• Tentang UGM
  • Portal Akademik
  • Pusat TI
  • Perpustakaan
  • Penelitian
Universitas Gadjah Mada
  • About Us
    • About CRCS
    • Vision & Mission
    • People
      • Faculty Members and Lecturers
      • Staff Members
      • Students
      • Alumni
    • Facilities
    • Library
  • Master’s Program
    • Overview
    • Curriculum
    • Courses
    • Schedule
    • Admission
    • Scholarship
    • Accreditation and Certification
    • Academic Collaborations
      • Crossculture Religious Studies Summer School
      • Florida International University
    • Academic Documents
    • Student Satisfaction Survey
  • Article
    • Perspective
    • Book Review
    • Event Report
    • Class Journal
    • Interview
    • Wed Forum Report
    • Thesis Review
    • News
  • Publication
    • Reports
    • Books
    • Newsletter
    • Monthly Update
    • Infographic
  • Research
    • CRCS Researchs
    • Resource Center
  • Community Engagement
    • Film
      • Indonesian Pluralities
      • Our Land is the Sea
    • Wednesday Forum
    • ICIR
    • Amerta Movement
  • Beranda
  • Laporan Wednesday Forum
  • Menggapai Pencerahan dengan Kecerdasan Buatan

Menggapai Pencerahan dengan Kecerdasan Buatan

  • Laporan Wednesday Forum, Wednesday Forum Report
  • 30 June 2022, 15.10
  • Oleh: crcs ugm
  • 1

Menggapai Pencerahan dengan Kecerdasan Buatan

Dian Nuri Ningtyas – 30 Juni 2022

Kecerdasan buatan atau articial intellence (AI) telah menjadi bagian tak terpisahkan bagi kehidupan manusia saat ini. Dengan algoritmanya, kecerdasan buatan berperan dari hal kecil sehari-hari seperti membayar tagihan, menggunakan mesin pencari, hingga membantu mengatasi krisis iklim atau, sebaliknya, memicu konflik antaragama. Dalam tingkatan tertentu, peran kecerdasan buatan  lebih nyata terlihat daripada peran agama di masyarakat yang kian pragmatis. Di sisi lain, salah satu tantangan besar yang dihadapi oleh agama-agama di dunia saat ini adalah menjawab pertanyaan bagaimana agar agama tetap relevan. Pertanyaannya, sejauh mana keberadaan kecerdasan buatan mampu membantu agama menjawab tantangan zaman? Ataukah keberadaaanya justru membuat agama semakin tidak relevan dan menggantikannya?

Dialektika tersebut menjadi bahasan Wednesday Forum 6 April 2022 yang menghadirkan Prof. Soraj Hongladarom, dari Departemen Filsafat dan Teknologi, Universitas Chulalongkorn, Bangkok, Thailand. Dalam presentasinya yang bertajuk “Artifical Intellegence and Religion”, guru besar yang akrab dipanggil Ajahn Soraj ini memaparkan bagaimana Buddha, sebagai agama yang berusia ribuan tahun dan sangat terikat dengan tradisi kuno, berelasi dengan keberadaan kecerdasan buatan.

Buddha dan Kecerdasan Buatan: Selayang Pandang

Secara umum, tidak ada alasan bagi agama Buddha untuk memusuhi teknologi. Ajaran Buddha memandang kecerdasan buatan melalui sudut pandang etika sekuler atau keduniawaian. Teknologi dibuat untuk memudahkan dan membantu kerja manusia dalam banyak hal. Secara khusus, kecerdasan buatan dirancang untuk dapat “berpikir” secara sistematis dan memahami sesuatu laiknya otak manusia. Dalam beberapa hal, kecerdasan buatan mampu memproses dan menyortir informasi jauh lebih cepat dari manusia. Salah satu contohnya adalah mesin pencarian seperti Google, Bing, Yahoo, atau mesin pencarian lainnya. Dalam tradisi Buddha, penerimaan terhadap teknologi ini dikontekstualisasikan melalui ajaran “menggunakan yang kita diperbolehkan, membuang yang dilarang”. Dengan kata lain, kemajuan teknologi adalah sebuah kebaikan jika digunakan untuk kepentingan umat dan ajaran agama. Sebaliknya, teknologi menjadi buruk jika digunakan untuk merugikan diri sendiri maupun orang lain. Keburukan inilah yang wajib dihindari oleh umat Buddha.

Keberadaan kecerdasan buatan sudah dirasakan manfaatnya oleh para biksu dan umat Buddha. Dahulu, para biksu, yang hidup terpisah dengan orang awam, bertekun diri untuk menyalin kitab suci atau mencari ayat-ayat langsung dari kitab suci. Hal ini tentu saja membutuhkan banyak waktu, tenaga, dan keahlian khusus. Namun, sejak kitab suci disalin dalam bentuk elektronik, dengan bantuan kecerdasan buatan orang awam pun bisa mencari ayat-ayat yang kontekstual sesuai kebutuhan mereka hanya dengan mengetikkan kata kunci. Kecerdasan buatan membantu banyak biara ataupun vihara dalam mengelola keuangan dan donasi secara mudah dan transparan.

Dalam kasus Thailand, menurut Ajahn Soraj, Buddha sebagai agama yang terikat dengan tradisi masa lampau membuatnya memiliki aturan yang terkesan kaku sehingga berjarak dengan anak muda saat ini. Kecerdasan buatan dapat menjadi jembatan untuk menjangkau kaum muda agar lebih tertarik belajar agama Buddha. Ajahn  Soraj memberi contoh laman akun Facebook bernama AI Monk yang menyediakan berbagai pengetahuan tentang agama Buddha secara virtual dan interaktif. Para penggunanya dapat bertanya tentang ayat tertentu maupun berkomentar tentang ayat tersebut . Melalui cara ini belajar agama menjadi lebih menyenangkan dan dapat dilakukan di mana dan kapan saja.

Contoh lainnya adalah sebuah aplikasi ponsel pintar bernama “Buddhify-Mindfullness Meditation On The Go”. Aplikasi ini menyediakan tuntunan untuk melakukan meditasi secara mandiri. Menariknya, aplikasi ini tidak hanya diakses oleh umat Buddha di Thailand, tetapi juga oleh masyarakat umum dari berbagai negara. Dengan kata lain, kecerdasan buatan telah membawa agama Buddha di Thailand menjangkau umat lebih luas dan membantu mereka mencapai pencerahan.

Menakar Batas Kecerdasan Buatan

Dengan demikian, pertanyaan yang selanjutnya muncul adalah apakah kecerdasan buatan bisa dipandang sebagai sesuatu yang religius? “Tergantung”, jawab Ajahn Soraj. Jika kecerdasan buatan ini mampu memiliki kesadaran penuh terhadap yang dilakukannya seperti halnya manusia dan melakukan tindakan keagamaan, “maka itu akan menjadi religius.” Namun, pada kenyataannya, saat ini kecerdasan buatan merupakan teknologi yang memerlukan pemprograman tertentu yang tentunya memiliki keterbatasan, Ia hanya bisa bekerja atau bertindak sesuai dengan rangkaian perintah yang diprogramkan. Artinya, kecerdasan buatan tidak memiliki kesadaran seperti halnya manusia.

Memasuki sesi tanya jawab, Leonard C. Epafras yang menajdi moderator dalam diskusi ini melontarkan sebuah pertanyaan menarik: Apakah adanya kecerdasan buatan akan menguatkan ide singularitas atau hilangnya aspek-aspek kemanusiaan karena telah digantikan oleh teknologi? Ajahn Soraj kembali bertanya bila mana sigularitas  itu akan datang? Pertanyaan soal singularitas selalu menjadi pertanyaan terbuka yang akan selalu menjadi perbincangan. Namun demikian, ia menekankan bahwa secanggih apa pun teknologi tetap membutuhkan campur tangan manusia dalam sisi teknis dan pemprograman. Selain itu, faktor etika akan menjadi salah satu yang menjadi penghambat singularitas. Banyak ilmuwan mencoba menciptakan mesin yang menyerupai manusia. Namun, mesin dan teknologi itu tetaplah berbeda dengan manusia karena mereka tidak dianugrahi kesadaran laiknya manusia. Meski demikian, jika suatu saat nanti hal ini dapat diciptakan, Ajahn Soraj berpendapat, “kita harus mencegahnya!” Jika hal tersebut terjadi,  bukan tidak mungkin kehidupan manusia akan dikontrol oleh negara yang menguasai teknologi. Maka itu, penting untuk tetap mengedepankan etika dalam pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi.

Pertanyaan selanjutnya datang dari Diane Butler mengenai kemungkinan bahwa kecerdasan buatan akan menggantikan manusia di sektor kesehatan. Diane mencontohkan bagaimana ibunya yang telah berusia 92 tahun dan tinggal sendiri memilih untuk menggunakan semacam kalung yang dapat mendeteksi tanda vitalnya. Kalung tersebut dapat menghubungi ambulans secara otomatis jika terjadi kondisi kegawatdaruratan. Menurut Ajahn Soraj, tak peduli seberapa canggih sebuah teknologi kesehatan, ia tidak bisa menggantikan manusia dalam merawat orang tua. Merawat orang tua adalah kegiatan yang membutuhkan sisi humanis dan emosional. Sentuhan kasih sayang dan kesadaran inilah yang tidak dimiliki oleh robot ataupun alat-alat dengan kecerdasan buatan lainnya.

Laiknya tangga, kecerdasan buatan membantu manusia untuk mencapai pencerahan dalam kehidupan beragama. Akan tetapi, bagaimana pun, tangga hanyalah alat yang dibuat dan dirancang manusia untuk kegunaan tertentu. Tangga tersebut, bagaimana pun bentuknya, tidak serta-merta otomatis membawa manusia sampai ke tujuan. Manusialah yang harus menapaki tangga tersebut dengan penuh kesadaran untuk menggapai pencerahan.

_______________________

Dian Nuri Ningtyas adalah Mahasiswa Program Studi Agama dan Lintas Budaya (CRCS), Sekolah Pascasarjana UGM, angkatan 2020. Baca tulisan Dian lainnya di sini.

Foto tajuk artikel ini oleh Adam Smigielski

Rekaman Wednesday Forum “AI and Religion “ oleh Prof. Soraj Holangdarom

 

Tags: Buddha dian nuri ningtyas teknologi

Leave A Comment Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Comment (1)

  1. Teknologi Futuristik 2 years ago

    artikel seputar pencerahan dengan kecerdasan buatan sungguh bermanfaat. Era digital membuka banyak peluang melalui kemajuan teknologi yang canggih. Jasa Virtual Reality dapat menciptakan pengalaman visual dan interaktif yang inovatif, terutama dalam penerapan teknologi berbasis realitas virtual.

    Reply

Instagram

crcs_ugm

Sedang tidak baik-baik saja, kamu biasanya mencari Sedang tidak baik-baik saja, kamu biasanya mencari apa di internet?

Banyak anak muda hari ini menemukan ketenangan, nasihat, bahkan jawaban atas kegelisahan melalui media sosial, konten keagamaan, akun kesehatan mental, hingga AI chatbot. Namun, bagaimana sebenarnya pengalaman itu terjadi?
Kami sedang melakukan penelitian untuk memahami bagaimana generasi muda usia 10–24 tahun mencari informasi keagamaan maupun kesehatan mental saat menghadapi masa-masa sulit.
Jika kamu merasa topik ini dekat dengan pengalamanmu, kami mengundangmu menjadi responden.
Partisipasi bersifat sukarela dan seluruh jawaban dijaga kerahasiaannya.
Kamu bisa langsung kirim DM jawabanmu atau mau tanya-tanya dulu juga boleh.

Kami tunggu ya.
Katanja koeliah S2 itoe mahal? Eitss , djangan s Katanja  koeliah S2 itoe mahal? 
Eitss , djangan salah
Bersama keempat mahasiswa angkatan 2025, kita akan ngobrolin djoeroes-djoeroes djitoe mendapatkan beasiswa di CRCS UGM

Begitoe?
Before petroleum fueled the world, it fractured th Before petroleum fueled the world, it fractured the archipelago

The raise of the colonial petroleum industry in the Dutch East Indies was also the emergence of new spatial inequalities. Outer Java was not merely discovered as a resource zone. It was politically produced as an extractive territory through imperial concessions, colonial state-building, and global struggles over resource control.

Join us in this presentation on capitalism, oil, and the colonial fractures that continue to haunt the geography of modern Indonesia. We provide snacks and drinks, don't forget to bring your tumbler. This event is free and open to public.
M B G Satu kotak makan berisi nasi putih pulen seb M B G
Satu kotak makan berisi nasi putih pulen sebagai sumber karbohidrat utama, dimasak dari beras medium pilihan, air, sedikit garam, dan beberapa tetes minyak agar tidak cepat basi. Di sampingnya terdapat ayam semur kecap, dibuat dari potongan daging ayam, bawang merah, bawang putih, kecap manis, daun salam, lengkuas, garam, dan sedikit gula sehingga memberi asupan protein hewani yang cukup untuk pertumbuhan. Sebagai pendamping lauk utama, disediakan tempe orek manis gurih dari tempe iris tipis, bawang merah, bawang putih, cabai, kecap, dan gula merah. Tempe ini berfungsi menambah protein nabati sekaligus membuat kotak makan tampak lebih penuh, sebab protein memang sering lebih meyakinkan bila hadir rangkap dua. Untuk unsur sayuran, ada tumis wortel dan buncis yang dimasak dari wortel segar, buncis, sedikit kol, bawang putih, garam, merica, dan minyak sayur. Warna oranye-hijau pada sayur ini penting: bukan hanya untuk vitamin A dan serat, tetapi juga agar foto dokumentasi tidak terlihat terlalu pucat.Sebagai pelengkap vitamin alami, satu buah pisang atau sepotong pepaya matang diletakkan di sudut kotak. Buah dipilih yang murah, tahan banting, tidak gampang memar, dan cukup fotogenik ketika dibagikan massal. Terakhir, ditambahkan susu UHT kotak kecil berbahan susu sapi, gula, dan fortifikasi vitamin, atau kadang telur rebus utuh sebagai penutup protein tambahan.

Berbuih-buih seperti pelaksanaannya ...
Follow on Instagram

Twitter

Tweets by crcsugm

Universitas Gadjah Mada

Gedung Sekolah Pascasarjana UGM, 3rd Floor
Jl. Teknika Utara, Pogung, Yogyakarta, 55284
Email address: crcs@ugm.ac.id

 

© CRCS - Universitas Gadjah Mada

KEBIJAKAN PRIVASI/PRIVACY POLICY