• Tentang UGM
  • Portal Akademik
  • Pusat TI
  • Perpustakaan
  • Penelitian
Universitas Gadjah Mada
  • About Us
    • About CRCS
    • Vision & Mission
    • People
      • Faculty Members and Lecturers
      • Staff Members
      • Students
      • Alumni
    • Facilities
    • Library
  • Master’s Program
    • Overview
    • Curriculum
    • Courses
    • Schedule
    • Admission
    • Scholarship
    • Accreditation and Certification
    • Academic Collaborations
      • Crossculture Religious Studies Summer School
      • Florida International University
    • Academic Documents
    • Student Satisfaction Survey
  • Article
    • Perspective
    • Book Review
    • Event Report
    • Class Journal
    • Interview
    • Wed Forum Report
    • Thesis Review
    • News
  • Publication
    • Reports
    • Books
    • Newsletter
    • Monthly Update
    • Infographic
  • Research
    • CRCS Researchs
    • Resource Center
  • Community Engagement
    • Film
      • Indonesian Pluralities
      • Our Land is the Sea
    • Wednesday Forum
    • ICIR
    • Amerta Movement
  • Beranda
  • Laporan Wednesday Forum
  • Melampaui Stigma: Meninjau Neurodiversitas, Kesehatan Mental, dan Agama

Melampaui Stigma: Meninjau Neurodiversitas, Kesehatan Mental, dan Agama

  • Laporan Wednesday Forum, Wednesday Forum Report
  • 28 October 2026, 11.54
  • Oleh: crcs ugm
  • 0

Bagaimana neurodivergensi memengaruhi kesehatan mental? Apa peran agama dalam pengalaman individu neurodivergen?

Neurodiversitas mengajak kita meninjau kembali anggapan tentang apa yang disebut normal. Cara seseorang berpikir, memproses informasi, merespons rangsangan sensorik, dan berinteraksi dengan orang lain tidak selalu sama. Perbedaan tersebut kerap disalahpahami, bahkan menjadi alasan bagi munculnya stigma dan pengucilan sosial.

Persoalan ini menjadi pokok pembahasan Wednesday Forum (21/10) bertajuk “Neurodiversity, Mental Health, and Religion” oleh Prof. Dr. drg. Etty Indriati. Dengan menghubungkan perspektif studi otak dan antropologi, ia meneroka keterkaitan neurodivergensi dan kesehatan mental serta pengaruh agama/spiritualitas terhadap pengalaman hidup individu neurodivergen.

Memahami Perbedaan di Luar Standar “Kenormalan”

Dosen yang akrab dipanggil Prof. Etty ini mengajak peserta melihat otak manusia sebagai lanskap yang menyimpan beragam cara untuk berpikir, merasakan, dan merespons dunia. Keragaman fungsi otak inilah yang disebut dengan neurodiversitas. Sementara itu, istilah “neurodivergen” digunakan untuk menggambarkan individu yang cara kerja neurologisnya berbeda dari apa yang secara umum dianggap tipikal.

Ia menggunakan contoh sederhana untuk menjelaskan perbedaan persepsi. Ketika menyaksikan matahari terbenam, seseorang mungkin melihat warna jingga, sementara orang lain melihat ungu atau merah. Persepsi mereka bahkan dapat berubah ketika menyaksikan pemandangan serupa pada hari berbeda. Dengan kata lain, manusia tidak selalu memproses rangsangan dengan cara yang sama. Prof. Etty kemudian menghubungkannya dengan beragam kondisi dalam spektrum neurodivergen seperti autisme, attention-deficit/hyperactivity disorder (ADHD), disleksia, dan sinestesia yang masing-masing memiliki karakteristik tersendiri.

Prof. Etty juga menyoroti sejumlah potensi kemampuan yang mungkin dimiliki individu neurodivergen seperti kreativitas, konsentrasi yang intens, perhatian terhadap detail, dan kemampuan mengenali pola. Ia mencontohkan Temple Grandin, ilmuwan autistik yang dikenal melalui karya-karyanya dalam pengembangan sistem penanganan hewan ternak seperti Animals in Translation (2005), Improving Animal Welfare (2009), dan Temple Grandin’s Guide to Working with Farm Animals (2017). Pengalaman Grandin memperlihatkan bahwa  cara pandang yang berbeda dapat menghasilkan pendekatan praktis dan inovatif.

Namun, potensi tersebut tidak serta-merta menghilangkan tantangan yang dihadapi. Sebagian individu neurodivergen dapat mengalami kesulitan mengelola waktu, berkomunikasi, atau menghadapi rangsangan sensorik yang berlebihan. Suara keras, cahaya terang, dan keramaian, misalnya, dapat memicu ketidaknyamanan yang intens. Tantangan ini juga dapat muncul dalam interaksi sosial, terutama ketika seseorang merasa perlu menyembunyikan perbedaannya agar dapat diterima oleh lingkungan. Ia menyebut upaya tersebut sebagai masking, yakni tindakan menekan atau menyamarkan karakteristik diri demi menyesuaikan diri dengan ekspektasi sosial. Dalam jangka panjang, usaha untuk terus-menerus menyesuaikan diri ini dapat menjadi beban yang turut memengaruhi kesehatan mental.

Karena itu, persoalan neurodiversitas tidak cukup dipahami melalui karakteristik individu. Lingkungan sosial dan standar perilaku yang berlaku turut menentukan bagaimana perbedaan dialami. Masyarakat perlu mempertanyakan: sudahkah lingkungan yang dibangun selama ini mengakomodasi kebutuhan manusia yang beragam?

Ketika Agama Bertemu Kesehatan Mental

Dalam konteks ini, pembahasan kemudian beranjak pada pertanyaan mengenai posisi agama dalam kehidupan individu neurodivergen. Sebagai pengajar di bidang studi agama, Prof. Etty menilai bahwa psikologi dan agama kerap ditempatkan dalam dua ranah yang terpisah. Sebagian kalangan keagamaan meragukan pendekatan psikologi, sedangkan sebagian praktisi kesehatan mental memandang agama sebagai sesuatu yang berada di luar pendekatan ilmiah. Menurutnya, sikap semacam ini dapat menghambat kerja sama yang diperlukan untuk memahami pengalaman manusia secara lebih utuh.

Ia mengusulkan pendekatan yang mengintegrasikan keduanya. Menurutnya, setidaknya ada lima nilai yang dapat menjadi titik temu yaitu harapan, kesabaran, kasih sayang, kebajikan, dan nilai-nilai kehidupan. Harapan, misalnya, dapat membantu seseorang menghadapi situasi sulit dan mempertahankan orientasi terhadap masa depan. Kesabaran dan kasih sayang dapat membentuk cara keluarga mendampingi anak neurodivergen. Sementara itu, kebajikan dan pencarian makna dapat membantu individu memahami pengalaman hidupnya. Nilai-nilai ini dapat menjadi sumber dukungan bagi individu neurodivergen dan keluarga mereka.

Namun, pengalaman beragama tidak selalu membawa ketenangan. Prof. Etty membedakan pemahaman tentang Tuhan yang menekankan kasih sayang dari yang menonjolkan hukuman. Cara seseorang memaknai Tuhan dapat memengaruhi dengan pengalaman emosional dan psikologisnya. Agama dapat menjadi sumber makna dan rasa aman, tetapi juga berpotensi menimbulkan tekanan ketika tuntutan komunitas tidak mengakomodasi kebutuhan individu. Tantangannya adalah, bagaimana membangun kehidupan beragama yang inklusif tanpa menyamaratakan pengalaman iman setiap orang?

Meninjau Ulang Pengalaman Religius

Dalam sesi tanya jawab, seorang peserta yang memperkenalkan dirinya sebagai ibu dari anak dengan ADHD mengangkat pertanyaan tentang bagaimana agama dapat menjadi sumber dukungan komunitas sekaligus berpotensi menimbulkan tekanan psikologis.

Menanggapi pertanyaan tersebut, Prof. Etty kembali menekankan pentingnya harapan, kesabaran, kasih sayang, dan pencarian makna. Ia merujuk pada Temple Grandin, yang memaknai hidup melalui komitmennya mengurangi penderitaan hewan. Contoh ini menunjukkan bahwa pencarian makna dan pertimbangan etis dapat menjadi bagian penting dari pengalaman religius atau spiritual seseorang, meskipun pemahamannya berbeda dari konsepsi agama yang lazim.

Peserta lain mempertanyakan dugaan bahwa individu autistik cenderung kurang religius karena menyukai kepastian dan mengalami kesulitan memahami ambiguitas. Prof. Etty mengakui bahwa hubungan antara autisme dan religiositas tidak dapat dijelaskan melalui pola linear yang sederhana. Pengalaman religius seseorang dapat berubah sepanjang hidup. Cara seseorang memahami Tuhan, agama, dan tujuan hidup juga dipengaruhi oleh pengalaman serta proses pencarian makna masing-masing. Karena itu, asumsi bahwa karakteristik neurologis tertentu secara otomatis menentukan tingkat religiositas perlu diuji melalui penelitian, bukan diterima begitu saja.

Diskusi ini turut membuka pertanyaan yang lebih luas: apakah pengalaman religius harus selalu diwujudkan melalui kepercayaan kepada Tuhan yang personal atau kepatuhan terhadap doktrin formal? Pengalaman spiritual, kekaguman terhadap alam, dan pencarian makna juga dapat menjadi bagian dari cara seseorang memahami hubungannya dengan sesuatu yang dianggap sakral. Perspektif ini penting karena institusi keagamaan sering mengatur keanggotaan dan partisipasi melalui doktrin, ritual, serta ekspektasi perilaku tertentu. Individu neurodivergen berisiko mengalami pengucilan ketika struktur tersebut tidak memberi ruang bagi perbedaan sensorik, kognitif, atau komunikatif.

Refleksi ini membawa kita pada pemahaman bahwa inklusi bukan sekadar menuntut individu neurodivergen menyesuaikan diri. Keluarga, institusi, dan komunitas keagamaan juga perlu menciptakan lingkungan yang mengakomodasi kebutuhan mereka, termasuk dalam praktik ibadah dan ritual. Prof Etty mengingatkan, “They’re not less; they’re just different.” Bukan kekurangan, melainkan keberagaman. Pesan ini mengajak kita memahami neurodiversitas melampaui variasi fungsi otak. Neurodiversitas adalah juga tentang cara masyarakat meresponsnya. Agama dapat menjadi sumber harapan dan makna ketika komunitas bersedia membuka ruang bagi keragaman pengalaman manusia.

______________________

m rizal abdi adalah alumnus Program Studi Agama dan Lintas Budaya (CRCS), Sekolah Pascasarjana UGM, angkatan 2015. Baca tulisan abdi lainnya di sini.

Gambar tajuk: Etty Indriati (2026)

Tags: kesehatan mental m rizal abdi mental health

Leave A Comment Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Instagram

Hold your breath and join this thought-provoking Hold your breath and  join this thought-provoking discussion at #wednesdayforum.
We provide snacks and drinks, don't forget to bring your tumbler. This event is free and open to public.
Can neurodiversity change the way we experience re Can neurodiversity change the way we experience religion and spirituality? How might different ways of thinking shape our sense of the sacred? Join us to explore the intersections of neurodiversity, religion, and mental health, and to rethink how religious communities can embrace different minds without stigma. Because different ways of thinking are not lesser ways of being.

Come and join this thought-provoking discussion with @etty.ind at #wednesdayforum.
We provide snacks and drinks, don't forget to bring your tumbler. This event is free and open to public.
O N C O M Ancaman kadang lebih berkuasa daripada a O N C O M
Ancaman kadang lebih berkuasa daripada argumen. Ia tak perlu membuktikan apa-apa, cukup membuat orang lain menutup mulut. Di negeri yang gemar mengurus ketersinggungan, ancam bisa mengalahkan oncom, sesuatu yang sesungguhnya lebih berguna bagi kehidupan sehari-hari. Oncom setidaknya bisa diolah menjadi makanan, ancaman hanya mengolah ketakutan. Namun, barangkali justru itulah masalahnya. Ketika ancaman menentukan siapa yang boleh berbicara, yang busuk bukan lagi sekadar oncom.
What happens when climate change is measured not o What happens when climate change is measured not only through data, but also through lived experience?

This presentation examines how local and Indigenous knowledges reveal forms of loss and damage that often remain invisible in conventional climate assessments, while offering valuable insights for adaptation and resilience.
Come and join this thought-provoking discussion with @rebecca.meckelburg at #wednesdayforum.
We provide snacks and drinks, don't forget to bring your tumbler. This event is free and open to public.
Follow on Instagram

Twitter

Tweets by crcsugm

Universitas Gadjah Mada

Gedung Sekolah Pascasarjana UGM, 3rd Floor
Jl. Teknika Utara, Pogung, Yogyakarta, 55284
Email address: crcs@ugm.ac.id

 

© CRCS - Universitas Gadjah Mada

KEBIJAKAN PRIVASI/PRIVACY POLICY