• Tentang UGM
  • Portal Akademik
  • Pusat TI
  • Perpustakaan
  • Penelitian
Universitas Gadjah Mada
  • About Us
    • About CRCS
    • Vision & Mission
    • People
      • Faculty Members and Lecturers
      • Staff Members
      • Students
      • Alumni
    • Facilities
    • Library
  • Master’s Program
    • Overview
    • Curriculum
    • Courses
    • Schedule
    • Admission
    • Scholarship
    • Accreditation and Certification
    • Academic Collaborations
      • Crossculture Religious Studies Summer School
      • Florida International University
    • Academic Documents
    • Student Satisfaction Survey
  • Article
    • Perspective
    • Book Review
    • Event Report
    • Class Journal
    • Interview
    • Wed Forum Report
    • Thesis Review
    • News
  • Publication
    • Reports
    • Books
    • Newsletter
    • Monthly Update
    • Infographic
  • Research
    • CRCS Researchs
    • Resource Center
  • Community Engagement
    • Film
      • Indonesian Pluralities
      • Our Land is the Sea
    • Wednesday Forum
    • ICIR
    • Amerta Movement
  • Beranda
  • Berita
  • Biarkan Borobudur Bicara Sendiri tentang Dirinya

Biarkan Borobudur Bicara Sendiri tentang Dirinya

  • Berita, Laporan Wednesday Forum, Wednesday Forum Report
  • 31 May 2026, 11.24
  • Oleh: crcs ugm
  • 0

Kita mengenal Candi Borobudur sebagai situs megah warisan Kerajaan Medang berusia lebih dari satu milenium. Namun, di balik kemegahannya itu, pemahaman kita tentang Borobudur justru dipenuhi perdebatan, kekosongan data, hingga narasi kolonial yang diwariskan sejak awal abad ke-19. Dalam Wednesday Forum (20/5), Hudaya Kandahjaya mengkritik kecenderungan kolonial tersebut dan menawarkan pendekatan lain: memahami Borobudur melalui sumber internal candi, prasasti sezaman, dan pengetahuan masyarakat Jawa sendiri. 

Meluruskan “penemuan kembali” Candi Borobudur

Dalam narasi sejarah populer,  Thomas Stamford Raffles kerap disebut sebagai tokoh yang menemukan kembali Candi Borobudur pada 1814. Informasi ini berasal dari karyanya, The History of Java. Karya tersebut sering dikutip oleh ahli kepurbakalaan pada masanya, seperti Krom dan Leemans.  Menurut Hudaya, narasi ini problematis. Penulis buku Borobudur: Biara Himpunan Kebajikan Sugata (2021) ini merujuk surat bertanggal 15 Desember 1814 dari Raffles yang menyatakan ucapan terima kasih kepada Thomas Horsfield, teman dekatnya dari Amerika Serikat dan pengoleksi barang antik, atas informasi mengenai “reruntuhan berharga.”  

Selain itu, lokasi Borobudur sudah lebih lama diketahui oleh penjelajah Eropa jauh sebelum Raffles. Hal itu dibuktikan oleh peta Jawa buatan J.A. du Bois pada 1811, yang kemungkinan besar bersumber dari catatan harian perjalanan Rhymer, insinyur militer Prusia yang bekerja untuk VOC pada 1989. Dalam sumber-sumber tersebut, reruntuhan candi tersebut telah disebut sebagai Boro Bodo, seperti nama desa sekitarnya. Dengan demikian, klaim bahwa Raffles adalah penemu tunggal Borobudur berarti menghapus pengetahuan lokal dan pengetahuan Belanda era VOC yang lebih dahulu mengenal situs itu.   

Bagi Hudaya, pelurusan narasi sejarah ini penting untuk membongkar cara pandang kolonial yang menempatkan Eropa, melalui sosok Raffles, sebagai pahlawan tunggal penyelamat peradaban Jawa yang “hilang.” Historiografi macam ini, terang Hudaya, memperlihatkan  hegemoni perspektif orientalis dan kolonial yang masih membentuk cara kita memandang Borobudur sampai hari ini.

Multisemesta dalam skema bangunan Candi Borobudur

Hudaya juga menyoroti perdebatan panjang mengenai skema bangunan Borobudur. Selama ini, akademisi terbelah ke dalam dua kubu besar. Kelompok pertama—yang diwakili tokoh seperti N.J. Krom, J.G. de Casparis, dan Jan Fontein—memahami Borobudur sebagai stupa Mahayana raksasa. Penafsiran ini didasarkan pada bentuk vertikal candi yang menjulang serta keberadaan arca-arca Buddha dengan mudra yang dianggap tidak sesuai dengan sistem Panca Tathagata dalam tradisi Tantra.

Sementara itu, kelompok kedua melihat Borobudur sebagai mandala Tantra. Tokoh seperti Omura Seigai, Lokesh Chandra, dan John Cooper Huntington menekankan struktur horizontal candi yang presisi dan menyerupai pola mandala, yakni peta kosmos suci dalam Buddhisme esoteris. Lokesh Chandra bahkan menghubungkan jumlah 504 arca Buddha di Borobudur dengan simbolisme “Lingkaran Seribu Buddha” dalam Vajradhatu Mandala.

Namun, Hudaya mengkritik kedua pendekatan tersebut karena sama-sama membaca Borobudur melalui kategori modern yang belum tentu digunakan oleh para pembangunnya pada abad ke-8. Ia juga membantah teori populer Stutterheim mengenai pembagian Kamadhatu, Rupadhatu, dan Arupadhatu sebagai dasar struktur fisik Borobudur. Menurutnya, konsep itu justru menyederhanakan pesan asli yang ingin disampaikan oleh arsitek candi.

Sebagai alternatif, Hudaya merujuk pada kitab Sang Hyang Kamahayanikan karya Mpu Sindok yang sezaman dengan pembangunan Borobudur. Dari teks tersebut, ia menyimpulkan bahwa Borobudur bukanlah sekadar stupa atau mandala, melainkan representasi dari multisemesta (lokadathu), melampaui konsep kosmologi India tradisional yang biasanya terpusat pada Gunung Meru. Menurut Hudaya, Borobudur merupakan upaya arsitek masa lalu untuk menyalin hasil pencerahan yang dilihat oleh tokoh Sudhana dari Gandavyuha Sutra, yakni multisemesta, ke dalam bentuk fisik.

Menyibak Makna di Balik “Borobudur”

Perdebatan akademis lainnya adalah etimologi dari “Borobudur”. Raffles menafsirkan Borobudur sebagai “Buddha yang Agung”, sementara Poerbatjaraka mengusulkan bahwa kata tersebut berasal dari bara bermakna wihara dan budur sebagai toponim lokal (Desa Budur). Poerbatjaraka mendasarkan tafsirnya pada Nagarakartagama karya Mpu Prapanca, meskipun naskah tersebut ditulis lima abad setelah Borobudur dibangun. 

Hudaya menawarkan pendekatan berbeda dengan melacak kemungkinan pengaruh bahasa Singhala lama. Ia merujuk pada Prasasti Abhayagiri Wihara (792 M) di Ratu Boko tentang pendirian biara Abhayagiri oleh orang Singhala. Relasi tersebut menunjukkan hubungan historis  kuat antara komunitas Buddhis di Jawa dan Sri Lanka pada masa itu. Tafsir ini selaras dengan deskripsi di Prasasti Kayumwungan (824 M) yang menyebut pembangunan bangunan suci yang menghimpun segenap kebajikan Sugata, sang Buddha. Berangkat dari sini, Hudaya berpendapat bahwa nama Borobudur pada masanya punya makna sederhana tetapi mendalam, yakni vara-buddha-rupa (Citra Buddha yang Istimewa). 

Merekonstruksi Borobudur

Belakangan, Candi Borobudur menjadi polemik karena adanya usul pemasangan chattra, payung atau pelindung serupa mahkota. Usul ini bermula dari pernyataan Menteri Agama Yaqut Cholil Qoumas pada 2023 dalam rapat koordinasi nasional Destinasi Pariwisata Super Prioritas Magelang. Kemudian, inisiasi dilanjutkan oleh Kemenag RI lewat Dirjen Bimas Buddha. Inisiatif ini ditentang—terutama oleh kalangan arkeolog, ahli budaya, maupun sebagian umat Buddha—karena dianggap ahistoris dan mengancam status warisan dunia UNESCO.

Inisiasi pemasangan benda di puncak stupa bukanlah yang pertama kalinya. Pada 1910, Theodor van Erp, yang merestorasi Candi Borobudur, sempat mencoba memasang rekonstruksi chattra dengan tiga lapis payung dan sembilan roda di atas tonggak stupa induk. Namun, chattra tersebut akhirnya kembali dibongkar van Erp  meragukan keaslian bentuk rekonstruksinya tersebut.

Selama rekonstruksi itu pula, Van Erp menemukan sebuah arca yang kini dikenal sebagai Arca Buddha yang Tak Selesai (Unfinished Buddha Statue) di reruntuhan stupa utama. Arca yang tidak sempurna itu, menurutnya, adalah produk gagal yang tidak rata sehingga bukan bagian dari rancangan asli stupa induk. Ia kemudian meletakkannya di halaman candi karena  keberadaan arca tersebut tidak dideskripsikan dalam laporan pembersihan Candi Borobudur oleh Raffles. Van Erp curiga bahwa patung tersebut dimasukkan ke dalam stupa oleh orang lain setelah Raffles, bukan sejak zaman kuno.

Sebaliknya, Hudaya justru meyakini bahwa arca itu adalah yang semestinya diletakkan pada stupa utama. Ia mengacu pada pendapat Sukmono tentang struktur candi dalam penjelasan Serat Centhini yang menyebutkan ada arca Buddha yang ditempatkan di stupa utama. Dengan dasar tersebut, Hudaya meyakini bahwa Arca Buddha yang Tak Selesai  semestinya dipasang di dalam stupa utama.

Pada akhirnya, Hudaya menegaskan bahwa upaya memahami maupun merekonstruksi Borobudur harus berpijak pada sumber-sumber yang lahir dari konteks zamannya sendiri: prasasti, teks sezaman, struktur internal candi, serta ingatan masyarakat Jawa pada masanya. Dengan demikian, inilah cara untuk memberikan kesempatan kepada Candi Borobudur untuk berbicara tentang dirinya sendiri.

______________________

Afkar Aristoteles Mukhaer adalah mahasiswa Program Studi Agama dan Lintas Budaya (CRCS), Sekolah Pascasarjana UGM, angkatan 2024. Baca tulisan Afkar lainnya di sini.

Artikel ini merupakan salah satu usaha CRCS UGM untuk mendukung SDGs nomor  4 tentang Pendidikan Berkualitas.

Foto tajuk artikel oleh Arabsalam (2011)

Tags: afkar aristoteles mukhaer Borobudur chattra stupa

Leave A Comment Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Instagram

crcs_ugm

Sedang tidak baik-baik saja, kamu biasanya mencari Sedang tidak baik-baik saja, kamu biasanya mencari apa di internet?

Banyak anak muda hari ini menemukan ketenangan, nasihat, bahkan jawaban atas kegelisahan melalui media sosial, konten keagamaan, akun kesehatan mental, hingga AI chatbot. Namun, bagaimana sebenarnya pengalaman itu terjadi?
Kami sedang melakukan penelitian untuk memahami bagaimana generasi muda usia 10–24 tahun mencari informasi keagamaan maupun kesehatan mental saat menghadapi masa-masa sulit.
Jika kamu merasa topik ini dekat dengan pengalamanmu, kami mengundangmu menjadi responden.
Partisipasi bersifat sukarela dan seluruh jawaban dijaga kerahasiaannya.
Kamu bisa langsung kirim DM jawabanmu atau mau tanya-tanya dulu juga boleh.

Kami tunggu ya.
Katanja koeliah S2 itoe mahal? Eitss , djangan s Katanja  koeliah S2 itoe mahal? 
Eitss , djangan salah
Bersama keempat mahasiswa angkatan 2025, kita akan ngobrolin djoeroes-djoeroes djitoe mendapatkan beasiswa di CRCS UGM

Begitoe?
Before petroleum fueled the world, it fractured th Before petroleum fueled the world, it fractured the archipelago

The raise of the colonial petroleum industry in the Dutch East Indies was also the emergence of new spatial inequalities. Outer Java was not merely discovered as a resource zone. It was politically produced as an extractive territory through imperial concessions, colonial state-building, and global struggles over resource control.

Join us in this presentation on capitalism, oil, and the colonial fractures that continue to haunt the geography of modern Indonesia. We provide snacks and drinks, don't forget to bring your tumbler. This event is free and open to public.
M B G Satu kotak makan berisi nasi putih pulen seb M B G
Satu kotak makan berisi nasi putih pulen sebagai sumber karbohidrat utama, dimasak dari beras medium pilihan, air, sedikit garam, dan beberapa tetes minyak agar tidak cepat basi. Di sampingnya terdapat ayam semur kecap, dibuat dari potongan daging ayam, bawang merah, bawang putih, kecap manis, daun salam, lengkuas, garam, dan sedikit gula sehingga memberi asupan protein hewani yang cukup untuk pertumbuhan. Sebagai pendamping lauk utama, disediakan tempe orek manis gurih dari tempe iris tipis, bawang merah, bawang putih, cabai, kecap, dan gula merah. Tempe ini berfungsi menambah protein nabati sekaligus membuat kotak makan tampak lebih penuh, sebab protein memang sering lebih meyakinkan bila hadir rangkap dua. Untuk unsur sayuran, ada tumis wortel dan buncis yang dimasak dari wortel segar, buncis, sedikit kol, bawang putih, garam, merica, dan minyak sayur. Warna oranye-hijau pada sayur ini penting: bukan hanya untuk vitamin A dan serat, tetapi juga agar foto dokumentasi tidak terlihat terlalu pucat.Sebagai pelengkap vitamin alami, satu buah pisang atau sepotong pepaya matang diletakkan di sudut kotak. Buah dipilih yang murah, tahan banting, tidak gampang memar, dan cukup fotogenik ketika dibagikan massal. Terakhir, ditambahkan susu UHT kotak kecil berbahan susu sapi, gula, dan fortifikasi vitamin, atau kadang telur rebus utuh sebagai penutup protein tambahan.

Berbuih-buih seperti pelaksanaannya ...
Follow on Instagram

Twitter

Tweets by crcsugm

Universitas Gadjah Mada

Gedung Sekolah Pascasarjana UGM, 3rd Floor
Jl. Teknika Utara, Pogung, Yogyakarta, 55284
Email address: crcs@ugm.ac.id

 

© CRCS - Universitas Gadjah Mada

KEBIJAKAN PRIVASI/PRIVACY POLICY