• Tentang UGM
  • Portal Akademik
  • Pusat TI
  • Perpustakaan
  • Penelitian
Universitas Gadjah Mada
  • About Us
    • About CRCS
    • Vision & Mission
    • People
      • Faculty Members and Lecturers
      • Staff Members
      • Students
      • Alumni
    • Facilities
    • Library
  • Master’s Program
    • Overview
    • Curriculum
    • Courses
    • Schedule
    • Admission
    • Scholarship
    • Accreditation and Certification
    • Academic Collaborations
      • Crossculture Religious Studies Summer School
      • Florida International University
    • Academic Documents
    • Student Satisfaction Survey
  • Article
    • Perspective
    • Book Review
    • Event Report
    • Class Journal
    • Interview
    • Wed Forum Report
    • Thesis Review
    • News
  • Publication
    • Reports
    • Books
    • Newsletter
    • Monthly Update
    • Infographic
  • Research
    • CRCS Researchs
    • Resource Center
  • Community Engagement
    • Film
      • Indonesian Pluralities
      • Our Land is the Sea
    • Wednesday Forum
    • ICIR
    • Amerta Movement
  • Beranda
  • Laporan Wednesday Forum
  • Menempatkan Nusantara dalam Peta Filsafat Dunia

Menempatkan Nusantara dalam Peta Filsafat Dunia

  • Laporan Wednesday Forum, Wednesday Forum Report
  • 15 April 2026, 13.59
  • Oleh: crcs ugm
  • 0

Dalam tradisi keilmuan yang sangat otoritatif, siapakah yang layak disebut sebagai filsuf? Lantas, apakah Indonesia memiliki filsufnya sendiri? 

Pertanyaan-pertanyaan tersebut menjadi pemantik Wednesday Forum (8/4) yang menghadirkan Al Makin, guru besar ilmu filsafat UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. Al Makin membedah karya terbarunya Dari Athena sampai Nusantara: Pengantar Filsafat Dunia tentang Manusia, Nalar, Agama dan Kekuasaan (2025), sebuah upaya menjembatani perdebatan pemikiran global sekaligus menempatkan para pemikir Indonesia pada posisi yang sejajar dalam sejarah peradaban manusia. 

Ia menjelaskan, buku itu berangkat dari ruang kelas, dari percakapan-percakapan yang hidup bersama mahasiswa saat ia mengajar filsafat di almamaternya. Interaksi tersebut tidak hanya menjadi medium pengajaran, tetapi juga ruang refleksi yang secara perlahan membentuk sekaligus memperluas cara pandangnya terhadap filsafat. Antusiasme publik yang kian meningkat terhadap diskursus filsafat turut menjadi dorongan penting untuk merangkum dan mengembangkan gagasan-gagasan itu ke dalam sebuah karya yang merentang dari filsuf klasik hingga kontemporer.

Salah satu langkah penting dalam buku ini adalah upaya memasukkan para pemikir Indonesia sebagai bagian integral dari sejarah filsafat dunia. Ia mengambil Tjokroaminoto sebagai salah satu contoh. Melalui gagasan tentang Islam dan sosialisme, Tjokro merumuskan visi keadilan sosial yang berakar pada nilai-nilai Islam, sekaligus menjadikannya fondasi bagi perlawanan terhadap kolonialisme dan kapitalisme. Dari sini, Al Makin menegaskan satu hal mendasar: filsuf bukan semata-mata adalah mereka yang diakui sebagai intelektual, melainkan siapa pun yang mampu melampaui batas diri dan zamannya. 

Filsafat yang Terus Bergerak

“Akar tradisi filsafat sesungguhnya lahir dari peradaban Yunani,” ujar Al Makin. Ia merujuk pada Socrates sebagai figur kunci yang mengembangkan pendekatan dialektika kritis, sebuah metode bertanya yang tidak sekadar mencari jawaban, tetapi mengguncang asumsi-asumsi dasar. Dalam praktiknya, Socrates secara tajam mengkritik demokrasi Athena yang kerap menempatkan suara mayoritas di atas kebenaran. Dari ketegangan itulah lahir tradisi berpikir kritis sebagai jalan pencarian kebenaran rasional, sebuah jalan yang justru mengantarkannya pada hukuman mati.

Dari Yunani, Al Makin kemudian memperluas lanskap pembahasan ke peradaban Mesopotamia hingga Romawi yang melahirkan berbagai aliran filsafat, salah satunya stoikisme.Ia menyinggung Marcus Aurelius sebagai contoh konkret filsuf yang tidak berhenti pada tataran gagasan, tetapi menghidupkan etika dan kebijaksanaan dalam praktik keseharian.

Perjalanan itu kemudian berlanjut ke dalam khazanah Islam, ketika filsafat berinteraksi dengan wahyu dan tradisi keilmuan. Nama-nama seperti Al-Kindi, Al-Farabi, hingga Seyyed Hossein Nasr menunjukkan bahwa filsafat dalam Islam pernah, dan masih,  medan intelektual yang subur. Namun di titik ini, Al Makin menyampaikan kegelisahannya: dalam tradisi Sunni, filsafat dinilainya cenderung meredup, tersisih oleh perdebatan normatif seputar halal–haram; sementara dalam tradisi Syiah, filsafat justru tetap hidup dan berkembang sebagai disiplin keilmuan yang dinamis.

Kemudian Al Makin menarik garis koneksi bahwa filsafat juga sudah berkembang di Nusantara. Baginya, jejak filsafat juga dapat dilacak dalam praktik budaya dan simbol-simbol lokal. Ia mencontohkan Candi Wukir sebagai salah satu manifestasi awal. Kehadiran elemen Siwa, Brahma, Wisnu, hingga Tantra dalam satu ruang sakral menunjukkan negosiasi kultural sekaligus menegaskan bahwa harmoni dapat dibangun dari perbedaan, bukan dengan meniadakannya. 

Dalam konteks Indonesia modern, Al Makin menyebut sejumlah tokoh seperti Ki Ageng Suryomentaram, Sutan Sjahrir, Sukarno, hingga Bagus Hadikusumo sebagai para pemikir yang bekerja melalui negosiasi. Mereka menggabungkan, menafsirkan ulang, dan melampaui berbagai tradisi demi membayangkan Indonesia. Di titik ini, definisi filsuf ditegaskan kembali:mereka yang mampu melampaui dirinya sendiri, dan melalui itu, membuka kemungkinan baru bagi dunia di sekitarnya.

Perlukah Meredefinisi Filsuf?

Pernyataan Al Makin bahwa filsafat pada dasarnya adalah praktik berpikir kritis, dan karena itu terbuka bagi siapa saja, segera memantik respons dari peserta diskusi. Pertanyaan-pertanyaan pun mengemuka: siapa yang layak disebut filsuf? Perlukah kategori itu dijaga secara ketat? Atau justru yang lebih penting adalah menelusuri bagaimana seseorang menjadi filsuf? Lantas,  di tengah lanskap tersebut, di mana posisi filsuf perempuan di Nusantara?

Sesi tanya jawab pun berkembang menjadi perdebatan intens. Al Makin merumuskan bahwa filsuf dapat mencakup mereka yang menulis dan membangun kerangka pemikiran secara reflektif, bahkan melampaui batas-batas agama dan keyakinan yang melingkupinya. Ia membedakan filsuf dari aktivis. Jika aktivisme berorientasi pada tindakan langsung, filsafat menuntut konstruksi gagasan yang sistematis dan reflektif. Namun demikian, ia juga membuka kemungkinan yang lebih luas bahwa mereka yang secara konsisten mempraktikkan kebijaksanaan (wisdom) dalam hidupnya dapat pula dipahami sebagai filsuf.

Jawaban tersebut tidak serta-merta menutup perdebatan, tetapi justru memperluasnya. Al Makin tampak berupaya meruntuhkan eksklusivitas filsafat sebagai domain terbatas. Ketika muncul pertanyaan, “jika semua orang dapat berpikir kritis, apakah semua orang dapat menjadi filsuf?”, ia menjawab secara tegas: secara potensial, ya. Namun, tidak semua orang mampu merumuskan pemikirannya secara sistematis. Di titik ini, ia menekankan pentingnya membuka ruang kesetaraan dalam berpikir, sebagai sebuah dorongan untuk, “claim another philosophy.” Ini menjadi penting untuk membangun otoritas pengetahuan alternatif di luar klaim-klaim mapan, termasuk yang sering dimonopoli oleh otoritas keagamaan.

Jelang penutupan, Al Makin merefleksikan bahwa toleransi, inklusivitas, dan harmoni merupakan ciri khas yang menandai filsafat Nusantara. Karakter khas ini merupakan sebuah kontribusi yang berpotensi memperkaya khazanah pemikiran global. Namun, diskusi ini menyisakan satu ganjalan penting: di mana perempuan dalam peta filsafat Nusantara? Ketiadaan jawaban yang memadai atas pertanyaan ini justru membuka ruang kritik sekaligus menjadi pengingat bahwa upaya memperluas horizon filsafat harus pula mencakup suara-suara yang selama ini terpinggirkan.

______________________

M. Siswanto adalah mahasiswa Program Studi Agama dan Lintas Budaya (CRCS), Sekolah Pascasarjana UGM, angkatan 2025. Baca tulisan Sis lainnya di sini.

 

Tags: Filsafat m siswanto nusantara

Leave A Comment Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Instagram

crcs_ugm

Sedang tidak baik-baik saja, kamu biasanya mencari Sedang tidak baik-baik saja, kamu biasanya mencari apa di internet?

Banyak anak muda hari ini menemukan ketenangan, nasihat, bahkan jawaban atas kegelisahan melalui media sosial, konten keagamaan, akun kesehatan mental, hingga AI chatbot. Namun, bagaimana sebenarnya pengalaman itu terjadi?
Kami sedang melakukan penelitian untuk memahami bagaimana generasi muda usia 10–24 tahun mencari informasi keagamaan maupun kesehatan mental saat menghadapi masa-masa sulit.
Jika kamu merasa topik ini dekat dengan pengalamanmu, kami mengundangmu menjadi responden.
Partisipasi bersifat sukarela dan seluruh jawaban dijaga kerahasiaannya.
Kamu bisa langsung kirim DM jawabanmu atau mau tanya-tanya dulu juga boleh.

Kami tunggu ya.
Katanja koeliah S2 itoe mahal? Eitss , djangan s Katanja  koeliah S2 itoe mahal? 
Eitss , djangan salah
Bersama keempat mahasiswa angkatan 2025, kita akan ngobrolin djoeroes-djoeroes djitoe mendapatkan beasiswa di CRCS UGM

Begitoe?
Before petroleum fueled the world, it fractured th Before petroleum fueled the world, it fractured the archipelago

The raise of the colonial petroleum industry in the Dutch East Indies was also the emergence of new spatial inequalities. Outer Java was not merely discovered as a resource zone. It was politically produced as an extractive territory through imperial concessions, colonial state-building, and global struggles over resource control.

Join us in this presentation on capitalism, oil, and the colonial fractures that continue to haunt the geography of modern Indonesia. We provide snacks and drinks, don't forget to bring your tumbler. This event is free and open to public.
M B G Satu kotak makan berisi nasi putih pulen seb M B G
Satu kotak makan berisi nasi putih pulen sebagai sumber karbohidrat utama, dimasak dari beras medium pilihan, air, sedikit garam, dan beberapa tetes minyak agar tidak cepat basi. Di sampingnya terdapat ayam semur kecap, dibuat dari potongan daging ayam, bawang merah, bawang putih, kecap manis, daun salam, lengkuas, garam, dan sedikit gula sehingga memberi asupan protein hewani yang cukup untuk pertumbuhan. Sebagai pendamping lauk utama, disediakan tempe orek manis gurih dari tempe iris tipis, bawang merah, bawang putih, cabai, kecap, dan gula merah. Tempe ini berfungsi menambah protein nabati sekaligus membuat kotak makan tampak lebih penuh, sebab protein memang sering lebih meyakinkan bila hadir rangkap dua. Untuk unsur sayuran, ada tumis wortel dan buncis yang dimasak dari wortel segar, buncis, sedikit kol, bawang putih, garam, merica, dan minyak sayur. Warna oranye-hijau pada sayur ini penting: bukan hanya untuk vitamin A dan serat, tetapi juga agar foto dokumentasi tidak terlihat terlalu pucat.Sebagai pelengkap vitamin alami, satu buah pisang atau sepotong pepaya matang diletakkan di sudut kotak. Buah dipilih yang murah, tahan banting, tidak gampang memar, dan cukup fotogenik ketika dibagikan massal. Terakhir, ditambahkan susu UHT kotak kecil berbahan susu sapi, gula, dan fortifikasi vitamin, atau kadang telur rebus utuh sebagai penutup protein tambahan.

Berbuih-buih seperti pelaksanaannya ...
Follow on Instagram

Twitter

Tweets by crcsugm

Universitas Gadjah Mada

Gedung Sekolah Pascasarjana UGM, 3rd Floor
Jl. Teknika Utara, Pogung, Yogyakarta, 55284
Email address: crcs@ugm.ac.id

 

© CRCS - Universitas Gadjah Mada

KEBIJAKAN PRIVASI/PRIVACY POLICY