• Tentang UGM
  • Portal Akademik
  • Pusat TI
  • Perpustakaan
  • Penelitian
Universitas Gadjah Mada
  • About Us
    • About CRCS
    • Vision & Mission
    • People
      • Faculty Members and Lecturers
      • Staff Members
      • Students
      • Alumni
    • Facilities
    • Library
  • Master’s Program
    • Overview
    • Curriculum
    • Courses
    • Schedule
    • Admission
    • Scholarship
    • Accreditation and Certification
    • Academic Collaborations
      • Crossculture Religious Studies Summer School
      • Florida International University
    • Academic Documents
    • Student Satisfaction Survey
  • Article
    • Perspective
    • Book Review
    • Event Report
    • Class Journal
    • Interview
    • Wed Forum Report
    • Thesis Review
    • News
  • Publication
    • Reports
    • Books
    • Newsletter
    • Monthly Update
    • Infographic
  • Research
    • CRCS Researchs
    • Resource Center
  • Community Engagement
    • Film
      • Indonesian Pluralities
      • Our Land is the Sea
    • Wednesday Forum
    • ICIR
    • Amerta Movement
  • Beranda
  • Perspective
  • Meracik Agama untuk MBG

Meracik Agama untuk MBG

  • Perspective, Perspective
  • 24 April 2026, 16.31
  • Oleh: crcs ugm
  • 0

Di tengah legitimasi agama atas kebijakan negara, agensi pemuka agama lokal terkadang hadir untuk mengoreksinya.

 

Sebagai program prioritas rezim pemerintah saat ini, Makan Bergizi Gratis (MBG) memang tak pernah  selesai dibicarakan. Agama pun tidak luput dalam diskursus tersebut. Pemuka agama yang menjadi aparat pemerintah menyosialisasikan MBG dengan menyebutnya sesuai dengan nilai-nilai agama. Di sisi lain, terdapat sikap pemimpin agama pada ranah lokal yang mengoreksi praktik kebijakan MBG melalui agensi yang mereka miliki. 

Memilih Tafsir atas MBG

Program MBG adalah amal jariyah yang mulia. Pemikiran itu muncul dari Menteri Agama Nasaruddin Umar yang juga gencar menyosialisasikan program ini. Menurutnya, program MBG tidak hanya mengatasi kelaparan dan stunting, tetapi juga membuka lapangan kerja serta menggerakkan ekonomi umat. Tak lupa, ia menekankan pentingnya menjaga kualitas, kebersihan, dan gizi makanan sebagai amanah dari Allah. Sejalan dengan itu, Kemenag NTT menyatakan bahwa MBG sesuai dengan prinsip makan halal dan tayib dalam Islam, mengajarkan tidak berlebihan (israf), dan bersyukur. Tak lupa, Al-Baqarah 168 dan Al-A’raf 31 pun ditukil sebagai penguat. Seolah tak mau kalah, Menteri Agraria Nusron Wahid menilai program ini sejalan dengan Al-Quraisy 4 yang menyebutkan bahwa Allah memberi makan ketika lapar. Politikus yang pernah menjadi Ketua GP Ansor ini menyimpulkan, kebijakan membebaskan rakyat dari kelaparan seperti MBG selaras  dengan ajaran Islam.

Penafsiran MBG dalam kerangka agama menjadi signifikan jika dilihat dari konteks sosial Indonesia yang menjadikan agama sumber nilai yang melekat dalam kehidupan warganya (Colbran, 2010). Secara historis, agama kerap berperan sebagai instrumen legitimasi paling luas dan efektif bagi tatanan sosial dan politik. Fungsi ini tidak surut dalam konteks kontemporer. Agama tetap digunakan untuk memberikan dasar moral bagi konstitusi, kebijakan, dan berbagai klaim normatif negara (Zielińska et al., 2023).  Dalam kerangka analitis Elizabeth Hurd (2015), praktik penafsiran yang dilakukan pemerintah terhadap MBG dapat dipahami sebagai bentuk governed atau official religion, yakni ketika negara secara aktif mengonstruksi dan mempromosikan tafsir agama tertentu untuk mendukung agenda kebijakan. Karena berasal dari otoritas negara, tafsir tersebut cenderung tampil sebagai representasi “resmi” agama dalam ruang publik, sekaligus berfungsi untuk memperkuat legitimasi program MBG di hadapan masyarakat. 

Mengoreksi MBG

Tafsir agama ala pemerintah terkait MBG itu kemudian dikoreksi oleh pemuka agama lokal. Berbagai fatwa hukum dari ormas agama tingkat lokal muncul untuk merespons pelaksanaan MBG yang problematik, salah satunya Lembaga Bahsul Masa’il Pengurus Cabang NU Kabupaten Pati. Pada 8 Februari 2026, lembaga kajian hukum Islam ini menyatakan bahwa memberikan porsi MBG yang tidak sesuai standar gizi hukumnya haram (berdosa dalam Islam) (Asmani, 2026). Pemunculan fatwa haram bersyarat tersebut memiliki nuansa kritik yang kental karena didasarkan pada kejadian aktual (waqi’iyyah) di lapangan yang menunjukkan begitu banyak kasus pelaksanaan program MBG terkait gizi. 

Sejumlah lembaga pendidikan keagamaan di daerah pun menolak pelaksanaan program ini saat Ramadan, seperti Yayasan Salafiyah Kajen, Yayasan Al-Ma’ruf Hadiwijaya, dan MTs di Desa Sitilihur. Madrasah di Kabupaten Pati tersebut khawatir program tersebut dapat mengganggu kekhusyukan ibadah puasa siswa karena berpotensi menggoda mereka untuk membatalkan puasa (Kafi, 2026). 

Dalam paradigma Hurd (2015), praktik-praktik tersebut merupakan perwujudan dari expert religion. Institusi dan tokoh keagamaan lokal mengonstruksi pengetahuan keagamaan yang relevan dengan menyesuaikan penafsiran teks suci. Melihat pelaksanaan MBG yang masih perlu diperbaiki secara sistematis dan menyeluruh, mereka memunculkan tafsir lain untuk mengoreksi program tersebut agar sesuai dengan kemaslahatan umum yang diharapkan pemerintah dan masyarakat. Koreksi ini menunjukkan bahwa agama tidak hanya dapat menjadi alat untuk melegitimasi kebijakan, tetapi juga untuk mendelegitimasinya. 

Yang menarik dari “fatwa tandingan” tersebut, tafsir otoritas pemerintah tidak serta-merta ditolak tegas. Para pemuka agama lokal melakukan reinterpretasi (Moe & Scott, 2023)  dan menegosiasikannya dengan prinsip keadilan, kondisi setempat, dan kebutuhan hidup mereka (Nyhagen, 2017). Pada titik ini, kita bisa menemukan agensi warga negara biasa dalam memosisikan dirinya sebagai aktor kreatif, alih-alih penerima pasif, dalam urusan publik.

Kontestasi tafsir atas MBG memperlihatkan bahwa otoritas keagamaan negara tidak pernah absolut. Di balik klaim moral yang dibungkus agama, selalu ada ruang bagi tafsir tandingan yang dapat “mengganggu” legitimasi kebijakan. Dengan demikian, agama bukan sekadar alat kekuasaan, melainkan juga instrumen yang dapat mengoreksi kekuasaan itu sendiri.

______________________

Nuzula Nailul Faiz adalah mahasiswa Program Studi Agama dan Lintas Budaya (CRCS), Sekolah Pascasarjana UGM, angkatan 2025. Baca tulisan Faiz lainnya di sini.

Tags: agama dan negara Makan Bergizi Gratis Nuzula Nailul Faiz tafsir

Leave A Comment Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Instagram

M B G Satu kotak makan berisi nasi putih pulen seb M B G
Satu kotak makan berisi nasi putih pulen sebagai sumber karbohidrat utama, dimasak dari beras medium pilihan, air, sedikit garam, dan beberapa tetes minyak agar tidak cepat basi. Di sampingnya terdapat ayam semur kecap, dibuat dari potongan daging ayam, bawang merah, bawang putih, kecap manis, daun salam, lengkuas, garam, dan sedikit gula sehingga memberi asupan protein hewani yang cukup untuk pertumbuhan. Sebagai pendamping lauk utama, disediakan tempe orek manis gurih dari tempe iris tipis, bawang merah, bawang putih, cabai, kecap, dan gula merah. Tempe ini berfungsi menambah protein nabati sekaligus membuat kotak makan tampak lebih penuh, sebab protein memang sering lebih meyakinkan bila hadir rangkap dua. Untuk unsur sayuran, ada tumis wortel dan buncis yang dimasak dari wortel segar, buncis, sedikit kol, bawang putih, garam, merica, dan minyak sayur. Warna oranye-hijau pada sayur ini penting: bukan hanya untuk vitamin A dan serat, tetapi juga agar foto dokumentasi tidak terlihat terlalu pucat.Sebagai pelengkap vitamin alami, satu buah pisang atau sepotong pepaya matang diletakkan di sudut kotak. Buah dipilih yang murah, tahan banting, tidak gampang memar, dan cukup fotogenik ketika dibagikan massal. Terakhir, ditambahkan susu UHT kotak kecil berbahan susu sapi, gula, dan fortifikasi vitamin, atau kadang telur rebus utuh sebagai penutup protein tambahan.

Berbuih-buih seperti pelaksanaannya ...
G U S Mulanya "gus" adalah panggilan untuk anak ki G U S
Mulanya "gus" adalah panggilan untuk anak kiai yang belum cukup pantas secara umur dan ilmu dipanggil sebagai kiai. Masih magang. Namun, tradisi itu sedikit goyang karena dua sosok: Gus Dur dan Gus Miek. Keduanya tentu sudah pantas menyandang gelar kiai, tetapi rupanya nama magang itu sudah kadung merasuk dan menubuh. Jadilah istilah gus naik pangkat di kalangan awam sebagai sebutan untuk pemuka agama kharismatik yang ndak kalah aji dengan kiai. Kini, gelar gus lagi-lagi goncang. Pasalnya, banyak sosok yang mengaku dan didaku sebagai gus. Parahnya, banyak orang tak lagi bertanya: siapa gurunya, siapa nasabnya, atau apa yang dibaca? Gus seolah menjadi lisensi untuk mengais gold dan glory dalam bisnis berjenama "agama". 

Simak sindiran @safinatul_aula atas fenomena gus-gusan yang kerap membuat kita mengelus empedu. Hanya di situs web crcs.
S U R G A Surga dan neraka memang dibuat sebagai a S U R G A
Surga dan neraka memang dibuat sebagai alat ukur dan wadah pemisah. Keberadaanya merupakan konsekuensi logis dari sebuah tarik ulur tentang baik dan buruk. Mereka yang dijanjikan surga patut bersenang hati. Namun, ada saat ketika keyakinan tentang keselamatan tidak lagi menenangkan. Mungkin persoalannya bukan siapa yang akan masuk surga, melainkan mengapa kita begitu sibuk memastikan orang lain tidak.
Berawal dari percakapan antah berantah, @safinatul_aula tengah berefleksi tentang nasib diri dan teman-temannya nanti. Simak refleksinya di situs web crcs.
Tensions around the Gulf of Hormuz are shaking glo Tensions around the Gulf of Hormuz are shaking global oil supply and accelerating the push for alternatives green energy. Geothermal is often framed as the answer. But whose “green” is it?
What if “green energy” isn’t always as green as it sounds?
Together with @honeyyymooooonnn we bring stories from communities on the frontlines of geothermal projects in Indonesia, where sustainability is debated, challenged, and reimagined. It is not just about resistance, but a different way of thinking about energy, justice, and our relationship with nature.

Join the discussion at UGM Graduate School building, 3rd floor. We provide snacks and drinks, don't forget to bring your tumbler. This event is free and open to public.
Follow on Instagram

Twitter

Tweets by crcsugm

Universitas Gadjah Mada

Gedung Sekolah Pascasarjana UGM, 3rd Floor
Jl. Teknika Utara, Pogung, Yogyakarta, 55284
Email address: crcs@ugm.ac.id

 

© CRCS - Universitas Gadjah Mada

KEBIJAKAN PRIVASI/PRIVACY POLICY