• Tentang UGM
  • Portal Akademik
  • Pusat TI
  • Perpustakaan
  • Penelitian
Universitas Gadjah Mada
  • About Us
    • About CRCS
    • Vision & Mission
    • People
      • Faculty Members and Lecturers
      • Staff Members
      • Students
      • Alumni
    • Facilities
    • Library
  • Master’s Program
    • Overview
    • Curriculum
    • Courses
    • Schedule
    • Admission
    • Scholarship
    • Accreditation and Certification
    • Academic Collaborations
      • Crossculture Religious Studies Summer School
      • Florida International University
    • Academic Documents
    • Student Satisfaction Survey
  • Article
    • Perspective
    • Book Review
    • Event Report
    • Class Journal
    • Interview
    • Wed Forum Report
    • Thesis Review
    • News
  • Publication
    • Reports
    • Books
    • Newsletter
    • Monthly Update
    • Infographic
  • Research
    • CRCS Researchs
    • Resource Center
  • Community Engagement
    • Film
      • Indonesian Pluralities
      • Our Land is the Sea
    • Wednesday Forum
    • ICIR
    • Amerta Movement
  • Beranda
  • Perspective
  • Rajin Beribadah (Tidak) Ada Hubungannya dengan Depresi Saya

Rajin Beribadah (Tidak) Ada Hubungannya dengan Depresi Saya

  • Perspective
  • 22 December 2025, 14.07
  • Oleh: crcs ugm
  • 0

“Aku disuruh memperbanyak mengaji dan menjaga salat. Aku sudah lakukan itu, tapi bagaimana membuat mereka mengerti bahwa depresi ini bukanlah sesuatu yang aku buat-buat dan bisa kuusir kapanpun aku mau?” Begitulah kegelisahan si A, teman saya. 

“Dengan salat tahajud aku bisa merasakan lagi sesuatu. Kecemasanku berkurang. Nafasku lebih tenang. Meskipun aku belum bisa bangun pagi dengan hati yang riang.” Curhat si B, teman saya juga.

Keyakinan dan praktik serta keterlibatan dalam organisasi keagamaan menunjukkan hubungan yang konsisten dengan kondisi depresi dalam berbagai jenis penelitian, baik prospektif, potong lintang, maupun studi tinjauan. Beberapa penelitian berskala besar melaporkan bahwa kehadiran rutin dalam kegiatan peribadatan memprediksi angka kejadian depresi yang lebih rendah, sementara praktik keagamaan yang bersifat pribadi atau nonorganisasi lebih kuat dalam memprediksi pemulihan pada individu yang sudah mengalami depresi (Ekwonye et al., 2017; Boulevard, 2016; Hebert et al., 2007). Menariknya, di samping mengandung unsur-unsur protektif yang dapat menurunkan gejala depresi, agama juga dekat dengan risiko-risiko tertentu yang berpotensi memperburuk kesehatan mental. Pergulatan religius atau spiritual serta bentuk-bentuk tertentu dari penekanan religiusitas justru dapat meningkatkan risiko depresi. Dampak akhir agama—apakah berkontribusi menurunkan atau justru memperburuk kondisi depresi—sangat bergantung pada unsur mana yang lebih dominan dalam pengalaman keagamaan individu atau kelompok tertentu (Koenig, 2007; Abu-Raiya et al., 2016; Garrison et al., 2005). Pada sebagian orang, perbaikan gejala depresi dan kecemasan menjadi lebih menonjol ketika agama dihayati sebagai ruang perlindungan yang memberi makna hidup, pemaafan, serta dukungan komunitas. Sebaliknya, pada sebagian yang lain, kondisi psikologis justru memburuk ketika pengalaman keagamaan didominasi oleh perasaan dihukum oleh Tuhan, ketidakpuasan spiritual, penolakan dari komunitas, serta keraguan dan kemarahan terhadap Yang Ilahi.

Orang dengan Depresi (ODD): Cerita Saya Sendiri

Saya didiagnosis F32.2 atau episode depresi berat oleh psikiater sejak tahun 2021. Mulai kapan tepatnya saya depresi? Saya tidak tahu. Namun, awal saya mengalami gejala depresi dapat ditarik dari masa remaja. Ketika itu saya sedang mondok di suatu pesantren. Saya sering menangis, hampir tidak berinteraksi dengan siapa pun, dan merindukan satu-satunya hal yang saya rasa bisa menerima saya dengan dosa-dosa yang saya tangisi: Tuhan. Saya tahajud sendirian di masjid hampir semalam suntuk. Pada beberapa waktu saya tidak mengaji bersama santri-santri lain, sekolah hanyalah formalitas dan saya kabur ke pojokan ruang kelas kosong untuk membaca Al-Qur’an dan selawat berjam-jam. Belakangan saya menyadari bahwa itu merupakan coping mechanism yang bisa “ditoleransi” di lingkungan pesantren meskipun saya sampai dinasehati seorang ustaz karena kebangetan beribadah dan dianggap aneh oleh teman sebaya. Rajin beribadah menjadi jaket yang menutupi rasa bersalah, isolasi, ketiadaan harapan, kurangnya motivasi, kehampaan, dan pergumulan batin yang sulit saya komunikasikan.

Sebelas tahun berlalu, saya sangat memble beragama atau dengan kata lain malas melakukan ritus ibadah. Apakah sekarang saya sudah tidak depresi? Enggak juga. Saya masih didiagnosis F.32.2 dan menjalani farmakoterapi serta psikoterapi hingga saat ini. Tentang rajin atau tidaknya saya beribadah, dampak agama terhadap kesehatan mental tidak bersifat tunggal, melainkan sangat bergantung pada konteks sosial, relasi kuasa, dan cara agama dihidupi dalam kehidupan sehari-hari (Puteri & Rahimah, 2024). Saya pernah mengalami religius trauma yang disebabkan tafsir keagamaan yang kaku, penuh rasa bersalah, atau menekankan norma moral secara opresif. Namun, saya juga menemukan oase dalam suatu keterlibatan keagamaan yang bersifat inklusif, reflektif dan personal yang mana menjadi pengalaman korektif bagi pemulihan seseorang.

Depresi selalu kompleks. Saya tercerahkan dengan apa yang ditulis oleh dr. Jiemi Ardian, Sp.K.J. dalam Merawat Luka Batin (2021). Depresi disebabkan oleh beberapa faktor biologis, psikologi, dan sosial (biopsikososial). Faktor biologis misalnya genetik, hormon, infeksi, makanan, anatomi dan fungsional otak, usia, dan gender. Faktor psikologis dapat berupa coping mechanism, trauma masa kecil, pola asuh orang tua, skema berpikir, kemampuan interpersonal, stres dan stresor, serta kebermaknaan hidup. Sedangkan faktor sosial antara lain support system, lingkungan yang tidak mendukung, serta pengabaian. Rumit bukan? Memang, tidak semudah itu gebyah-uyah faktor depresi pada stereotipe bahwa ODD kurang ibadah atau kurang bersyukur. Tidak pula setergesa-gesa menyimpulkan bahwa beribadah gak guna! Ada banyak hal yang perlu kita pahami bersama. 

Lantas, dari pernyataan kontras antara si A dan si B, mana yang benar? Apakah rajin beribadah ada kaitannya dengan kesehatan mental? Saya berupaya menawarkan jawaban yang bernuansa dan menuntun pada refleksi masing-masing, alih-alih melompat pada kesimpulan hitam putih. Saya menceritakan pengalaman saya agar Anda dapat menemukan cerita Anda sendiri sebab kita semua memiliki kondisi mental yang kadang naik kadang turun. 

Apakah agama bisa menjadi solusi atas persoalan kesehatan mental? Semoga ini relevan meski terdengar cliché. Jawabannya: bisa! Asalkan kita secara kolektif membentuk suatu ekosistem agama yang memulihkan dan merawat, membuka ruang dialog, empati, dan solidaritas, serta tidak menghakimi pengalaman rapuh manusia sebagai kegagalan iman. Mengakui masalah kesehatan mental adalah sebuah langkah awal yang penting untuk menjadikan agama sebagai ruang aman dan praktik etis bagi mereka yang sedang berjuang dan terpinggirkan. Mengakui masalah kesehatan mental juga bagian integral dari keberimanan itu sendiri.

______________________

Nanda Tsani adalah alumni Program Studi Agama dan Lintas Budaya (CRCS), Sekolah Pascasarjana UGM, angkatan 2023. Baca tulisan Nanda lainnya di sini.

 

Tags: agama dan kesehatan mental kesehatan mental nanda tsani

Leave A Comment Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Instagram

crcs_ugm

Sedang tidak baik-baik saja, kamu biasanya mencari Sedang tidak baik-baik saja, kamu biasanya mencari apa di internet?

Banyak anak muda hari ini menemukan ketenangan, nasihat, bahkan jawaban atas kegelisahan melalui media sosial, konten keagamaan, akun kesehatan mental, hingga AI chatbot. Namun, bagaimana sebenarnya pengalaman itu terjadi?
Kami sedang melakukan penelitian untuk memahami bagaimana generasi muda usia 10–24 tahun mencari informasi keagamaan maupun kesehatan mental saat menghadapi masa-masa sulit.
Jika kamu merasa topik ini dekat dengan pengalamanmu, kami mengundangmu menjadi responden.
Partisipasi bersifat sukarela dan seluruh jawaban dijaga kerahasiaannya.
Kamu bisa langsung kirim DM jawabanmu atau mau tanya-tanya dulu juga boleh.

Kami tunggu ya.
Katanja koeliah S2 itoe mahal? Eitss , djangan s Katanja  koeliah S2 itoe mahal? 
Eitss , djangan salah
Bersama keempat mahasiswa angkatan 2025, kita akan ngobrolin djoeroes-djoeroes djitoe mendapatkan beasiswa di CRCS UGM

Begitoe?
Before petroleum fueled the world, it fractured th Before petroleum fueled the world, it fractured the archipelago

The raise of the colonial petroleum industry in the Dutch East Indies was also the emergence of new spatial inequalities. Outer Java was not merely discovered as a resource zone. It was politically produced as an extractive territory through imperial concessions, colonial state-building, and global struggles over resource control.

Join us in this presentation on capitalism, oil, and the colonial fractures that continue to haunt the geography of modern Indonesia. We provide snacks and drinks, don't forget to bring your tumbler. This event is free and open to public.
M B G Satu kotak makan berisi nasi putih pulen seb M B G
Satu kotak makan berisi nasi putih pulen sebagai sumber karbohidrat utama, dimasak dari beras medium pilihan, air, sedikit garam, dan beberapa tetes minyak agar tidak cepat basi. Di sampingnya terdapat ayam semur kecap, dibuat dari potongan daging ayam, bawang merah, bawang putih, kecap manis, daun salam, lengkuas, garam, dan sedikit gula sehingga memberi asupan protein hewani yang cukup untuk pertumbuhan. Sebagai pendamping lauk utama, disediakan tempe orek manis gurih dari tempe iris tipis, bawang merah, bawang putih, cabai, kecap, dan gula merah. Tempe ini berfungsi menambah protein nabati sekaligus membuat kotak makan tampak lebih penuh, sebab protein memang sering lebih meyakinkan bila hadir rangkap dua. Untuk unsur sayuran, ada tumis wortel dan buncis yang dimasak dari wortel segar, buncis, sedikit kol, bawang putih, garam, merica, dan minyak sayur. Warna oranye-hijau pada sayur ini penting: bukan hanya untuk vitamin A dan serat, tetapi juga agar foto dokumentasi tidak terlihat terlalu pucat.Sebagai pelengkap vitamin alami, satu buah pisang atau sepotong pepaya matang diletakkan di sudut kotak. Buah dipilih yang murah, tahan banting, tidak gampang memar, dan cukup fotogenik ketika dibagikan massal. Terakhir, ditambahkan susu UHT kotak kecil berbahan susu sapi, gula, dan fortifikasi vitamin, atau kadang telur rebus utuh sebagai penutup protein tambahan.

Berbuih-buih seperti pelaksanaannya ...
Follow on Instagram

Twitter

Tweets by crcsugm

Universitas Gadjah Mada

Gedung Sekolah Pascasarjana UGM, 3rd Floor
Jl. Teknika Utara, Pogung, Yogyakarta, 55284
Email address: crcs@ugm.ac.id

 

© CRCS - Universitas Gadjah Mada

KEBIJAKAN PRIVASI/PRIVACY POLICY