Tradisi bukan hanya tentang peninggalan masa lalu. Di Kelenteng Ban Eng Bio, tradisi menjelma sebagai medium untuk mencipta memori kolektif. Melalui ritual gotong tepekong, aktor-aktor generasi muda kelenteng menegaskan identitasnya.
Ban Eng Bio dan Simpatisan Muda
Kabupaten Tegal, lokasi Kelenteng Ban Eng Bio didirikan, berada di pesisir utara Jawa bagian tengah dan menjadi salah satu kantong pembentukan masyarakat keturunan Tionghoa di Indonesia sejak berabad silam. Tomé Pires dalam Suma Oriental, mencatat “Teteguall” atau Tegal sebagai salah satu pelabuhan penting perdagangan internasional di abad ke-16 yang mempertemukan jaringan ekonomi, budaya, dan keagamaan lintas etnis. Posisi historis tersebut salah satunya tecermin melalui keberadaan kelenteng-kelenteng tua, salah satunya Kelenteng Bang Eng Bio yang berdiri pada 1881. Pada masa itu, kelenteng tidak hanya berfungsi sebagai ruang ibadah, tetapi juga sebagai pusat produksi tradisi dan identitas kultural komunitas setempat. Namun, dinamika situasi sosial-politik di negeri ini membuat peran penting itu sempat terputus.
Kini, warisan historis kelenteng sebagai pusat produksi tradisi dan memori kolektif kembali dihidupkan oleh generasi muda kelenteng melalui berbagai praktik ritual agama rakyat (folk religion). Menariknya, identitas komunal muda mudi kelenteng tidak melulu dibentuk oleh identitas kewilayahan maupun keagamaan. Muda mudi Ban Eng Bio memiliki latar belakang agama yang beragam: Khonghucu, Buddha, berbagai aliran Tao, Katolik, dan Islam. Mereka berbagi satu label yang menyatakan keyakinan religius pada kelenteng: simpatisan. Lain dari kata “umat” yang lazim bernada agama resmi Indonesia, term “simpatisan” melampaui emblem etnis maupun agama. Sebutan ini membuka ruang alternatif artikulasi diri pada kepercayaan agama “nonresmi”.
Memori kolektif dan Kontestasi Makna
Di antara berbagai manifestasi praktik agama rakyat Tionghoa, gotong tepekong atau arak-arakan rupang dewa menjadi salah satu ritual yang spektakuler dan semarak. Dalam prosesi ini, rupang dewa sebagai objek paling sakral diarak keliling wilayah kelenteng tersebut. Bagi para partisipan dan masyarakat sekitar, prosesi arak-arakan merupakan bentuk inspeksi dewa untuk menolak bala dan menebarkan berkah. Selain merayakan hari kebesaran dewa, gotong tepekong juga berfungsi sebagai medium peringatan penting, seperti kedatangan Laksamana Cheng Ho pada abad ke-15 M, kedatangan rupang dewa obat Poo Seng Tay Tee saat pagebluk malaria tahun 1853 di Semarang, atau memperingati pendirian dan renovasi kelenteng.
Dalam gotong tepekong, kimsin (金身) atau rupang dewa diarak di atas joli berbentuk singgasana. Ekspresi cara menandunya pun beragam. Ada yang menggoyang tandu tersebut dengan kuat ke kiri dan ke kanan hingga hampir miring, diiringi sorak dan euforia para pemuda penggotong. Ada juga komunitas yang mengarak dewanya dengan anggun dan santai, joli mengayun ringan tanpa sorak sorai. Perbedaan ini mencerminkan keragaman pandangan etika ritual dan figur kongco (secara harfiah berarti kakek buyut, sebutan untuk dewa). Sebagian berpendapat bahwa kongco semestinya diperlakukan dengan santun laiknya raja. Namun, sebagian lain menganggap bahwa euforia itu merupakan salah satu wujud bakti. Bahkan, ada juga yang meyakini, justru sang kongco sendirilah yang secara magis mengayunkan tandu. Apa pun tafsirnya, sumber vitalitas prosesi gotong tepekong tersebut ialah kehadiran sang dewa di tengah-tengah mereka.
Di Ban Eng Bio, vitalitas ekspresi religius itu tampak jelas pada partisipasi kaum muda dalam kirab gotong tepekong pada 30 November 2025. K, mahasiswa yang tergabung dalam regu gotong, menjelaskan: “Ada euforianya, jadi kita senang. Lalu karena kongco-nya juga makanya kita ingin selalu dekat dengan kongco. Kalau gak ada kongco, ya goyang gini gak ada value-nya.” A, aktivis pemuda Khonghucu Tegal, menambahkan bahwa menggotong tandu menjadi ruang pelampiasan beban hidup sekaligus ekspresi harapan, “Rileks dan bebas rasanya.” Ia mengingat pengalaman saat menggoyang tandu dalam keadaan keluh kesah dan menyampaikan harapannya. “Boleh percaya boleh enggak, terkabul,” tambahnya.
Euforia tersebut terasa sejak kirab dimulai hingga malam tiba. Kaum muda bergantian, bahkan berebut, memikul dan menggoyang joli. Kegembiraan, ketegangan, dan vitalitas bercampur dalam satu performa kolektif. Di titik ini, pengalaman religius tidak hadir dalam kesunyian yang asketik, tetapi bergetar dalam euforia tubuh yang bergerak bersama.
Gotong tepekong bukan sekadar komemorasi tradisi masa lalu. Di Ban Eng Bio, gotong tepekong menjadi ruang liminal yang mempertemukan masyarakat lintas etnis, agama dan kelas, sekaligus mengaburkan batas antara ritual dan festival. Bagi para pemuda, prosesi ini merupakan ruang untuk mengekspresikan jati diri dan ajang reka cipta memori kolektif baru. Memori kolektif yang terus diproduksi dan diperbarui ini kian menegaskan kehadiran masyarakat Tionghoa dalam lanskap sosial masyarakat Indonesia.
______________________
Refan Aditya adalah alumnus Program Studi Agama dan Lintas Budaya (CRCS), Sekolah Pascasarjana UGM, angkatan 2022. Baca tulisan Refan lainnya di sini.