• Tentang UGM
  • Portal Akademik
  • Pusat TI
  • Perpustakaan
  • Penelitian
Universitas Gadjah Mada
  • About Us
    • About CRCS
    • Vision & Mission
    • People
      • Faculty Members and Lecturers
      • Staff Members
      • Students
      • Alumni
    • Facilities
    • Library
  • Master’s Program
    • Overview
    • Curriculum
    • Courses
    • Schedule
    • Admission
    • Scholarship
    • Accreditation and Certification
    • Academic Collaborations
      • Crossculture Religious Studies Summer School
      • Florida International University
    • Academic Documents
    • Student Satisfaction Survey
  • Article
    • Perspective
    • Book Review
    • Event Report
    • Class Journal
    • Interview
    • Wed Forum Report
    • Thesis Review
    • News
  • Publication
    • Reports
    • Books
    • Newsletter
    • Monthly Update
    • Infographic
  • Research
    • CRCS Researchs
    • Resource Center
  • Community Engagement
    • Film
      • Indonesian Pluralities
      • Our Land is the Sea
    • Wednesday Forum
    • ICIR
    • Amerta Movement
  • Beranda
  • Class Journal
  • Setelah Paradigma Agama Dunia

Setelah Paradigma Agama Dunia

  • Class Journal
  • 28 April 2020, 17.09
  • Oleh: CRCS UGM
  • 0

Setelah Paradigma Agama Dunia

Tarmizi Abbas – 28 April 2020

Karya klasik Wilfred Cantwell Smith berjudul The Meaning and End of Religion (1962) hingga kini masih menjadi buku daras primer di banyak program studi agama di perguruan-perguruan tinggi dunia. Di Indonesia, CRCS UGM menggunakannya sebagai salah satu bacaan penting dalam mata kuliah dasar Academic Study of Religion pada semester pertama. Kini pelbagai refleksi dan respons telah muncul terhadap karya Smith yang mendekonstruksi definisi agama itu. (Baca review saya terhadap buku Smith itu di situs web CRCS ini: Agama sebagai Konstruksi Modern)

Salah satu yang melakukan refleksi itu ialah James L. Cox, Profesor Emeritus Studi Agama di Universitas Edinburgh. Di dalam esai pengantar berjudul Before the ‘After’ in ‘After World Religions’, Cox menyebut Smith sebagai pelopor kritik kontemporer terhadap Paradigma Agama Dunia yang berhasil membuka arah baru bagi studi agama di perguruan tinggi agar lebih inklusif. Kata pengantar ini kemudian menjadi tulisan pembuka dalam buku kompilasi tulisan yang berjudul After World Religion: Reconstructing Religious Studies (Routledge, 2016).

Dalam pengantar tersebut, Cox menulis, “Paradigma agama dunia harus dianalisis, dikritik, bahkan diruntuhkan karena turut mengeksklusi praktik-praktik keagamaan yang berada di luar agama-agama tersebut” (h. xii). Cox menyebut warisan intelektual Smith dalam kesarjanaan studi agama mutakhir dapat dirunut dalam tiga poin: 1) definisi agama (religion) dalam Paradigma Agama Dunia adalah hasil konstruksi pengetahuan Barat yang membatasi ragam pengalaman religius ke dalam sebuah sistem agama dunia yang baku; 2) kata ‘belief’ (sering diterjemahkan dengan ‘keyakinan’), yang hanya merepresentasikan agama-agama dunia di dalam berbagai bahan ajar, telah mencerabut makna asli kata tersebut; dan 3) dalam wacana di dunia akademik maupun ruang publik, agama seharusnya didekati dengan empati pada pengalaman riil religiositas masyarakat yang hendak dikaji.

Kritik Smith terhadap paradigma agama dunia

Pada bab kedua berjudul Religion and the West di dalam bukunya, Smith mendekonstruksi definisi ‘agama’ dan penggunaan konsep ‘agama-agama dunia’ di dalam dunia akademik. Bagi Smith, makna umum ‘religion’ lahir dari konstruksi teoritis yang dibangun di bawah pengaruh Pencerahan Barat di abad ke 17. Bagi Cox, alasan paling fundamental yang diajukan Smith dalam hal ini adalah: agama yang berakar pada bahasa latin religio itu pada mulanya lebih menekankan pada aspek kualitas hidup lewat praktik sehari-hari. Praktik ini tidak selamanya mengandaikan adanya kekuatan Adikodrati di luar kehidupan material, seperti dewa dan Tuhan. Sebaliknya, religio berhubungan dengan pengalaman manusia.

Baru pada perkembangan selanjutnya, makna ‘pengalaman’ di dalam kata religio itu mengalami perubahan menjadi ‘praktik penyembahan’. Sebagai bentuk penyembahan, religio mengandaikan sesuatu yang harus disembah, ritual, dan institusi-institusi peribadatan. Pada fase inilah kemudian religio mengalami reifikasi dan berubah menjadi religion, dikonstruksi maknanya dan berubah statusnya sebagai sebuah ‘sistem ide’. Di kalangan para sarjana studi agama klasik, tulis Cox, agama Kristen adalah representasi awal sistem ini. Maka ketika tradisi keagamaan lain perlahan mulai ditemukan, alih-alih mendeskripsikannya sesuai dengan persepsi para pelakunya, ‘agama’ Kristen sebagai konstruksi intelektual menjadi standar atau prototipenya. Di sinilah Smith menulis, “dari agama yang satu, lalu menjadi plural”. Pada puncaknya, sistem ide ini berkembang dan dikenal luas dengan sebutan Paradigma Agama Dunia.

Paradigma agama dunia mengasumsikan bahwa seseorang hanya bisa disebut ‘beragama’ jika ia melakukan praktik-praktik tertentu di dalam sebuah sistem kepercayaan yang telah tersistematisasi layaknya agama-agama dunia saat ini. Konsekuensi inilah yang membuat Smith menolak definisi ‘agama’ ala agama dunia dan memilih untuk mengembalikannya pada makna asali yang berporos pada praktik-praktik religius. Di dalam Faith and Belief (1979), ketika melacak asal-usul ‘faith’, Smith menemukan bahwa kata tersebut bermaka ‘untuk menyayangi’ dan ‘untuk menghargai’ sesuatu, dan lebih lebih merujuk kepada ‘apa yang dilakukan’ ketimbang ‘apa yang seharusnya dipercayai’.

Di dalam The Faith and Other Man (1962), Smith juga menyampaikan pandangan bahwa problem reifikasi ‘agama’ sebenarnya dapat dihindari jika para pengkaji agama mendahulukan praktik keagamaan seseorang atau suatu komunitas melalui persepsi para praktisinya. Cara ini berguna untuk meminimalisasi bias paradigma agama dunia dalam studi agama. Maka ketika Smith mengajak mahasiswanya memahami tradisi keagamaan di luar Kristen, ia memilih menggunakan istilah tradisi ‘Muslim’, ‘Buddhis’, ‘Hindu’, dsb, alih-alih menarasikan keseluruhannya sebagai sistem keagamaan yang homogen (Islam, Buddhisme, Hinduisme, dst).

Setelah Wilfred Smith

Meskipun Smith menyadari bahwa iman bersifat personal, tapi praktik religius yang menjadi manifestasinya memiliki elemen yang komunal. Karena itu, Smith mengajukan pandangan bahwa bagaimana iman ini dipahami dan dijelmakan dalam praktik seharusnya tidak dipandang sebagai suatu hal yang statis, tetapi senantiasa berevolusi. Hal inilah yang membuat Smith menggambarkan agama sebagai fenomena yang mengandung dua elemen, yakni ‘iman’ dan ‘tradisi kumulatif’.

Namun Cox tidaklah mengamini seluruh gagasan Smith. Cox memandang bahwa Smith masih dibayangi bias Protestantisme ketika membicarakan salah satu elemen agama, yakni iman sebagai ‘keyakinan personal’ terhadap Yang Transenden. Hal ini dibuktikan dalam karya lain Smith yang berjudul Towards a World Theology (1981) ketika ia menyatakan bahwa agama itu adalah teologi, dan setiap teologi itu adalah ‘teologi-diri’ [self-theology] (h. 124). Meskipun Smith sadar bahwa Yang Trasenden itu tidak selamanya adalah Tuhan, tetapi penggunaan kata ‘teologi-diri’ inilah yang membuat Cox sendiri merasa bahwa Smith tidak bisa menyembunyikan posisinya sebagai teolog liberal dalam mendefinisikan agama, kepercayaan, dan keimanan.

Sebaliknya bagi Cox, keimanan itu harus lepas dari kategori-kategori esensialis sebagaimana yang lazim dimaknai di dalam agama-agama dunia. Hal ini bukan berarti keimanan tersebut tidak bisa didefinisikan. Sebagaimana terangkum di dalam karyanya yang berjudul From Primitive to Indigenous: The Academic Study of Indigenous Religions (2007), definisi agama, keimanan, dan kepercayaan haruslah berbasis pada konteks sosial dan lokal para penganutnya. Cox menyampaikan hal ini bertujuan untuk menginklusi agama-agama lokal yang selama ini didiskreditkan agama-agama dunia. Maka definisi agama, keimanan dan kepercayaan menurut Cox terbatas pada tempat, kekerabatan, identitas, otoritas dan seluruh simbol berikut nilai yang dimiliki oleh suatu komunitas.

Kendati mengkritik, Cox tetap mengapresiasi kontribusi Smith di dalam studi agama kontemporer, dari yang semula esensialis menjadi berjangkar pada praktik komunitas beragama; dan dari yang semula menerima istilah-istilah begitu saja menjadi sadar bahwa istilah-istilah itu tidaklah lahir dari ruang vakum sejarah.

______________

Tarmizi “Arief” Abbas adalah mahasiswa Program Studi Agama dan Lintas Budaya (CRCS), Sekolah Pascasarjana UGM, angkatan 2019. Baca tulisan Arief lainnya di sini.

Tags: tarmizi abbas

Leave A Comment Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Instagram

crcs_ugm

Sedang tidak baik-baik saja, kamu biasanya mencari Sedang tidak baik-baik saja, kamu biasanya mencari apa di internet?

Banyak anak muda hari ini menemukan ketenangan, nasihat, bahkan jawaban atas kegelisahan melalui media sosial, konten keagamaan, akun kesehatan mental, hingga AI chatbot. Namun, bagaimana sebenarnya pengalaman itu terjadi?
Kami sedang melakukan penelitian untuk memahami bagaimana generasi muda usia 10–24 tahun mencari informasi keagamaan maupun kesehatan mental saat menghadapi masa-masa sulit.
Jika kamu merasa topik ini dekat dengan pengalamanmu, kami mengundangmu menjadi responden.
Partisipasi bersifat sukarela dan seluruh jawaban dijaga kerahasiaannya.
Kamu bisa langsung kirim DM jawabanmu atau mau tanya-tanya dulu juga boleh.

Kami tunggu ya.
Katanja koeliah S2 itoe mahal? Eitss , djangan s Katanja  koeliah S2 itoe mahal? 
Eitss , djangan salah
Bersama keempat mahasiswa angkatan 2025, kita akan ngobrolin djoeroes-djoeroes djitoe mendapatkan beasiswa di CRCS UGM

Begitoe?
Before petroleum fueled the world, it fractured th Before petroleum fueled the world, it fractured the archipelago

The raise of the colonial petroleum industry in the Dutch East Indies was also the emergence of new spatial inequalities. Outer Java was not merely discovered as a resource zone. It was politically produced as an extractive territory through imperial concessions, colonial state-building, and global struggles over resource control.

Join us in this presentation on capitalism, oil, and the colonial fractures that continue to haunt the geography of modern Indonesia. We provide snacks and drinks, don't forget to bring your tumbler. This event is free and open to public.
M B G Satu kotak makan berisi nasi putih pulen seb M B G
Satu kotak makan berisi nasi putih pulen sebagai sumber karbohidrat utama, dimasak dari beras medium pilihan, air, sedikit garam, dan beberapa tetes minyak agar tidak cepat basi. Di sampingnya terdapat ayam semur kecap, dibuat dari potongan daging ayam, bawang merah, bawang putih, kecap manis, daun salam, lengkuas, garam, dan sedikit gula sehingga memberi asupan protein hewani yang cukup untuk pertumbuhan. Sebagai pendamping lauk utama, disediakan tempe orek manis gurih dari tempe iris tipis, bawang merah, bawang putih, cabai, kecap, dan gula merah. Tempe ini berfungsi menambah protein nabati sekaligus membuat kotak makan tampak lebih penuh, sebab protein memang sering lebih meyakinkan bila hadir rangkap dua. Untuk unsur sayuran, ada tumis wortel dan buncis yang dimasak dari wortel segar, buncis, sedikit kol, bawang putih, garam, merica, dan minyak sayur. Warna oranye-hijau pada sayur ini penting: bukan hanya untuk vitamin A dan serat, tetapi juga agar foto dokumentasi tidak terlihat terlalu pucat.Sebagai pelengkap vitamin alami, satu buah pisang atau sepotong pepaya matang diletakkan di sudut kotak. Buah dipilih yang murah, tahan banting, tidak gampang memar, dan cukup fotogenik ketika dibagikan massal. Terakhir, ditambahkan susu UHT kotak kecil berbahan susu sapi, gula, dan fortifikasi vitamin, atau kadang telur rebus utuh sebagai penutup protein tambahan.

Berbuih-buih seperti pelaksanaannya ...
Follow on Instagram

Twitter

Tweets by crcsugm

Universitas Gadjah Mada

Gedung Sekolah Pascasarjana UGM, 3rd Floor
Jl. Teknika Utara, Pogung, Yogyakarta, 55284
Email address: crcs@ugm.ac.id

 

© CRCS - Universitas Gadjah Mada

KEBIJAKAN PRIVASI/PRIVACY POLICY