• Tentang UGM
  • Portal Akademik
  • Pusat TI
  • Perpustakaan
  • Penelitian
Universitas Gadjah Mada
  • About Us
    • About CRCS
    • Vision & Mission
    • People
      • Faculty Members and Lecturers
      • Staff Members
      • Students
      • Alumni
    • Facilities
    • Library
  • Master’s Program
    • Overview
    • Curriculum
    • Courses
    • Schedule
    • Admission
    • Scholarship
    • Accreditation and Certification
    • Academic Collaborations
      • Crossculture Religious Studies Summer School
      • Florida International University
    • Academic Documents
    • Student Satisfaction Survey
  • Article
    • Perspective
    • Book Review
    • Event Report
    • Class Journal
    • Interview
    • Wed Forum Report
    • Thesis Review
    • News
  • Publication
    • Reports
    • Books
    • Newsletter
    • Monthly Update
    • Infographic
  • Research
    • CRCS Researchs
    • Resource Center
  • Community Engagement
    • Film
      • Indonesian Pluralities
      • Our Land is the Sea
    • Wednesday Forum
    • ICIR
    • Amerta Movement
  • Beranda
  • Perspective
  • Menjaga Bumi, Merawat Perlawanan

Menjaga Bumi, Merawat Perlawanan

  • Perspective
  • 4 March 2026, 16.40
  • Oleh: crcs ugm
  • 0

Gerakan perempuan Samin melawan tambang semen di Pegunungan Kendeng tidak hanya menjadi bentuk perlawanan terhadap eksploitasi, tetapi juga penolakan terhadap logika dualisme manusia-alam. Perjuangan tersebut merepresentasikan upaya mewujudkan kewargaan ekologis yang berangkat dari pengalaman tubuh perempuan. 

Meskipun perlawanan masyarakat Samin terhadap eksploitasi alam di Pegunungan Kendeng telah berlangsung lebih dari satu dekade silam, api perjuangannya tidak pernah terkubur. Kemunculan konflik serupa akhir-akhir ini pada proyek geothermal di Gunung Ciremai dan penetapan Rempang Eco-City sebagai Proyek Strategis Nasional (PSN) menunjukan pola konflik yang terus berulang. PSN menjadi alat baru perampasan tanah dan krisis agraria dengan dalih pembangunan. Dalam konteks ini, upaya masyarakat akar rumput melawan PSN tidak semata-mata merupakan perjuangan tanah secara fisik, tetapi juga perebutan diskursus hak ruang hidup dan keadilan ekologis. 

Belajar dari Samin

Perempuan Samin menolak paradigma pembangunan yang memosisikan alam semata-mata sebagai objek untuk dieksploitasi demi kepentingan ekonomi. Ma’arif (2017) menjelaskan, bumi bagi masyarakat Samin adalah Ibu yang memberi kehidupan. “Ibu Bumi” harus dihormati sebagaimana manusia menghormati ibu kandung.  Ibu bumi melahirkan air dan tanaman yang dibutuhkan manusia (Adam dan Bagir, 2022). Karena itu, mengeksploitasi alam sama artinya dengan merusak sumber kehidupan itu sendiri. Perlawanan perempuan Samin terhadap pertambangan di Pegunungan Kendeng merupakan bagian dari perjuangan dalam merawat tradisi dan kosmologi adat mereka. 

Perempuan Samin memegang erat filosofi sedulur sikep dalam menjalankan hubungan antara manusia dan alam. Filosofi tersebut menekankan pada ngajeni (menghormati), ngopeni (merawat), dan demunung (selaras) dalam menjalani hidup. Hal ini tecermin dalam praktik pertanian organik, konservasi hutan, dan penjagaan atas sumber mata air. Bagi perempuan Samin, alam bukanlah objek semata, melainkan mitra hidup yang harus dijaga dan dihormati. Seperti yang dikatakan oleh Gunarti, salah satu penggerak Kartini Kendeng, “tresnanana ibu bumi kaya tresnani awakmu dhewe!” (cintai ibu bumi seperti kita mencintai diri sendiri). Sikap kecintaan manusia terhadap bumi menegaskan bahwa adanya hubungan relasi manusia dengan nonmanusia yang saling menopang. Dalam hal ini, bumi merupakan sedulur (sibling) bagi perempuan Samin. Penegasan tersebut merupakan etika relasional yang menjadi dasar masyarakat Samin untuk menghadirkan solidaritas antarciptaan.

Menolak Logika Dualisme

Pandangan sedulur sikep sebagai etika relasional menjadi kritik terhadap kerangka berpikir modern yang cenderung menempatkan manusia dalam struktur hierarkis. Val Plumwood dalam Environmental Culture: The Ecological Crisis of Reason (2002)  menjelaskan bahwa krisis ekologi berakar dari sistem yang menempatkan manusia sebagai pusat alam semesta (antroposentrisme), sementara yang lain dianggap sebagai “the other”. Dalam kerangka ini, keberadaan alam hanya untuk memenuhi kebutuhan manusia. Dalam hal ini, relasi yang dibangun antara manusia dengan alam menjadi relasi dominasi. Plumwood menyebutnya sebagai logika dualisme, yaitu sebuah kerangka berpikir yang memisahkan antara superior dan inferior (manusia-alam, maskulin-feminin). Logika dualisme inilah yang menjadi akar dari kerusakan ekologis yang terus terjadi berkepanjangan. 

Dalam konflik Kendeng, dan berbagai PSN, negara menggunakan cara pandang dualisme tersebut. Pegunungan Kendeng dianggap hanya sebagai objek yang dapat diekstraksi, bukan sebagai bagian dari ekosistem hutan dan sumber mata air yang dapat menopang hidup banyak makhluk. Dalih “pembangunan” yang dilakukan negara merupakan upaya penyingkiran relasionalitas ekologis yang selama ini telah dirawat oleh perempuan Samin. Dalam pandangan Plumwood, ini merupakan “backgrounding” dan “externalization”, alam dan tubuh perempuan dipinggirkan sebagai latar yang dapat dieksploitasi. 

Perlawanan perempuan samin mempresentasikan kritik terhadap logika dominasi tersebut. Filosofi ngajeni, ngopeni, dan demunung merupakan praktik ekologis yang melahirkan relasi saling membutuhkan antara manusia dan bumi. Manusia mengolah tanah agar tetap subur dan tanah memberi manusia hasil panen untuk kebutuhan hidupnya. Relasi tersebut juga tergambarkan dalam ekspresi lokal gundel-ginondol, yang berarti manusia dan bumi saling terhubung (interconnected) dan tidak dapat dipisahkan (inseparable) (Adam dan Bagir, 2022).

Kewargaan Ekologis Perempuan

Sherilyn MacGregor dalam Ecofeminist Political Theory (2020) menekankan bahwa perempuan merupakan aktor utama penjaga kelestarian bumi karena mereka bertaut erat dengan materialitas bumi dalam kehidupan sehari-hari, seperti air untuk memasak dan tanah untuk menanam sumber pangan. Ketika ekologi rusak dan runtuh, perempuan merupakan yang pertama mendapatkan dampak dan konsekuensinya. Perlawanan perempuan Samin atas rusaknya ruang hidup mereka merupakan arena aksi politik ekologis yang disebut oleh MacGregor sebagai politic of everyday. Perjuangan politik tidak dipahami hanya terbatas pada institusi formal. Ruang keseharian juga merupakan arena perjuangan yang sah. Dengan begitu, aksi solidaritas perempuan Samin mempresentasikan perjuangan politik yang berangkat dari pengalaman material tubuh dan keseharian. 

Aksi politik perempuan Samin lahir dari tubuh yang terhubung pada bumi. Aksi “mengecor kaki” di depan istana negara bukan sekedar simbol teatrikal, melainkan tindakan moral yang termanifestasi dari filosofi hidup mereka. Tubuh mereka dan tubuh bumi merupakan satu kesatuan yang saling terhubung. Dengan merelakan tubuh mereka dibekukan oleh semen, perempuan Samin memperlihatkan bagaimana kerusakan ekologis secara langsung menjelma menjadi luka pada tubuh mereka sendiri. Inilah bentuk nyata dari ecofeminist ontologi yang memandang bahwa alam, tubuh, dan materi sebagai entitas yang saling terhubung. Melalui aksi tersebut, perempuan Samin mengingatkan bahwa merawat bumi bukanlah pilihan, melainkan kewajiban etis yang melekat pada keberadaan manusia sebagai bagian dari kehidupan. 

Perjuangan perempuan Samin dalam melawan kerusakan lingkungan merupakan salah satu langkah membangun kewargaan ekologis. McGregor menjelaskan, kewargaan ekologis merupakan bentuk tindakan dan relasi manusia yang menempatkan tanggung jawab ekologis dalam praktik keberlanjutan. Hal ini berbeda dengan model kewargaan liberal yang membatasi status kewargaan terbatas pada hak-hak individu dan institusi formal negara. Dengan kata lain, kewargaan ekologis menekankan pada keterlibatan aktif dalam menjaga dan merawat keberlanjutan hidup ekologis untuk generasi mendatang, alih-alih status yang diberikan secara formal oleh institusi negara. 

Perjuangan politik ekologis perempuan Samin lahir dari relasi langsung dengan tanah adat mereka yang hendak dieksploitasi atas nama pembangunan. Aksi penolakan pabrik semen di tanah mereka berangkat dari pengetahuan ekologis yang mendasar bagi pembangunan berkeadilan. Di tengah kerusakan lingkungan dan krisis iklim yang semakin nyata, perjuangan perempuan Samin menjadi pengingat bahwa masa depan bumi dapat dijaga ketika demokrasi dibangun dari suara yang termarjinalkan dan mendengarkan aspirasi-aspirasi dari tubuh yang bersentuhan langsung dengan ruang hidupnya.

______________________

M. Siswanto adalah mahasiswa Program Studi Agama dan Lintas Budaya (CRCS), Sekolah Pascasarjana UGM, angkatan 2025. Baca tulisan Sis lainnya di sini.

Foto tajuk artikel bersumber dari Estu Fanani/konde.co

 

Tags: adat Agama dan Ekologi feminisme gerakan perempuan kendeng m siswanto

Leave A Comment Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Instagram

M B G Satu kotak makan berisi nasi putih pulen seb M B G
Satu kotak makan berisi nasi putih pulen sebagai sumber karbohidrat utama, dimasak dari beras medium pilihan, air, sedikit garam, dan beberapa tetes minyak agar tidak cepat basi. Di sampingnya terdapat ayam semur kecap, dibuat dari potongan daging ayam, bawang merah, bawang putih, kecap manis, daun salam, lengkuas, garam, dan sedikit gula sehingga memberi asupan protein hewani yang cukup untuk pertumbuhan. Sebagai pendamping lauk utama, disediakan tempe orek manis gurih dari tempe iris tipis, bawang merah, bawang putih, cabai, kecap, dan gula merah. Tempe ini berfungsi menambah protein nabati sekaligus membuat kotak makan tampak lebih penuh, sebab protein memang sering lebih meyakinkan bila hadir rangkap dua. Untuk unsur sayuran, ada tumis wortel dan buncis yang dimasak dari wortel segar, buncis, sedikit kol, bawang putih, garam, merica, dan minyak sayur. Warna oranye-hijau pada sayur ini penting: bukan hanya untuk vitamin A dan serat, tetapi juga agar foto dokumentasi tidak terlihat terlalu pucat.Sebagai pelengkap vitamin alami, satu buah pisang atau sepotong pepaya matang diletakkan di sudut kotak. Buah dipilih yang murah, tahan banting, tidak gampang memar, dan cukup fotogenik ketika dibagikan massal. Terakhir, ditambahkan susu UHT kotak kecil berbahan susu sapi, gula, dan fortifikasi vitamin, atau kadang telur rebus utuh sebagai penutup protein tambahan.

Berbuih-buih seperti pelaksanaannya ...
G U S Mulanya "gus" adalah panggilan untuk anak ki G U S
Mulanya "gus" adalah panggilan untuk anak kiai yang belum cukup pantas secara umur dan ilmu dipanggil sebagai kiai. Masih magang. Namun, tradisi itu sedikit goyang karena dua sosok: Gus Dur dan Gus Miek. Keduanya tentu sudah pantas menyandang gelar kiai, tetapi rupanya nama magang itu sudah kadung merasuk dan menubuh. Jadilah istilah gus naik pangkat di kalangan awam sebagai sebutan untuk pemuka agama kharismatik yang ndak kalah aji dengan kiai. Kini, gelar gus lagi-lagi goncang. Pasalnya, banyak sosok yang mengaku dan didaku sebagai gus. Parahnya, banyak orang tak lagi bertanya: siapa gurunya, siapa nasabnya, atau apa yang dibaca? Gus seolah menjadi lisensi untuk mengais gold dan glory dalam bisnis berjenama "agama". 

Simak sindiran @safinatul_aula atas fenomena gus-gusan yang kerap membuat kita mengelus empedu. Hanya di situs web crcs.
S U R G A Surga dan neraka memang dibuat sebagai a S U R G A
Surga dan neraka memang dibuat sebagai alat ukur dan wadah pemisah. Keberadaanya merupakan konsekuensi logis dari sebuah tarik ulur tentang baik dan buruk. Mereka yang dijanjikan surga patut bersenang hati. Namun, ada saat ketika keyakinan tentang keselamatan tidak lagi menenangkan. Mungkin persoalannya bukan siapa yang akan masuk surga, melainkan mengapa kita begitu sibuk memastikan orang lain tidak.
Berawal dari percakapan antah berantah, @safinatul_aula tengah berefleksi tentang nasib diri dan teman-temannya nanti. Simak refleksinya di situs web crcs.
Tensions around the Gulf of Hormuz are shaking glo Tensions around the Gulf of Hormuz are shaking global oil supply and accelerating the push for alternatives green energy. Geothermal is often framed as the answer. But whose “green” is it?
What if “green energy” isn’t always as green as it sounds?
Together with @honeyyymooooonnn we bring stories from communities on the frontlines of geothermal projects in Indonesia, where sustainability is debated, challenged, and reimagined. It is not just about resistance, but a different way of thinking about energy, justice, and our relationship with nature.

Join the discussion at UGM Graduate School building, 3rd floor. We provide snacks and drinks, don't forget to bring your tumbler. This event is free and open to public.
Follow on Instagram

Twitter

Tweets by crcsugm

Universitas Gadjah Mada

Gedung Sekolah Pascasarjana UGM, 3rd Floor
Jl. Teknika Utara, Pogung, Yogyakarta, 55284
Email address: crcs@ugm.ac.id

 

© CRCS - Universitas Gadjah Mada

KEBIJAKAN PRIVASI/PRIVACY POLICY