Kita mengenal Candi Borobudur sebagai situs megah warisan Kerajaan Medang berusia lebih dari satu milenium. Namun, di balik kemegahannya itu, pemahaman kita tentang Borobudur justru dipenuhi perdebatan, kekosongan data, hingga narasi kolonial yang diwariskan sejak awal abad ke-19. Dalam Wednesday Forum (20/5), Hudaya Kandahjaya mengkritik kecenderungan kolonial tersebut dan menawarkan pendekatan lain: memahami Borobudur melalui sumber internal candi, prasasti sezaman, dan pengetahuan masyarakat Jawa sendiri.
Meluruskan “penemuan kembali” Candi Borobudur
Dalam narasi sejarah populer, Thomas Stamford Raffles kerap disebut sebagai tokoh yang menemukan kembali Candi Borobudur pada 1814. Informasi ini berasal dari karyanya, The History of Java. Karya tersebut sering dikutip oleh ahli kepurbakalaan pada masanya, seperti Krom dan Leemans. Menurut Hudaya, narasi ini problematis. Penulis buku Borobudur: Biara Himpunan Kebajikan Sugata (2021) ini merujuk surat bertanggal 15 Desember 1814 dari Raffles yang menyatakan ucapan terima kasih kepada Thomas Horsfield, teman dekatnya dari Amerika Serikat dan pengoleksi barang antik, atas informasi mengenai “reruntuhan berharga.”
Selain itu, lokasi Borobudur sudah lebih lama diketahui oleh penjelajah Eropa jauh sebelum Raffles. Hal itu dibuktikan oleh peta Jawa buatan J.A. du Bois pada 1811, yang kemungkinan besar bersumber dari catatan harian perjalanan Rhymer, insinyur militer Prusia yang bekerja untuk VOC pada 1989. Dalam sumber-sumber tersebut, reruntuhan candi tersebut telah disebut sebagai Boro Bodo, seperti nama desa sekitarnya. Dengan demikian, klaim bahwa Raffles adalah penemu tunggal Borobudur berarti menghapus pengetahuan lokal dan pengetahuan Belanda era VOC yang lebih dahulu mengenal situs itu.
Bagi Hudaya, pelurusan narasi sejarah ini penting untuk membongkar cara pandang kolonial yang menempatkan Eropa, melalui sosok Raffles, sebagai pahlawan tunggal penyelamat peradaban Jawa yang “hilang.” Historiografi macam ini, terang Hudaya, memperlihatkan hegemoni perspektif orientalis dan kolonial yang masih membentuk cara kita memandang Borobudur sampai hari ini.
Multisemesta dalam skema bangunan Candi Borobudur
Hudaya juga menyoroti perdebatan panjang mengenai skema bangunan Borobudur. Selama ini, akademisi terbelah ke dalam dua kubu besar. Kelompok pertama—yang diwakili tokoh seperti N.J. Krom, J.G. de Casparis, dan Jan Fontein—memahami Borobudur sebagai stupa Mahayana raksasa. Penafsiran ini didasarkan pada bentuk vertikal candi yang menjulang serta keberadaan arca-arca Buddha dengan mudra yang dianggap tidak sesuai dengan sistem Panca Tathagata dalam tradisi Tantra.
Sementara itu, kelompok kedua melihat Borobudur sebagai mandala Tantra. Tokoh seperti Omura Seigai, Lokesh Chandra, dan John Cooper Huntington menekankan struktur horizontal candi yang presisi dan menyerupai pola mandala, yakni peta kosmos suci dalam Buddhisme esoteris. Lokesh Chandra bahkan menghubungkan jumlah 504 arca Buddha di Borobudur dengan simbolisme “Lingkaran Seribu Buddha” dalam Vajradhatu Mandala.
Namun, Hudaya mengkritik kedua pendekatan tersebut karena sama-sama membaca Borobudur melalui kategori modern yang belum tentu digunakan oleh para pembangunnya pada abad ke-8. Ia juga membantah teori populer Stutterheim mengenai pembagian Kamadhatu, Rupadhatu, dan Arupadhatu sebagai dasar struktur fisik Borobudur. Menurutnya, konsep itu justru menyederhanakan pesan asli yang ingin disampaikan oleh arsitek candi.
Sebagai alternatif, Hudaya merujuk pada kitab Sang Hyang Kamahayanikan karya Mpu Sindok yang sezaman dengan pembangunan Borobudur. Dari teks tersebut, ia menyimpulkan bahwa Borobudur bukanlah sekadar stupa atau mandala, melainkan representasi dari multisemesta (lokadathu), melampaui konsep kosmologi India tradisional yang biasanya terpusat pada Gunung Meru. Menurut Hudaya, Borobudur merupakan upaya arsitek masa lalu untuk menyalin hasil pencerahan yang dilihat oleh tokoh Sudhana dari Gandavyuha Sutra, yakni multisemesta, ke dalam bentuk fisik.
Menyibak Makna di Balik “Borobudur”
Perdebatan akademis lainnya adalah etimologi dari “Borobudur”. Raffles menafsirkan Borobudur sebagai “Buddha yang Agung”, sementara Poerbatjaraka mengusulkan bahwa kata tersebut berasal dari bara bermakna wihara dan budur sebagai toponim lokal (Desa Budur). Poerbatjaraka mendasarkan tafsirnya pada Nagarakartagama karya Mpu Prapanca, meskipun naskah tersebut ditulis lima abad setelah Borobudur dibangun.
Hudaya menawarkan pendekatan berbeda dengan melacak kemungkinan pengaruh bahasa Singhala lama. Ia merujuk pada Prasasti Abhayagiri Wihara (792 M) di Ratu Boko tentang pendirian biara Abhayagiri oleh orang Singhala. Relasi tersebut menunjukkan hubungan historis kuat antara komunitas Buddhis di Jawa dan Sri Lanka pada masa itu. Tafsir ini selaras dengan deskripsi di Prasasti Kayumwungan (824 M) yang menyebut pembangunan bangunan suci yang menghimpun segenap kebajikan Sugata, sang Buddha. Berangkat dari sini, Hudaya berpendapat bahwa nama Borobudur pada masanya punya makna sederhana tetapi mendalam, yakni vara-buddha-rupa (Citra Buddha yang Istimewa).
Merekonstruksi Borobudur
Belakangan, Candi Borobudur menjadi polemik karena adanya usul pemasangan chattra, payung atau pelindung serupa mahkota. Usul ini bermula dari pernyataan Menteri Agama Yaqut Cholil Qoumas pada 2023 dalam rapat koordinasi nasional Destinasi Pariwisata Super Prioritas Magelang. Kemudian, inisiasi dilanjutkan oleh Kemenag RI lewat Dirjen Bimas Buddha. Inisiatif ini ditentang—terutama oleh kalangan arkeolog, ahli budaya, maupun sebagian umat Buddha—karena dianggap ahistoris dan mengancam status warisan dunia UNESCO.
Inisiasi pemasangan benda di puncak stupa bukanlah yang pertama kalinya. Pada 1910, Theodor van Erp, yang merestorasi Candi Borobudur, sempat mencoba memasang rekonstruksi chattra dengan tiga lapis payung dan sembilan roda di atas tonggak stupa induk. Namun, chattra tersebut akhirnya kembali dibongkar van Erp meragukan keaslian bentuk rekonstruksinya tersebut.
Selama rekonstruksi itu pula, Van Erp menemukan sebuah arca yang kini dikenal sebagai Arca Buddha yang Tak Selesai (Unfinished Buddha Statue) di reruntuhan stupa utama. Arca yang tidak sempurna itu, menurutnya, adalah produk gagal yang tidak rata sehingga bukan bagian dari rancangan asli stupa induk. Ia kemudian meletakkannya di halaman candi karena keberadaan arca tersebut tidak dideskripsikan dalam laporan pembersihan Candi Borobudur oleh Raffles. Van Erp curiga bahwa patung tersebut dimasukkan ke dalam stupa oleh orang lain setelah Raffles, bukan sejak zaman kuno.
Sebaliknya, Hudaya justru meyakini bahwa arca itu adalah yang semestinya diletakkan pada stupa utama. Ia mengacu pada pendapat Sukmono tentang struktur candi dalam penjelasan Serat Centhini yang menyebutkan ada arca Buddha yang ditempatkan di stupa utama. Dengan dasar tersebut, Hudaya meyakini bahwa Arca Buddha yang Tak Selesai semestinya dipasang di dalam stupa utama.
Pada akhirnya, Hudaya menegaskan bahwa upaya memahami maupun merekonstruksi Borobudur harus berpijak pada sumber-sumber yang lahir dari konteks zamannya sendiri: prasasti, teks sezaman, struktur internal candi, serta ingatan masyarakat Jawa pada masanya. Dengan demikian, inilah cara untuk memberikan kesempatan kepada Candi Borobudur untuk berbicara tentang dirinya sendiri.
______________________
Afkar Aristoteles Mukhaer adalah mahasiswa Program Studi Agama dan Lintas Budaya (CRCS), Sekolah Pascasarjana UGM, angkatan 2024. Baca tulisan Afkar lainnya di sini.
Artikel ini merupakan salah satu usaha CRCS UGM untuk mendukung SDGs nomor 4 tentang Pendidikan Berkualitas.
Foto tajuk artikel oleh Arabsalam (2011)