Di era industri mekanistik-kapitalistik saat ini, cara kita mengukur kesejahteraan sering kali terjebak dalam angka-angka statistik seperti GDP, tingkat konsumsi, atau pendapatan per kapita. Namun, ukuran-ukuran ini menyisakan pertanyaan mendasar: apakah angka tersebut benar-benar menggambarkan keberlangsungan hidup atau sekadar optimalisasi sistem ekonomi kapitalis?
Bagaimana orang-orang beragama dapat berkontribusi secara finansial terhadap keberlanjutan ekologis?
Negara memobilisasi pemuka agama untuk melegitimasi Makan Bergizi Gratis dalam bahasa nilai-nilai religius. Namun, di tingkat lokal, sebagian pemimpin agama justru mengoreksi dan menegosiasikan praktiknya
Indonesia pernah mengalami satu fase singkat yang penuh harapan: Reformasi 1998. Saat itu, demokrasi dan hak asasi manusia seolah menemukan momentumnya. Namun, harapan tersebut tidak sepenuhnya bertahan. Perlahan, praktik politik kembali menunjukkan pola lama: pembatasan kebebasan atas nama stabilitas. Apa yang sebenarnya terjadi? Mengapa perubahan besar itu tidak berlanjut?
Tradisi kerap hidup dalam perjumpaan, alih-alih isolasi. Tahlilan Ceng Beng memperlihatkan bahwa praktik ziarah merupakan arena negosiasi makna antara leluhur, agama, dan kepentingan sosial yang terus berubah.
Dalam tradisi keilmuan yang sangat otoritatif, siapakah yang layak disebut sebagai filsuf? Lantas, apakah Indonesia memiliki filsufnya sendiri?