• Tentang UGM
  • Portal Akademik
  • Pusat TI
  • Perpustakaan
  • Penelitian
Universitas Gadjah Mada
  • About Us
    • About CRCS
    • Vision & Mission
    • People
      • Faculty Members and Lecturers
      • Staff Members
      • Students
      • Alumni
    • Facilities
    • Library
  • Master’s Program
    • Overview
    • Curriculum
    • Courses
    • Schedule
    • Admission
    • Scholarship
    • Accreditation and Certification
    • Academic Collaborations
      • Crossculture Religious Studies Summer School
      • Florida International University
    • Academic Documents
    • Student Satisfaction Survey
  • Article
    • Perspective
    • Book Review
    • Event Report
    • Class Journal
    • Interview
    • Wed Forum Report
    • Thesis Review
    • News
  • Publication
    • Reports
    • Books
    • Newsletter
    • Monthly Update
    • Infographic
  • Research
    • CRCS Researchs
    • Resource Center
  • Community Engagement
    • Film
      • Indonesian Pluralities
      • Our Land is the Sea
    • Wednesday Forum
    • ICIR
    • Amerta Movement
  • Beranda
  • Perspective
  • Ketika Kita Memberi Nama pada Dunia

Ketika Kita Memberi Nama pada Dunia

  • Perspective, Perspective
  • 5 May 2026, 15.25
  • Oleh: crcs ugm
  • 0

Pernahkah kita bertanya: apa yang sebenarnya terjadi ketika kita memberi nama pada sesuatu? Sekilas, menamai tampak seperti tindakan sederhana. Kita memberi label agar dunia lebih mudah dipahami. Hutan disebut hutan, sungai disebut sungai, dan laut disebut laut. Tanpa bahasa, manusia akan kesulitan mengenali dan mengatur realitas di sekitarnya. Namun, proses memahami dunia tidak pernah sepenuhnya netral. Emmanuel Levinas menunjukkan, dalam tradisi filsafat Barat, memahami sesuatu sering berarti memasukkannya ke dalam kerangka berpikir manusia. Apa yang berbeda dari kita perlahan direduksi menjadi sesuatu yang dapat dijelaskan dan dikendalikan (Levinas, 1979:45). Dalam arti ini, pengetahuan tidak hanya menjelaskan dunia, tetapi juga membentuk cara manusia terhubung dengan apa yang dipahaminya.

Refleksi ini sering digunakan untuk menjelaskan cara manusia modern berbicara tentang alam. Dalam berbagai kebijakan pembangunan dan diskursus ekonomi, hutan sering disebut “sumber daya”, laut disebut “zona ekonomi”, dan tanah diperlakukan sebagai “aset”. Istilah-istilah ini dapat memengaruhi cara kita membayangkan alam. Namun, penting juga untuk tidak menyederhanakan persoalan. Krisis ekologis tentu tidak terjadi hanya karena bahasa. Istilah seperti “sumber daya alam” muncul bukan sebagai penyebab utama kerusakan lingkungan, melainkan sebagai refleksi dari cara sistem ekonomi modern mengorganisasi dunia material.

Alam dalam Mesin Industri

Untuk memahami persoalan ini secara lebih konkret, kita perlu melihat sejarah modernitas. Sejak Revolusi Industri pada abad ke-18, pertumbuhan ekonomi global semakin bergantung pada ekstraksi besar-besaran terhadap alam. Batu bara, minyak bumi, kayu, dan berbagai mineral menjadi fondasi bagi industrialisasi dan ekspansi pasar dunia. Dalam sistem kapitalisme industri, alam diperlakukan terutama sebagai bahan produksi: tanah menjadi properti yang bisa diperjualbelikan, hutan menjadi komoditas kayu, dan laut menjadi wilayah eksploitasi perikanan atau energi.

Karena itu, cara manusia menamai alam sering mengikuti logika ekonomi tersebut. Bahasa pembangunan, ekonomi, dan kebijakan publik kemudian mengadopsi istilah-istilah yang menempatkan alam sebagai bagian dari sistem produksi. Dengan kata lain, bahasa tidak menciptakan eksploitasi alam, tetapi membantu menormalkan cara pandang yang sudah terbentuk dalam sistem ekonomi modern. Filsuf ekofeminis Val Plumwood menunjukkan bahwa dominasi manusia terhadap alam dalam sejarah modern sering berjalan bersamaan dengan pola dominasi lain seperti kolonialisme, patriarki, dan eksploitasi tenaga kerja (Plumwood, 1993: 22). Dalam pola relasi ini, alam ditempatkan sebagai sesuatu yang lebih rendah dan dapat dikendalikan.

Alam Tidak Sepasif yang Kita Kira

Dalam beberapa dekade terakhir, sejumlah pemikir mencoba menantang cara pandang lama yang melihat alam sebagai benda mati yang pasif. Pendekatan yang dikenal sebagai new materialism ini menekankan, dunia material berperan aktif dalam membentuk realitas sosial. Karen Barad, misalnya, memperkenalkan konsep intra-action untuk menjelaskan bahwa manusia, teknologi, dan lingkungan selalu terlibat dalam hubungan yang saling membentuk (Barad, 2007:178). Jane Bennett juga berargumen bahwa dunia material memiliki semacam vitalitas atau daya pengaruh dalam proses sosial dan politik (Bennett, 2010:xii). Artinya, alam bukan sekadar latar belakang pasif bagi aktivitas manusia, melainkan bagian dari jaringan kehidupan yang terus berinteraksi dengan manusia.

Gagasan ini membantu kita melihat bahwa hubungan manusia dengan alam tidak sesederhana hubungan antara subjek yang aktif dan objek yang pasif. Alam bukan hanya sesuatu yang bisa dikendalikan, melankan juga sesuatu yang terus memengaruhi kehidupan manusia.

Batas Etika Levinas

Meski gagasan Levinas membantu kita memahami bagaimana manusia sering mereduksi “yang lain” menjadi objek yang dapat dipahami dan dikuasai, pemikirannya juga memiliki keterbatasan ketika diterapkan pada persoalan ekologis. Dalam filsafat Levinas, konsep “wajah” merujuk pada kehadiran manusia lain yang menuntut tanggung jawab etis. Wajah adalah pengalaman konkret bertemu dengan sesama manusia yang tidak dapat direduksi menjadi objek pengetahuan. Namun, konsep ini terutama dirumuskan dalam konteks relasi antarmanusia.

Masalahnya, sungai, gunung, atau hutan tidak memiliki “wajah” dalam pengertian Levinasian. Karena itu, jika pemikiran Levinas ingin digunakan untuk memikirkan etika ekologis, ia perlu dipadukan dengan pendekatan lain yang lebih memperhatikan relasi manusia dengan dunia nonmanusia. Di sinilah gagasan new materialism memperluas diskusi tersebut dengan menunjukkan bahwa manusia selalu hidup dalam jaringan relasi material yang lebih luas.

Lebih dari Sekadar Mengubah Bahasa

Krisis ekologis hari ini tidak bisa dijelaskan hanya dari satu sudut pandang. Ia bukan hanya persoalan bahasa atau cara berpikir, melainkan juga persoalan ekonomi politik, sejarah industrialisasi, dan cara manusia mengorganisasi produksi. Karena itu, perubahan bahasa saja tidak cukup untuk mengatasi krisis lingkungan. Transformasi yang lebih nyata membutuhkan perubahan dalam sistem produksi, kebijakan energi, serta cara ekonomi global memanfaatkan alam.

Namun, refleksi filosofis tetap penting. Ia membantu kita mempertanyakan asumsi-asumsi dasar yang sering dianggap wajar dalam kehidupan modern. Jika selama ini alam dipahami terutama sebagai sumber daya yang harus dimanfaatkan, mungkin kita perlu mulai melihatnya sebagai bagian dari jaringan kehidupan yang juga menopang keberadaan manusia. Krisis iklim, banjir, dan kerusakan hutan menunjukkan bahwa manusia tidak pernah benar-benar berada di luar alam. Kita selalu hidup di dalamnya. Karena itu,  menamai alam tidak serta-merta membuatnya menjadi milik kita. Lantas, jika alam bukan milik kita, milik siapa? Pertanyaan itu mungkin perlu dijawab dengan cara berbeda: alam bukanlah milik siapa pun. Ia adalah kondisi bersama yang memungkinkan kehidupan itu sendiri.

______________________

Yunus Demianus Djabumona adalah mahasiswa Program Studi Agama dan Lintas Budaya (CRCS), Sekolah Pascasarjana UGM, angkatan 2025. Baca tulisan Yunus lainnya di sini.

Sumber foto tajuk artikel Bundany/Wikimedia Commons (2020)

Tags: dekolonialisasi Ekologi Filsafat politik Yunus Demianus Djabumona

Leave A Comment Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Instagram

Two origin stories. Two journeys through time. The Two origin stories. Two journeys through time.
The Minahasan story of To'ar and Lumimu'ut has travelled through generations and Genesis, too, was retold and reshaped many times before the version we now know as the “fall” became dominant. Neither story has an untouched "original". What happens when we read them side by side—not simply as stories of a fall from grace, but as stories about growing up?
Join this thought provoking discussion with @tirodaenuwysj at #wednesdayforum.
We provide snacks and drinks, don't forget to bring your tumbler. This event is free and open to public.
What does Kendeng teach us about Indonesia’s ecolo What does Kendeng teach us about Indonesia’s ecological disasters today?
Years ago in the North Kendeng Mountains, women resisted cement mining to defend karst mountains, water sources, farmland, and Ibu Bumi. Today, as Indonesia faces floods, landslides, and other ecological disasters, their struggle feels increasingly urgent. Join this thought provoking discussion on how Ibu Bumi becomes a meeting point for Muslim and Sedulur Sikep ecological ethics at #wednesdayforum.
We provide snacks and drinks, don't forget to bring your tumbler. This event is free and open to public.
Can the body be a language of faith? Explore how C Can the body be a language of faith?
Explore how Confucian values are embodied through ritual, gestures, discipline, and everyday practices.
From li and xiao to colonial Indonesia and the Covid-19 pandemic, we will discover how the body becomes a site of virtue, faith, and social harmony.

Join this discussion at #wednesdayforum with @sutrisno.evi
We provide snacks and drinks, don't forget to bring your tumbler. This event is free and open to public.
Whose gaze am I carrying in my body? Over time, we Whose gaze am I carrying in my body?
Over time, we learn to watch ourselves through the eyes of others. What does it take for a body to loosen itself from these gazes? Perhaps it begins with simply staying present. Breathing. Not disappearing. Quietly refusing.
Join this thought provoking discussion at #wednesdayforum with @anquaerere
We provide snacks and drinks, don't forget to bring your tumbler. This event is free and open to public.
Follow on Instagram

Twitter

Tweets by crcsugm

Universitas Gadjah Mada

Gedung Sekolah Pascasarjana UGM, 3rd Floor
Jl. Teknika Utara, Pogung, Yogyakarta, 55284
Email address: crcs@ugm.ac.id

 

© CRCS - Universitas Gadjah Mada

KEBIJAKAN PRIVASI/PRIVACY POLICY