• Tentang UGM
  • Portal Akademik
  • Pusat TI
  • Perpustakaan
  • Penelitian
Universitas Gadjah Mada
  • About Us
    • About CRCS
    • Vision & Mission
    • People
      • Faculty Members and Lecturers
      • Staff Members
      • Students
      • Alumni
    • Facilities
    • Library
  • Master’s Program
    • Overview
    • Curriculum
    • Courses
    • Schedule
    • Admission
    • Scholarship
    • Accreditation and Certification
    • Academic Collaborations
      • Crossculture Religious Studies Summer School
      • Florida International University
    • Academic Documents
    • Student Satisfaction Survey
  • Article
    • Perspective
    • Book Review
    • Event Report
    • Class Journal
    • Interview
    • Wed Forum Report
    • Thesis Review
    • News
  • Publication
    • Reports
    • Books
    • Newsletter
    • Monthly Update
    • Infographic
  • Research
    • CRCS Researchs
    • Resource Center
  • Community Engagement
    • Film
      • Indonesian Pluralities
      • Our Land is the Sea
    • Wednesday Forum
    • ICIR
    • Amerta Movement
  • Beranda
  • SDGS 16: PERDAMAIAN KEADILAN DAN KELEMBAGAAN YANG TANGGUH
  • SDGS 16: PERDAMAIAN KEADILAN DAN KELEMBAGAAN YANG TANGGUH
Arsip:

SDGS 16: PERDAMAIAN KEADILAN DAN KELEMBAGAAN YANG TANGGUH

CRCS UGM Raih FIBAA Premium Seal: Tonggak Baru Studi Agama di Indonesia

NewsNews Wednesday, 1 October 2025

Program Studi Agama Lintas Budaya, Sekolah Pascasarjana, Universitas Gadjah Mada (UGM) menorehkan prestasi internasional dengan meraih akreditasi dari Foundation for International Business Administration Accreditation (FIBAA) pada level tertinggi: Premium Quality Seal.

Interseksionalitas Akbattasa Jera dalam Masyarakat Ammatoa

Perspective Friday, 3 May 2024

Interseksionalitas Akbattasa Jera dalam Masyarakat Ammatoa

Zulfikarni Bakri – 03 Mei 2024

Pemakaman di Dusun Benteng, Tanah Toa, Kajang penuh dengan susunan daun sirih, pinang, dan tembakau, serta beberapa bambu muda berisi tuak. Perempuan maupun laki-laki berpakaian serba hitam saling bertegur sapa bersama sanak keluarga yang baru pulang ke kampung halaman jelang lebaran. Pada 4 April 2024, tepat hari ke-23 Ramadan, masyarakat Ammatoa Kajang yang tinggal di Kawasan Adat Dalam dan Luar melakukan tradisi akbattasa jera. 

Akbattasa jera berarti ‘membersihkan makam’ (Maarif, 2012). Ritual ini dilakukan sekali dalam satu tahun seminggu menjelang lebaran. Menurut Ammatoa (pemangku adat tertinggi), akbattasa jera ini ada dua macam yaitu akbattasa jera di hutan keramat dan akbattasa jera ke semua pemakaman di kawasan Kajang. Pada hari ke-22 Ramadan, Ammatoa bersama beberapa orang kepercayaannya terlebih dahulu mengunjungi makam di Jera Tunggala yang berada dalam hutan karrasayya (hutan keramat). Bagi masyarakat Ammatoa, kuburan ini tidak hanya menjadi simbol makam manusia pertama (Ammatoa pertama), tetapi juga situs peninggalan leluhur dari berbagai macam ras di bumi sekaligus merupakan tempat manusia pertama kali bermukim. Tidak semua orang dapat mengikuti ziarah ke area hutan adat ini. Di samping Ammatoa, hanya orang-orang tua dengan ilmu spiritual tinggi yang dapat turut serta dalam ritual tersebut. Akbattasa jera di Jera Tunggala ini membuka semua aktivitas ziarah makam di hari-hari selanjutnya oleh masyarakat Ammatoa Kajang. Ritual tersebut kemudian disusul dengan baca doang (membaca doa) di rumah masing-masing. 

Instagram

B A T A S Ada momen ketika agama hadir sebagai ba B A T A S 
Ada momen ketika agama hadir sebagai bahasa terakhir untuk bertahan. Seperti perempuan-perempuan di Sudan yang mempertanyakan apakah bunuh diri bisa menjadi jalan pulang yang lebih manusiawi daripada hidup dalam kekerasan. Ini merupakan situasi ekstrem ketika dosa dan keselamatan tidak lagi nyata dalam keseharian sementara dunia memilih diam. Pada titik itu, mereka memilih untuk berbicara "langsung" kepada Tuhan melalui jalan yang kelam.

Simak refleksi @safinatul_aula tentang bunuh diri dan agensi "kesalehan" di situs web crcs
A N G K E R Makam menjadi ruang pisah antara yang A N G K E R
Makam menjadi ruang pisah antara yang hidup dan mati. Mereka yang masih bernyawa melanjutkan cerita, mereka yang mati bersemayam di makam. Pada titik ini, makam memisahkan antara yang sakral dan profan, yang adi kodrati dan yang sehari-hari. Namun, makam juga menjadi ruang jumpa antarkeduanya. Yang hidup menceritakan ulang kisah yang meninggal sehingga mendiang terus mengada. Selama kisah diceritakan dan nama terus diumbulkan ke langit, selama itu pula mereka mengabadi. Karenanya, makam itu angker, sebuah jangkar yang menakutkan dan menautkan sekaligus. 

Simak catatan lapangan @yohanes_leo27 terkait makam di situs web crcs.
GRWM bareng CRCS UGM batch 2025!!! GRWM bareng CRCS UGM batch 2025!!!
Does Indonesia have its own philosophers? Can Indo Does Indonesia have its own philosophers?
Can Indonesian thinkers really stand alongside Greece, the Arab world, or the West? Or is that the wrong question to begin with? From Tan Malaka to Nurcholish Madjid, from Abdurrahman Wahid to Azyumardi Azra, Indonesian thinkers have long been engaging, reworking, and transforming global ideas into something rooted in their own realities. 
Let’s unpack this together with @almakin_uinsuka.
Join the discussion at UGM Graduate School building, 3rd floor. We provide snacks and drinks, don't forget to bring your tumbler. This event is free and open to public.
Follow on Instagram

Twitter

Tweets by crcsugm

Universitas Gadjah Mada

Gedung Sekolah Pascasarjana UGM, 3rd Floor
Jl. Teknika Utara, Pogung, Yogyakarta, 55284
Email address: crcs@ugm.ac.id

 

© CRCS - Universitas Gadjah Mada

KEBIJAKAN PRIVASI/PRIVACY POLICY