• Tentang UGM
  • Portal Akademik
  • Pusat TI
  • Perpustakaan
  • Penelitian
Universitas Gadjah Mada
  • About Us
    • About CRCS
    • Vision & Mission
    • People
      • Faculty Members and Lecturers
      • Staff Members
      • Students
      • Alumni
    • Facilities
    • Library
  • Master’s Program
    • Overview
    • Curriculum
    • Courses
    • Schedule
    • Admission
    • Scholarship
    • Accreditation and Certification
    • Academic Collaborations
      • Crossculture Religious Studies Summer School
      • Florida International University
    • Academic Documents
    • Student Satisfaction Survey
  • Article
    • Perspective
    • Book Review
    • Event Report
    • Class Journal
    • Interview
    • Wed Forum Report
    • Thesis Review
    • News
  • Publication
    • Reports
    • Books
    • Newsletter
    • Monthly Update
    • Infographic
  • Research
    • CRCS Researchs
    • Resource Center
  • Community Engagement
    • Film
      • Indonesian Pluralities
      • Our Land is the Sea
    • Wednesday Forum
    • ICIR
    • Amerta Movement
  • Beranda
  • Berita
  • Suami di Rumah dan Relasi Keluarga yang Berubah

Suami di Rumah dan Relasi Keluarga yang Berubah

  • Berita, Laporan Wednesday Forum, News, Wednesday Forum Report
  • 13 March 2026, 16.18
  • Oleh: crcs ugm
  • 0

Menjadi bapak rumah tangga, bukan berarti berhenti menjadi imam dalam keluarga.

Peran laki-laki sebagai pencari nafkah utama dalam keluarga mulai mengalami pergeseran. Kehadiran bapak rumah tangga (house husband) mulai terasa dekat dan makin sering dijumpai. Fenomena tersebut menjadi sorotan utama Alimatul Qibtiyah, Associate Director of ICRS dan Pengurus Pimpinan Pusat ‘Aisyiah dan Majelis Tarjih dan Tajdid Pimpinan Pusat Muhammadiyah, dalam Wednesday Forum bertajuk “Husband Remains as Imams: The Phenomenon of House Husband in Yogyakarta and Ponorogo, Indonesia”. Penelitian kolaboratifnya bersama Evi Muafiyah, A. F. Ibnu Sina, Evi Septiani T., dan Mochammad Sinung R. ini menyoroti kemunculan tren bapak rumah tangga di Indonesia serta respons masyarakat dan negara terhadap  fenomena tersebut.

Pergeseran Peran dalam Keluarga

Definisi “bapak rumah tangga” mengacu pada sosok suami yang menghabiskan sebagian besar waktunya untuk mengurusi pekerjaan domestik rumah tangga dan pengasuhan anak. Definisi ini tidak semata-mata dibatasi pada apakah suami memiliki penghasilan yang lebih tinggi atau rendah dari istri. Bahkan, seorang laki-laki tetap dapat disebut sebagai bapak rumah tangga  selama tanggung jawab domestik menjadi peran utamanya dalam kehidupan keluarga—terlepas apakah ia mencari nafkah atau tidak. 

Fenomena bapak rumah tangga ini ternyata juga ditemukan di berbagai negara lain, seperti Amerika Serikat dan Hongkong, yang mempraktikkan pembagian peran secara lebih fleksibel antara suami dan istri berdasarkan kebutuhan keluarga. Guru besar di bidang Ilmu Kajian Gender, Fakultas Dakwah dan Komunikasi, Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga, ini menjelaskan, pola keluarga “lama” dapat berubah mengikuti kondisi sosial dan ekonomi yang dihadapi oleh pasangan suami-istri. Tak berhenti di situ, beberapa negara mulai meresponsnya dengan kebijakan publik yang mendorong keterlibatan suami dalam kerja-kerja domestik. Salah satunya ialah Finlandia dengan kebijakan Work-Father Award. Program ini dirancang untuk memberikan apresiasi sekaligus dorongan simbolik kepada para suami supaya dapat terlibat aktif dalam pengasuhan anak dan kerja domestik rumah tangga.

Di Indonesia, bentuk pengakuan terhadap peran ayah dalam keluarga juga terlihat meskipun skalanya masih terbatas. Salah satu contohnya adalah Undang-Undang Kesejahteraan Ibu dan Anak no. 4 tahun 2024 yang memberikan hak cuti bagi suami ketika istri melahirkan. Walaupun durasi cuti yang diberikan relatif singkat, keberadaan aturan ini setidaknya menandai pengakuan terkait tanggung jawab bersama dalam pengasuhan. 

Suami sebagai Imam di tengah Pergeseran Peran

Menurut Qibtiyah, salah satu faktor penyebab pergeseran peran ini ialah peningkatan  partisipasi perempuan dalam dunia kerja. Data Aparatur Sipil Negara (ASN) pada periode 2017–2022, misalnya, menunjukan bahwa komposisi pegawai perempuan naik dari 46% menjadi 54%. 

Dua kota yang menjadi lokasi studi kasus penelitian ini, Yogyakarta dan Ponorogo, merepresentasikan hal tersebut. Yogyakarta. Banyak perempuan di Yogyakarta berprofesi sebagai guru dengan penghasilan yang relatif stabil melalui program sertifikasi guru. Sementara itu, Ponorogo merupakan salah satu daerah pengirim pekerja migran perempuan terbesar di Jawa Timur. Alhasil, banyak laki-laki yang mengambil tanggung jawab domestik di kampung halaman. 

Temuan lapangan menunjukkan bahwa pergeseran peran ini diikuti pula dengan pergeseran pandangan terkait peran dan posisi bapak rumah tangga. Sebagian besar responden mengamini bahwa suami dan istri sama-sama memiliki hak untuk merepresentasikan keluarga di ruang publik. Sebanyak 68% responden laki-laki dan 48% responden perempuan menyatakan bahwa mereka memiliki hak yang setara untuk tampil di tengah masyarakat. Bahkan, 64% responden perempuan tidak setuju dengan anggapan bahwa suami akan berdosa jika tidak mampu menjadi bapak rumah tangga yang bertugas untuk mencari nafkah utama dan merepresentasikan keluarga di ruang publik.

Lebih lanjut, Qibtiyah menggarisbawahi bahwa perubahan peran dalam keluarga tidak hanya berkaitan dengan pembagian kerja domestik akibat kondisi ekonomi tertentu, tetapi juga menyentuh cara laki-laki memaknai identitas dirinya di dalam rumah. Dalam konstruksi gender yang berkembang di masyarakat kita, laki-laki kerap diposisikan sebagai pemimpin keluarga atau imam dan pencari nafkah utama. Ketika peran tersebut tidak sepenuhnya dijalankan, sebagian laki-laki dapat mengalami krisis maskulinitas, yakni perasaan kehilangan kepercayaan diri karena merasa tidak memenuhi ekspektasi sosial. 

Lalu, ketika seorang laki-laki menjadi bapak rumah tangga, apakah ia masih dipandang sebagai pemimpin keluarga atau imam? Temuan Qibtiyah menunjukkan, meskipun suami lebih banyak terlibat dalam pekerjaan domestik dan pengasuhan anak, banyak responden memaknai bahwa laki-laki tetap sebagai kepala keluarga. Bahkan, ketika perempuan memiliki penghasilan atau posisi sosial yang lebih tinggi, sebagian responden menempatkan suami sebagai figur yang memegang peran imam dalam keluarga.

Qibtiyah tidak lupa memberikan wejangan kepada para peserta yang hadir untuk tidak mengukur relasi suami-istri dalam keluarga dengan ukuran kapitalis semata. Ketika pendapatan dijadikan tolok ukur utama untuk menentukan otoritas dalam rumah tangga, hubungan suami-istri berpotensi berubah menjadi relasi kuasa yang hierarkis, bukan relasi kasih sayang. Dalam tradisi Islam, relasi kasih sayang tersebut sebenarnya juga telah digambarkan melalui konsep mahar dalam pernikahan. Seharusnya, mahar dipahami bukan sebagai bentuk transaksi jual beli atas tubuh perempuan, melainkan sebagai ungkapan penghargaan dan rasa terima kasih kepada istri. Dengan cara pandang ini, relasi dalam rumah tangga dapat terbangun atas dasar penghormatan dan kasih sayang, bukan semata-mata kalkulasi ekonomi.

______________________

Naufal Aulia Hanif adalah mahasiswa Program Studi Agama dan Lintas Budaya (CRCS), Sekolah Pascasarjana UGM, angkatan 2025. Baca tulisan Naufal lainnya di sini.

Gambar tajuk artikel ini diolah dari film “Tiga Suara”

Tags: Agama dan Gender bapak rumah tangga Islam dan Gender naufal aulia hanif

Leave A Comment Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Instagram

M B G Satu kotak makan berisi nasi putih pulen seb M B G
Satu kotak makan berisi nasi putih pulen sebagai sumber karbohidrat utama, dimasak dari beras medium pilihan, air, sedikit garam, dan beberapa tetes minyak agar tidak cepat basi. Di sampingnya terdapat ayam semur kecap, dibuat dari potongan daging ayam, bawang merah, bawang putih, kecap manis, daun salam, lengkuas, garam, dan sedikit gula sehingga memberi asupan protein hewani yang cukup untuk pertumbuhan. Sebagai pendamping lauk utama, disediakan tempe orek manis gurih dari tempe iris tipis, bawang merah, bawang putih, cabai, kecap, dan gula merah. Tempe ini berfungsi menambah protein nabati sekaligus membuat kotak makan tampak lebih penuh, sebab protein memang sering lebih meyakinkan bila hadir rangkap dua. Untuk unsur sayuran, ada tumis wortel dan buncis yang dimasak dari wortel segar, buncis, sedikit kol, bawang putih, garam, merica, dan minyak sayur. Warna oranye-hijau pada sayur ini penting: bukan hanya untuk vitamin A dan serat, tetapi juga agar foto dokumentasi tidak terlihat terlalu pucat.Sebagai pelengkap vitamin alami, satu buah pisang atau sepotong pepaya matang diletakkan di sudut kotak. Buah dipilih yang murah, tahan banting, tidak gampang memar, dan cukup fotogenik ketika dibagikan massal. Terakhir, ditambahkan susu UHT kotak kecil berbahan susu sapi, gula, dan fortifikasi vitamin, atau kadang telur rebus utuh sebagai penutup protein tambahan.

Berbuih-buih seperti pelaksanaannya ...
G U S Mulanya "gus" adalah panggilan untuk anak ki G U S
Mulanya "gus" adalah panggilan untuk anak kiai yang belum cukup pantas secara umur dan ilmu dipanggil sebagai kiai. Masih magang. Namun, tradisi itu sedikit goyang karena dua sosok: Gus Dur dan Gus Miek. Keduanya tentu sudah pantas menyandang gelar kiai, tetapi rupanya nama magang itu sudah kadung merasuk dan menubuh. Jadilah istilah gus naik pangkat di kalangan awam sebagai sebutan untuk pemuka agama kharismatik yang ndak kalah aji dengan kiai. Kini, gelar gus lagi-lagi goncang. Pasalnya, banyak sosok yang mengaku dan didaku sebagai gus. Parahnya, banyak orang tak lagi bertanya: siapa gurunya, siapa nasabnya, atau apa yang dibaca? Gus seolah menjadi lisensi untuk mengais gold dan glory dalam bisnis berjenama "agama". 

Simak sindiran @safinatul_aula atas fenomena gus-gusan yang kerap membuat kita mengelus empedu. Hanya di situs web crcs.
S U R G A Surga dan neraka memang dibuat sebagai a S U R G A
Surga dan neraka memang dibuat sebagai alat ukur dan wadah pemisah. Keberadaanya merupakan konsekuensi logis dari sebuah tarik ulur tentang baik dan buruk. Mereka yang dijanjikan surga patut bersenang hati. Namun, ada saat ketika keyakinan tentang keselamatan tidak lagi menenangkan. Mungkin persoalannya bukan siapa yang akan masuk surga, melainkan mengapa kita begitu sibuk memastikan orang lain tidak.
Berawal dari percakapan antah berantah, @safinatul_aula tengah berefleksi tentang nasib diri dan teman-temannya nanti. Simak refleksinya di situs web crcs.
Tensions around the Gulf of Hormuz are shaking glo Tensions around the Gulf of Hormuz are shaking global oil supply and accelerating the push for alternatives green energy. Geothermal is often framed as the answer. But whose “green” is it?
What if “green energy” isn’t always as green as it sounds?
Together with @honeyyymooooonnn we bring stories from communities on the frontlines of geothermal projects in Indonesia, where sustainability is debated, challenged, and reimagined. It is not just about resistance, but a different way of thinking about energy, justice, and our relationship with nature.

Join the discussion at UGM Graduate School building, 3rd floor. We provide snacks and drinks, don't forget to bring your tumbler. This event is free and open to public.
Follow on Instagram

Twitter

Tweets by crcsugm

Universitas Gadjah Mada

Gedung Sekolah Pascasarjana UGM, 3rd Floor
Jl. Teknika Utara, Pogung, Yogyakarta, 55284
Email address: crcs@ugm.ac.id

 

© CRCS - Universitas Gadjah Mada

KEBIJAKAN PRIVASI/PRIVACY POLICY