• Tentang UGM
  • Portal Akademik
  • Pusat TI
  • Perpustakaan
  • Penelitian
Universitas Gadjah Mada
  • About Us
    • About CRCS
    • Vision & Mission
    • People
      • Faculty Members and Lecturers
      • Staff Members
      • Students
      • Alumni
    • Facilities
    • Library
  • Master’s Program
    • Overview
    • Curriculum
    • Courses
    • Schedule
    • Admission
    • Scholarship
    • Accreditation and Certification
    • Academic Collaborations
      • Crossculture Religious Studies Summer School
      • Florida International University
    • Academic Documents
    • Student Satisfaction Survey
  • Article
    • Perspective
    • Book Review
    • Event Report
    • Class Journal
    • Interview
    • Wed Forum Report
    • Thesis Review
    • News
  • Publication
    • Reports
    • Books
    • Newsletter
    • Monthly Update
    • Infographic
  • Research
    • CRCS Researchs
    • Resource Center
  • Community Engagement
    • Film
      • Indonesian Pluralities
      • Our Land is the Sea
    • Wednesday Forum
    • ICIR
    • Amerta Movement
  • Beranda
  • Berita Wednesday Forum
  • Perempuan Lebih Spritualis daripada Laki-laki

Perempuan Lebih Spritualis daripada Laki-laki

  • Berita Wednesday Forum
  • 16 April 2009, 00.00
  • Oleh:
  • 0

Rabu, 1 April 2009. Wednesday Forum mendiskusikan topik sufisme dan perempuan. Najiyah Martiam, pembicara, sekaligus alumni CRCS, berpendapat bahwa dunia sufisme adalah dunia yang penuh dengan pemikiran-pemikiran yang peduli dan ramah terhadap perempuan. Hasil penelitian ini diperoleh setelah melakukan penelitian terhadap tiga sufi perempuan dan satu sufi laki-laki di Yogyakarta, dan pengalaman wawancara dengan tokoh-tokoh sufi di Turki selama kurang lebih satu bulan.

Bagi Jim, panggilan akrab Najiah, Ibn Arabi (1165-1240) dan Jalaluddin Rumi (1207-1273) adalah tokoh sufi yang berpendapat bahwa perempuan adalah sosok yang sangat penting dalam menjalankan kesufian mereka. Ibn Arabi mengatakan jika seorang laki-laki ingin menjadi seorang sufi, maka ia harus berubah menjadi seorang perempuan. Pandangannya ini terkait dengan caranya memandang keilahian sebagai sesuatu yang feminin. Sedangkan Jalaluddin Rumi menegaskan bahwa perempuan adalah sinar Tuhan. Mereka tidak hanya dicintai secara duniawi, mereka kreatif, tidak diciptakan. Menurutnya, ketika seorang perempuan menahan perasaan-perasaannya di bawah kontrol hawa nafsunya, maka pada saat itu ia sedang meninggalkan laki-laki, ia berada pada jalan Tuhan dan mencapai kebenaran lebih cepat daripada laki-laki.

Dua tokoh sufi laki-laki ini menunjukkan besarnya perhatian mereka terhadap perempuan dalam hubungannya dengan Tuhan. Bagaimana dengan para sufi perempuan memandang perempuan dan Tuhan? Untuk menjawab pertanyaan ini, melalui penelitiannya terhadap tiga sufi perempuan di Jawa, antara lain : Umi, Bu Heni dan Mbak Ati Hidayati, Jim melihat bahwa ada perbedaan spiritualitas antara laki-laki dan perempuan. Ia mengatakan bahwa spiritualitas perempuan lebih integratif atau holistik. Ada sebuah kesatuan intrinsik dari keseluruhan bentuk ciptaan yang disebut juga ?kekuatan hidup? atau ?energi kehidupan?. Tuhan dianggap ?di sini? bukan ?di sana?. Pengalaman kebersatuan dengan yang ilahi dapat dicapai oleh siapapun, sekarang dan di sini. Tidak ada dikotomi antara tubuh dan pikiran. Tubuh adalah sumber utama spiritualitas dan kekuatan.

Dengan meneliti para sufi di atas, Jim tidak bermaksud untuk lebih mengedepankan perempuan daripada laki-laki, melainkan menunjukkan bahwa di dunia ini dibutuhkan sebuah keseimbangan. Ia tidak berbicara tentang dikotomi antara perempuan dan laki-laki. Lebih dari itu, energi maskulin dan feminim yang dimiliki setiap manusia harus dapat seimbang. Menurutnya, budaya patriarki yang mengedepankan maskulinitas telah menyebabkan ketidakseimbangan di dunia ini yang berakhir pula dengan dominasi rasio dan superioritas laki-laki terhadap perempuan. Oleh karena itu, energi feminin, yang merepresentasikan perasaan dan keberadaan perempuan di dunia ini, harus pula dikembangkan hingga mencapai keseimbangan yang dimaksud.

Kerangka berpikir sufisme ini, sebagaimana ungkap Jim, menarik untuk diikutsertakan dalam persoalan isu ketidaksetaraan gender dan persoalan-persoalan sosial lainnya yang merujuk pada maskulinitas. Hal ini sekaligus menunjukkan bahwa perbincangan mengenai metafisik patut kita pertimbangkan dalam mencari solusi-solusi pesoalan saat ini. Bahkan Fritjof Capra , seorang fisikawan, dalam bukunya berjudul ?Jaring-jaring Kehidupan? berpendapat bahwa fisika dan sejarah menunjukkan peristiwa-peristiwa di dunia ini terkait dengan kedua energi (maskulin dan feminin).

(JMI)

Leave A Comment Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Instagram

S U R G A Surga dan neraka memang dibuat sebagai a S U R G A
Surga dan neraka memang dibuat sebagai alat ukur dan wadah pemisah. Keberadaanya merupakan konsekuensi logis dari sebuah tarik ulur tentang baik dan buruk. Mereka yang dijanjikan surga patut bersenang hati. Namun, ada saat ketika keyakinan tentang keselamatan tidak lagi menenangkan. Mungkin persoalannya bukan siapa yang akan masuk surga, melainkan mengapa kita begitu sibuk memastikan orang lain tidak.
Berawal dari percakapan antah berantah, @safinatul_aula tengah berefleksi tentang nasib diri dan teman-temannya nanti. Simak refleksinya di situs web crcs.
Tensions around the Gulf of Hormuz are shaking glo Tensions around the Gulf of Hormuz are shaking global oil supply and accelerating the push for alternatives green energy. Geothermal is often framed as the answer. But whose “green” is it?
What if “green energy” isn’t always as green as it sounds?
Together with @honeyyymooooonnn we bring stories from communities on the frontlines of geothermal projects in Indonesia, where sustainability is debated, challenged, and reimagined. It is not just about resistance, but a different way of thinking about energy, justice, and our relationship with nature.

Join the discussion at UGM Graduate School building, 3rd floor. We provide snacks and drinks, don't forget to bring your tumbler. This event is free and open to public.
S I M P A N G Ada saat ketika tradisi tidak saling S I M P A N G
Ada saat ketika tradisi tidak saling meniadakan, tetapi diam-diam bernegosiasi. Seperti tahlilan yang bersanding dengan cengbeng. Dua bahasa ritual berbeda yang bertemu dalam kebutuhan yang sama: merawat ingatan dan menghadirkan yang telah tiada. Di situ, batas antara agama dan budaya dilenturkan. Mungkin yang mengganggu bukan pertemuannya, melainkan kegelisahan kita sendiri tentang siapa yang berhak menentukan mana yang sah, mana yang menyimpang.

Simak catatan lapangan @yohanes_leo27 tentang cengbeng di makam dukun gula Bah De Pok hanya di situs web crcs
ENTANGLED WORLDS 🌏 Toward a Transdisciplinary Envi ENTANGLED WORLDS 🌏
Toward a Transdisciplinary Environmental Studies

Wednesday Forum Thematic series brings together three distinct topics, each grounded in different disciplinary and lived backgrounds.
Across these conversations, we move from grassroots environmental struggles in Indonesia, to the historical formation of extractive industries under colonial capitalism, and finally to everyday religious practices embedded in agricultural life. Each session offers a different lens—activism, historical analysis, and lived religion—yet all point to the same reality: our environmental worlds are never isolated, but shaped through complex entanglements of power, belief, and practice.

Join the discussion at UGM Graduate School building, 3rd floor. We provide snacks and drinks, don't forget to bring your tumbler. This event is free and open to public.
Follow on Instagram

Twitter

Tweets by crcsugm

Universitas Gadjah Mada

Gedung Sekolah Pascasarjana UGM, 3rd Floor
Jl. Teknika Utara, Pogung, Yogyakarta, 55284
Email address: crcs@ugm.ac.id

 

© CRCS - Universitas Gadjah Mada

KEBIJAKAN PRIVASI/PRIVACY POLICY