penciptaan. Upaya pembebasan pemaknaan inilah yang membuat Joged Amerta sebagai jembatan untuk perjalanan spiritualitas pelakunya.

Sarana Dialog Lintas Budaya

Kebebasan berekspresi dan berefleksi ini menjadi modal awal yang penting untuk berdialog dengan individu dari berbagai macam latar belakang. Dalam konteks Joged Amerta, dialog bukan berarti dialog dalam bentuk bertukar kata yang disampaikan antarindividu seperti yang kita biasa pahami. Menurut Emma, dialog dalam konteks ini dimaknai sebagai momen ketika individu satu dengan yang lainnya melakukan gerak bersama—yang tak harus sama—dalam satu ruangan, menikmati alunan gerakan yang mereka lakukan tanpa memandang identitas masing-masing. Melalui dialog nonverbal ini, individu-individu dapat saling terhubung sehingga membuka peluang berdialog lintas budaya. 

Senada, Erica R. Jeffry dalam “Dance in Peacebuilding: Space, relationships, and embodied interactions” (2017)  juga menggarisbawahi relasi antara tari dan dialog. Jeffry mengangkat riset pengaruh lokakarya tarian tongkat di Fiji terhadap perubahan interaksi antarindividu dari beragam latarbelakang. Ia menyimpulkan bahwa tarian tongkat berhasil menciptakan ruang bagi para pesertanya untuk memulai interaksi satu sama lain. Selain itu, keakraban yang dipicu oleh tarian ini juga membuat mereka mengesampingkan persepsi negatif yang dimiliki sebelumnya. Temuan Jeffry tersebut beresonansi dengan temuan Emma tentang Joged Amerta dan jembatan dialog lintas budaya. 

Membangun Keterhubungan dengan Alam

Selain menjadi sarana untuk melakukan dialog dengan sesama manusia, Emma pun mengungkapkan bahwa Joged Amerta melatih individu untuk membangun keterhubungan dengan alam. Pada praktik Joged Amerta, peserta seringkali berada di alam terbuka. Setelah merasakan dan mengenali diri sendiri, peserta diajak untuk merasakan keadaan lingkungan alam sekitar dengan penuh kesadaran (mindfulness). 

Banyak penelitian yang menunjukkan keterkaitan, langsung maupun tidak langsung, antara kondisi mindfulness dan pro-environmental behavior (PEB) atau perilaku pro-lingkungan, misalnya Richter dan Hunecke (2022); Apaolaza, dkk (2022); dan Thiermann dan Sheate (2022). Lebih lanjut, Richter dan Hunecke menyebutkan bahwa mindfulness dapat dilatih dengan melakukan praktik-praktik seperti meditasi dan yoga. Joged Amerta—yang memiliki banyak kesamaan dengan praktik meditasi dan yoga—juga berpotensi untuk membentuk perilaku pro-lingkungan. Terlebih lagi, gerakan-gerakan Joged Amerta kerap meniru unsur-unsur alam—seperti air mengalir dan embusan angin. Upaya peniruan dan penghadiran kembali unsur-unsur alam dalam gerak tersebut membuat individu mulai menyadari keterhubungannya dengan alam. 

Dalam sesi tanya jawab, salah seorang peserta bertanya bagaimana menempatkan Joged Amerta—yang dilakukan tanpa adanya percakapan—dalam kajian dialog lintas agama dan budaya. Dalam bidang kajian antaragama, dialog merupakan pertukaran logos (pengetahuan) antara minimal dua individu untuk mencapai saling pengertian. Karenanya, percakapan atau pertukaran gagasan secara verbal tetap penting dilakukan. Merespons pertanyan tersebut, Emma menggarisbawahi bahwa sebagai sebuah pendekatan, Joged Amerta merupakan titik awal dari upaya dialog. Sesi gerak bersama merupakan upaya untuk menemukan resonansi antarpeserta yang biasanya hal tersebut dilakukan secara verbal. Dengan mengalami resonansi gerak dan rasa yang relatif sama, upaya dialog lintas agama dan budaya akan lebih mulus dilakukan. 

Menimpali jawaban tersebut, Samsul Maarif , yang ikut melakukan riset bersama Emma, menawarkan perspektif alternatif untuk menginterpretasikan Joged Amerta sebagai langkah dalam dekolonisasi pengetahuan. Pengetahuan yang selama ini terbatas pada penyampaian melalui kata-kata, ternyata juga dapat diajarkan melalui gerakan dalam konteks Joged Amerta. Dengan kata lain, Joged Amerta membongkar paradigma dialog yang sudah ada sekaligus menawarkan ruang kebebasan baru untuk berdialog. 

______________________

Hanny Nadhirah adalah mahasiswa Program Studi Agama dan Lintas Budaya (CRCS), Sekolah Pascasarjana UGM, angkatan 2023. Baca tulisan Hanny lainnya di sini.

Foto tajuk di artikel ini ialah Mamik Soemaryatmi (Jawa) dan Diane Butler (USA) pada sesi Solah Bowo di Rumah Banjarsari, Solo, dipotret oleh Martha Hesty Susilowati.

Tags: dance hanny nadhirah

Leave A Comment Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Comment (1)

  1. Daryono 2 years ago

    Saya sangat setuju dengan content tulisan ini. Perlu saya tambahkan bahwa Joget Amerta itu juga merupakan semacam metode untuk mengkini. Kompleksitasnya meliputi ruang, waktu, semesta, kehadiran pribadi dalam keterhubungan dg unsur atau elemen-elemen yang lain yang tebanya sering tak terhingga.

    Reply

Instagram

crcs_ugm

Sedang tidak baik-baik saja, kamu biasanya mencari Sedang tidak baik-baik saja, kamu biasanya mencari apa di internet?

Banyak anak muda hari ini menemukan ketenangan, nasihat, bahkan jawaban atas kegelisahan melalui media sosial, konten keagamaan, akun kesehatan mental, hingga AI chatbot. Namun, bagaimana sebenarnya pengalaman itu terjadi?
Kami sedang melakukan penelitian untuk memahami bagaimana generasi muda usia 10–24 tahun mencari informasi keagamaan maupun kesehatan mental saat menghadapi masa-masa sulit.
Jika kamu merasa topik ini dekat dengan pengalamanmu, kami mengundangmu menjadi responden.
Partisipasi bersifat sukarela dan seluruh jawaban dijaga kerahasiaannya.
Kamu bisa langsung kirim DM jawabanmu atau mau tanya-tanya dulu juga boleh.

Kami tunggu ya.
Katanja koeliah S2 itoe mahal? Eitss , djangan s Katanja  koeliah S2 itoe mahal? 
Eitss , djangan salah
Bersama keempat mahasiswa angkatan 2025, kita akan ngobrolin djoeroes-djoeroes djitoe mendapatkan beasiswa di CRCS UGM

Begitoe?
Before petroleum fueled the world, it fractured th Before petroleum fueled the world, it fractured the archipelago

The raise of the colonial petroleum industry in the Dutch East Indies was also the emergence of new spatial inequalities. Outer Java was not merely discovered as a resource zone. It was politically produced as an extractive territory through imperial concessions, colonial state-building, and global struggles over resource control.

Join us in this presentation on capitalism, oil, and the colonial fractures that continue to haunt the geography of modern Indonesia. We provide snacks and drinks, don't forget to bring your tumbler. This event is free and open to public.
M B G Satu kotak makan berisi nasi putih pulen seb M B G
Satu kotak makan berisi nasi putih pulen sebagai sumber karbohidrat utama, dimasak dari beras medium pilihan, air, sedikit garam, dan beberapa tetes minyak agar tidak cepat basi. Di sampingnya terdapat ayam semur kecap, dibuat dari potongan daging ayam, bawang merah, bawang putih, kecap manis, daun salam, lengkuas, garam, dan sedikit gula sehingga memberi asupan protein hewani yang cukup untuk pertumbuhan. Sebagai pendamping lauk utama, disediakan tempe orek manis gurih dari tempe iris tipis, bawang merah, bawang putih, cabai, kecap, dan gula merah. Tempe ini berfungsi menambah protein nabati sekaligus membuat kotak makan tampak lebih penuh, sebab protein memang sering lebih meyakinkan bila hadir rangkap dua. Untuk unsur sayuran, ada tumis wortel dan buncis yang dimasak dari wortel segar, buncis, sedikit kol, bawang putih, garam, merica, dan minyak sayur. Warna oranye-hijau pada sayur ini penting: bukan hanya untuk vitamin A dan serat, tetapi juga agar foto dokumentasi tidak terlihat terlalu pucat.Sebagai pelengkap vitamin alami, satu buah pisang atau sepotong pepaya matang diletakkan di sudut kotak. Buah dipilih yang murah, tahan banting, tidak gampang memar, dan cukup fotogenik ketika dibagikan massal. Terakhir, ditambahkan susu UHT kotak kecil berbahan susu sapi, gula, dan fortifikasi vitamin, atau kadang telur rebus utuh sebagai penutup protein tambahan.

Berbuih-buih seperti pelaksanaannya ...
Follow on Instagram

Twitter

Tweets by crcsugm

Universitas Gadjah Mada

Gedung Sekolah Pascasarjana UGM, 3rd Floor
Jl. Teknika Utara, Pogung, Yogyakarta, 55284
Email address: crcs@ugm.ac.id

 

© CRCS - Universitas Gadjah Mada

KEBIJAKAN PRIVASI/PRIVACY POLICY