• Tentang UGM
  • Portal Akademik
  • Pusat TI
  • Perpustakaan
  • Penelitian
Universitas Gadjah Mada
  • About Us
    • About CRCS
    • Vision & Mission
    • People
      • Faculty Members and Lecturers
      • Staff Members
      • Students
      • Alumni
    • Facilities
    • Library
  • Master’s Program
    • Overview
    • Curriculum
    • Courses
    • Schedule
    • Admission
    • Scholarship
    • Accreditation and Certification
    • Academic Collaborations
      • Crossculture Religious Studies Summer School
      • Florida International University
    • Academic Documents
    • Student Satisfaction Survey
  • Article
    • Perspective
    • Book Review
    • Event Report
    • Class Journal
    • Interview
    • Wed Forum Report
    • Thesis Review
    • News
  • Publication
    • Reports
    • Books
    • Newsletter
    • Monthly Update
    • Infographic
  • Research
    • CRCS Researchs
    • Resource Center
  • Community Engagement
    • Film
      • Indonesian Pluralities
      • Our Land is the Sea
    • Wednesday Forum
    • ICIR
    • Amerta Movement
  • Beranda
  • Perspective
  • Gotong Tepekong: Generasi Muda Kelenteng Mengayun Memori

Gotong Tepekong: Generasi Muda Kelenteng Mengayun Memori

  • Perspective
  • 18 February 2026, 12.45
  • Oleh: crcs ugm
  • 0

Tradisi bukan hanya tentang peninggalan masa lalu. Di Kelenteng Ban Eng Bio, tradisi menjelma sebagai medium untuk mencipta memori kolektif. Melalui ritual gotong tepekong, aktor-aktor generasi muda kelenteng menegaskan identitasnya. 

Ban Eng Bio dan Simpatisan Muda

Kabupaten Tegal, lokasi Kelenteng Ban Eng Bio didirikan, berada di pesisir utara Jawa bagian tengah dan menjadi salah satu kantong pembentukan masyarakat keturunan Tionghoa di Indonesia sejak berabad silam. Tomé Pires dalam Suma Oriental, mencatat “Teteguall” atau Tegal sebagai salah satu pelabuhan penting perdagangan internasional di abad ke-16 yang mempertemukan jaringan ekonomi, budaya, dan keagamaan lintas etnis. Posisi historis tersebut salah satunya tecermin melalui keberadaan kelenteng-kelenteng tua, salah satunya Kelenteng Bang Eng Bio yang berdiri pada 1881. Pada masa itu, kelenteng  tidak hanya berfungsi sebagai ruang ibadah, tetapi juga sebagai pusat produksi tradisi dan identitas kultural komunitas setempat. Namun, dinamika situasi sosial-politik di negeri ini membuat peran penting itu sempat terputus.

Kini, warisan historis kelenteng sebagai pusat produksi tradisi dan memori kolektif kembali dihidupkan oleh generasi muda kelenteng melalui berbagai praktik ritual agama rakyat (folk religion). Menariknya, identitas komunal muda mudi kelenteng tidak melulu dibentuk oleh identitas kewilayahan maupun keagamaan. Muda mudi Ban Eng Bio memiliki latar belakang agama yang beragam: Khonghucu, Buddha, berbagai aliran Tao, Katolik, dan Islam. Mereka berbagi satu label yang menyatakan keyakinan religius pada kelenteng: simpatisan. Lain dari kata “umat” yang lazim bernada agama resmi Indonesia, term “simpatisan” melampaui emblem etnis maupun agama. Sebutan ini membuka ruang alternatif artikulasi diri pada kepercayaan agama  “nonresmi”. 

Memori kolektif dan Kontestasi Makna

Di antara berbagai manifestasi praktik agama rakyat Tionghoa, gotong tepekong atau  arak-arakan rupang dewa menjadi salah satu ritual yang spektakuler dan semarak. Dalam prosesi ini, rupang dewa sebagai objek paling sakral diarak keliling wilayah kelenteng tersebut. Bagi para partisipan dan masyarakat sekitar, prosesi arak-arakan merupakan bentuk inspeksi dewa untuk menolak bala dan menebarkan berkah. Selain merayakan hari kebesaran dewa, gotong tepekong juga berfungsi sebagai medium peringatan penting, seperti kedatangan Laksamana Cheng Ho  pada abad ke-15 M, kedatangan rupang dewa obat Poo Seng Tay Tee saat pagebluk malaria tahun 1853 di Semarang, atau memperingati pendirian dan renovasi kelenteng. 

Dalam gotong tepekong, kimsin (金身) atau rupang dewa diarak di atas joli berbentuk singgasana. Ekspresi cara menandunya pun beragam. Ada yang menggoyang tandu tersebut dengan kuat ke kiri dan ke kanan hingga hampir miring, diiringi sorak dan euforia para pemuda penggotong. Ada juga komunitas yang mengarak dewanya dengan anggun dan santai, joli mengayun ringan tanpa sorak sorai. Perbedaan ini mencerminkan keragaman pandangan etika ritual dan figur kongco (secara harfiah berarti kakek buyut, sebutan untuk dewa). Sebagian berpendapat bahwa kongco semestinya diperlakukan dengan santun laiknya raja. Namun, sebagian lain menganggap bahwa euforia itu merupakan salah satu wujud bakti. Bahkan, ada juga yang meyakini, justru sang kongco sendirilah yang secara magis mengayunkan tandu. Apa pun tafsirnya, sumber vitalitas prosesi gotong tepekong tersebut ialah kehadiran sang dewa di tengah-tengah mereka.

Di Ban Eng Bio, vitalitas ekspresi religius itu tampak jelas pada partisipasi kaum muda dalam kirab gotong tepekong pada 30 November 2025. K, mahasiswa yang tergabung dalam regu gotong, menjelaskan: “Ada euforianya, jadi kita senang. Lalu karena kongco-nya juga makanya kita ingin selalu dekat dengan kongco. Kalau gak ada kongco, ya goyang gini gak ada value-nya.” A, aktivis pemuda Khonghucu Tegal, menambahkan bahwa menggotong tandu menjadi ruang pelampiasan beban hidup sekaligus ekspresi harapan, “Rileks dan bebas rasanya.” Ia mengingat pengalaman saat menggoyang tandu dalam keadaan keluh kesah dan menyampaikan harapannya. “Boleh percaya boleh enggak, terkabul,” tambahnya. 

Euforia tersebut terasa sejak kirab dimulai hingga malam tiba. Kaum muda bergantian, bahkan berebut, memikul dan menggoyang joli. Kegembiraan, ketegangan, dan vitalitas bercampur dalam satu performa kolektif. Di titik ini, pengalaman religius tidak hadir dalam kesunyian yang asketik, tetapi bergetar dalam euforia tubuh yang bergerak bersama.

Gotong tepekong bukan sekadar komemorasi tradisi masa lalu. Di Ban Eng Bio, gotong tepekong menjadi ruang liminal yang mempertemukan masyarakat lintas etnis, agama dan kelas, sekaligus mengaburkan batas antara ritual dan festival. Bagi para pemuda, prosesi ini merupakan ruang untuk mengekspresikan jati diri dan ajang reka cipta memori kolektif baru. Memori kolektif yang terus diproduksi dan diperbarui ini kian menegaskan kehadiran masyarakat Tionghoa dalam lanskap sosial masyarakat Indonesia.

______________________

Refan Aditya adalah alumnus Program Studi Agama dan Lintas Budaya (CRCS), Sekolah Pascasarjana UGM, angkatan 2022. Baca tulisan Refan lainnya di sini.

Tags: gotong tepekong refan aditya Tionghoa

Leave A Comment Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Instagram

Much has been said about faith and ecology—but one Much has been said about faith and ecology—but one question often slips through the cracks: who is actually paying for it?
Behind every conservation effort, there are financial choices, priorities, and actors shaping what is possible. This talk with dives  into the often-overlooked terrain of sustainable financing in the intersection of religion, ecology, and conservation in Indonesia. 
Come and join in a thought-provoking discussion with @sofjandicky at UGM Graduate School building, 3rd floor. We provide snacks and drinks, don't forget to bring your tumbler. This event is free and open to public.
Kuliah itu SCAM? Apa sih bedanya SCAM versi anak Kuliah itu SCAM?

Apa sih bedanya SCAM versi anak CRCS UGM?
 #skill #connection #attitude #mindset #fyp
B A T A S Ada momen ketika agama hadir sebagai ba B A T A S 
Ada momen ketika agama hadir sebagai bahasa terakhir untuk bertahan. Seperti perempuan-perempuan di Sudan yang mempertanyakan apakah bunuh diri bisa menjadi jalan pulang yang lebih manusiawi daripada hidup dalam kekerasan. Ini merupakan situasi ekstrem ketika dosa dan keselamatan tidak lagi nyata dalam keseharian sementara dunia memilih diam. Pada titik itu, mereka memilih untuk berbicara "langsung" kepada Tuhan melalui jalan yang kelam.

Simak refleksi @safinatul_aula tentang bunuh diri dan agensi "kesalehan" di situs web crcs
A N G K E R Makam menjadi ruang pisah antara yang A N G K E R
Makam menjadi ruang pisah antara yang hidup dan mati. Mereka yang masih bernyawa melanjutkan cerita, mereka yang mati bersemayam di makam. Pada titik ini, makam memisahkan antara yang sakral dan profan, yang adi kodrati dan yang sehari-hari. Namun, makam juga menjadi ruang jumpa antarkeduanya. Yang hidup menceritakan ulang kisah yang meninggal sehingga mendiang terus mengada. Selama kisah diceritakan dan nama terus diumbulkan ke langit, selama itu pula mereka mengabadi. Karenanya, makam itu angker, sebuah jangkar yang menakutkan dan menautkan sekaligus. 

Simak catatan lapangan @yohanes_leo27 terkait makam di situs web crcs.
Follow on Instagram

Twitter

Tweets by crcsugm

Universitas Gadjah Mada

Gedung Sekolah Pascasarjana UGM, 3rd Floor
Jl. Teknika Utara, Pogung, Yogyakarta, 55284
Email address: crcs@ugm.ac.id

 

© CRCS - Universitas Gadjah Mada

KEBIJAKAN PRIVASI/PRIVACY POLICY