• Tentang UGM
  • Portal Akademik
  • Pusat TI
  • Perpustakaan
  • Penelitian
Universitas Gadjah Mada
  • About Us
    • About CRCS
    • Vision & Mission
    • People
      • Faculty Members and Lecturers
      • Staff Members
      • Students
      • Alumni
    • Facilities
    • Library
  • Master’s Program
    • Overview
    • Curriculum
    • Courses
    • Schedule
    • Admission
    • Scholarship
    • Accreditation and Certification
    • Academic Collaborations
      • Crossculture Religious Studies Summer School
      • Florida International University
    • Academic Documents
    • Student Satisfaction Survey
  • Article
    • Perspective
    • Book Review
    • Event Report
    • Class Journal
    • Interview
    • Wed Forum Report
    • Thesis Review
    • News
  • Publication
    • Reports
    • Books
    • Newsletter
    • Monthly Update
    • Infographic
  • Research
    • CRCS Researchs
    • Resource Center
  • Community Engagement
    • Film
      • Indonesian Pluralities
      • Our Land is the Sea
    • Wednesday Forum
    • ICIR
    • Amerta Movement
  • Beranda
  • Laporan Wednesday Forum
  • Menggali Gaia

Menggali Gaia

  • Laporan Wednesday Forum, Wednesday Forum Report
  • 30 October 2023, 15.01
  • Oleh: crcs ugm
  • 0

Menggali Gaia

Hanny Nadhirah – 30 Oktober 2023

Bagaimana jika bumi yang kita sebut sebagai rumah, pada kenyataannya, adalah entitas hidup?

Pertanyaan di atas menjadi titik perbincangan pada peluncuran buku God and Gaia: Science, Religion, and Ethics on a Living Planet pada Wednesday Forum edisi spesial yang berlangsung di auditorium Sekolah Pascasarjana UGM (11/10). Peluncuran buku tersebut dihadiri oleh sang penulis, Michael S. Northcott yang kini menjadi adjunct professor di Universitas Gadjah Mada. Ia berbagi temuannya dalam mengonfigurasi ulang hubungan antara sains, agama, dan etika pada kehidupan di bumi ini. 

Selama 700 tahun terakhir, perkembangan teknologi dan industrialiasi bangsa-bangsa di Eropa berdampak signifikan terhadap kerusakan lingkungan. Fenomena ini diperparah dengan doktrin-doktrin pembangunan yang melegitimasi eksploitasi di Eropa dan melandasi kolonialisme di negara-negara lain. Di berbagai wilayah, doktrin pembangunan tersebut mempunyai konsekuensi ekologis dan sosial yang serius. Sebagai ilustrasi, Northcott memberikan studi kasus di Kalimantan yang mengalami degradasi lingkungan akibat pertambangan dan konversi lahan besar-besaran sejak zaman kolonial. Kerusakan ekologis yang berkepanjangan ini pada akhirnya mengganggu keseimbangan kehidupan di bumi. Menurut refleksinya, kehancuran lingkungan terus terjadi karena sebagian besar manusia masih menganggap bumi sebagai benda mati, sekadar entitas yang tak hidup. 

Menengok Gaia 

“Perhaps, the single most important thing we can do to undo the harm we have done is to fix firmly in our minds the thought: the Earth is alive.” – James Lovelock 

Teori Gaia, atau sering disebut sebagai “Hipotesis Gaia,” merupakan teori yang dicetuskan oleh James Lovelock dengan kontribusi dari Lynn Margulis. Tesis utama dari teori Gaia yaitu pengakuan bahwa Bumi adalah entitas hidup yang mampu mengatur dirinya sendiri dan Kehidupan merupakan bagian integral dari Bumi yang saling memiliki keterhubungan. 

Lovelock sengaja menulis istilah “Earth” atau “Bumi”, serta “Life” atau “Kehidupan” menggunakan huruf kapital untuk menegaskan gagasan bahwa “Bumi” merupakan sebuah entitas yang hidup. Sementara “Kehidupan” merepresentasikan kumpulan dari semua makhluk hidup dan ekosistem di “Bumi”. Berbeda dengan teori evolusi Darwin yang berfokus pada tingkah laku spesies sebagai individu, teori Gaia menekankan Bumi dan segala isinya sebagai sebuah sistem menyeluruh yang ikut berperan aktif dalam mengatur kehidupan di planet ini. 

Menurut Northcott, premis tersebut menawarkan alternatif baru untuk menjawab pertanyaan terkait krisis ekologis selama ini. Dalam mengatasi krisis, teori ini melihat bahwa pemulihan lingkungan bergantung pada Bumi dan spesies-spesies di dalamnya, terutama manusia. Dengan kata lain, segala aktivitas yang dilakukan manusia harus mempertimbangkan keseimbangan antara “Kehidupan” dan “Bumi” sebagai satu kesatuan sistem utuh. Yang menarik, teori Gaia—yang lahir dari tradisi ilmiah—membuka pintu bagi perpaduan sains dan agama dalam menanggapi krisis ekologi. Northcott mengemukakan, premis teori Gaia berbagi kesamaan dengan berbagai ajaran agama terkait relasi manusia dengan alam. 

Berdasarkan penelusurannya, profesor emiritus dari University of Edinburgh ini menggarisbawahi bahwa teori Gaia ini memiliki benang merah dengan sebagian besar budaya dan tradisi keagamaan pramodern. Dalam Taoisme misalnya, konsep Tao merupakan prinsip yang mendasari keterkaitan dan ketergantungan semua unsur di alam semesta. Konsep ini serupa dengan teori Gaia yang menekankan keterkaitan semua komponen kehidupan. Contoh lain lagi berasal dari ajaran Trinitas dalam Hindu. Tiga dewa utama dalam trinitas Hindu mewakili aspek yang berbeda dan saling berkait yaitu dari Brahma sebagai unsur penciptaan, Wisnu sebagai representasi pelestarian, dan Syiwa yang bertindak dalam proses peleburan. Konsep ini mencerminkan sebuah siklus kehidupan, dengan fokus pada pemeliharaan dharma (kebenaran) dan keseimbangan. Dengan kata lain, ajaran ini berbagi kesamaan dengan teori Gaia yang melihat bahwa Bumi adalah entitas dinamis dan terus mengalami siklus penyeimbangan. Kesamaan pandangan antara teori Gaia dan keyakinan agama-agama yang berbeda ini menjadi landasan awal untuk membentuk sebuah pandangan yang holistik untuk menangani masalah lingkungan global.

Etika Gaia untuk Keberlanjutan Bumi

Salah satu simpul masalah dalam penanganan kerusakan lingkungan secara global ialah pengabaian tradisi keagamaan. Padahal dalam tradisi keagamaanlah kita dapat menemukan upaya penyeimbangan manusia dan alam melalu relasi yang saling bertaut. Northcott pun memberi studi kasus pada tradisi Subak, sebuah tradisi lokal yang mengatur sistem pertanian di Bali. Subak merupakan manifestasi dari filosofi Hindu, Tri Hita Karana (THK), yang menekankan pentingnya menjaga keseimbangan antara sesama manusia, manusia dan alam, serta manusia dan Sang Pencipta. Dalam masyarakat Bali, tradisi Subak tidak dapat digantikan oleh sistem pertanian modern yang kerap meminggirkan adat dalam implementasinya. Gerakan Revolusi Hijau yang sempat dikampanyekan pada tahun 1970-an ternyata tidak dapat memberikan manfaat yang diharapkan bagi ekosistem pertanian di Bali. Alhasil, masyarakat berinisiatif untuk kembali ke tradisi Subak yang selama ratusan tahun telah terbukti memberikan dampak positif bagi keberlangsungan hasil panen. Berkaca pada kasus tersebut, integrasi nilai ekologis ke dalam agama dan budaya masyarakat dapat memberikan landasan etis yang kuat dalam menjaga keseimbangan Bumi. 

Northcott juga melihat urgensi bagi tradisi keagamaan untuk menghidupkan kembali kisah-kisah kuno tentang keharmonisan antara manusia dan alam serta menekankan narasi tentang hubungan simbiosis keduanya. Tradisi memiliki signifikansi dalam menghidupkan kembali kepedulian masyarakat terhadap keseimbangan ekosistem, baik di daratan maupun di lautan. Melalui tradisi keagamaan pula kita diingatkan bahwa manusia bukanlah satu-satunya makhluk yang penting bagi keberlangsungan semesta. Banyak tradisi di berbagai wilayah yang memuat narasi hewan sebagai makhluk yang mampu menjalin hubungan dengan makhluk-makhluk mistis lainnya. Dalam Tanakh di tradisi Yahudi misalnya, terdapat narasi terkait hewan yang berperan sebagai pembawa pesan ilahi. Hal ini menunjukkan bahwa komponen-komponen kehidupan lain juga hadir di Bumi dengan misi yang sama pentingnya. Tradisi-tradisi semacam ini diharapkan dapat membentuk kembali habitat di Bumi yang mendukung kesejahteraan semua bentuk kehidupan, tidak terbatas pada manusia. 

Di akhir presentasi, Northcott kembali menggarisbawahi bahwa teori Gaia—yang lahir dari tradisi sains—dapat menjadi jembatan penghubung dengan tradisi-tradisi agama. Peran keduanya sangat vital untuk menanggulangi masalah kerusakan ekosistem dan menciptakan masa depan yang berkelanjutan. 

______________________

Hanny Nadhirah adalah mahasiswa Program Studi Agama dan Lintas Budaya (CRCS), Sekolah Pascasarjana UGM, angkatan 2023. Baca tulisan Hanny lainnya di sini.

Foto tajuk artikel ini bersumber dari Syamshul/Wikimedia Commons/CC-BY-SA-4.0 (2018).

 

Tags: Ekologi gaia hanny nadhirah

Leave A Comment Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Instagram

crcs_ugm

Sedang tidak baik-baik saja, kamu biasanya mencari Sedang tidak baik-baik saja, kamu biasanya mencari apa di internet?

Banyak anak muda hari ini menemukan ketenangan, nasihat, bahkan jawaban atas kegelisahan melalui media sosial, konten keagamaan, akun kesehatan mental, hingga AI chatbot. Namun, bagaimana sebenarnya pengalaman itu terjadi?
Kami sedang melakukan penelitian untuk memahami bagaimana generasi muda usia 10–24 tahun mencari informasi keagamaan maupun kesehatan mental saat menghadapi masa-masa sulit.
Jika kamu merasa topik ini dekat dengan pengalamanmu, kami mengundangmu menjadi responden.
Partisipasi bersifat sukarela dan seluruh jawaban dijaga kerahasiaannya.
Kamu bisa langsung kirim DM jawabanmu atau mau tanya-tanya dulu juga boleh.

Kami tunggu ya.
Katanja koeliah S2 itoe mahal? Eitss , djangan s Katanja  koeliah S2 itoe mahal? 
Eitss , djangan salah
Bersama keempat mahasiswa angkatan 2025, kita akan ngobrolin djoeroes-djoeroes djitoe mendapatkan beasiswa di CRCS UGM

Begitoe?
Before petroleum fueled the world, it fractured th Before petroleum fueled the world, it fractured the archipelago

The raise of the colonial petroleum industry in the Dutch East Indies was also the emergence of new spatial inequalities. Outer Java was not merely discovered as a resource zone. It was politically produced as an extractive territory through imperial concessions, colonial state-building, and global struggles over resource control.

Join us in this presentation on capitalism, oil, and the colonial fractures that continue to haunt the geography of modern Indonesia. We provide snacks and drinks, don't forget to bring your tumbler. This event is free and open to public.
M B G Satu kotak makan berisi nasi putih pulen seb M B G
Satu kotak makan berisi nasi putih pulen sebagai sumber karbohidrat utama, dimasak dari beras medium pilihan, air, sedikit garam, dan beberapa tetes minyak agar tidak cepat basi. Di sampingnya terdapat ayam semur kecap, dibuat dari potongan daging ayam, bawang merah, bawang putih, kecap manis, daun salam, lengkuas, garam, dan sedikit gula sehingga memberi asupan protein hewani yang cukup untuk pertumbuhan. Sebagai pendamping lauk utama, disediakan tempe orek manis gurih dari tempe iris tipis, bawang merah, bawang putih, cabai, kecap, dan gula merah. Tempe ini berfungsi menambah protein nabati sekaligus membuat kotak makan tampak lebih penuh, sebab protein memang sering lebih meyakinkan bila hadir rangkap dua. Untuk unsur sayuran, ada tumis wortel dan buncis yang dimasak dari wortel segar, buncis, sedikit kol, bawang putih, garam, merica, dan minyak sayur. Warna oranye-hijau pada sayur ini penting: bukan hanya untuk vitamin A dan serat, tetapi juga agar foto dokumentasi tidak terlihat terlalu pucat.Sebagai pelengkap vitamin alami, satu buah pisang atau sepotong pepaya matang diletakkan di sudut kotak. Buah dipilih yang murah, tahan banting, tidak gampang memar, dan cukup fotogenik ketika dibagikan massal. Terakhir, ditambahkan susu UHT kotak kecil berbahan susu sapi, gula, dan fortifikasi vitamin, atau kadang telur rebus utuh sebagai penutup protein tambahan.

Berbuih-buih seperti pelaksanaannya ...
Follow on Instagram

Twitter

Tweets by crcsugm

Universitas Gadjah Mada

Gedung Sekolah Pascasarjana UGM, 3rd Floor
Jl. Teknika Utara, Pogung, Yogyakarta, 55284
Email address: crcs@ugm.ac.id

 

© CRCS - Universitas Gadjah Mada

KEBIJAKAN PRIVASI/PRIVACY POLICY