Pernahkah kita bertanya: apa yang sebenarnya terjadi ketika kita memberi nama pada sesuatu? Sekilas, menamai tampak seperti tindakan sederhana. Kita memberi label agar dunia lebih mudah dipahami. Hutan disebut hutan, sungai disebut sungai, dan laut disebut laut. Tanpa bahasa, manusia akan kesulitan mengenali dan mengatur realitas di sekitarnya. Namun, proses memahami dunia tidak pernah sepenuhnya netral. Emmanuel Levinas menunjukkan, dalam tradisi filsafat Barat, memahami sesuatu sering berarti memasukkannya ke dalam kerangka berpikir manusia. Apa yang berbeda dari kita perlahan direduksi menjadi sesuatu yang dapat dijelaskan dan dikendalikan (Levinas, 1979:45). Dalam arti ini, pengetahuan tidak hanya menjelaskan dunia, tetapi juga membentuk cara manusia terhubung dengan apa yang dipahaminya.
Refleksi ini sering digunakan untuk menjelaskan cara manusia modern berbicara tentang alam. Dalam berbagai kebijakan pembangunan dan diskursus ekonomi, hutan sering disebut “sumber daya”, laut disebut “zona ekonomi”, dan tanah diperlakukan sebagai “aset”. Istilah-istilah ini dapat memengaruhi cara kita membayangkan alam. Namun, penting juga untuk tidak menyederhanakan persoalan. Krisis ekologis tentu tidak terjadi hanya karena bahasa. Istilah seperti “sumber daya alam” muncul bukan sebagai penyebab utama kerusakan lingkungan, melainkan sebagai refleksi dari cara sistem ekonomi modern mengorganisasi dunia material.
Alam dalam Mesin Industri
Untuk memahami persoalan ini secara lebih konkret, kita perlu melihat sejarah modernitas. Sejak Revolusi Industri pada abad ke-18, pertumbuhan ekonomi global semakin bergantung pada ekstraksi besar-besaran terhadap alam. Batu bara, minyak bumi, kayu, dan berbagai mineral menjadi fondasi bagi industrialisasi dan ekspansi pasar dunia. Dalam sistem kapitalisme industri, alam diperlakukan terutama sebagai bahan produksi: tanah menjadi properti yang bisa diperjualbelikan, hutan menjadi komoditas kayu, dan laut menjadi wilayah eksploitasi perikanan atau energi.
Karena itu, cara manusia menamai alam sering mengikuti logika ekonomi tersebut. Bahasa pembangunan, ekonomi, dan kebijakan publik kemudian mengadopsi istilah-istilah yang menempatkan alam sebagai bagian dari sistem produksi. Dengan kata lain, bahasa tidak menciptakan eksploitasi alam, tetapi membantu menormalkan cara pandang yang sudah terbentuk dalam sistem ekonomi modern. Filsuf ekofeminis Val Plumwood menunjukkan bahwa dominasi manusia terhadap alam dalam sejarah modern sering berjalan bersamaan dengan pola dominasi lain seperti kolonialisme, patriarki, dan eksploitasi tenaga kerja (Plumwood, 1993: 22). Dalam pola relasi ini, alam ditempatkan sebagai sesuatu yang lebih rendah dan dapat dikendalikan.
Alam Tidak Sepasif yang Kita Kira
Dalam beberapa dekade terakhir, sejumlah pemikir mencoba menantang cara pandang lama yang melihat alam sebagai benda mati yang pasif. Pendekatan yang dikenal sebagai new materialism ini menekankan, dunia material berperan aktif dalam membentuk realitas sosial. Karen Barad, misalnya, memperkenalkan konsep intra-action untuk menjelaskan bahwa manusia, teknologi, dan lingkungan selalu terlibat dalam hubungan yang saling membentuk (Barad, 2007:178). Jane Bennett juga berargumen bahwa dunia material memiliki semacam vitalitas atau daya pengaruh dalam proses sosial dan politik (Bennett, 2010:xii). Artinya, alam bukan sekadar latar belakang pasif bagi aktivitas manusia, melainkan bagian dari jaringan kehidupan yang terus berinteraksi dengan manusia.
Gagasan ini membantu kita melihat bahwa hubungan manusia dengan alam tidak sesederhana hubungan antara subjek yang aktif dan objek yang pasif. Alam bukan hanya sesuatu yang bisa dikendalikan, melankan juga sesuatu yang terus memengaruhi kehidupan manusia.
Batas Etika Levinas
Meski gagasan Levinas membantu kita memahami bagaimana manusia sering mereduksi “yang lain” menjadi objek yang dapat dipahami dan dikuasai, pemikirannya juga memiliki keterbatasan ketika diterapkan pada persoalan ekologis. Dalam filsafat Levinas, konsep “wajah” merujuk pada kehadiran manusia lain yang menuntut tanggung jawab etis. Wajah adalah pengalaman konkret bertemu dengan sesama manusia yang tidak dapat direduksi menjadi objek pengetahuan. Namun, konsep ini terutama dirumuskan dalam konteks relasi antarmanusia.
Masalahnya, sungai, gunung, atau hutan tidak memiliki “wajah” dalam pengertian Levinasian. Karena itu, jika pemikiran Levinas ingin digunakan untuk memikirkan etika ekologis, ia perlu dipadukan dengan pendekatan lain yang lebih memperhatikan relasi manusia dengan dunia nonmanusia. Di sinilah gagasan new materialism memperluas diskusi tersebut dengan menunjukkan bahwa manusia selalu hidup dalam jaringan relasi material yang lebih luas.
Lebih dari Sekadar Mengubah Bahasa
Krisis ekologis hari ini tidak bisa dijelaskan hanya dari satu sudut pandang. Ia bukan hanya persoalan bahasa atau cara berpikir, melainkan juga persoalan ekonomi politik, sejarah industrialisasi, dan cara manusia mengorganisasi produksi. Karena itu, perubahan bahasa saja tidak cukup untuk mengatasi krisis lingkungan. Transformasi yang lebih nyata membutuhkan perubahan dalam sistem produksi, kebijakan energi, serta cara ekonomi global memanfaatkan alam.
Namun, refleksi filosofis tetap penting. Ia membantu kita mempertanyakan asumsi-asumsi dasar yang sering dianggap wajar dalam kehidupan modern. Jika selama ini alam dipahami terutama sebagai sumber daya yang harus dimanfaatkan, mungkin kita perlu mulai melihatnya sebagai bagian dari jaringan kehidupan yang juga menopang keberadaan manusia. Krisis iklim, banjir, dan kerusakan hutan menunjukkan bahwa manusia tidak pernah benar-benar berada di luar alam. Kita selalu hidup di dalamnya. Karena itu, menamai alam tidak serta-merta membuatnya menjadi milik kita. Lantas, jika alam bukan milik kita, milik siapa? Pertanyaan itu mungkin perlu dijawab dengan cara berbeda: alam bukanlah milik siapa pun. Ia adalah kondisi bersama yang memungkinkan kehidupan itu sendiri.
______________________
Yunus Demianus Djabumona adalah mahasiswa Program Studi Agama dan Lintas Budaya (CRCS), Sekolah Pascasarjana UGM, angkatan 2025. Baca tulisan Yunus lainnya di sini.
Sumber foto tajuk artikel Bundany/Wikimedia Commons (2020)