• Tentang UGM
  • Portal Akademik
  • Pusat TI
  • Perpustakaan
  • Penelitian
Universitas Gadjah Mada
  • About Us
    • About CRCS
    • Vision & Mission
    • People
      • Faculty Members and Lecturers
      • Staff Members
      • Students
      • Alumni
    • Facilities
    • Library
  • Master’s Program
    • Overview
    • Curriculum
    • Courses
    • Schedule
    • Admission
    • Scholarship
    • Accreditation and Certification
    • Academic Collaborations
      • Crossculture Religious Studies Summer School
      • Florida International University
    • Academic Documents
    • Student Satisfaction Survey
  • Article
    • Perspective
    • Book Review
    • Event Report
    • Class Journal
    • Interview
    • Wed Forum Report
    • Thesis Review
    • News
  • Publication
    • Reports
    • Books
    • Newsletter
    • Monthly Update
    • Infographic
  • Research
    • CRCS Researchs
    • Resource Center
  • Community Engagement
    • Film
      • Indonesian Pluralities
      • Our Land is the Sea
    • Wednesday Forum
    • ICIR
    • Amerta Movement
  • Beranda
  • Berita
  • Menenun Harmoni dalam Tenun Gringsing Bali

Menenun Harmoni dalam Tenun Gringsing Bali

  • Berita, Event report, Laporan Wednesday Forum
  • 28 February 2025, 16.23
  • Oleh: crcs ugm
  • 0

Kain tenun bukan sekadar selembar sandangan. Setiap lembarnya mewakili relasi simbolik antara makna dan kesimbangan nilai kehidupan pembuatnya.

Inilah yang diungkap Etty Indriati dalam karya terbarunya Vitalitas Tenun Gringsing: Keindahan dalam Keseimbangan di Tenganan Pegringsingan. Melalui kain tenun gringsing, guru besar antropometri ragawi ini membedah makna ekspresi kehidupan dan kepercayaan masyarakat adat di Tenganan Pegringsingan, Karangasem, Bali. Pemaparannya disampaikan dalam peluncuran dan diskusi buku terbarunya yang diselenggarakan oleh Sekolah Pascasarjana Universitas Gadjah Mada, ICRS, CRCS UGM, dan Penerbit Buku Kompas (12/2). 

Spiritualitas leluhur kain tenun gringsing

Etty mengelaborasikan pemahaman antara dunia fisik dan metafisik yang dalam pemahaman adat merupakan satu padu. “Kita—manusia—dalam fisika adalah matter. Kita sendiri adalah benda yang sebenarnya terlibat dan berinteraksi dengan benda lain termasuk dengan kain ketika kita mengenakannya,” terang Etty. Artinya, Etty mengajak kita untuk melihat kain tenun bukan sekadar sebagai benda sandangan, melainkan bagian dari relasi antarsubjek.

Secara terminologi, gringsing merupakan bahasa Bali yang berarti “tidak sakit”. Pemakai kain ini diharapkan selalu sehat dan terhindar dari sakit. Ekspresi religiusitas ini juga tertuang mulai dari cara pembuatan hingga cara dan momen pemakaian kain. Setiap pola dan simbol menjadi representasi nilai spiritualitas warga Tenganan Pegringsingan. Pola dan simbol yang berbeda pada tenun gringsing penggunaan yang juga berbeda. Simbol wayang dalam tenun wayang putri, misalnya, menandakan fungsinya untuk kegiatan ritual. Jenis wayang putri, terang Etty, biasanya dipakai untuk tari rejang oleh remaja putri untuk upacara adat dan keagamaan. Pengenaan kain dengan simbol wayang tersebut tidak boleh dipakai sembarangan seperti di bagian bawah karena kesakralan sosok-sosok tersebut.

Menurut Etty, salah satu karakter seni wastra yang berkembang dalam kebudayaan agrikultur masyarakat Indonesia ialah pola yang geometri yang simetris. Ciri estetika tersebut juga tertuang dalam peninggalan warisan budaya lainnya. Ia mencontohkan, misalnya, beberapa pola, simbol, dan geometri kain tenun gringsing juga dapat ditemukan pada beberapa arca abad ke-13 yang telah direpatriasi dari Belanda ke Museum Nasional, Jakarta. Namun, mengenai mana yang lebih dulu antara pola dalam patung dan kain tenun, masih menjadi pertanyaan yang harus dijawab peminat dan pengkaji seni.

Etty juga menawarkan pendekatan estetika dalam memahami paradigma agama leluhur. Pasalnya, seni keindahan dalam simetri ini menjadi polakeseimbangan yang kerap hadir dalam masyarakat kita. Selain kain tenun, Etty mengamati keseimbangan ini juga tampak dalam ragam jenis permainan dan tari tradisional.

Antara nilai spiritualitas dan ekonomi

Butuh waktu yang sangat lama untuk membuat satu kain tenun gringsing Bali karena harus melewati proses yang melibatkan lebih dari satu komunitas dan ritual. Ketika warga Pegringsingan memulai pembuatan suatu kain, ritual harus dilaksanakan secara benar, bersama-sama, urut sesuai prosedur, dan sesuai dengan kalender tahunan. Bahkan, menurut Etty, salah satu koleksinya harus menunggu sampai enam tahun pembuatan.

Prosedurnya, setelah dipintal, benang dililit melingkar pada dua tiang bambu yang disebut sebagai proses nganyinin. Selanjutnya, ikatan benang tersebut mengacu pada panduan motif yang akan dibuat. Ikatan kain kemudian disikat dan dicelup bahan pewarnaan sampai meresap. Pewarnaan alami membuat benang terlihat cantik, tetapi membutuhkan waktu lama hingga beberapa tahun. Setelah warna meresap, ikatan benang dibuka untuk ditenun dengan alat tenun dari kayu yang disebut cag-cag sampai menjadi kain gringsing.

G.R. Lono Lastro, pengajar Pengkajian Seni Pertunjukan dan Seni Rupa UGM berpendapat bahwa temuan Etty menggambarkan bahwa materi yang merupakan produk buatan manusia tidak bisa sekadar dilihat secara nilai ekonomi. Proses panjang tersebut melibatkan banyak individu dan komunitas. Di dalam satu helai kain terkandung nilai spiritualitas dan pengorbanan yang melampaui ruang dan waktu.

Karenanya, ketika membicarakan hubungan kain tenun gringsing terhadap nilai spiritualitasnya, kita tidak bisa sekadar melihatnya sebagai sistem simbolik kebudayaan masyarakat. “Gringsing adalah agen material yang memiliki kapasitas untuk membentuk pengalaman manusia,” terang Lono. Menurutnya, sinergi antara manusia dan kain gringsing sesuai dengan Actor Network Theory yang digagas Bruno Latour: segala sesuatu di dunia saling berhubungan secara aktif.

Hanya saja, kerap kali wastra ditiru dengan metode cetak menggunakan bahan pewarnaan kimia buatan sebagai komoditas. Etty tidak mempermasalahkan peniruan ini karena harganya lebih terjangkau sehingga lebih banyak orang yang akan mengenakannya. Namun, ketika kain tradisional ditiru, pengetahuan akan makna di baliknya harus turut dipelajari oleh konsumen. Etty menegaskan agar tiruan ini hanya dipakai untuk keseharian, bukan di dalam kegiatan ritual atau kegiatan sakral lainnya.

Rektor Universitas Gadjah Mada Ova Emilia mengungkapkan kekaguman hasil riset terkait wastra gringsing Bali. Menurutnya, apa yang disampaikan merupakan hasil ketekunan Etty yang menguasai ragam bidang keilmuan dengan berfokus pada kegemaran pribadi. 

“Beliau seorang ahli dokter gigi, mendalami bidang antropologi ragawi, kemudian akhirnya ke kebudayaan. Etty telah menulis banyak sekali buku yang menunjukkan bahwa beliau kalau berminat atau menyukai sesuatu itu betul-betul ditelusur sampai ke akarnya,” jelasnya. Menurutnya, akademisi yang ingin mendalami lewat riset dapat dimulai dari hal terdekat yang digemari seperti Etty lakukan kepada kain gringsing. 

“Kita bisa memasukkan juga personal interest ke dalam karir akademik kita. Bu Etty tidak tanggung-tanggung untuk itu,” tambah Lono. Latar belakang Etty dari kedokteran gigi, menurut Lono, menjadi penyemangatnya mengamati hal-hal detail di bidang humaniora. Oleh karena itu, temuan dalam karya-karya Etty menjadi bukti bahwa ilmu pengetahuan harus dibawa dengan semangat pendekatan lintas disiplin.

______________________

Afkar Aristoteles Mukhaer adalah mahasiswa Program Studi Agama dan Lintas Budaya (CRCS), Sekolah Pascasarjana UGM, angkatan 2024. Baca tulisan Afkar lainnya di sini.

Foto tajuk artikel ini bersumber dari dokumentasi Etty Indriati.

Artikel ini merupakan salah satu usaha CRCS UGM untuk mendukung SDGs nomor  4 tentang Pendidikan Berkualitas dan nomor 16 tentang Perdamaian, Keadilan, dan Pelembagaan yang Tangguh.

Tags: afkar aristoteles mukhaer materialisme tenun grinsing

Leave A Comment Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Instagram

crcs_ugm

Sedang tidak baik-baik saja, kamu biasanya mencari Sedang tidak baik-baik saja, kamu biasanya mencari apa di internet?

Banyak anak muda hari ini menemukan ketenangan, nasihat, bahkan jawaban atas kegelisahan melalui media sosial, konten keagamaan, akun kesehatan mental, hingga AI chatbot. Namun, bagaimana sebenarnya pengalaman itu terjadi?
Kami sedang melakukan penelitian untuk memahami bagaimana generasi muda usia 10–24 tahun mencari informasi keagamaan maupun kesehatan mental saat menghadapi masa-masa sulit.
Jika kamu merasa topik ini dekat dengan pengalamanmu, kami mengundangmu menjadi responden.
Partisipasi bersifat sukarela dan seluruh jawaban dijaga kerahasiaannya.
Kamu bisa langsung kirim DM jawabanmu atau mau tanya-tanya dulu juga boleh.

Kami tunggu ya.
Katanja koeliah S2 itoe mahal? Eitss , djangan s Katanja  koeliah S2 itoe mahal? 
Eitss , djangan salah
Bersama keempat mahasiswa angkatan 2025, kita akan ngobrolin djoeroes-djoeroes djitoe mendapatkan beasiswa di CRCS UGM

Begitoe?
Before petroleum fueled the world, it fractured th Before petroleum fueled the world, it fractured the archipelago

The raise of the colonial petroleum industry in the Dutch East Indies was also the emergence of new spatial inequalities. Outer Java was not merely discovered as a resource zone. It was politically produced as an extractive territory through imperial concessions, colonial state-building, and global struggles over resource control.

Join us in this presentation on capitalism, oil, and the colonial fractures that continue to haunt the geography of modern Indonesia. We provide snacks and drinks, don't forget to bring your tumbler. This event is free and open to public.
M B G Satu kotak makan berisi nasi putih pulen seb M B G
Satu kotak makan berisi nasi putih pulen sebagai sumber karbohidrat utama, dimasak dari beras medium pilihan, air, sedikit garam, dan beberapa tetes minyak agar tidak cepat basi. Di sampingnya terdapat ayam semur kecap, dibuat dari potongan daging ayam, bawang merah, bawang putih, kecap manis, daun salam, lengkuas, garam, dan sedikit gula sehingga memberi asupan protein hewani yang cukup untuk pertumbuhan. Sebagai pendamping lauk utama, disediakan tempe orek manis gurih dari tempe iris tipis, bawang merah, bawang putih, cabai, kecap, dan gula merah. Tempe ini berfungsi menambah protein nabati sekaligus membuat kotak makan tampak lebih penuh, sebab protein memang sering lebih meyakinkan bila hadir rangkap dua. Untuk unsur sayuran, ada tumis wortel dan buncis yang dimasak dari wortel segar, buncis, sedikit kol, bawang putih, garam, merica, dan minyak sayur. Warna oranye-hijau pada sayur ini penting: bukan hanya untuk vitamin A dan serat, tetapi juga agar foto dokumentasi tidak terlihat terlalu pucat.Sebagai pelengkap vitamin alami, satu buah pisang atau sepotong pepaya matang diletakkan di sudut kotak. Buah dipilih yang murah, tahan banting, tidak gampang memar, dan cukup fotogenik ketika dibagikan massal. Terakhir, ditambahkan susu UHT kotak kecil berbahan susu sapi, gula, dan fortifikasi vitamin, atau kadang telur rebus utuh sebagai penutup protein tambahan.

Berbuih-buih seperti pelaksanaannya ...
Follow on Instagram

Twitter

Tweets by crcsugm

Universitas Gadjah Mada

Gedung Sekolah Pascasarjana UGM, 3rd Floor
Jl. Teknika Utara, Pogung, Yogyakarta, 55284
Email address: crcs@ugm.ac.id

 

© CRCS - Universitas Gadjah Mada

KEBIJAKAN PRIVASI/PRIVACY POLICY