“Aku disuruh memperbanyak mengaji dan menjaga salat. Aku sudah lakukan itu, tapi bagaimana membuat mereka mengerti bahwa depresi ini bukanlah sesuatu yang aku buat-buat dan bisa kuusir kapanpun aku mau?” Begitulah kegelisahan si A, teman saya.
“Dengan salat tahajud aku bisa merasakan lagi sesuatu. Kecemasanku berkurang. Nafasku lebih tenang. Meskipun aku belum bisa bangun pagi dengan hati yang riang.” Curhat si B, teman saya juga.
Keyakinan dan praktik serta keterlibatan dalam organisasi keagamaan menunjukkan hubungan yang konsisten dengan kondisi depresi dalam berbagai jenis penelitian, baik prospektif, potong lintang, maupun studi tinjauan. Beberapa penelitian berskala besar melaporkan bahwa kehadiran rutin dalam kegiatan peribadatan memprediksi angka kejadian depresi yang lebih rendah, sementara praktik keagamaan yang bersifat pribadi atau nonorganisasi lebih kuat dalam memprediksi pemulihan pada individu yang sudah mengalami depresi (Ekwonye et al., 2017; Boulevard, 2016; Hebert et al., 2007). Menariknya, di samping mengandung unsur-unsur protektif yang dapat menurunkan gejala depresi, agama juga dekat dengan risiko-risiko tertentu yang berpotensi memperburuk kesehatan mental. Pergulatan religius atau spiritual serta bentuk-bentuk tertentu dari penekanan religiusitas justru dapat meningkatkan risiko depresi. Dampak akhir agama—apakah berkontribusi menurunkan atau justru memperburuk kondisi depresi—sangat bergantung pada unsur mana yang lebih dominan dalam pengalaman keagamaan individu atau kelompok tertentu (Koenig, 2007; Abu-Raiya et al., 2016; Garrison et al., 2005). Pada sebagian orang, perbaikan gejala depresi dan kecemasan menjadi lebih menonjol ketika agama dihayati sebagai ruang perlindungan yang memberi makna hidup, pemaafan, serta dukungan komunitas. Sebaliknya, pada sebagian yang lain, kondisi psikologis justru memburuk ketika pengalaman keagamaan didominasi oleh perasaan dihukum oleh Tuhan, ketidakpuasan spiritual, penolakan dari komunitas, serta keraguan dan kemarahan terhadap Yang Ilahi.
Orang dengan Depresi (ODD): Cerita Saya Sendiri
Saya didiagnosis F32.2 atau episode depresi berat oleh psikiater sejak tahun 2021. Mulai kapan tepatnya saya depresi? Saya tidak tahu. Namun, awal saya mengalami gejala depresi dapat ditarik dari masa remaja. Ketika itu saya sedang mondok di suatu pesantren. Saya sering menangis, hampir tidak berinteraksi dengan siapa pun, dan merindukan satu-satunya hal yang saya rasa bisa menerima saya dengan dosa-dosa yang saya tangisi: Tuhan. Saya tahajud sendirian di masjid hampir semalam suntuk. Pada beberapa waktu saya tidak mengaji bersama santri-santri lain, sekolah hanyalah formalitas dan saya kabur ke pojokan ruang kelas kosong untuk membaca Al-Qur’an dan selawat berjam-jam. Belakangan saya menyadari bahwa itu merupakan coping mechanism yang bisa “ditoleransi” di lingkungan pesantren meskipun saya sampai dinasehati seorang ustaz karena kebangetan beribadah dan dianggap aneh oleh teman sebaya. Rajin beribadah menjadi jaket yang menutupi rasa bersalah, isolasi, ketiadaan harapan, kurangnya motivasi, kehampaan, dan pergumulan batin yang sulit saya komunikasikan.
Sebelas tahun berlalu, saya sangat memble beragama atau dengan kata lain malas melakukan ritus ibadah. Apakah sekarang saya sudah tidak depresi? Enggak juga. Saya masih didiagnosis F.32.2 dan menjalani farmakoterapi serta psikoterapi hingga saat ini. Tentang rajin atau tidaknya saya beribadah, dampak agama terhadap kesehatan mental tidak bersifat tunggal, melainkan sangat bergantung pada konteks sosial, relasi kuasa, dan cara agama dihidupi dalam kehidupan sehari-hari (Puteri & Rahimah, 2024). Saya pernah mengalami religius trauma yang disebabkan tafsir keagamaan yang kaku, penuh rasa bersalah, atau menekankan norma moral secara opresif. Namun, saya juga menemukan oase dalam suatu keterlibatan keagamaan yang bersifat inklusif, reflektif dan personal yang mana menjadi pengalaman korektif bagi pemulihan seseorang.
Depresi selalu kompleks. Saya tercerahkan dengan apa yang ditulis oleh dr. Jiemi Ardian, Sp.K.J. dalam Merawat Luka Batin (2021). Depresi disebabkan oleh beberapa faktor biologis, psikologi, dan sosial (biopsikososial). Faktor biologis misalnya genetik, hormon, infeksi, makanan, anatomi dan fungsional otak, usia, dan gender. Faktor psikologis dapat berupa coping mechanism, trauma masa kecil, pola asuh orang tua, skema berpikir, kemampuan interpersonal, stres dan stresor, serta kebermaknaan hidup. Sedangkan faktor sosial antara lain support system, lingkungan yang tidak mendukung, serta pengabaian. Rumit bukan? Memang, tidak semudah itu gebyah-uyah faktor depresi pada stereotipe bahwa ODD kurang ibadah atau kurang bersyukur. Tidak pula setergesa-gesa menyimpulkan bahwa beribadah gak guna! Ada banyak hal yang perlu kita pahami bersama.
Lantas, dari pernyataan kontras antara si A dan si B, mana yang benar? Apakah rajin beribadah ada kaitannya dengan kesehatan mental? Saya berupaya menawarkan jawaban yang bernuansa dan menuntun pada refleksi masing-masing, alih-alih melompat pada kesimpulan hitam putih. Saya menceritakan pengalaman saya agar Anda dapat menemukan cerita Anda sendiri sebab kita semua memiliki kondisi mental yang kadang naik kadang turun.
Apakah agama bisa menjadi solusi atas persoalan kesehatan mental? Semoga ini relevan meski terdengar cliché. Jawabannya: bisa! Asalkan kita secara kolektif membentuk suatu ekosistem agama yang memulihkan dan merawat, membuka ruang dialog, empati, dan solidaritas, serta tidak menghakimi pengalaman rapuh manusia sebagai kegagalan iman. Mengakui masalah kesehatan mental adalah sebuah langkah awal yang penting untuk menjadikan agama sebagai ruang aman dan praktik etis bagi mereka yang sedang berjuang dan terpinggirkan. Mengakui masalah kesehatan mental juga bagian integral dari keberimanan itu sendiri.
______________________
Nanda Tsani adalah alumni Program Studi Agama dan Lintas Budaya (CRCS), Sekolah Pascasarjana UGM, angkatan 2023. Baca tulisan Nanda lainnya di sini.