Ada perasaan tidak percaya diri ketika pertama kali menginjakkan kaki di gedung lengkung Pascasarjana UGM medio tahun 2005. Di dalam lift, waktu mau menyerahkan formulir pendaftaran mahasiswa baru di CRCS, saya bergumam dalam hati, “Masa iya saya akan kuliah di gedung semegah ini? Apakah saya akan masuk seleksi dan bisa kuliah dengan beasiswa? Bagaimana jika tidak lulus?” Pikiran semacam itu terus menggelayuti kepala. Maklum, bagi seorang santri udik yang jarang pergi jauh seperti saya, pergi ke Jogja ketika itu merupakan perjalanan terjauh yang saya alami. Uang untuk membayar pendaftarannya pun berkat pinjaman dari salah satu gus di tempat saya nyantri ketika kuliah S-1. Saya memberanikan diri mendaftar karena berpikir bahwa bekal belajar bahasa Inggris kepada native speaker dari Amerika Serikat sewaktu mondok dan kemudian menjadi pengajar bahasa Inggris di Pondok Pesantren Annuqayah, Sumenep, Madura, bisa menjadi modal awal agar bisa mendaftar di program S-2 CRCS.
Walaupun nilai tes TOEFL saya kala itu tidak mencapai target minimal seperti yang disyaratkan, saya tetap mendaftar dengan berharap ketika tes wawancara bisa meyakinkan para reviewer. Ketika tes wawancara tiba, saya berusaha memantapkan diri dan meyakinkan para reviewer agar saya bisa lulus seleksi. Alhamdulillah, benar saja, kira-kira sebulan setelah wawancara, saya ditelpon oleh Mas Agus yang mengabarkan bahwa saya diterima kuliah di CRCS dengan beasiswa.
Seiring berjalannya perkuliahan, rasa minder dan canggung di dalam diri saya mulai berkurang. Rasa percaya diri di dunia akademik terus tumbuh karena support system yang saya rasakan di CRCS sudah terbentuk. Interaksi dialogis dengan para dosen membangkitkan semangat keilmuan kami. Tanpa saya sadari, suasana akademis dan interaksi antarangkatan yang saling mendukung juga telah menempa diri saya lebih untuk lebih percaya diri dan tidak canggung di dunia akademis. Pengalaman seperti itu belum saya dapatkan di kampus lain. Mungkin terkesan berlebihan, tetapi kondisi demikian sangat mungkin juga dirasakan oleh teman-taman lain ketika itu.
Kepercayaan teman-teman waktu itu yang mengamanahkan kepemimpinan jurnal CRCS, Relief (Religious Issues Forum) kepada saya, membuat saya tambah semangat untuk lebih aktif. Di samping kegiatan akademis seperti diskusi dan penerbitan, Relief juga membantu korban gempa bumi Jogja 2006 seperti penggalangan dana, penyaluran bantuan, dan trauma healing. Dari peristiwa gempa tersebut, diskusi mengenai agama dan bencana kemudian sering dilakukan, sehingga memicu saya untuk melakukan riset tesis tentang agama dan bencana. Atas dukungan dan bimbingan Zainal Abidin Bagir yang akrab dipanggil Pak Zain, akhirnya saya menyelesaikan tesis berjudul “Contesting the Meanings of Disasters” dengan melakukan kajian anthropologis di daerah Wonokromo, Bantul.
Pada Oktober 2007, santri udik yang canggung itu akhirnya bisa wisuda dengan predikat Cum Laude. Sebulan kemudian, saya mendapat kejutan untuk berangkat ke Philadelphia, USA, untuk studi di Temple University sebagai student exchange dengan beasiswa dari Henry Luce Foundation. Di Temple University, saya tidak hanya merasakan suasana akademis dan mengalami model perkuliahan ala Amerika, tetapi saya juga mendapat pelajaran hidup dari sosok pendidik yang penuh dedikasi seperti Prof. John Raine dan Prof. Mahmoud Ayyub.
Di samping itu, ada kejutan lain yang membuat saya terharu dan bahagia karena Philadelphia ternyata tidak jauh dari tempat tinggal Brian Harmon, guru bahasa Inggris yang dulu mengajar waktu saya mondok (yang saya singgung di awal tulisan ini). Pada hari kami sepakat bertemu, saya pun dijemput oleh Brian di depan perpustakaan kampus dan diajak ke rumah ayahnya, seorang pendeta Mormon di Baltimore. Sambil membuka foto-foto yang dia simpan rapi di album foto, banyak hal yang kami perbincangkan. Namun, foto-foto 14 tahun lalu itu seakan memandu percakapan kami yang membuka banyak kenangan ketika dia “nyantri” dan mengajar bahasa Inggris di Pondok Pesantren Annuqayah.
Sebelum menutup tulisan singkat ini, tanpa mengurangi rasa hormat dan dedikasi para dosen lain, secara khusus saya ingin mencurahkan rasa terima kasih atas ilmu dan inspirasi yang telah memengaruhi kehidupan akademis saya.
Pertama, terima kasih kepada Prof. Dr. Irwan Abdullah, yang saat itu menjabat sebagai Direktur Pascasarjana UGM. Ketika saya mau berangkat ke Temple University, beliau berpesan, “Pintu kamu untuk masuk di pergaulan akademis global sudah terbuka, nanti kamu akan memasuki pintu-pintu berikutnya.” Sepulang dari Temple University, pintu-pintu berikutnya yang dimaksud dalam kata-kata beliau itu, ternyata terus terbuka hingga sekarang. Setiap kali saya hadir di forum-forum maupun presentasi di konferensi internasional, kata-kata itu selalu terngiang di kepala, kata-kata itu akan terus menjadi academic booster bagi kehidupan saya.
Kedua, terima kasih kepada Dr. Zainal Abidin Bagir. Bagi saya, beliau adalah mentor dan pembimbing akademis saya, bukan hanya sejak di CRCS, melainkan hingga saya menyelesaikan studi doktoral di Western Sydney University, Australia. Beliau ikut mereviu dan menguji disertasi saya hingga lulus di tahun 2024.
Terakhir, terima kasih kepada seluruh civitas academica CRCS yang senantiasa menjaga support system akademis sehingga melahirkan alumni yang cinta terhadap ilmu pengetahuan dan mengabdikannya sesuai dengan kapasitasnya masing-masing. Selamat berulang tahun perak (ke-25), semoga terus bersinar!
______________________
Mohammad Hasan Basri adalah alumni Program Studi Agama dan Lintas Budaya (CRCS), Sekolah Pascasarjana UGM, angkatan 2005.