• Tentang UGM
  • Portal Akademik
  • Pusat TI
  • Perpustakaan
  • Penelitian
Universitas Gadjah Mada
  • About Us
    • About CRCS
    • Vision & Mission
    • People
      • Faculty Members and Lecturers
      • Staff Members
      • Students
      • Alumni
    • Facilities
    • Library
  • Master’s Program
    • Overview
    • Curriculum
    • Courses
    • Schedule
    • Admission
    • Scholarship
    • Accreditation and Certification
    • Academic Collaborations
      • Crossculture Religious Studies Summer School
      • Florida International University
    • Academic Documents
    • Student Satisfaction Survey
  • Article
    • Perspective
    • Book Review
    • Event Report
    • Class Journal
    • Interview
    • Wed Forum Report
    • Thesis Review
    • News
  • Publication
    • Reports
    • Books
    • Newsletter
    • Monthly Update
    • Infographic
  • Research
    • CRCS Researchs
    • Resource Center
  • Community Engagement
    • Film
      • Indonesian Pluralities
      • Our Land is the Sea
    • Wednesday Forum
    • ICIR
    • Amerta Movement
  • Beranda
  • Perspective
  • Meramu Gender dalam Tarian Lengger

Meramu Gender dalam Tarian Lengger

  • Perspective, Perspective
  • 2 March 2026, 15.57
  • Oleh: crcs ugm
  • 0
Tari Lengger Lanang berkembang di sekitaran Kabupaten Banyumas, Tari yang di perankan kaum laki- laki yang berpakaian wanita dengan diiringi musik Calung.

Dalam pandangan normatif, konsep gender kerap mengacu pada klasifikasi biner pasti: perempuan dengan laki-laki. Padahal, tubuh manusia tak sekadar tersusun secara biologis, tetapi juga terbentuk melalui setiap perjumpaannya dengan alam dan beragam nilai kultural (Wijaya, 2020). Dalam banyak kebudayaan, salah satunya Indonesia, gender dipahami secara lebih lentur daripada klasifikasi biologis. Salah satunya ialah tradisi tari lengger.  

Lengger merupakan tarian rakyat dari Banyumas, Jawa Tengah. Ada dua jenis lengger yaitu lengger wadon, yang ditarikan oleh perempuan, dan lengger lanang, penarinya laki-laki. Dalam pertunjukkan lengger lanang, semua penari laki-laki berdandan dan bergerak layaknya perempuan. Setidaknya, ada tiga versi terkait alasan alih gender ini (Calla 2023:14). Pertama, lengger pada zaman dahulu merupakan ritual perayaan atas kesuburan pertanian dan lelaki—yang tidak menstruasi—dianggap lebih suci untuk melakukan ritual tersebut. Ada juga narasi bahwa lengger ditarikan oleh laki-laki sebagai upaya agar Islam tersebar lebih luas karena keterbatasan gerak sosial perempuan di masa itu. Ada juga yang mengaitkannya sebagai taktik mata-mata untuk menyadap informasi dari kolonial Belanda. 

Semua versi asal-usul lengger tersebut merepresentasikan adanya sebuah pengakuan terhadap identitas lokal terkait gender nonbiner dalam konteks spiritual dan seni di masyarakat saat itu. Identitas gender tersebut tidak berdiri sendiri, tetapi muncul dari interaksi manusia dengan lingkungan dan konteks masyarakat. 

Gagasan perpaduan konsep maskulin dan feminin memang telah lama hadir dalam kebudayaan Jawa. Keduanya tidak dianggap sebagai sebuah antitesis, tetapi unsur yang saling melengkapi.  Hal tersebut tecermin dalam makna kata “lengger” itu sendiri.  Leng merupakan bahasa Jawa dari ‘lubang’, sebagai representasi perempuan, sedangkan jenger bermakna sebagai ‘jengger ayam jago’  yang menjadi representasi laki-laki (Calla 2023:14). Perpaduan dua unsur tersebut melambakan keseimbangan dan pasangan yang menciptakan harmoni. 

Tarian lengger lahir dalam konteks masyarakat agraris Banyumas. Sebagai ritual penghormatan terhadap kesuburan tanah dan keberlangsungan panen, lengger kerap dikaitkan dengan sosok  Dewi Sri (Mawardi 2024:15). Dalam paradigma agama leluhur, dimensi spiritual, kultural, dan natural bertaut dalam membentuk tatanan kosmologis lokal. Tarian lengger menjadi bagian dari upaya menjaga hubungan harmonis antara manusia, alam, dan kekuatan adikodrati yang mengatur kehidupan. Dengan kata lain, lengger bukan saja memiliki fungsi sosial, melainkan juga menjadi ritus penting dalam menjaga relasi manusia dengan alam. 

Di sinilah lengger menawarkan paradigma lain dalam melihat gender. Paradigma Barat modern condong melihat gender sebagai identitas personal atau pilihan individu. Sementara dalam tradisi lengger, lintas gender justru hadir sebagai praktik komunal dalam konteks situasi dan budaya tertentu. Fleksibilitas identitas gender menjadi situasional. Ia menjadi bermakna, bahkan diperlukan, dalam ruang tradisi pertunjukan dan memori kolektif masyarakat  (Mawardi 2024:16). Dengan kata lain, masyarakat lokal telah memiliki cara tersendiri dalam memahami keberagaman identitas manusia.

Namun, moralitas modern seringkali membuat tradisi seperti lengger ini dipandang dengan curiga. Praktik lintas gender yang dulu menjadi bagian dari kehidupan masyarakat dianggap bertentangan dengan norma baru yang berlaku. Identitas gender dalam lengger dilihat dan dinilai dengan kacamata gender Barat sebagai pilihan personal sehingga keberadaannya kerap direduksi menjadi sekadar hiburan kontroversial. 

Padahal, lengger menawarkan pelajaran penting bahwa tubuh manusia merupakan ruang keberagaman yang dibentuk oleh berbagai unsur di luar dirinya. Maskulinitas dan feminitas bisa hadir bersamaan tanpa saling meniadakan. Lengger adalah cermin bagaimana sebuah komunitas memahami relasi antara tubuh, alam, dan kehidupan sosial sebagai bagian dari harmoni kehidupan.   

______________________

Yohanes Leonardus Krismawan Anugrah Putra adalah mahasiswa Program Studi Agama dan Lintas Budaya (CRCS), Sekolah Pascasarjana UGM, angkatan 2024. Baca tulisan Leo lainnya di sini.

Foto tajuk artikel ini Riza Arif Nur Saputra 26 /Wikimedia Commons/CC-BY-SA 4.0

Tags: Agama dan Gender Banyumas Gender lengger Yohanes Leonardus Krismawan Anugrah Putra

Leave A Comment Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Instagram

crcs_ugm

Sedang tidak baik-baik saja, kamu biasanya mencari Sedang tidak baik-baik saja, kamu biasanya mencari apa di internet?

Banyak anak muda hari ini menemukan ketenangan, nasihat, bahkan jawaban atas kegelisahan melalui media sosial, konten keagamaan, akun kesehatan mental, hingga AI chatbot. Namun, bagaimana sebenarnya pengalaman itu terjadi?
Kami sedang melakukan penelitian untuk memahami bagaimana generasi muda usia 10–24 tahun mencari informasi keagamaan maupun kesehatan mental saat menghadapi masa-masa sulit.
Jika kamu merasa topik ini dekat dengan pengalamanmu, kami mengundangmu menjadi responden.
Partisipasi bersifat sukarela dan seluruh jawaban dijaga kerahasiaannya.
Kamu bisa langsung kirim DM jawabanmu atau mau tanya-tanya dulu juga boleh.

Kami tunggu ya.
Katanja koeliah S2 itoe mahal? Eitss , djangan s Katanja  koeliah S2 itoe mahal? 
Eitss , djangan salah
Bersama keempat mahasiswa angkatan 2025, kita akan ngobrolin djoeroes-djoeroes djitoe mendapatkan beasiswa di CRCS UGM

Begitoe?
Before petroleum fueled the world, it fractured th Before petroleum fueled the world, it fractured the archipelago

The raise of the colonial petroleum industry in the Dutch East Indies was also the emergence of new spatial inequalities. Outer Java was not merely discovered as a resource zone. It was politically produced as an extractive territory through imperial concessions, colonial state-building, and global struggles over resource control.

Join us in this presentation on capitalism, oil, and the colonial fractures that continue to haunt the geography of modern Indonesia. We provide snacks and drinks, don't forget to bring your tumbler. This event is free and open to public.
M B G Satu kotak makan berisi nasi putih pulen seb M B G
Satu kotak makan berisi nasi putih pulen sebagai sumber karbohidrat utama, dimasak dari beras medium pilihan, air, sedikit garam, dan beberapa tetes minyak agar tidak cepat basi. Di sampingnya terdapat ayam semur kecap, dibuat dari potongan daging ayam, bawang merah, bawang putih, kecap manis, daun salam, lengkuas, garam, dan sedikit gula sehingga memberi asupan protein hewani yang cukup untuk pertumbuhan. Sebagai pendamping lauk utama, disediakan tempe orek manis gurih dari tempe iris tipis, bawang merah, bawang putih, cabai, kecap, dan gula merah. Tempe ini berfungsi menambah protein nabati sekaligus membuat kotak makan tampak lebih penuh, sebab protein memang sering lebih meyakinkan bila hadir rangkap dua. Untuk unsur sayuran, ada tumis wortel dan buncis yang dimasak dari wortel segar, buncis, sedikit kol, bawang putih, garam, merica, dan minyak sayur. Warna oranye-hijau pada sayur ini penting: bukan hanya untuk vitamin A dan serat, tetapi juga agar foto dokumentasi tidak terlihat terlalu pucat.Sebagai pelengkap vitamin alami, satu buah pisang atau sepotong pepaya matang diletakkan di sudut kotak. Buah dipilih yang murah, tahan banting, tidak gampang memar, dan cukup fotogenik ketika dibagikan massal. Terakhir, ditambahkan susu UHT kotak kecil berbahan susu sapi, gula, dan fortifikasi vitamin, atau kadang telur rebus utuh sebagai penutup protein tambahan.

Berbuih-buih seperti pelaksanaannya ...
Follow on Instagram

Twitter

Tweets by crcsugm

Universitas Gadjah Mada

Gedung Sekolah Pascasarjana UGM, 3rd Floor
Jl. Teknika Utara, Pogung, Yogyakarta, 55284
Email address: crcs@ugm.ac.id

 

© CRCS - Universitas Gadjah Mada

KEBIJAKAN PRIVASI/PRIVACY POLICY