Bayangkan seseorang yang rajin beribadah. Ia tidak pernah melewatkan doa, berusaha menghindari dosa sekecil apa pun, dan ingin selalu menjadi pribadi yang taat. Dari luar, hidupnya tampak ideal. Namun, jika ditelisik lebih dalam, ada kegelisahan yang terus bekerja diam-diam: takut salah, takut ibadahnya tidak diterima, takut Tuhan murka kepadanya. Lantas, Apakah kehidupan religius selalu menghadirkan ketenangan?
Di balik kemegahannya, pemahaman tentang Borobudur justru dipenuhi perdebatan, kekosongan data, hingga narasi kolonial yang diwariskan sejak awal abad ke-19. Hudaya Kandahjaya mengkritik kecenderungan kolonial tersebut dan menawarkan pendekatan lain: memahami Borobudur melalui sumber internal candi, prasasti sezaman, dan pengetahuan masyarakat Jawa sendiri.
Karya Santos If God Were a Human Rights Activist (2015) seolah membawa wawasan baru untuk merekonstruksi hak asasi manusia (HAM) sampai ke akar-akarnya. Namun, pertanyaan besar muncul: Tuhan yang mana? Tuhannya siapa? HAM yang seperti apa?
Meskipun isu jilbab telah lama menjadi bagian dari diskursus publik, kasus pelanggaran maupun pelarangan jilbab masih terus terjadi. Polanya pun bergeser. Jika dahulu intervensi negara hadir melalui larangan atau kewajiban tertulis yang kaku, kini ia bekerja lewat tekanan sosial, relasi kuasa institusional, dan normalisasi nilai mayoritas dalam interaksi sehari-hari. Jilbab lagi-lagi menjadi medan kontrol atas kuasa tubuh dan standar kelayakan moral bagi perempuan di ruang publik.
Pernahkah kita bertanya: apa yang sebenarnya terjadi ketika kita memberi nama pada sesuatu? Sekilas, menamai tampak seperti tindakan sederhana. Namun, menamai juga bisa berarti mereduksi yang berujung pada menguasai.
Di era industri mekanistik-kapitalistik saat ini, cara kita mengukur kesejahteraan sering kali terjebak dalam angka-angka statistik seperti GDP, tingkat konsumsi, atau pendapatan per kapita. Namun, ukuran-ukuran ini menyisakan pertanyaan mendasar: apakah angka tersebut benar-benar menggambarkan keberlangsungan hidup atau sekadar optimalisasi sistem ekonomi kapitalis?