• Tentang UGM
  • Portal Akademik
  • Pusat TI
  • Perpustakaan
  • Penelitian
Universitas Gadjah Mada
  • About Us
    • About CRCS
    • Vision & Mission
    • People
      • Faculty Members and Lecturers
      • Staff Members
      • Students
      • Alumni
    • Facilities
    • Library
  • Master’s Program
    • Overview
    • Curriculum
    • Courses
    • Schedule
    • Admission
    • Scholarship
    • Accreditation and Certification
    • Academic Collaborations
      • Crossculture Religious Studies Summer School
      • Florida International University
    • Academic Documents
    • Student Satisfaction Survey
  • Article
    • Perspective
    • Book Review
    • Event Report
    • Class Journal
    • Interview
    • Wed Forum Report
    • Thesis Review
    • News
  • Publication
    • Reports
    • Books
    • Newsletter
    • Monthly Update
    • Infographic
  • Research
    • CRCS Researchs
    • Resource Center
  • Community Engagement
    • Film
      • Indonesian Pluralities
      • Our Land is the Sea
    • Wednesday Forum
    • ICIR
    • Amerta Movement
  • Beranda
  • Berita
  • Menyibak Tirai Terorisme di Bima

Menyibak Tirai Terorisme di Bima

  • Berita, Event report, News, Wednesday Forum Report
  • 4 September 2024, 15.01
  • Oleh: crcs ugm
  • 1

Menyibak Tirai Terorisme di Bima

Yohanes Leonardus Krismawan Anugrah Putra – 29  Agustus 2024

“Di Kabupaten Bima, bahkan seorang maling pun akan mengucapkan bismillah sebelum ia mencuri sepeda motor.”

Begitulah guyonan yang menggambarkan begitu agamisnya masyarakat di tanah Bima. Guyonan tersebut dilontarkan oleh Dyah Ayu Kartika, kandidat doktor dari Australian National University (ANU), dalam presentasinya di Wednesday Forum bertajuk “Violent Extremism in Bima: Radical Milieu and Peacebuilding Efforts” (21/8). Namun, guyonan tersebut juga mengandung ironi tentang tingginya tingkat kriminalitas di wilayah ini. Faktanya, berdasarkan data dari Institute for Policy Analysis of Conflict (IPAC), Bima merupakan daerah dengan rekam jejak aktivitas terorisme yang tinggi. Lantas, karakteristik keagamaan seperti apa yang tengah berkembang di antara masyarakat Bima? Sejauh mana karakteristik keagamaan itu mempengaruhi perkembangan terorisme di Bima?

Bima dan Terorisme

Secara geografis, Bima merupakan kota kecil yang terletak di Sumbawa, Nusa Tenggara Barat. Pulau Sumbawa diapit oleh dua pulau besar lain dengan corak keagamaan yang berbeda: di timur ada Bali yang kental dengan corak Hindu dan kepulauan Nusa Tenggara Timur dengan mayoritas Kristen. Berada di tengah dua tradisi keagamaan yang kuat, corak keislaman Bima justru menguat—seperti yang tersirat dalam guyonan di awal tulisan. 

Namun, Bima juga menyimpan jejak panjang aktivitas ekstremisme. Kendati gaung ekskalasi konflik kekerasan di Bima tidak sebesar Poso dan Ambon, Kartika menunjukkan tingginya eksistensi ekstremisme keagamaan di wilayah tersebut.  Dalam penelusuran Kartika, jaringan terorisme Bima sudah terlibat dalam upaya bom Cikini 1957; insiden Talangsari, Lampung, pada 1989; hingga konflik di Poso dan Ambon pada 2000. 

Merespons hal itu, pemerintah kerap melakukan represi terhadap jaringan terorisme di Bima dan tak jarang menggunakan kekerasan. Namun, bukannya surut, represi dengan kekerasan tersebut melahirkan motif balas dendam dan melahirkan lingkaran kekerasan yang lain. Di sisi lain, upaya represi secara fisik tersebut tidak dapat membendung ekstremisme keagamaan yang terus berlangsung di ranah pikiran melalui penyebaran ideologi.

Struktur Lingkungan Radikal

Dalam konteks penyebaran paham ekstremisme, Kartika membagi lingkungan keagamaan yang ada di Bima menjadi tiga lapisan. Yang terluar adalah lingkup sosial dan politik masyarakat yang moderat dan jauh dari tindak kekerasan, dalam kasus ini ialah mereka yang tergabung atau berafiliasi dengan Muhammadiyah dan Nahdlatul Ulama. Bagian selanjutnya merupakan lingkup yang memiliki semangat Islam militan. Kartika menyebutnya sebagai radical milieu atau ‘lingkungan radikal’. Yang termasuk dalam kelompok ini ialah FUI (Forum Umat Islam) dan JAS (Jamaah Ansharut Syariah). Kedua kelompok tersebut memiliki semangat untuk membangun kekhalifahan di Indonesia. Kendati demikian, mereka cenderung menghindari jalan yang kekerasan. Namun, dalam beberapa konteks dan kasus tertentu, kelompok radikal ini seolah membiarkan—atau bahkan “mendelegasikan”—praktik ekstremisme kekerasan oleh lapisan ketiga, yaitu kelompok teroris. 

Struktur terdalam dari lingkungan radikal adalah kelompok terorisme yang tersembunyi di balik tirai radikalisme. Yang termasuk lingkaran ini ialah JAD (Jamaah Ansharut Daulah) yang berafiliasi dengan kelompok Jamaah Islamiyah (JI), kelompok pecahan dari Darul Islam yang menjadi grup Islam militan terbesar di Asia Tenggara. 

Dari Rumah menuju Suriah

Lapisan lingkungan radikal di wilayah Bima ini membuat Bima menjadi target persembunyian sekaligus penyebaran paham ekstremisme keagamaan. Pada 2014, saat the Islamic State of Iraq and Syria (ISIS) mendeklarasikan kekhalifahan di Suriah dan Irak, banyak penduduk Bima yang menjadi pendukung. Dalam sebuah masjid tua di Penatoi, Bima, tak kurang dari 200 warga Bima mendeklarasikan dukungannya kepada ISIS. 

Langkah penyebaran paham ekstremisme keagamaan ini tidak hanya terjadi secara komunal di dalam rumah ibadah, tetapi juga di rumah tangga. Jamaah Islamiyah memfasilitasi pelatihan pembuatan bom di tingkat keluarga. Dengan kata lain, perempuan juga menjadi target langsung dari kelompok ekstremisme kekerasan ini. Penting untuk diingat, salah satu perempuan pelaku terorisme pertama di Indonesia berasal dari Bima (lebih lanjut baca From Mothers to Bombers, 2017). Ajaran ekstremisme kekerasan ini kemudian diwariskan kepada generasi selanjutnya sehingga lingkungan radikal tersebut dapat bertahan dari masa ke masa. 

Penyebaran paham ekstremisme kekerasan di Bima juga melalui ranah pendidikan, seperti kisah Ustadz Abrory dan lembaga pendidikan miliknya. Kartika mengisahkan, mulanya Abrory ialah seorang murid dari sekolah Islam di Jepara yang berafiliasi dengan JI. Pada tahun 2001, ia berkelana ke Maluku untuk mempelajari cara merakit bom. Dua tahun kemudian, ilmu tersebut ia sebar luaskan di Bima dengan strategi serupa melalui pendirian Umar bin Khattab Islamic Boarding School. Abrory pun merekrut lulusan sekolah yang berafiliasi dengan JI sebagai guru. Sekolah itu akhirnya menjadi salah satu jangkar penyebaran paham radikalisme dan ekstremisme keagamaan di Bima. 

Menyibak Tirai, Membangun Perdamaian

Dalam lima tahun terakhir, terjadi penurunan tren aktivitas ekstremisme kekerasan berbasis keagamaan di Bima. Tentu saja, hal ini tidak datang tiba-tiba. Di samping kekalahan ISIS di Suriah pada Maret 2019, salah satu yang menjadi titik kunci penurunan tren ini ialah tumbuhnya inisiatif lokal maupun nasional. Kartika mengelompokkan setidaknya ada dua metode deradikalisasi yaitu pendekatan kasar dan halus. Pendekatan kasar dilakukan oleh pemerintah melalui tindakan represif Densus 88 maupun aparat kepolisian. Salah satu contohnya ialah penangkapan Abrory oleh polisi dan penutupan Umar bin Khattab Islamic Boarding School. Sementara itu, pendekatan halus yang lebih bersifat preventif dilakukan melalui dialog dan mediasi oleh Forum Kebebasan Umat Beragama (FKUB).

Di samping oleh lembaga negara, upaya deradikalisasi ini juga datang dari mantan tokoh ekstremis atau keluarga mereka. Ustaz Gunawan ialah salah seorang pentolan penting JAD di Bima yang mundur dari organisasi tersebut. Salah satu alasan utamanya ialah keluarga. Sang istri tak henti-hentinya mengingatkan bahwa jihad yang sesungguhnya ialah ketika sang suami berhasil menjadi ayah yang baik atas anak-anaknya. Setelah lepas dari JAD, ustaz Gunawan aktif menyebarkan paham perdamaian pada masyarakat Bima. Radikalisasi dapat bermula dari rumah, tetapi rumah juga dapat menjadi awal dari upaya deradikalisasi dan perdamaian.

______________________

Yohanes Leonardus Krismawan Anugrah Putra adalah mahasiswa Program Studi Agama dan Lintas Budaya (CRCS), Sekolah Pascasarjana UGM, angkatan 2024. Baca tulisan Leo lainnya di sini.

Foto tajuk artikel: Tribrata News (2022).

Artikel ini merupakan salah satu usaha CRCS UGM untuk mendukung SDGs nomor  16 tentang Perdamaian, Keadilan, dan Kelembagaan yang Tangguh.

Tags: Bima Terorisme Yohanes Leonardus Krismawan Anugrah Putra

Leave A Comment Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Comment (1)

  1. Ngardi 1 years ago

    Sangat menarik uraianya.. jika diperkenankan pendekatan seperti apa agar kelompok terorisme tdk menjadi lyan yg menakutkan bila satu saat dia kembali ke masyarakat dan bertobat utk tdk lagi bergabung dgn jaringan teroris yg diikutinya.

    Reply

Instagram

crcs_ugm

Sedang tidak baik-baik saja, kamu biasanya mencari Sedang tidak baik-baik saja, kamu biasanya mencari apa di internet?

Banyak anak muda hari ini menemukan ketenangan, nasihat, bahkan jawaban atas kegelisahan melalui media sosial, konten keagamaan, akun kesehatan mental, hingga AI chatbot. Namun, bagaimana sebenarnya pengalaman itu terjadi?
Kami sedang melakukan penelitian untuk memahami bagaimana generasi muda usia 10–24 tahun mencari informasi keagamaan maupun kesehatan mental saat menghadapi masa-masa sulit.
Jika kamu merasa topik ini dekat dengan pengalamanmu, kami mengundangmu menjadi responden.
Partisipasi bersifat sukarela dan seluruh jawaban dijaga kerahasiaannya.
Kamu bisa langsung kirim DM jawabanmu atau mau tanya-tanya dulu juga boleh.

Kami tunggu ya.
Katanja koeliah S2 itoe mahal? Eitss , djangan s Katanja  koeliah S2 itoe mahal? 
Eitss , djangan salah
Bersama keempat mahasiswa angkatan 2025, kita akan ngobrolin djoeroes-djoeroes djitoe mendapatkan beasiswa di CRCS UGM

Begitoe?
Before petroleum fueled the world, it fractured th Before petroleum fueled the world, it fractured the archipelago

The raise of the colonial petroleum industry in the Dutch East Indies was also the emergence of new spatial inequalities. Outer Java was not merely discovered as a resource zone. It was politically produced as an extractive territory through imperial concessions, colonial state-building, and global struggles over resource control.

Join us in this presentation on capitalism, oil, and the colonial fractures that continue to haunt the geography of modern Indonesia. We provide snacks and drinks, don't forget to bring your tumbler. This event is free and open to public.
M B G Satu kotak makan berisi nasi putih pulen seb M B G
Satu kotak makan berisi nasi putih pulen sebagai sumber karbohidrat utama, dimasak dari beras medium pilihan, air, sedikit garam, dan beberapa tetes minyak agar tidak cepat basi. Di sampingnya terdapat ayam semur kecap, dibuat dari potongan daging ayam, bawang merah, bawang putih, kecap manis, daun salam, lengkuas, garam, dan sedikit gula sehingga memberi asupan protein hewani yang cukup untuk pertumbuhan. Sebagai pendamping lauk utama, disediakan tempe orek manis gurih dari tempe iris tipis, bawang merah, bawang putih, cabai, kecap, dan gula merah. Tempe ini berfungsi menambah protein nabati sekaligus membuat kotak makan tampak lebih penuh, sebab protein memang sering lebih meyakinkan bila hadir rangkap dua. Untuk unsur sayuran, ada tumis wortel dan buncis yang dimasak dari wortel segar, buncis, sedikit kol, bawang putih, garam, merica, dan minyak sayur. Warna oranye-hijau pada sayur ini penting: bukan hanya untuk vitamin A dan serat, tetapi juga agar foto dokumentasi tidak terlihat terlalu pucat.Sebagai pelengkap vitamin alami, satu buah pisang atau sepotong pepaya matang diletakkan di sudut kotak. Buah dipilih yang murah, tahan banting, tidak gampang memar, dan cukup fotogenik ketika dibagikan massal. Terakhir, ditambahkan susu UHT kotak kecil berbahan susu sapi, gula, dan fortifikasi vitamin, atau kadang telur rebus utuh sebagai penutup protein tambahan.

Berbuih-buih seperti pelaksanaannya ...
Follow on Instagram

Twitter

Tweets by crcsugm

Universitas Gadjah Mada

Gedung Sekolah Pascasarjana UGM, 3rd Floor
Jl. Teknika Utara, Pogung, Yogyakarta, 55284
Email address: crcs@ugm.ac.id

 

© CRCS - Universitas Gadjah Mada

KEBIJAKAN PRIVASI/PRIVACY POLICY