• Tentang UGM
  • Portal Akademik
  • Pusat TI
  • Perpustakaan
  • Penelitian
Universitas Gadjah Mada
  • About Us
    • About CRCS
    • Vision & Mission
    • People
      • Faculty Members and Lecturers
      • Staff Members
      • Students
      • Alumni
    • Facilities
    • Library
  • Master’s Program
    • Overview
    • Curriculum
    • Courses
    • Schedule
    • Admission
    • Scholarship
    • Accreditation and Certification
    • Academic Collaborations
      • Crossculture Religious Studies Summer School
      • Florida International University
    • Academic Documents
    • Student Satisfaction Survey
  • Article
    • Perspective
    • Book Review
    • Event Report
    • Class Journal
    • Interview
    • Wed Forum Report
    • Thesis Review
    • News
  • Publication
    • Reports
    • Books
    • Newsletter
    • Monthly Update
    • Infographic
  • Research
    • CRCS Researchs
    • Resource Center
  • Community Engagement
    • Film
      • Indonesian Pluralities
      • Our Land is the Sea
    • Wednesday Forum
    • ICIR
    • Amerta Movement
  • Beranda
  • Interview
Arsip:

Interview

Memperingati Kepercayaan, Menguji Kesetaraan: Percakapan Bersama Anchu

InterviewWawancara Wednesday, 15 July 2026

Penetapan Hari Kepercayaan memunculkan sejumlah pertanyaan penting. Apakah kebijakan ini menandai langkah maju menuju kesetaraan substantif, atau justru berhenti pada level simbolik? Sejauh mana negara benar-benar hadir untuk memenuhi hak-hak penghayat? Mungkinkah pengakuan yang diberikan negara justru menjadi instrumen baru untuk mengatur dan mengendalikan komunitas penghayat?

HAM Tanpa Imajinasi: Membaca Indonesia Bersama Robertus Robert

InterviewWawancara Wednesday, 15 April 2026

Indonesia pernah mengalami satu fase singkat yang penuh harapan: Reformasi 1998. Saat itu, demokrasi dan hak asasi manusia seolah menemukan momentumnya. Namun, harapan tersebut tidak sepenuhnya bertahan. Perlahan, praktik politik kembali menunjukkan pola lama: pembatasan kebebasan atas nama stabilitas. Apa yang sebenarnya terjadi? Mengapa perubahan besar itu tidak berlanjut?

The War against Iran, the Global (Dis)order, Karbala Complex, and What It Means for Indonesia

InterviewWawancara Thursday, 5 March 2026

The current and ongoing circumstances in Iran are conjuring up the kinds of imageries of the sacred past that can be a powerful tool for socioreligious and political mobilization. Such imageries will inadvertently but most likely evoke deep sentiments in the hearts and minds of millions of both Shi’a and Sunni Muslims outside of Iran.

Tidak Cuma Saleh, Santri Juga Harus “Salih”

InterviewWawancara Wednesday, 3 May 2023

Tidak Cuma Saleh, Santri Juga Harus “Salih”:
Etika Lingkungan dalam Refleksi
K.H. Habib Abdus Syakur

Bibi Suprianto – 3 Mei 2023

Pada tahun 2021, Indonesia tercatat sebagai negara produsen sampah plastik terbanyak keempat di dunia. Bahkan, menurut salah satu penelitian terkini yang dimuat di IOPscience, Indonesia merupakan negara penyumbang sampah plastik yang dibuang ke laut terbesar ke-2 setelah Cina. Data-data tersebut makin menguatkan temuan Kementerian Kesehatan pada 2018 yang mencatat rendahnya kesadaran masyarakat Indonesia akan kebersihan. Tentu saja ini bukanlah prestasi yang patut dibanggakan, apalagi Indonesia dikenal sebagai negara dengan populasi muslim terbesar di dunia. Fakta ini membuat kita patut bertanya, apakah Islam tidak mengajarkan soal menjaga lingkungan dan alam? Ataukah kesadaran umat beragamanya yang kurang? Lalu langkah kongkrit apa yang bisa dilakukan?

Bincang Bersama Paul Knitter: Dialog Korelatif dan Masa Depan Dialog Antaragama (Bagian 2)

InterviewWawancara Wednesday, 1 February 2023

Bincang Bersama Paul Knitter: Dialog Korelatif dan Dialog Antaragama (Bagian 2)

Vikry Reinaldo Paais – 1 Februari 2023

Jika di bagian sebelumnya kami berbincang tentang batas-batas dan peluang bentuk dialog antaragama, kali ini Paul Knitter masuk dan berefleksi lebih jauh tentang sejarah gelap antara kekristenan dan agama leluhur serta apa yang bisa kita lakukan terhadap hal itu. Lebih lanjut, Knitter berusaha membuka ruang dialog yang korelatif—baik sebagai umat Kristen yang berupaya mengabarkan kesaksian tentang Yesus, maupun sebagai pencari kebenaran sejati yang terus belajar dari tradisi agama atau kepercayaan lain.

Bincang Bersama Paul Knitter: Batasan dan Peluang Bentuk Dialog Antaragama (Bagian 1)

InterviewWawancara Tuesday, 31 January 2023

Bincang Bersama Paul Knitter: Batasan dan Peluang Bentuk Dialog Antaragama (Bagian 1)

Vikry Reinaldo Paais – 31 Januari 2023

Di negeri yang berbineka seperti Indonesia, dialog antaragama seolah menjadi kata kunci untuk mendorong perdamaian dan mencegah ekses konflik keagamaan. Akan tetapi, dalam banyak kasus, dialog yang terjadi seringkali menjadi “forum obrolan” karena pesertanya menghindari pembicaraan tentang “isu keras” dalam perjumpaan antaragama. Tak jarang, dialog antaragama ini dilakukan antara dua kelompok yang sama-sama berlatar belakang inklusif sehingga pembahasan isu-isu sensitif—yang kerap menjadi pemicu konflik—kurang mendapat ruang. Di sisi lain, dialog agama memang bukanlah obat mujarab yang bisa mengatasi segala permasalahan keberagaman. Lantas, sejauh mana dialog antaragama efektif dilakukan? Apakah ada batasan dalam dialog antaragama? Apa yang bisa kita lakukan dengan batasan itu?

123…6

Instagram

Can neurodiversity change the way we experience re Can neurodiversity change the way we experience religion and spirituality? How might different ways of thinking shape our sense of the sacred? Join us to explore the intersections of neurodiversity, religion, and mental health, and to rethink how religious communities can embrace different minds without stigma. Because different ways of thinking are not lesser ways of being.

Come and join this thought-provoking discussion with @etty.ind at #wednesdayforum.
We provide snacks and drinks, don't forget to bring your tumbler. This event is free and open to public.
O N C O M Ancaman kadang lebih berkuasa daripada a O N C O M
Ancaman kadang lebih berkuasa daripada argumen. Ia tak perlu membuktikan apa-apa, cukup membuat orang lain menutup mulut. Di negeri yang gemar mengurus ketersinggungan, ancam bisa mengalahkan oncom, sesuatu yang sesungguhnya lebih berguna bagi kehidupan sehari-hari. Oncom setidaknya bisa diolah menjadi makanan, ancaman hanya mengolah ketakutan. Namun, barangkali justru itulah masalahnya. Ketika ancaman menentukan siapa yang boleh berbicara, yang busuk bukan lagi sekadar oncom.
What happens when climate change is measured not o What happens when climate change is measured not only through data, but also through lived experience?

This presentation examines how local and Indigenous knowledges reveal forms of loss and damage that often remain invisible in conventional climate assessments, while offering valuable insights for adaptation and resilience.
Come and join this thought-provoking discussion with @rebecca.meckelburg at #wednesdayforum.
We provide snacks and drinks, don't forget to bring your tumbler. This event is free and open to public.
Jangan lupa daftar ya! Sampai bertemu di Februari Jangan lupa daftar ya!
Sampai bertemu di Februari 2027 🤭🤗

#sekolahpascasarjanaugm #crcsugm
Follow on Instagram

Twitter

Tweets by crcsugm

Universitas Gadjah Mada

Gedung Sekolah Pascasarjana UGM, 3rd Floor
Jl. Teknika Utara, Pogung, Yogyakarta, 55284
Email address: crcs@ugm.ac.id

 

© CRCS - Universitas Gadjah Mada

KEBIJAKAN PRIVASI/PRIVACY POLICY