Bahasa perlawanan seringkali tidak lahir dalam ruang meja kebijakan atau akademik, tetapi dalam percakapan sehari-hari warga akar rumput. Itu tercermin dalam frasa tulen khas dari Trenggalek, yaitu Tambang Emas “Ra-Ritek” (tidak perlu).
Jaminan hukum atas kebebasan beragama sudah tersedia, tetapi pelanggaran masih terus terjadi. Fellowship KBB 2026 menjadi ruang belajar bersama untuk memahami bagaimana hak, relasi kuasa, dan strategi advokasi bekerja dalam kehidupan nyata. Dari ruang kelas hingga ruang publik, KBB menuntut lebih dari sekadar pengakuan—ia membutuhkan tindakan.
Apa yang terjadi ketika dua orang mengalami kekerasan yang serupa, tetapi memiliki cara yang berbeda untuk memahami dan menceritakan pengalaman tersebut? Apakah trauma selalu memiliki bahasa yang sama?
The longer I walked through Salzburg, the more I realized that the city offers a different way of learning about religion. Sometimes a church, a public square, or a beam of light falling from a dome can open questions as significant as those raised in an academic lecture.
Penetapan Hari Kepercayaan memunculkan sejumlah pertanyaan penting. Apakah kebijakan ini menandai langkah maju menuju kesetaraan substantif, atau justru berhenti pada level simbolik? Sejauh mana negara benar-benar hadir untuk memenuhi hak-hak penghayat? Mungkinkah pengakuan yang diberikan negara justru menjadi instrumen baru untuk mengatur dan mengendalikan komunitas penghayat?
Pada akhirnya setelah semuanya usai, pertanyaan yang saya miliki di CRCS dulu kembali menghantui, “Setelah berdiskusi soal agama dan sekular, saya akan dapat kerja apa ya?”