Jaminan hukum atas kebebasan beragama sudah tersedia, tetapi pelanggaran masih terus terjadi. Fellowship KBB 2026 menjadi ruang belajar bersama untuk memahami bagaimana hak, relasi kuasa, dan strategi advokasi bekerja dalam kehidupan nyata. Dari ruang kelas hingga ruang publik, KBB menuntut lebih dari sekadar pengakuan—ia membutuhkan tindakan.
Berita
Di balik kemegahannya, pemahaman tentang Borobudur justru dipenuhi perdebatan, kekosongan data, hingga narasi kolonial yang diwariskan sejak awal abad ke-19. Hudaya Kandahjaya mengkritik kecenderungan kolonial tersebut dan menawarkan pendekatan lain: memahami Borobudur melalui sumber internal candi, prasasti sezaman, dan pengetahuan masyarakat Jawa sendiri.
Menjadi bapak rumah tangga, bukan berarti berhenti menjadi imam dalam keluarga.
Selama berabad-abad budaya dan masyarakat Tionghoa telah hadir, melebur, dan menjadi bagian tak terpisahkan dari sejarah peradaban Nusantara. Jejak-jejak dinamika tersebut tersimpan dalam berbagai arsip seperti koran, surat, dan buku. Upaya penyelamatan arsip berarti membuka kembali ruang bagi narasi kebangsaan yang lebih inklusif.
Kendati berbeda cara, tiap doa dari masing-masing pemuka agama bertujuan sama: pemulihan bangsa Indonesia dari konflik berkepanjangan serta harapan akan kondisi yang lebih baik lagi. Selama prosesi tersebut, massa aksi duduk tenang seraya mengindahkan tiap untaian doa. Agama dengan caranya sendiri tengah mengadvokasi berbagai isu yang terjadi di masyarakat.
Fellowship KBB 2025 kali ini menghadirkan kelas Klinik dan Advokasi KBB sebagai bagian dari luaran yang tidak hanya menghasilkan gagasan tertulis, tetapi juga aksi nyata.