Ali Jafar | CRCS | Wednesday Forum
Many of us know Ammatoans from general perspectives about them. Their traditional ways of life are fascinating. Indeed, if we watch TV programs about ethnicity or similar topic, Ammatoans are usually portrayed as a small community group who “still” believe in “animism” and hold rituals for forest conservation. In some religious programs on Indonesian television, Ammatoans are shown as Muslim who practice “syncretism” because they give offerings to the forest, mountains and lands. Indonesians have a lot of stereotypes about Ammatoans, but who they really are without judgmen? Concerning with these stereotypes of Ammatoans, On Wednesday 16th September, Wednesday Forum of CRCS/ICRS presented Dr Samsul Maarif who had concerned his deep research in Ammatoans and said in otherwise fact.

Agar tak terjebak dalam kekerasan, keterlibatan setiap muslim dalam dunia politik dan segala sendi kehidupan di dunia meniscayakan satu hal, yakni, sebagaimana ditawarkan Chaiwat Satha-Anand, “hadirnya kesadaran untuk menggeluti Realitas Ilahiah tanpa harus kehilangan kemampuan mempertanyakan diri, orang lain, dan dunia.” Hal ini dapat dicapai dengan, antara lain, meletakkan Yang Sakral di dalam cermin. Dengan begitu, seorang muslim dapat membangun jarak ideal antara dirinya dengan Yang Sakral, sehingga ia tidak menjadi—meminjam istilah Hent de Vries—“ngengat yang terpesona oleh api hingga terlalap olehnya.” Chaiwat Sata-Anand mengungkapkan hal ini dalam acara “Nurcholis Madjis Memorial Lecture” (NMML) yang digelar pada hari Kamis, 8 Oktober 2015 lalu di gedung sekolah Pascasarjana Universitas Gadjah Mada (UGM). Kuliah umum yang mengambil tema The Sacred in The Mirror; Islam and Politics in The 21st Century ini merupakan bagian dari rangkaian acara peringatan ulang tahun Program Studi Agama dan Lintas Budaya (CRCS) UGM yang kelima belas.