• Tentang UGM
  • Portal Akademik
  • Pusat TI
  • Perpustakaan
  • Penelitian
Universitas Gadjah Mada
  • About Us
    • About CRCS
    • Vision & Mission
    • People
      • Faculty Members and Lecturers
      • Staff Members
      • Students
      • Alumni
    • Facilities
    • Library
  • Master’s Program
    • Overview
    • Curriculum
    • Courses
    • Schedule
    • Admission
    • Scholarship
    • Accreditation and Certification
    • Academic Collaborations
      • Crossculture Religious Studies Summer School
      • Florida International University
    • Academic Documents
    • Student Satisfaction Survey
  • Article
    • Perspective
    • Book Review
    • Event Report
    • Class Journal
    • Interview
    • Wed Forum Report
    • Thesis Review
    • News
  • Publication
    • Reports
    • Books
    • Newsletter
    • Monthly Update
    • Infographic
  • Research
    • CRCS Researchs
    • Resource Center
  • Community Engagement
    • Film
      • Indonesian Pluralities
      • Our Land is the Sea
    • Wednesday Forum
    • ICIR
    • Amerta Movement
  • Beranda
  • Berita
  • Sinergi Studi Agama dan Aktivisme Mewujudkan Keadilan

Sinergi Studi Agama dan Aktivisme Mewujudkan Keadilan

  • Berita, Event report, News
  • 13 November 2025, 13.29
  • Oleh: crcs ugm
  • 0

Segregasi antara kerja akademik dan aktivisme seringkali digambarkan terpisah oleh garis batas yang saling mengelakkan. Kerja akademik dianggap harus objektif dan netral, sementara aktivisme bersifat subjektif dan politis. Karakteristik berlawanan itu melahirkan anggapan bahwa keduanya mesti dipisahkan dalam ruang lingkupnya masing-masing. Anggapan ini  dikritisi oleh para alumni CRCS UGM berdasar kiprah mereka dalam dunia aktivisme dari berbagai latar belakang.

Acara Alumni Berbagi bertajuk “Studi Agama untuk Keadilan: Sinergi Kerja Akademik dan Aktivisme” (22/10), sebagai rangkaian perayaan 25 tahun CRCS UGM, menghadirkan para alumni dari berbagai angkatan dan latar belakang profesi. Pada acara yang dimoderatori  oleh Kristi (CRCS 2016/Gereja Kristen Jawa) ini, mereka berbagi  pengalaman bagaimana studi agama mewujud di ruang akademik maupun dalam aksi nyata di masyarakat.

Wilis Rengganiasih Endah Ekowati (CRCS 2004/Sanggar Omah Sewu Sirah), sebagai seorang penari, menemukan benang merah antara seni, agama, dan pemberdayaan masyarakat. Melalui sanggarnya, ia mengangkat isu lingkungan dan pemberdayaan dengan pendekatan kesenian kampung, seperti Gejog Lesung dan parikan Jawa yang hampir punah. Konsep gender yang dipelajari di CRCS UGM menguatkan upaya pemberdayaan perempuan di komunitasnya. Baginya, agama dan seni berkelindan untuk mengurai konflik dan mengisi spiritualitas.

Khoirul Anam (CRCS 2011/Densus 88 AT Polri Bidang Media dan Literasi), menjelaskan bahwa CRCS UGM mengajarkannya untuk mempelajari agama sebagai fenomena sosial, bukan sekadar sistem keyakinan. Pendekatan ini membantunya memahami akar penyebab toleransi dan intoleransi. Dalam tugasnya sekarang, ia mereviu dan meredefinisi konsep terorisme dan radikalisme. Ia bersyukur diajari menulis respons paper yang analitis ketika kuliah. Kunci yang ia pegang adalah membuka “ruang perjumpaan”, karena ketidaksukaan seringkali muncul dari ketidaktahuan dan tidak adanya pertemanan. Ia membagikan pengalaman membawa mantan anggota kelompok teroris untuk berjumpa dengan komunitas lain, seperti mengajak mereka ke UIN dan mengenalkan tradisi tari, sehingga memutus mata rantai prasangka.

Titik temu antara agama dan keadilan mendorong semangat kolaborasi dalam mewujudkan keadilan di masyarakat.  Pengalaman studi di kampus dan aktif di berbagai komunitas lintas iman membawa Asman Azis (CRCS UGM 2011/Badan Restorasi Gambut dan Mangrove Kalimantan Timur) pada keyakinan bahwa semua agama berbicara tentang kemanusiaan, keadilan, dan warisan untuk generasi mendatang. Hal ini menjadi pintu masuk baginya untuk bergerak di isu lingkungan seperti batu bara, sawit, dan mangrove di Kalimantan Timur. Ia bercerita tentang gugatan warga terhadap institusi negara terkait izin tambang batu bara. Saat ini, ia menangani rehabilitasi 16.500 hektare mangrove. Asman menegaskan bahwa aktivisme dan akademisi adalah satu kesatuan. Dalam pekerjaannya mendampingi warga yang lahannya dialihfungsikan, ia menggabungkan pengetahuan administratif adat, perizinan perusahaan, dan pertimbangan otoritas akademik dari kampus. Ia tidak sepakat dengan segregasi antara keduanya.

Bagi Karen Erina Puimera (CRCS 2021/Gereja Protestan Indonesia Barat (GPIB), CRCS UGM memberikan bekal akademik dan spiritual untuk pelayanannya sebagai pendeta di GPIB. Momentum itu terjadi saat mengikuti sidang gereja dunia (WCC) yang membahas feminisme lintas iman. Ia menyadari bahwa studi agama menjadi sangat relevan untuk memahami realitas kemajemukan. Dulu, lintas iman terasa simbolis, tetapi setelah terjun langsung, ia memahami pentingnya kolaborasi. Gerejanya kini berfokus pada isu kerusakan lingkungan, geopolitik, dan ekonomi, serta bekerja sama dengan lembaga seperti ICRS untuk mengampanyekan kebinekaan. CRCS UGM membantunya melihat hubungan dengan Tuhan, sesama, dan alam secara lebih holistik, serta mengalami transformasi spiritual yang merangkul.

Studi agama di CRCS bukan hanya mengajarkan cara berpikir, melainkan juga menumbuhkan empati dalam melihat persoalan masyarakat, dan menghadirkan agama untuk mengarahkan hidup yang lebih baik. Asep Saepudin Sudjatna (CRCS 2015/Eksotika Desa Lestari), yang berlatar belakang sastra dan pencinta alam (Mapala), mempertanyakan mengapa agama sering absen dalam isu ekologi. Saat riset konservasi air di Gunung Kidul, ia  menemukan bahwa ritus-ritus lokal justru menjadi kunci pelestarian mata air. Namun, perilaku ini sering dianggap “menyimpang” oleh narasi agama arus utama. Pembelajaran selama kuliah S-2 memberinya perspektif metodologis etnografi yang cair dan empatik. Ia menekankan bahwa kuliah di CRCS UGM  tidak hanya membangun logika berpikir, tetapi juga lingkungan yang menumbuhkan empati—sesuatu yang sering luput dari diskusi di jurusan lain. Kini, ia menggabungkan sisi akademis dan aktivisme dengan meneliti desa-desa rawan longsor menggunakan pendekatan yang beragam, karena penelitian harus berdampak, tidak berhenti di laporan.

Sebagai rektor, I Gede Suwindia (CRCS 2003/Institut Agama Hindu Negeri Mpu Kuturan), menekankan bahwa CRCS UGM mempertemukannya dengan orang-orang hebat dari lintas disiplin. CRCS UGM memberinya ruang yang selaras dengan filosofi Bali, bahwa agama mengarahkan hidup. Ia bangga dengan kiprah alumni CRCS UGM yang berdampak luas. Untuk menjawab tantangan kekinian, institusinya melahirkan kurikulum baru, termasuk mengintegrasikan studi film untuk mengangkat nilai-nilai moderasi beragama, menanggapi era digital dan kebiasaan masyarakat mengonsumsi media. Ia menegaskan bahwa kurikulum harus terus diperbarui dan dimulai dengan pertanyaan, “Mau ke mana?”.

Diskusi ini menegaskan bahwa studi agama yang empatik tidak hanya memiliki kapasitas akademik yang kuat, tetapi juga komitmen aktivisme yang mendalam. Keduanya memang memiliki ruang lingkupnya masing-masing, tetapi keduanya bisa dipertemukan dan saling mendukung untuk mewujudkan keadilan. Sinergi antar keduanya terbukti efektif dalam menjawab tantangan keadilan sosial, lingkungan, dan kerukunan umat beragama di Indonesia. Jejaring alumni CRCS UGM terus menjadi kekuatan untuk mendorong transformasi sosial yang inklusif dan berkelanjutan.

______________________

Nuzula Nailul Faiz adalah mahasiswa Program Studi Agama dan Lintas Budaya (CRCS), Sekolah Pascasarjana UGM, angkatan 2025. Baca tulisan Faiz lainnya di sini.

Tags: 25th CRCS Alumni CRCS Nuzula Nailul Faiz

Leave A Comment Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Instagram

B A T A S Ada momen ketika agama hadir sebagai ba B A T A S 
Ada momen ketika agama hadir sebagai bahasa terakhir untuk bertahan. Seperti perempuan-perempuan di Sudan yang mempertanyakan apakah bunuh diri bisa menjadi jalan pulang yang lebih manusiawi daripada hidup dalam kekerasan. Ini merupakan situasi ekstrem ketika dosa dan keselamatan tidak lagi nyata dalam keseharian sementara dunia memilih diam. Pada titik itu, mereka memilih untuk berbicara "langsung" kepada Tuhan melalui jalan yang kelam.

Simak refleksi @safinatul_aula tentang bunuh diri dan agensi "kesalehan" di situs web crcs
A N G K E R Makam menjadi ruang pisah antara yang A N G K E R
Makam menjadi ruang pisah antara yang hidup dan mati. Mereka yang masih bernyawa melanjutkan cerita, mereka yang mati bersemayam di makam. Pada titik ini, makam memisahkan antara yang sakral dan profan, yang adi kodrati dan yang sehari-hari. Namun, makam juga menjadi ruang jumpa antarkeduanya. Yang hidup menceritakan ulang kisah yang meninggal sehingga mendiang terus mengada. Selama kisah diceritakan dan nama terus diumbulkan ke langit, selama itu pula mereka mengabadi. Karenanya, makam itu angker, sebuah jangkar yang menakutkan dan menautkan sekaligus. 

Simak catatan lapangan @yohanes_leo27 terkait makam di situs web crcs.
GRWM bareng CRCS UGM batch 2025!!! GRWM bareng CRCS UGM batch 2025!!!
Does Indonesia have its own philosophers? Can Indo Does Indonesia have its own philosophers?
Can Indonesian thinkers really stand alongside Greece, the Arab world, or the West? Or is that the wrong question to begin with? From Tan Malaka to Nurcholish Madjid, from Abdurrahman Wahid to Azyumardi Azra, Indonesian thinkers have long been engaging, reworking, and transforming global ideas into something rooted in their own realities. 
Let’s unpack this together with @almakin_uinsuka.
Join the discussion at UGM Graduate School building, 3rd floor. We provide snacks and drinks, don't forget to bring your tumbler. This event is free and open to public.
Follow on Instagram

Twitter

Tweets by crcsugm

Universitas Gadjah Mada

Gedung Sekolah Pascasarjana UGM, 3rd Floor
Jl. Teknika Utara, Pogung, Yogyakarta, 55284
Email address: crcs@ugm.ac.id

 

© CRCS - Universitas Gadjah Mada

KEBIJAKAN PRIVASI/PRIVACY POLICY