Di balik kemegahannya, pemahaman tentang Borobudur justru dipenuhi perdebatan, kekosongan data, hingga narasi kolonial yang diwariskan sejak awal abad ke-19. Hudaya Kandahjaya mengkritik kecenderungan kolonial tersebut dan menawarkan pendekatan lain: memahami Borobudur melalui sumber internal candi, prasasti sezaman, dan pengetahuan masyarakat Jawa sendiri.
afkar aristoteles mukhaer
Karya Santos If God Were a Human Rights Activist (2015) seolah membawa wawasan baru untuk merekonstruksi hak asasi manusia (HAM) sampai ke akar-akarnya. Namun, pertanyaan besar muncul: Tuhan yang mana? Tuhannya siapa? HAM yang seperti apa?
Lebih dari seribu salib kayu berwarna merah berdiri di pelbagai titik tanah ulayat suku Awyu di Boven Digoel, Papua Selatan. Salib itu bukan sekadar penanda wilayah ulayat suku Awyu, melainkan juga sebagai bahasa keagamaan dan kultural yang melindungi mereka dari ancaman rencana pembangunan perkebunan sawit.
Hak-hak alam membutuhkan kedudukan moral. Bisakah pendekatan KBB membantu?
Jauh sebelum “religion” diperkenalkan kolonialis Eropa, masyarakat Nusantara telah memiliki pengertian “agama” dengan mengikuti konsep dīn.
Hafalan Shalat Delisa menghadirkan persoalan agama dan disabilitas di ruang publik, tetapi masih mengabaikan tantangan realitas penyandang disabilitas.