• Tentang UGM
  • Portal Akademik
  • Pusat TI
  • Perpustakaan
  • Penelitian
Universitas Gadjah Mada
  • About Us
    • About CRCS
    • Vision & Mission
    • People
      • Faculty Members and Lecturers
      • Staff Members
      • Students
      • Alumni
    • Facilities
    • Library
  • Master’s Program
    • Overview
    • Curriculum
    • Courses
    • Schedule
    • Admission
    • Scholarship
    • Accreditation and Certification
    • Academic Collaborations
      • Crossculture Religious Studies Summer School
      • Florida International University
    • Academic Documents
    • Student Satisfaction Survey
  • Article
    • Perspective
    • Book Review
    • Event Report
    • Class Journal
    • Interview
    • Wed Forum Report
    • Thesis Review
    • News
  • Publication
    • Reports
    • Books
    • Newsletter
    • Monthly Update
    • Infographic
  • Research
    • CRCS Researchs
    • Resource Center
  • Community Engagement
    • Film
      • Indonesian Pluralities
      • Our Land is the Sea
    • Wednesday Forum
    • ICIR
    • Amerta Movement
  • Beranda
  • Laporan Wednesday Forum
  • Melintasi Batas “Agama”: Identitas Katolik Tionghoa di Muntilan

Melintasi Batas “Agama”: Identitas Katolik Tionghoa di Muntilan

  • Laporan Wednesday Forum, News, Wednesday Forum Report
  • 20 May 2025, 15.34
  • Oleh: crcs ugm
  • 0

Misa tahun baru Cina dan berdoa kepada dewa-dewa di dalam Klenteng menggunakan Doa Bapa Kami, emang boleh? 

Sebagai salah satu tempat awal perjumpaan misi Katolik sekaligus permukiman penting masyarakat keturunan Tionghoa di Jawa, Muntilan melahirkan karakter identitas hibrida Katolik-Tionghoa yang khas. Dinamika identitas tersebut menjadi salah satu fokus presentasi Astrid Syifa Salsabila, alumnus CRCS 2022, dalam Wednesday Forum (7/5/2025) berjudul “Chinese Catholics of Muntilan: Between The Church and The Chinese Temple”. Ia membagikan hasil penelitiannya selama 6 bulan di Muntilan di tengah komunitas Katolik keturunan Tionghoa. 

Bethlehem van Java dan Lika-liku Riwayat Katolik Tionghoa

Dikenal sebagai “Betlehem van Java”, Muntilan menyimpan jejak awal misionaris Katolik di Pulau Jawa. Agama Katolik masuk ke Muntilan dibawa oleh Franciscus Georgius Josephus van Lith, S.J (1863–1926) dari ordo Jesuit pada akhir abad ke-19. Menariknya, sekitar 70 tahun sebelum kedatangan misionaris Katolik, komunitas Tionghoa telah terlebih dahulu eksis di Muntilan. Lantas mengapa banyak komunitas Tionghoa, yang lebih dahulu tinggal di Muntilan, memilih untuk berpindah ke Katolik?

Setidaknya terdapat dua momen yang mendorong komunitas Tionghoa menjadi Katolik. Pertama, akses pendidikan yang terbatas. Saat itu, akibat politik segregasi ras dan pengaturan sistem pendidikan pemerintah kolonial Belanda, anak-anak keturunan Tionghoa—khususnya yang bukan dari keluarga kaya—sulit mengakses pendidikan di sekolah publik. Anak-anak keturunan Tionghoa di Muntilan hanya dapat mengakses pendidikan melalui sekolah-sekolah misionaris, salah satunya ialah sekolah Hollandsche-Chinese yang didirikan oleh misionaris Katolik pada 1917. Kedua, gejolak politik masa Orde Baru. Kebijakan diskriminasi anti-Tionghoa memaksa banyak orang Tionghoa “mencari jalan aman” dengan memilih salah satu agama “yang diakui”, di antaranya ialah Katolik. 

Identitas Katolik Tionghoa di Tanah Jawa

Perjumpaan karakteristik Katolik dan Tionghoa di Muntilan serta gejolak politik warisan kolonial melahirkan identitas Katolik Tionghoa. Dalam kerangka hybrid identity Homi K. Bhabha (1994), identitas Katolik Tionghoa di Muntilan menunjukkan kompleksitas proses dari orang Katolik dan orang Tionghoa untuk merekonstruksi, menegosiasi, dan mereproduksi identitas Katolik Tionghoa. Kendati seorang keturunan Tionghoa telah menganut Katolik, ia tetap dapat mempraktikan karakter Tionghoa-nya di Klenteng. Hal ini terlihat dalam partisipasi dan relasi komunitas atau umat Katolik Tionghoa di dalam rumah ibadah (klenteng dan gereja).

Klenteng Hok An Kiong merupakan salah satu rumah ibadah PTITD (Perhimpunan Tempat Ibadah Tridharma) di Muntilan yang dibangun pada akhir abad ke-19. Dalam pengertian yang formal, Klenteng Tridharma menjadi rumah ibadah yang terbatas bagi pemeluk Konghucu, Taoisme dan Buddha. Namun, nyatanya Klenteng di Muntilan ini terbuka bagi agama dan etnis apa saja. Asumsi eksklusif yang dilekatkan pada Klenteng hanya bagi pemeluk Konghucu, Taoisme dan Buddha merupakan hasil konstruksi sosial yang dipicu oleh politisasi agama di Indonesia. Hal ini membuat praktik “agama” menjadi kaku dan rigid: Katolik hanya dapat beribadah dan berpartisipasi di gereja saja, begitu juga sebaliknya. 

Kendati terjadi kekauan dalam norma beragama resmi, umat Katolik keturunan Tionghoa di Muntilan terus terhubung dengan Klenteng. Orang Katolik Tionghoa pergi ke Klenteng untuk berdoa kepada Kong Co dan Mak Co sebagai leluhur mereka. Praktik ini pun dimaknai sebagai praktik filial piety, sebuah ajaran Konghucu yang mengharuskan anak-anak taat dan mendoakan orang tua dan leluhur (dan sebaliknya). Adapun partisipasi personal orang Katolik Tionghoa di Klenteng untuk berdoa kepada leluhur Kong Co dan mak Co ini tidak didasari pada ortodoksi agama, tetapi pada pengalaman dan pemahaman peribadi yang diwariskan dalam keluarga. Pada era Orde Baru, praktik agama dan etnis Tionghoa sangat dibatasi di ruang publik sehingga rumah atau keluarga menjadi satu-satunya tempat untuk mengenal dan mempelajari karakteristik Tionghoa. Hal ini melahirkan keragaman pemahaman dan praktik beragama. Kendati menurut asumsi formal hidup beragama hal tersebut dipandang “sesat”, bagi mereka praktik tersebut merupakan ekspresi beragama yang autentik. 

Dinamika Misa Tahun Baru Cina di Muntilan

Misa Tahun Baru Cina di Muntilan dilakukan pertama kali di Gereja St. Antonius Padua tahun 2004. Keberadaan Misa Sincia ini memang bukan yang pertama di Indonesia. Beberapa gereja Katolik di Indonesia dengan umat mayoritas Tionghoa sudah melakukannya. Awalnya, Misa Tahun Baru Cina di Muntilan diprakarsai oleh Pastor keturunan Tionghoa. Ketika Pastor itu pindah ke paroki yang lain, umat Katolik Tionghoa di Muntilan tetap mempertahankan Misa ini dengan mengundang Pastor sebelumnya dalam Misa Tahun Baru Cina di Muntilan. Selain itu, Pastor yang menjadi Kepala Paroki di Muntilan merupakan lulusan sekolah dari Hong Kong yang membuatnya mempertahankan eksistensi Misa Tahun Baru Cina di Paroki Muntilan.

Salah satu tantangan yang dialami oleh komunitas Katolik Tionghoa dalam mengelola Misa Tahun Baru Cina adalah keterputusan komunitas dengan berbagai karakteristik Tionghoa sebagai salah satu dampak politik diskriminasi Orde Baru. Akibatnya, banyak masyarakat keturunan Tionghoa di Muntilan yang merasa tidak familiar dengan karakteristik Tionghoa. 

Tantangan selanjutnya ialah bagaimana kaum awam dari komunitas Katolik Tionghoa dapat mendialogkan karakteristik Tionghoa dan karakteristik Katolik. Hal ini berkaitan dengan posisi kaum awam dalam gereja yang dianggap kurang mapan untuk berbicara tentang karakteristik Katolik. Penolakan terhadap Misa Tahun Baru Cina pun muncul dalam tubuh gereja. Beberapa umat Katolik Tionghoa menganggap bahwa Misa Tahun Baru Cina tidak penting karena tidak tercatat dalam kalender liturgi gerejawi. 

Kendati demikian, hal ini tidak mengendorkan praktik Misa ini di Muntilan. Dukungan finansial bagi gereja dari beberapa anggota komunitas Katolik Tionghoa juga menjadi pertimbangan bagi Misa Tahun Baru Cina untuk terus dilakukan. Di sisi lain, antusiasme umat dalam Misa Tahun Baru Cina itu sangat tinggi karena adanya pembagian angpau dari pihak gereja kepada umat. 

Identitas Katolik Tionghoa di Muntilan, pada akhirnya, sangat beragam dan dinamis. Sebab setiap individu memiliki cara dan dinamikanya sendiri dalam menghidupi dan mengekspresikan identitas Katolik Tionghoanya. Ekspresi identitas Katolik Tionghoa di Muntilan merupakan bagian integral dari keberagaman pengalaman beragama dan telah melampaui doktrin kaku gereja yang seringkali menyingkirkan pengalaman-pengalaman dinamis beragama jemaat akar rumput.

______________________

Sonia Putri Ana Awa Matalu adalah mahasiswa Program Studi Agama dan Lintas Budaya (CRCS), Sekolah Pascasarjana UGM, angkatan 2024. Baca tulisan Puma lainnya di sini.

Artikel ini merupakan salah satu usaha CRCS UGM untuk mendukung SDGs nomor  16 tentang Perdamaian, Keadilan, dan Kelembagaan yang Tangguh.

Tags: katolik sonia putri ana awa manalu Tionghoa

Leave A Comment Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Instagram

crcs_ugm

Sedang tidak baik-baik saja, kamu biasanya mencari Sedang tidak baik-baik saja, kamu biasanya mencari apa di internet?

Banyak anak muda hari ini menemukan ketenangan, nasihat, bahkan jawaban atas kegelisahan melalui media sosial, konten keagamaan, akun kesehatan mental, hingga AI chatbot. Namun, bagaimana sebenarnya pengalaman itu terjadi?
Kami sedang melakukan penelitian untuk memahami bagaimana generasi muda usia 10–24 tahun mencari informasi keagamaan maupun kesehatan mental saat menghadapi masa-masa sulit.
Jika kamu merasa topik ini dekat dengan pengalamanmu, kami mengundangmu menjadi responden.
Partisipasi bersifat sukarela dan seluruh jawaban dijaga kerahasiaannya.
Kamu bisa langsung kirim DM jawabanmu atau mau tanya-tanya dulu juga boleh.

Kami tunggu ya.
Katanja koeliah S2 itoe mahal? Eitss , djangan s Katanja  koeliah S2 itoe mahal? 
Eitss , djangan salah
Bersama keempat mahasiswa angkatan 2025, kita akan ngobrolin djoeroes-djoeroes djitoe mendapatkan beasiswa di CRCS UGM

Begitoe?
Before petroleum fueled the world, it fractured th Before petroleum fueled the world, it fractured the archipelago

The raise of the colonial petroleum industry in the Dutch East Indies was also the emergence of new spatial inequalities. Outer Java was not merely discovered as a resource zone. It was politically produced as an extractive territory through imperial concessions, colonial state-building, and global struggles over resource control.

Join us in this presentation on capitalism, oil, and the colonial fractures that continue to haunt the geography of modern Indonesia. We provide snacks and drinks, don't forget to bring your tumbler. This event is free and open to public.
M B G Satu kotak makan berisi nasi putih pulen seb M B G
Satu kotak makan berisi nasi putih pulen sebagai sumber karbohidrat utama, dimasak dari beras medium pilihan, air, sedikit garam, dan beberapa tetes minyak agar tidak cepat basi. Di sampingnya terdapat ayam semur kecap, dibuat dari potongan daging ayam, bawang merah, bawang putih, kecap manis, daun salam, lengkuas, garam, dan sedikit gula sehingga memberi asupan protein hewani yang cukup untuk pertumbuhan. Sebagai pendamping lauk utama, disediakan tempe orek manis gurih dari tempe iris tipis, bawang merah, bawang putih, cabai, kecap, dan gula merah. Tempe ini berfungsi menambah protein nabati sekaligus membuat kotak makan tampak lebih penuh, sebab protein memang sering lebih meyakinkan bila hadir rangkap dua. Untuk unsur sayuran, ada tumis wortel dan buncis yang dimasak dari wortel segar, buncis, sedikit kol, bawang putih, garam, merica, dan minyak sayur. Warna oranye-hijau pada sayur ini penting: bukan hanya untuk vitamin A dan serat, tetapi juga agar foto dokumentasi tidak terlihat terlalu pucat.Sebagai pelengkap vitamin alami, satu buah pisang atau sepotong pepaya matang diletakkan di sudut kotak. Buah dipilih yang murah, tahan banting, tidak gampang memar, dan cukup fotogenik ketika dibagikan massal. Terakhir, ditambahkan susu UHT kotak kecil berbahan susu sapi, gula, dan fortifikasi vitamin, atau kadang telur rebus utuh sebagai penutup protein tambahan.

Berbuih-buih seperti pelaksanaannya ...
Follow on Instagram

Twitter

Tweets by crcsugm

Universitas Gadjah Mada

Gedung Sekolah Pascasarjana UGM, 3rd Floor
Jl. Teknika Utara, Pogung, Yogyakarta, 55284
Email address: crcs@ugm.ac.id

 

© CRCS - Universitas Gadjah Mada

KEBIJAKAN PRIVASI/PRIVACY POLICY