• Tentang UGM
  • Portal Akademik
  • Pusat TI
  • Perpustakaan
  • Penelitian
Universitas Gadjah Mada
  • About Us
    • About CRCS
    • Vision & Mission
    • People
      • Faculty Members and Lecturers
      • Staff Members
      • Students
      • Alumni
    • Facilities
    • Library
  • Master’s Program
    • Overview
    • Curriculum
    • Courses
    • Schedule
    • Admission
    • Scholarship
    • Accreditation and Certification
    • Academic Collaborations
      • Crossculture Religious Studies Summer School
      • Florida International University
    • Academic Documents
    • Student Satisfaction Survey
  • Article
    • Perspective
    • Book Review
    • Event Report
    • Class Journal
    • Interview
    • Wed Forum Report
    • Thesis Review
    • News
  • Publication
    • Reports
    • Books
    • Newsletter
    • Monthly Update
    • Infographic
  • Research
    • CRCS Researchs
    • Resource Center
  • Community Engagement
    • Film
      • Indonesian Pluralities
      • Our Land is the Sea
    • Wednesday Forum
    • ICIR
    • Amerta Movement
  • Beranda
  • Maryolanda Zaini
  • Maryolanda Zaini
Arsip:

Maryolanda Zaini

Performa dan Polemik Kelompok Minoritas Agama di Ruang Digital

Laporan Wednesday ForumWednesday Forum Report Friday, 5 May 2023

Performa dan Polemik Kelompok Minoritas Agama di Ruang Digital

Maryolanda Zaini – 4 April 2023

Ucapan perayaan Hari Raya Nawruz dari Menteri Agama Yaqut Cholil Qoumas untuk pemeluk agama Baha’i beberapa tahun silam sempat menjadi polemik. Beberapa kelompok masyarakat menganggap Baha’i sebagai sebuah aliran sesat ketimbang sebuah agama. Polemik itu menunjukkan bahwa rekognisi terhadap kelompok minoritas agama masih menjadi persoalan serius di negeri ini. Tak dinyana, pandemi Covid-19 membuka peluang bagi kelompok minoritas agama untuk mengekspresikan keyakinannya, salah satunya melalui platform digital. Ruang di dunia maya ini menjadi ruang potensial bagi titik temu kebebasan beragama atau berkeyakinan di Indonesia. Namun, ekspektasi itu rupanya tidak selalu berbanding lurus dengan realita. Ujaran kebencian dan perlakuan diskriminatif rupanya masih juga ditemui dalam platform digital tersebut.

“Beragama” dengan Sepak Bola

Perspective Tuesday, 4 April 2023

“Beragama” dengan Sepak Bola

Maryolanda Zaini – 4 April 2023

Sepak bola telah menjadi salah satu tontonan olahraga terpopuler di planet ini. Mulai dari perhelatan Piala Dunia hingga Liga Inggris, miliaran penonton dari seluruh dunia menyaksikan tim favoritnya berkompetisi di lapangan. FIFA mencatat setidaknya 1,5 miliar orang menonton final Piala Dunia 2022. Sepak bola memang tidak hanya menawarkan atraksi adu olah bola di lapangan, tetapi juga menyediakan rangkaian ritual dan euforia kebersamaan bagi para penontonnya: mulai dari berjamaah datang ke stadion, berkumpul bersama dengan seragam klub/federasi, hingga kompak bernyanyi mengobarkan yel-yel bagi tim kesayangannya. Di sinilah sepak bola dan agama beririsan.

Instagram

📢 Fellowship Kebebasan Beragama atau Berkeyakinan 📢 Fellowship Kebebasan Beragama atau Berkeyakinan (KBB) 2026 – Angkatan VII

CRCS UGM bersama sejumlah lembaga mitra membuka kesempatan bagi 20–25 dosen untuk mengikuti program fellowship yang berfokus pada isu kebebasan beragama atau berkeyakinan di Indonesia.
Program ini ditujukan bagi dosen dari bidang hukum, syariah, teologi, filsafat, studi agama, serta ilmu sosial dan politik yang tertarik mengembangkan pengajaran, riset, dan diskusi akademik tentang KBB di perguruan tinggi.
Melalui fellowship ini, peserta akan mendapatkan ruang belajar, jejaring akademik, serta dukungan untuk memperkuat kajian dan pengajaran tentang kebebasan beragama di kampus.
To understand Iran, geopolitics alone is not enoug To understand Iran, geopolitics alone is not enough.
Behind every headline about war or sanctions lies a deeper landscape of history, memory, and moral imagination. In this conversation, Dicky Sofjan shows that contemporary conflicts involving Iran cannot be read only through the language of strategy and power. They must also be understood through the histories and symbols that continue to mobilize political and social meaning today.

Click the link in our bio to read the full interview.
Some changes in family life arrive quietly. In Yog Some changes in family life arrive quietly. In Yogyakarta and Ponorogo, more husbands cook, clean, and care for children, while still remaining the imam in the household. What shifts is not only labor but the meaning of leadership, belief, and marriage itself. A small domestic change opens a larger question about gender, religion, and the stories families tell about themselves.

Join the conversation at the #wednesdayforum with Alimatul Qibtiyah, March 11 at UGM or via livestream. We're offering a free iftar, so get there early! This event is free and open to the public.
What is well-being? Indonesia today: land taken, f What is well-being?
Indonesia today: land taken, forests cleared, plantations marching under the banner of food security. Officials call it progress, yet Indigenous ground tells another story. Baduy farmers keep ngahuma alive: rice, ritual, survival, all tied together. Wellbeing here isn’t profit. It’s balance when human and earth still holding on.

Join us for the next  #wednesdayforum discussion at the 3rd floor of the UGM Graduate School building. We're offering a free iftar, so please register. This event is free and open to the public.
Follow on Instagram

Twitter

Tweets by crcsugm

Universitas Gadjah Mada

Gedung Sekolah Pascasarjana UGM, 3rd Floor
Jl. Teknika Utara, Pogung, Yogyakarta, 55284
Email address: crcs@ugm.ac.id

 

© CRCS - Universitas Gadjah Mada

KEBIJAKAN PRIVASI/PRIVACY POLICY