Apakah kehidupan religius selalu menghadirkan ketenangan?
Bayangkan seseorang yang rajin beribadah. Ia tidak pernah melewatkan doa, berusaha menghindari dosa sekecil apa pun, dan ingin selalu menjadi pribadi yang taat. Dari luar, hidupnya tampak ideal. Namun, jika ditelisik lebih dalam, ada kegelisahan yang terus bekerja diam-diam: takut salah, takut ibadahnya tidak diterima, takut Tuhan murka kepadanya.
Dalam banyak tradisi keagamaan, agama memang sering diajarkan melalui bahasa peringatan seperti dosa, hukuman, dan konsekuensi moral. Dalam batas tertentu, rasa takut memiliki fungsi etis. Ia dapat menjadi pengingat bahwa manusia memiliki keterbatasan dan tanggung jawab moral. Dalam psikologi agama, rasa takut terhadap Tuhan tidak selalu dimaknai sebagai kecemasan patologis. Ia juga dapat dipahami sebagai awe, rasa hormat dan kekaguman yang membuat manusia sadar akan kebesaran sesuatu di luar dirinya.
Namun, persoalan muncul ketika rasa takut tidak lagi berfungsi sebagai kesadaran moral. Perasaan takut berubah menjadi tekanan psikologis yang terus-menerus. Ketika Tuhan lebih sering dibayangkan sebagai sosok penghukum daripada sumber kasih sayang, agama justru terasa menekan, alih-alih menenangkan.
Ketika Rasa Takut Menjadi Beban Psikologis
Dalam kajian psikologi agama, pola keberagamaan semacam ini sering disebut sebagai fear-based religion, yaitu praktik beragama yang terutama digerakkan oleh ketakutan terhadap konsekuensi spiritual (Pargament et al., 2011). Sebaliknya, terdapat pendekatan yang lebih menekankan kasih sayang, harapan, dan penerimaan, yang sering diasosiasikan dengan compassion-based religion (Koenig, 2012). Meski demikian, keduanya tidak sepenuhnya terpisah. Dalam pengalaman religius manusia, takut dan cinta sering kali hadir bersamaan dan saling membentuk.
Sejak kecil, banyak orang diajarkan bahwa setiap kesalahan akan mendapatkan balasan. Pesan ini penting sebagai dasar tanggung jawab moral. Akan tetapi, pada sebagian individu, pesan tersebut diterima secara sangat personal dan emosional hingga melahirkan kecemasan religius yang berlebihan. Mereka merasa harus selalu “sempurna” di hadapan Tuhan. Tidak boleh ada kesalahan, tidak boleh ada kelalaian sedikit pun. Ketika gagal memenuhi standar itu, yang muncul ialah rasa bersalah dan tidak layak sebagai manusia beriman.
Dalam psikologi, kondisi ini berkaitan dengan konsep religious guilt, yaitu rasa bersalah religius yang berlebihan dan terus-menerus (Exline et al., 2014). Penelitian juga menunjukkan bahwa religiusitas yang didominasi ketakutan dapat berkorelasi dengan kecemasan, stres, dan tekanan psikologis melalui mekanisme yang disebut negative religious coping (Ano & Vasconcelles, 2005). Individu merasa relasinya dengan Tuhan dipenuhi ancaman, hukuman, dan rasa ditolak secara spiritual.
Ironisnya, pengalaman seperti ini sering dialami justru oleh orang-orang yang serius dalam beragama. Mereka ingin menjadi pribadi yang saleh, tetapi dalam prosesnya kehilangan rasa aman dan tenang dalam relasi spiritualnya sendiri.
Apakah Ibadah Harus Selalu Menenangkan?
Ada asumsi umum bahwa ibadah semestinya selalu menghadirkan ketenangan batin. Namun, pengalaman religius manusia sesungguhnya jauh lebih kompleks. Dalam banyak tradisi keagamaan, perjalanan iman juga melibatkan kegelisahan, keraguan, rasa takut, bahkan pergulatan eksistensial. Karena itu, kualitas iman tidak bisa diukur semata-mata dari seberapa tenang perasaan seseorang.
Di sisi lain, cara seseorang memaknai Tuhan tetap memiliki pengaruh besar terhadap kondisi psikologisnya. Ketika Tuhan dipahami sebagai sumber kasih sayang dan penerimaan, individu cenderung lebih mampu menerima keterbatasan dirinya sendiri.
Dalam psikologi, hal ini berkaitan dengan konsep self-compassion yakni kemampuan untuk memperlakukan diri sendiri secara lebih manusiawi ketika gagal atau melakukan kesalahan. Penelitian menunjukkan, keberadaan self-compassion berkorelasi lurus dengan tingkat stres yang lebih rendah, regulasi emosi yang lebih sehat, dan kesehatan mental yang lebih baik (Neff, 2003). Dengan kata lain, relasi spiritual yang sehat berarti menghadirkan ruang bagi manusia untuk tetap merasa diterima meski tidak sempurna. Sebuah relasi yang sehat tetap menyisakan ruang bagi harapan, pertumbuhan, dan kemanusiaan.
Penting disadari, cara seseorang memandang Tuhan tidak muncul begitu saja. Ia dibentuk oleh lingkungan sosial tempat ia tumbuh, yaitu keluarga, pendidikan, komunitas, hingga institusi keagamaan. Narasi tentang Tuhan yang penuh ancaman sering kali merupakan bagian dari kultur religius yang diwariskan secara turun-temurun.
Akibatnya, kecemasan religius tidak bisa dipahami hanya sebagai persoalan psikologis individu. Ia juga berkaitan dengan bagaimana agama diajarkan dan dipraktikkan dalam masyarakat. Ketika ceramah, pendidikan agama, atau ruang keagamaan lebih banyak dipenuhi bahasa ketakutan daripada kasih sayang, individu dapat tumbuh dengan relasi spiritual yang dilandasi kecemasan. Sebaliknya, lingkungan religius yang memberi ruang pada refleksi, penerimaan, dan dialog cenderung membantu individu membangun hubungan yang lebih sehat dengan Tuhan maupun dengan dirinya sendiri.
Ruang untuk Percakapan yang Lebih Jujur
Kesehatan mental dalam konteks religius memang masih jarang dibicarakan secara terbuka. Persoalannya mungkin bukan terletak pada agama itu sendiri, melainkan pada bagaimana manusia memaknainya. Banyak orang takut dianggap “kurang iman” ketika mengalami kecemasan, keraguan, atau tekanan batin dalam kehidupan spiritualnya. Akibatnya, pergulatan psikologis sering dipendam sendirian. Padahal pengalaman iman manusia jauh lebih kompleks daripada sekadar dikotomi antara “iman kuat” dan “iman lemah”.
Rasa takut tidak selalu buruk. Dalam bentuk yang proporsional, rasa takut dapat menjadi pengingat moral agar manusia tidak bertindak sewenang-wenang. Namun, tanpa diimbangi dengan pemahaman tentang kasih sayang dan penerimaan, rasa takut dapat berubah menjadi beban psikologis. Di sisi lain, penekanan berlebihan pada kasih sayang tanpa kesadaran moral juga dapat membuat kehidupan spiritual kehilangan orientasi etis. Karena itu, yang dibutuhkan bukan memilih antara takut atau cinta, melainkan menjaga keseimbangan di antara keduanya.
Agama memang tidak selalu menghadirkan ketenangan secara otomatis. Terkadang, ia juga menjadi ruang pergulatan yang melelahkan. Pada akhirnya, pertanyaan yang paling penting mungkin bukan hanya seberapa sering seseorang beribadah, melainkan bagaimana ia menjalani relasinya dengan Tuhan.
______________________
Pinasti Almi Kusuma adalah mahasiswa Program Studi Agama dan Lintas Budaya (CRCS), Sekolah Pascasarjana UGM, angkatan 2025. Baca tulisan Pinasti lainnya di sini.
Artikel ini merupakan salah satu usaha CRCS UGM untuk mendukung SDGs nomor 4 tentang Pendidikan Berkualitas.
Foto tajuk artikel oleh Yana Iskayeva (2025)