• Tentang UGM
  • Portal Akademik
  • Pusat TI
  • Perpustakaan
  • Penelitian
Universitas Gadjah Mada
  • About Us
    • About CRCS
    • Vision & Mission
    • People
      • Faculty Members and Lecturers
      • Staff Members
      • Students
      • Alumni
    • Facilities
    • Library
  • Master’s Program
    • Overview
    • Curriculum
    • Courses
    • Schedule
    • Admission
    • Scholarship
    • Accreditation and Certification
    • Academic Collaborations
      • Crossculture Religious Studies Summer School
      • Florida International University
    • Academic Documents
    • Student Satisfaction Survey
  • Article
    • Perspective
    • Book Review
    • Event Report
    • Class Journal
    • Interview
    • Wed Forum Report
    • Thesis Review
    • News
  • Publication
    • Reports
    • Books
    • Newsletter
    • Monthly Update
    • Infographic
  • Research
    • CRCS Researchs
    • Resource Center
  • Community Engagement
    • Film
      • Indonesian Pluralities
      • Our Land is the Sea
    • Wednesday Forum
    • ICIR
    • Amerta Movement
  • Beranda
  • Berita
  • Dari Nurani Jadi Aksi

Dari Nurani Jadi Aksi

  • Berita, Berita, Event report, News, Wednesday Forum Report
  • 18 September 2024, 15.28
  • Oleh: crcs ugm
  • 0

Dari Nurani Jadi Aksi

Afkar Aristoteles Mukhaer – 15 September 2024

Sebagian umat beragama menyadari gejala alam yang tidak menentu sebagai fenomena perubahan iklim. Lantas, sejauh mana pengetahuan agama mendorong umatnya melakukan kegiatan yang mendukung lingkungan?

“Agama memiliki efek ganda dalam membentuk perilaku ramah lingkungan,” jelas Iin Halimatusa’diyah, Direktur Riset Pusat Pengkajian Islam dan Masyarakat (PPIM) UIN Jakarta, lewat presentasinya bertajuk “From Belief to Action: Religious Values and Pro-Environmental Behavior in Indonesia” dalam Wednesday Forum (4/9). 

Indonesia menghadapi tantangan perubahan iklim yang nyata. Namun, 11 persen masyarakat Indonesia tidak percaya bahwa perubahan iklim sedang terjadi. Sebagai negara dengan masyarakat paling religius, faktor agama tentu berperan besar terhadap setiap pandangan maupun praktik masyarakatnya. Beranjak dari fenomena ini, Iin bersama rekan-rekannya mengadakan survei hubungan nilai keagamaan dan tindakan ramah lingkungan masyarakat. Survei ini juga berupaya mengisi celah penelitian mengenai relasi agama dan lingkungan. 

Hasil survei tersebut mengungkapkan bahwa orang dengan komitmen untuk menjalankan ritual keagamaan cenderung bertindak lebih ramah lingkungan. Komitmen beribadah tidak sama dengan konservativisme agama yang memiliki pandangan menolak penafsiran ulang ajaran agama dan menolak perubahan. Umat Islam konservatif, dalam survei ini, justru memiliki pandangan bahwa manusia adalah penguasa alam sehingga cenderung berperilaku kurang ramah lingkungan.

Guru Besar UIN Syarif Hidayatullah Jakarta ini bersama timnya melakukan survei kepada 3.397 responden yang menjadi sampel perwakilan seluruh provinsi di Indonesia sejak 1 Maret hingga 21 April 2024. Sampel yang dikumpulkan berasal dari pelbagai latar belakang yang dikategorikan mulai dari jenis kelamin, agama, tingkat pendidikan, lingkungan tempat tinggal, generasi, besar pendapatan, hingga status pekerjaan. Para responden juga diwawancarai langsung oleh tim peneliti untuk melengkapi hasil survei.

Umat beragama memahami perubahan iklim

Secara umum, mayoritas responden meyakini bahwa perubahan iklim benar terjadi. Tak kurang dari 74,86 persen responden menjawab “yakin” dan 13,78 persen menjawab “sangat yakin”. Angka temuan ini sedikit berbeda dengan yang dilaporkan YouGov. Dalam survei yang dilakukan PPIM UIN Jakarta, 20,55 persen dari respondennya tidak pernah mendengar istilah perubahan iklim. Dengan kata lain, temuan PPIM UIN Jakarta dapat mengonfirmasi hasil survei YouGov bahwa masyarakat Indonesia meyakini adanya perubahan iklim, tetapi tidak semuanya pernah mengenal istilah tersebut.

Selanjutnya, mayoritas responden menjawab “setuju” bahwa perubahan iklim terjadi karena faktor manusia, khususnya aktivitas ekonomi seperti pertambangan dan perkebunan sawit. Pendapat terbanyak kedua ialah perubahan iklim disebabkan faktor spiritual, yakni sebagai “bentuk hukuman dari Tuhan”. Namun, tidak sedikit masyarakat yang memandang bahwa perubahan iklim disebabkan “proses alami”. Mayoritas responden yang menyetujui pandangan ini berasal dari kalangan Nahdlatul Ulama (38,55 persen) dan masyarakat “agama lainnya” (40,22 persen).

Dalam pemahaman relasi agama dan lingkungan, mayoritas masyarakat Indonesia memiliki pandangan antroposentrisme (38,86 persen). Antroposentrisme adalah pandangan yang memosisikan manusia sebagai entitas pusat dunia, sementara alam dianggap sebagai sarana yang dapat dieksploitasi atau dirawat demi mencapai tujuan hidup manusia (Catton & Dunlap, 1980).

Para responden lainnya di dalam survei, teridentifikasi menganut paham ekosentrisme dan teosentrisme. Ekosentrisme memandang alam sebagai pusat dari segalanya. Manusia sebagai salah satu makhluk yang hidup di alam harus memenuhi kebutuhan alam tersebut (Catton & Dunlap, 1980). Sementara itu, teosentrisme memandang Tuhan atau sosok supranatural sebagai entitas utama yang menengahi kebutuhan manusia dan alam (Hoffman & Sandelands, 2005). Iin dan rekan-rekan menguraikan dasar ekoteologis ini berdasarkan masing-masing agama para responden.

Meski mayoritas umat Islam menganut antroposentrisme, penganut nilai teosentrismenya merupakan yang terbesar dibanding responden dari agama-agama lainnya. Iin berpendapat, “Mereka yang memiliki penafsiran lebih literal terhadap teks agama–kitab suci agama–cenderung memiliki tingkat persepsi yang lebih tinggi bahwa hubungan manusia dan alam adalah sebagai mitra.”

Dalam surveinya, Iin dan rekan-rekan menyingkap bahwa mayoritas penganut pandangan antropsentrisme justru berasal dari kalangan muslim yang berafiliasi dengan organisasi Islam seperti Muhammadiyah (42,03 persen), NU (35,53 persen), dan lainnya (34,79 persen). Sementara, kalangan muslim yang menyatakan “tidak berafiliasi” justru lebih banyak mengadopsi pandangan ekosentrisme, sebesar 37,04 persen.

Lebih lanjut, responden yang berafiliasi dengan Muhammadiyah punya pengetahuan tentang perubahan iklim yang lebih tinggi dibanding responden lainnya. Secara spesifik, para responden Muhammadiyah juga memahami pengetahuan tentang transisi energi. Iin berpendapat, organisasi Muhammadiyah memiliki fasilitas pendidikan yang memungkinkan anggotanya punya akses pengetahuan yang lebih terkait perubahan iklim dan transisi energi.

Di sisi lain, mayoritas responden yang menganut ekosentrisme berasal dari penghayat kepercayaan atau pemeluk agama leluhur serta umat katolik. Menurut Iin, sebagian besar ajaran dan ritual para penghayat kepercayaan sangat terkait dengan alam sehingga membentuk pandangan yang cenderung ekosentris. Sementara itu, besarnya pandangan ekosentris pada kalangan responden Katolik berhubungan dengan pendekatan Paus Fransiskus. Iin berpendapat, sejak Paus Fransiskus memublikasikan ensiklik Laudato Si’, banyak kalangan Katolik yang berupaya mengimplementasikan ajaran tersebut dalam praktik sehari-hari.

Perilaku ramah lingkungan dan kerja sama antaragama

Perbedaan pandangan umat beragama terkait perubahan iklim ini turut mempengaruhi praktik ramah lingkungan dalam kehidupan sehari-hari. Untuk menelisik lebih jauh model dan ragam perilaku ramah lingkungan umat beragama, survei ini membagi ragam perilaku tersebut ke dalam empat bagian, yakni bebas sampah (zero waste), hemat listrik dan air, aktivisme publik berskala besar, serta aktivisme publik berskala kecil.  

“Perilaku yang paling sering dilakukan oleh masyarakat Indonesia ialah perilaku yang bermotif ekonomi seperti menghemat air dan listrik; serta perilaku yang tidak memerlukan biaya seperti menegur atau mengingatkan orang lain agar peduli terhadap lingkungan,” terang Iin. Sementara perilaku yang melibatkan biaya dan tenaga, seperti aktivisme kampanye lingkungan dan berdonasi, jarang dilakukan. Yang menarik, menandatangani petisi, kegiatan yang justru sama sekali tidak mengurasi tenaga dan biaya, ternyata merupakan salah satu tindakan yang paling jarang dilakukan responden.

Temuan survei ini juga menunjukkan sebagian besar masyarakat Indonesia setuju untuk bekerja sama menghadapi isu lingkungan, terlepas dari perbedaan agama. Perbedaan agama tidaklah menjadi penghalang kerja sama. Para responden juga menjawab “setuju” untuk menerima bantuan dan memberi bantuan untuk kelompok agama berbeda. 

Akan tetapi, mayoritas responden mengaku tidak pernah melakukan kegiatan menjaga lingkungan bersama kelompok agama berbeda. Penyebabnya, terang Iin, para responden kurang memiliki kesempatan untuk bisa bekerja sama dengan kelompok agama yang berbeda. “Kondisi sosiologis masih menjadi kendala karena banyak masyarakat Indonesia yang kurang atau tidak memiliki interaksi atau persahabatan dengan orang-orang yang berbeda agama,” tutur Iin. Sebagian besar responden mengaku memiliki teman yang sedikit dari agama berbeda, sebesar 37,01 persen. Bahkan, 31,94 persen responden mengaku tidak punya teman dari agama berbeda sama sekali.

Oleh karena itu, salah satu rekomendasi survei ini ialah peningkatan ruang pertemuan antaragama yang tidak terbatas pada masalah toleransi beragama. Dengan semakin nyatanya dampak perubahan iklim lewat ragam bencana ekologis, perhatian dan aksi nyata masyarakat dunia terlepas apa pun agamanya sangat dibutuhkan. Tersedianya ruang kerja sama tidak hanya memperkuat toleransi, tetapi juga meningkatkan kesadaran lingkungan di atas planet yang sama.

______________________

Afkar Aristoteles Mukhaer adalah mahasiswa Program Studi Agama dan Lintas Budaya (CRCS), Sekolah Pascasarjana UGM, angkatan 2024. Baca tulisan Afkar lainnya di sini.

Foto tajuk artikel:Noah Buscher/unsplash (2018)

Artikel ini merupakan salah satu usaha CRCS UGM untuk mendukung SDGs nomor  13 tentang Penanganan Perubahan Iklim.

Tags: afkar aristoteles mukhaer Ekologi

Leave A Comment Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Instagram

crcs_ugm

Sedang tidak baik-baik saja, kamu biasanya mencari Sedang tidak baik-baik saja, kamu biasanya mencari apa di internet?

Banyak anak muda hari ini menemukan ketenangan, nasihat, bahkan jawaban atas kegelisahan melalui media sosial, konten keagamaan, akun kesehatan mental, hingga AI chatbot. Namun, bagaimana sebenarnya pengalaman itu terjadi?
Kami sedang melakukan penelitian untuk memahami bagaimana generasi muda usia 10–24 tahun mencari informasi keagamaan maupun kesehatan mental saat menghadapi masa-masa sulit.
Jika kamu merasa topik ini dekat dengan pengalamanmu, kami mengundangmu menjadi responden.
Partisipasi bersifat sukarela dan seluruh jawaban dijaga kerahasiaannya.
Kamu bisa langsung kirim DM jawabanmu atau mau tanya-tanya dulu juga boleh.

Kami tunggu ya.
Katanja koeliah S2 itoe mahal? Eitss , djangan s Katanja  koeliah S2 itoe mahal? 
Eitss , djangan salah
Bersama keempat mahasiswa angkatan 2025, kita akan ngobrolin djoeroes-djoeroes djitoe mendapatkan beasiswa di CRCS UGM

Begitoe?
Before petroleum fueled the world, it fractured th Before petroleum fueled the world, it fractured the archipelago

The raise of the colonial petroleum industry in the Dutch East Indies was also the emergence of new spatial inequalities. Outer Java was not merely discovered as a resource zone. It was politically produced as an extractive territory through imperial concessions, colonial state-building, and global struggles over resource control.

Join us in this presentation on capitalism, oil, and the colonial fractures that continue to haunt the geography of modern Indonesia. We provide snacks and drinks, don't forget to bring your tumbler. This event is free and open to public.
M B G Satu kotak makan berisi nasi putih pulen seb M B G
Satu kotak makan berisi nasi putih pulen sebagai sumber karbohidrat utama, dimasak dari beras medium pilihan, air, sedikit garam, dan beberapa tetes minyak agar tidak cepat basi. Di sampingnya terdapat ayam semur kecap, dibuat dari potongan daging ayam, bawang merah, bawang putih, kecap manis, daun salam, lengkuas, garam, dan sedikit gula sehingga memberi asupan protein hewani yang cukup untuk pertumbuhan. Sebagai pendamping lauk utama, disediakan tempe orek manis gurih dari tempe iris tipis, bawang merah, bawang putih, cabai, kecap, dan gula merah. Tempe ini berfungsi menambah protein nabati sekaligus membuat kotak makan tampak lebih penuh, sebab protein memang sering lebih meyakinkan bila hadir rangkap dua. Untuk unsur sayuran, ada tumis wortel dan buncis yang dimasak dari wortel segar, buncis, sedikit kol, bawang putih, garam, merica, dan minyak sayur. Warna oranye-hijau pada sayur ini penting: bukan hanya untuk vitamin A dan serat, tetapi juga agar foto dokumentasi tidak terlihat terlalu pucat.Sebagai pelengkap vitamin alami, satu buah pisang atau sepotong pepaya matang diletakkan di sudut kotak. Buah dipilih yang murah, tahan banting, tidak gampang memar, dan cukup fotogenik ketika dibagikan massal. Terakhir, ditambahkan susu UHT kotak kecil berbahan susu sapi, gula, dan fortifikasi vitamin, atau kadang telur rebus utuh sebagai penutup protein tambahan.

Berbuih-buih seperti pelaksanaannya ...
Follow on Instagram

Twitter

Tweets by crcsugm

Universitas Gadjah Mada

Gedung Sekolah Pascasarjana UGM, 3rd Floor
Jl. Teknika Utara, Pogung, Yogyakarta, 55284
Email address: crcs@ugm.ac.id

 

© CRCS - Universitas Gadjah Mada

KEBIJAKAN PRIVASI/PRIVACY POLICY