• Tentang UGM
  • Portal Akademik
  • Pusat TI
  • Perpustakaan
  • Penelitian
Universitas Gadjah Mada
  • About Us
    • About CRCS
    • Vision & Mission
    • People
      • Faculty Members and Lecturers
      • Staff Members
      • Students
      • Alumni
    • Facilities
    • Library
  • Master’s Program
    • Overview
    • Curriculum
    • Courses
    • Schedule
    • Admission
    • Scholarship
    • Accreditation and Certification
    • Academic Collaborations
      • Crossculture Religious Studies Summer School
      • Florida International University
    • Academic Documents
    • Student Satisfaction Survey
  • Article
    • Perspective
    • Book Review
    • Event Report
    • Class Journal
    • Interview
    • Wed Forum Report
    • Thesis Review
    • News
  • Publication
    • Reports
    • Books
    • Newsletter
    • Monthly Update
    • Infographic
  • Research
    • CRCS Researchs
    • Resource Center
  • Community Engagement
    • Film
      • Indonesian Pluralities
      • Our Land is the Sea
    • Wednesday Forum
    • ICIR
    • Amerta Movement
  • Beranda
  • Berita
  • Ammatoa: Kearifan Lokal Dalam Melestarikan Hutan

Ammatoa: Kearifan Lokal Dalam Melestarikan Hutan

  • Berita, Berita, Berita Utama, Laporan Wednesday Forum
  • 11 November 2015, 11.04
  • Oleh:
  • 0

Ali Jafar/Wednesday Forum

Banyak dari kita yang hanya tahu tentang Ammatoans dari general perspective tentang mereka. Kehidupan traditional mereka memang sangatlah menarik. Terlebih ketika kita melihat program TV yang menghadirkan serial etnik atau sejenisnya. Ammatoans sering digambarkan sebagai sekumpulan masyarakat kecil yang “masih” percaya pada “animism” dan mengadakan ritual untuk konservasi hutan.  Di beberapa progam religi di pertelevisisan  Indonesia, Ammatoans ditampilkan sebagai komunitas muslim yang yang masih mempraktikan “syncretism”, karena mereka memberikan sesajen kepada hutan, gunung dan daratan. Orang Indonesia memiliki banyak sekali stereotype tentang Ammatoans, tetapi siapa sebenarnya Ammatoans yang sesungguhnya? Terkait stereotype tentang Ammatoans ini, pada rabu 16 september, Wednesday Forum yang diadakan CRCS/ICRS kembali menghadirkan Dr. Samsul Ma’arif yang telah melakukan penelitian pada Ammatoans dan mengemukakan fakta sebaliknya.

Ma’arif mengadakan penelitianya tentang masyarakat Ammatoans untuk tujuan disertasinya. Dia tinggal bersama mereka dan menemukan kearifan lokal masyarakat Ammatoans dalam menjaga hutan. Ma’arif menjelaskan bahwa Ammatoan hanyalah sekumpulan masyarakat kecil, tidak lebih dari lima ribu jiwa, yang menjaga hutan sebagai bagian dari praktik keagamaan. Pelestarian hutan ini berdasarkan kepercayaan mereka bahwa hubungan antara manusia dan hutan adalah hubungan antar-subject. Ammatoans memandang bahwa hutan adalah subject sebagaimana manusia itu sendiri.

Ammatoans adalah penduduk pribumi di Indonesia yang melestarikan hutan dari pembalakaan liar. Ma’arif juga menjelaskan bahwa Ammatoans membagi wilayah mereka menjadi dua, wilayah, wilayah dalam dan wilayah luar. Hal ini untuk menjaga hubungan mereka dengan hutan. Fasilitas publik seperti sekolahan, masjid dan klinik ditempatkan di wilayah luar, sedangkan mereka tinggal di wilayah dalam. Sebagai bentuk kedekatan mereka dengan hutan, mereka juga membagi hutan kedalam tiga area. Area pertama adalah area konsevasi atau sering juga disebut sebagai “Hutan Lindung”, yang mana semua bentuk eksploitasi hutan dilarang di area ini. Area yang kedua adalah “Battasaya” yang eksploitasinya sangat dibatasi sekali, jika ada orang yang mengambil kayu dari hutan ini, maka mereka harus menanam tumbuhan yang lain. Yang ketiga adalah “Hutan Rakyat” atau hutan yang memang disediakan untuk eksploitasi, masyarakaat Ammatoans mengunakan suberdaya hutan ini untuk kebutuhan mereka sehari-hari.

Kedekatan masyarakat Ammatoans dengan hutan berdasarkan keyakinan kosmologis mereka, bahwa hutan, daratan dan pegunungan tidaklah berbeda dari manusia. Keduanya ada dalam hubungan timbal balik yang disebut “Ruppanna” yang berarti wajah. Ada juga monster yang berusaha menhancurkan hubungan ini. Dalam kepercayaan Ammatoans, hubungan manusia dengan hutan adalah hubungan antar-subjek, sebuah relasi antara satu dengan yang lainya. Daratan, pegunungan dan hutan bukanah objek untuk dieksploitasi, karena mereka juga termasuk subjek.

Hubungan antar-subjek juga berarti bahwa apa yang dilakukan Ammatoans, dari pengorbanan, peribadatan dan pemberian sesajen kepada hutan bertujuan untuk terus menerus menjalin komunikasi satu sama lain. Konservasi hutan adalah ikatan untuk saling bertanggung jawab satu sama lain. Manusia bertanggung jawab untuk konservasi hutan. Bagi Ammatoans, apa yang diperoleh adalah untuk dibagi, dan berbagi tidak hanya untuk manusia tetapi juga untuk hutan. Dalam praktik keagamaan, akhir-akhir ini Ammatoans mengalami sedikit perbedaan dengan nenek moyangnya. Hal ini kerena pengaruh dunia luar.

Ammatoans tidak sepenuhnya bertahan dari pengaruh luar, seperti Islam dan modernitas. Walaupun Ammatoans mengaku diri mereka sebagai muslim, tetapi mereka mempraktikkan Islam dengan cara yang berbeda. Mereka memberikan sesajen ke gunung, daratan dan hutan sebagai bentuk praktik keagamaan mereka. Agama dalam kepercayaan masyarakat Ammatoan tidak hanya terkait hubungan dengan tuhan saja, tetapi juga memahami relasi kosmos antar manusia. Ma’arif membuktikan bahwa ada beberapa ayat dalam Al-Quran yang mendukung ide ini, bahwa selain manusia ada juga subjek-subjek lain yang mampu berserah kepada Allah. Meskipun terjadi perpindahan  ke Islam dan pengaruh modernitas, agama lokal Ammatoans terus bertahan dan terus dijalanai sebagai akar budaya yang kompleks.

Selama sesi pertanyaan dan komentar, Ma’arif menjelaskan bahwa Ammatoans sekarang sedang berjuang untuk melindungi hutan dari perusahaan karet dan tekanan luar yang ingin mengeksploitasi sumberdaya mereka. Semenjak wilayah Ammatoan menjadi semakin sempit, mereka kembali beradaptasi dengan kembali membentuk batasan wilayah luar dan dalam.

Berkaitan dengan pertanyaan, bagaimana Ammatoan memahami bencana, Ma’arif menjelaskan bahwa dalam pemahaman masyarakat Ammatoan, segala sesuatu termasuk bencana, kesuburan dan lainya memiliki hubungan satu sama lain. Mereka percaya pada prinsip kausalitas, dimana datangnya bencana alam seperti banjir dan gempa bumi adalah karena adanya hubungan yang perlu untuk di perbaiki.

Ma’arif telah mempresentasikan penelitianya tentang Ammatoan tiga kali dalam Wednesday Forum, dan presentasinya masih menyedot banyak perhatian dari audience yang masih penasaran dengan kearifan Ammatoan dalam melestarikan hutan. Dalam Wednesday Forum selanjutnya, CRCS/ICRS bersama dengan yayasan Kampun Halaman akan menghadirkan Karatagan Ciremai, sebuah film tentang remaja Sunda Wiwitan, yang juga berkaitan dengan agama lokal di Indonesia.

Tags: Ammatoa Budaya Lokal kearifan lokal konservasi perlindungan hutan

Leave A Comment Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Instagram

M B G Satu kotak makan berisi nasi putih pulen seb M B G
Satu kotak makan berisi nasi putih pulen sebagai sumber karbohidrat utama, dimasak dari beras medium pilihan, air, sedikit garam, dan beberapa tetes minyak agar tidak cepat basi. Di sampingnya terdapat ayam semur kecap, dibuat dari potongan daging ayam, bawang merah, bawang putih, kecap manis, daun salam, lengkuas, garam, dan sedikit gula sehingga memberi asupan protein hewani yang cukup untuk pertumbuhan. Sebagai pendamping lauk utama, disediakan tempe orek manis gurih dari tempe iris tipis, bawang merah, bawang putih, cabai, kecap, dan gula merah. Tempe ini berfungsi menambah protein nabati sekaligus membuat kotak makan tampak lebih penuh, sebab protein memang sering lebih meyakinkan bila hadir rangkap dua. Untuk unsur sayuran, ada tumis wortel dan buncis yang dimasak dari wortel segar, buncis, sedikit kol, bawang putih, garam, merica, dan minyak sayur. Warna oranye-hijau pada sayur ini penting: bukan hanya untuk vitamin A dan serat, tetapi juga agar foto dokumentasi tidak terlihat terlalu pucat.Sebagai pelengkap vitamin alami, satu buah pisang atau sepotong pepaya matang diletakkan di sudut kotak. Buah dipilih yang murah, tahan banting, tidak gampang memar, dan cukup fotogenik ketika dibagikan massal. Terakhir, ditambahkan susu UHT kotak kecil berbahan susu sapi, gula, dan fortifikasi vitamin, atau kadang telur rebus utuh sebagai penutup protein tambahan.

Berbuih-buih seperti pelaksanaannya ...
G U S Mulanya "gus" adalah panggilan untuk anak ki G U S
Mulanya "gus" adalah panggilan untuk anak kiai yang belum cukup pantas secara umur dan ilmu dipanggil sebagai kiai. Masih magang. Namun, tradisi itu sedikit goyang karena dua sosok: Gus Dur dan Gus Miek. Keduanya tentu sudah pantas menyandang gelar kiai, tetapi rupanya nama magang itu sudah kadung merasuk dan menubuh. Jadilah istilah gus naik pangkat di kalangan awam sebagai sebutan untuk pemuka agama kharismatik yang ndak kalah aji dengan kiai. Kini, gelar gus lagi-lagi goncang. Pasalnya, banyak sosok yang mengaku dan didaku sebagai gus. Parahnya, banyak orang tak lagi bertanya: siapa gurunya, siapa nasabnya, atau apa yang dibaca? Gus seolah menjadi lisensi untuk mengais gold dan glory dalam bisnis berjenama "agama". 

Simak sindiran @safinatul_aula atas fenomena gus-gusan yang kerap membuat kita mengelus empedu. Hanya di situs web crcs.
S U R G A Surga dan neraka memang dibuat sebagai a S U R G A
Surga dan neraka memang dibuat sebagai alat ukur dan wadah pemisah. Keberadaanya merupakan konsekuensi logis dari sebuah tarik ulur tentang baik dan buruk. Mereka yang dijanjikan surga patut bersenang hati. Namun, ada saat ketika keyakinan tentang keselamatan tidak lagi menenangkan. Mungkin persoalannya bukan siapa yang akan masuk surga, melainkan mengapa kita begitu sibuk memastikan orang lain tidak.
Berawal dari percakapan antah berantah, @safinatul_aula tengah berefleksi tentang nasib diri dan teman-temannya nanti. Simak refleksinya di situs web crcs.
Tensions around the Gulf of Hormuz are shaking glo Tensions around the Gulf of Hormuz are shaking global oil supply and accelerating the push for alternatives green energy. Geothermal is often framed as the answer. But whose “green” is it?
What if “green energy” isn’t always as green as it sounds?
Together with @honeyyymooooonnn we bring stories from communities on the frontlines of geothermal projects in Indonesia, where sustainability is debated, challenged, and reimagined. It is not just about resistance, but a different way of thinking about energy, justice, and our relationship with nature.

Join the discussion at UGM Graduate School building, 3rd floor. We provide snacks and drinks, don't forget to bring your tumbler. This event is free and open to public.
Follow on Instagram

Twitter

Tweets by crcsugm

Universitas Gadjah Mada

Gedung Sekolah Pascasarjana UGM, 3rd Floor
Jl. Teknika Utara, Pogung, Yogyakarta, 55284
Email address: crcs@ugm.ac.id

 

© CRCS - Universitas Gadjah Mada

KEBIJAKAN PRIVASI/PRIVACY POLICY