by Diane Butler. This brief essay stems from the idea that one of Prapto’s processes since the early-1970s was to discuss about his movement concepts, to peel ideas, and then try to ‘under stand’ via the experience of movement practice. Not for grasping onto an identity or category of work; rather for ‘re-cognizing’ that one’s understanding and awareness of movement arts and life will always be changing according to the environment and journey of time.
oleh Deny Hermawan. Tujuan dari meditasi gerak ini adalah untuk menumbuhkan kesadaran penuh terhadap tubuh, ruang, dan lingkungan sekitar. Melalui proses ini, praktisi belajar mendengarkan tubuh mereka, merasakan aliran energi, dan terhubung dengan alam.
oleh Dody Eskha Aquinas. Dalam praktiknya, Amerta Movement juga menumbuhkan kesadaran diri terhadap unsur-unsur alam seperti tanah, api, angin, air, dan logam. Selain itu, bila dipadukan dengan doa atau mantra, muncullah suasana spiritual yang menyadarkan manusia akan keterhubungannya dengan Sang Pencipta.
oleh Bobby Steven Octavianus Timmerman. Joget Amerta dan Ragawidya memiliki landasan filosofis yang sama, keduanya mengeksplorasi perwujudan (kebertubuhan) sebagai jalan menuju Yang Ilahi.
Sebuah diksi bukan hanya menjadi cerminan identitas pribadi maupun kelompok, melainkan juga menggemakan sikap eksklusivitas atau inklusivitas. Ketika digunakan dalam arena kontestasi politik, sosial maupun agama, bahasa dapat menjelma menjadi alat untuk menyatakan sekaligus menyingkirkan identitas tertentu.
Meski diwanti-wanti sebagai kemajuan setengah jalan, KUHP 2023 menjanjikan terbuka luasnya ruang tafsir untuk melindungi hak beragama dan berkeyakinan.