oleh Diane Butler. Esai singkat ini berangkat dari ide bahwa salah satu proses Prapto sejak awal 1970-an adalah untuk berdiskusi tentang konsep-konsep gerak, mengupas ide-ide, dan kemudian mencoba "under stand" melalui pengalaman latihan gerak.
oleh Riwanto Tirtosudarmo. Saya mempersembahkan lima puisi sebagai penghormatan saya kepada Pak Prapto. Kelima puisi ini saya tulis di tempat dan waktu yang berbeda, setiap kali saya mengenang atau memikirkannya.
oleh Martha Hesty Susilowati. Joged Amerta menawarkan pendekatan holistik yang memungkinkan perempuan untuk merebut kembali tubuh, emosi, dan identitas mereka dari batasan-batasan sosial. Artikel ini mengeksplorasi sinergi antara Gerakan Amerta dan pemberdayaan perempuan, dengan menekankan signifikansi psikologis dan potensi transformatifnya.
oleh Sephia Putri Fatima. Sepanjang hidup, Mbah Prapto mendorong "sahabat-sahabat"-nya untuk berbagi dan menyebarkan pemahaman mereka tentang karyanya.
oleh Theresia Alit. Dengan gerakannya yang luwes dan tidak terstruktur, Joget Amerta lebih menekankan proses daripada hasil—nilainya tidak diukur dari jumlah penonton. Pada akhirnya, ia terwujud sebagai kesadaran yang hidup dalam gerakan, membimbing para praktisi untuk menemukan kembali diri mereka dan menumbuhkan kepekaan.
by Diane Butler. This brief essay stems from the idea that one of Prapto’s processes since the early-1970s was to discuss about his movement concepts, to peel ideas, and then try to ‘under stand’ via the experience of movement practice. Not for grasping onto an identity or category of work; rather for ‘re-cognizing’ that one’s understanding and awareness of movement arts and life will always be changing according to the environment and journey of time.