![]()
Abstract
Rumors about head-hunting and construction sacrifices have been recorded in Southeast Asia since the beginning of 20th century. My focus is on the present-day form of these rumors on the island Sumba, Eastern Indonesia. First directed especially at the Dutch colonizers, stories about foreigners seeking for body parts have continually absorbed new features. In 1990’s, they focussed on new technologies that were imagined as electronic phantasms. Nowadays they target tourists and immigrants as well as people deviating from social norms. Following Jean-Nöel Kapferer, who defined rumors as one of the defense mechanisms by which members of communities try to preserve their old ways, I interpret Sumbanese rumors as a way for Sumbanese to define themselves in opposition to outside forces and as a tool for maintaining norms in society.
Speaker
Adriana Kábová earned her Master’s degree in Ethnology from the Charles University in Prague, Czech Republic. She is a PhD candidate in Anthropology, also at the Charles University in Prague, and is currently on an internship in the Pusat Studi Pariwisata at UGM. Her research interests include tourism and contemporary legends in Southeast Asia.
2016
CRCS | News
Apakah Seni? Apakah ia selalu berhubungan dengan estetika atau keindahan, atau sesuatu yang melahirkan kesadaran dan perubahan? Dan apakah agama? Apakah ia adalah sesuatu yang ada begitu saja dari langit atau ada melalui proses sejarah yang kemudian mendapatkan pengesahan dari negara?
Sebuah pameran seni bertema agama tengah berlangsung di sebuah rumah seni Lir Space, Yogyakarta dari 3 sampai 17 September 2016. Namun jangan berharap melihat keindahan didalam pameran ini karena yang dipamerkan bukan benda-benda estetis relijius, semisal kaligrafi atau lukisan-lukisan spiritual, tetapi sesuatu yang lain yang menggugah kesadaran.

Kegiatan seni bertajuk Exhibition Laboratory ini memilih beberapa seniman muda untuk menjalani proses selama tiga bulan agar dapat mempersiapkan pameran tunggal masing-masing. Kali ini dua seniman muda dengan latar belakang yang berbeda diundang untuk berproses mempersiapkan karyanya masing-masing. Salah satunya adalah Daud Sihombing, salah satu fresh graduate Program Studi Agama dan Lintas Budaya (CRCS), UGM.
Dalam pamerannya ini Daud Sihombing memilih tema REIFIKASI, yang secara sederhana bisa diartikan sebagai proses pembentukan agama dari yang mula-mula abstrak menjadi sebuah wujud yang sistematis. Ia memilih untuk menciptakan pamerannya berdasarkan esai singkat yang diterbitkannya pada tahun 2015: “Agama di Indonesia: Awal Mula dan Problematikanya”. Tulisan tersebut berangkat dari konsep reifikasi dalam buku “The Meaning and End of Religion” karya Wilfred C.Smith yang kemudian dikaitkan dengan praktek standardisasi agama di Indonesia. Praktik standardisasi atau penyesuaian untuk kemudian dapat diakui sebagai agama ini tercantum pada Peraturan Menteri Agama No. 9 Tahun 1952, yang menyebutkan beberapa persyaratan seperti; percaya akan satu Tuhan (monotheis), memiliki kitab satu kitab suci, memiliki nabi sebagai pembawa risalah, dan memiliki tata agama dan ibadah bagi para pemeluknya.

Dalam pameran ini, Daud membuat visualisasi bagi esai tersebut sekaligus menciptakan sebuah peristiwa seni dan menjadikan ruang galeri sebagai sebuah kantor badan sertifikasi. Melalui keberadaan kantor lembaga ini, Daud mencoba melihat bagaimana sebuah kepercayaan dapat perlahan masuk ke dalam kategori agama yang diakui oleh negara melalui simulasi kerja sebuah lembaga pemerintah dalam melakukan sertifikasi. Pengunjung pameran ini dapat menjalankan sebuah simulasi untuk mendaftarkan agama atau kepercayaan mereka dari tahap pendaftaran hingga lolos dengan pengakuan yang sah. Kehadiran badan sertifikasi fiktif (yang saat ini belum dimiliki oleh negara) ini tidak saja akan menunjukkan bagaimana praktik standardisasi di Indonesia, yang konon kerap mempersulit posisi kepercayaan lokal untuk dapat diakui oleh negara namun juga menjadi celah untuk membicarakan sikap negara saat ini terhadap kekayaan budaya.
Pameran bisa dikunjungi di:
Lir Space, 3 – 17 September 2016, Jam 12.00 – 20.00 WIB
Jl. Anggrek I/33, Baciro, Yogyakarta.
![]()
Abstract
In many Muslim-majority societies,the widely accepted Islamic doctrine that men are to act as the ‘imam’ or leaders of the family lies at the bedrock of Muslim masculinity and male religious identity, but its meaning changes for Muslim men who live as a minority in liberal and increasingly secular societies such as Australia. Based on a sociological study of the issues and challenges facing Southeast Asian Muslim men living in Melbourne, I argue that the family does serve as a secure zone for preserving and exercising Islamic-associated practices of masculinity, but also that men are pressed to redefine the meaning and continually negotiate practices of leadership to cope with the demand for individual freedom and autonomy in the family as fits the much different social context. Finally, I call for more attention to the importance of masculinity as an analytical framework in religious studies.
Speaker
Rachmad Hidayat is a fellow and Project Director in the Kalijaga Institute for Justice, State Islamic University Sunan Kalijaga, a research associate at the Asia Institute, the University of Melbourne and previously was a visiting scholar at the Institute for Politics, Religions and Society, the Australian Catholic University. He earned a PhD in 2016 and MA in 2010 both at Monash University. Rachmad had worked at the State Islamic University Sunan Kalijaga as a project officer and research officer for programs fostering gender mainstreaming in religious contexts. His academic interests focus on how the discourse of masculinities and femininities sociologically shape and are shaped by dominant imbalance power relationship in families, institutions, academia, and religion. He has published Ilmu yang Seksis (Sexism in Sciences, Jendela 2004), Men’s Involvement in Reproductive Health, an Islamic Perspective, (with Hamim Ilyas, PSW 2006), some book chapters and journal articles about gender and masculinities.
CRCS | News
Apakah Seni? Apakah ia selalu berhubungan dengan estetika atau keindahan, atau sesuatu yang melahirkan kesadaran dan perubahan? Dan apakah agama? Apakah ia adalah sesuatu yang ada begitu saja dari langit atau ada melalui proses sejarah yang kemudian mendapatkan pengesahan dari negara?
Sebuah pameran seni bertema agama tengah berlangsung di sebuah rumah seni Lir Space, Yogyakarta dari 3 sampai 17 September 2016. Namun jangan berharap melihat keindahan didalam pameran ini karena yang dipamerkan bukan benda-benda estetis relijius, semisal kaligrafi atau lukisan-lukisan spiritual, tetapi sesuatu yang lain yang menggugah kesadaran.

Kegiatan seni bertajuk Exhibition Laboratory ini memilih beberapa seniman muda untuk menjalani proses selama tiga bulan agar dapat mempersiapkan pameran tunggal masing-masing. Kali ini dua seniman muda dengan latar belakang yang berbeda diundang untuk berproses mempersiapkan karyanya masing-masing. Salah satunya adalah Daud Sihombing, salah satu fresh graduate Program Studi Agama dan Lintas Budaya (CRCS), UGM.
Dalam pamerannya ini Daud Sihombing memilih tema REIFIKASI, yang secara sederhana bisa diartikan sebagai proses pembentukan agama dari yang mula-mula abstrak menjadi sebuah wujud yang sistematis. Ia memilih untuk menciptakan pamerannya berdasarkan esai singkat yang diterbitkannya pada tahun 2015: “Agama di Indonesia: Awal Mula dan Problematikanya”. Tulisan tersebut berangkat dari konsep reifikasi dalam buku “The Meaning and End of Religion” karya Wilfred C.Smith yang kemudian dikaitkan dengan praktek standardisasi agama di Indonesia. Praktik standardisasi atau penyesuaian untuk kemudian dapat diakui sebagai agama ini tercantum pada Peraturan Menteri Agama No. 9 Tahun 1952, yang menyebutkan beberapa persyaratan seperti; percaya akan satu Tuhan (monotheis), memiliki kitab satu kitab suci, memiliki nabi sebagai pembawa risalah, dan memiliki tata agama dan ibadah bagi para pemeluknya.

Dalam pameran ini, Daud membuat visualisasi bagi esai tersebut sekaligus menciptakan sebuah peristiwa seni dan menjadikan ruang galeri sebagai sebuah kantor badan sertifikasi. Melalui keberadaan kantor lembaga ini, Daud mencoba melihat bagaimana sebuah kepercayaan dapat perlahan masuk ke dalam kategori agama yang diakui oleh negara melalui simulasi kerja sebuah lembaga pemerintah dalam melakukan sertifikasi. Pengunjung pameran ini dapat menjalankan sebuah simulasi untuk mendaftarkan agama atau kepercayaan mereka dari tahap pendaftaran hingga lolos dengan pengakuan yang sah. Kehadiran badan sertifikasi fiktif (yang saat ini belum dimiliki oleh negara) ini tidak saja akan menunjukkan bagaimana praktik standardisasi di Indonesia, yang konon kerap mempersulit posisi kepercayaan lokal untuk dapat diakui oleh negara namun juga menjadi celah untuk membicarakan sikap negara saat ini terhadap kekayaan budaya.
Pameran bisa dikunjungi di:
Lir Space, 3 – 17 September 2016, Jam 12.00 – 20.00 WIB
Jl. Anggrek I/33, Baciro, Yogyakarta.
Kami sangat berterima kasih atas partisipasi para aplikan untuk mengikuti seleksi peserta Sekolah Pengelolaan Keragaman (SPK) angkatan ke-VIII yang diselenggarakan oleh Program Studi Agama dan Lintas Budaya (Center for Religious and Cross-cultural Studies/CRCS, Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta. Kami menerima banyak sekali aplikasi dari berbagai daerah di Indonesia dengan kualitas yang sangat kompetitif, dari beragam latar belakang profesi dan beragam isu yang diusung. Namun kami hanya memilih 25 orang peserta dengan mempertimbangkan berbagai aspek seperti: keragaman isu, gender, kemampuan melakukan riset, keterwakilan daerah, potensi membentuk jaringan advokasi, dan akses terhadap pengetahuan.

Abstract
Scientists say that we have entered the Anthropocene, the era in which the influence of humankind on the many disasters on our earth is decisive. But ancient societies already understood disasters as a very complex and subtle interaction between the mood of man and the movement of nature. This is what we are reminded of by the Javanese tale Babad Ngalor-Ngidul, the title of which comes from a word we no longer understand: ngalor-ngidul. Composed of two Javanese words– lor for north and kidul for south plus the prefix ng that marks a back and forth movement–, ngalor-ngidul must have originally meant “from north to south and from south to north, in an endless burst of reciprocity and interdependence,” but now only means to talk nonsense. In the tale, the fates of the two villages, one in the south near the sea and one in the north near the volcano, are bound together as the former, destroyed by an earthquake, rebuilds itself, body and soul, while the latter becomes mentally corrupted before being devastated by a volcanic eruption. The tale is told in restore among the survivors the clarity of the “eye of the heart” that allowed the guardian of the volcano to “read” the mother-mountain and it reminds us that we must learn again to listen to the water of the ocean and to the sand of the volcano, the last speakers of a “primal” language that has existed since long before humankind.
Speaker
Elizabeth D. Inandiak is a writer, translator and community activist. Since the age of nineteen, she has traveled the world as a reporter for various French magazines and radio broadcasters. In 1989, she settled in Yogyakarta, Indonesia. She has translated and recreated into French, Indonesian and English the great epic of Java: The Book of Centhini, published in Indonesian by Gramedia (Centhini – Kekasih yang Tersembunyi). Her new book Babad Ngalor Ngidul, (Gramedia) is a tale about the earthquake and the volcanic eruption in Yogyakarta. She is currently working on a book about Muara Jambi together with the young villagers of the site.