Tradisi kerap hidup dalam perjumpaan, alih-alih isolasi. Tahlilan Ceng Beng memperlihatkan bahwa praktik ziarah merupakan arena negosiasi makna antara leluhur, agama, dan kepentingan sosial yang terus berubah.
Perspective
Reduksi makam sebagai tempat yang keramat dan angker justru mengaburkan fungsi lain makam sebagai situs memori sebuah masyarakat. Di titik ini, makam Rogocolo hadir sebagai sebagai fragmen kecil bagaimana makam menjadi ruang tempat memori terus direproduksi melalui ingatan kolektif dan tata spasial.
Perayaan Nyepi dan Idulfitri yang berimpitan memunculkan pertanyaan yang jarang dibahas secara terbuka: siapa yang harus menyesuaikan diri?
Apa jadinya ketika perempuan tidak lagi sekadar menjadi objek fatwa, tetapi ikut terlibat merumuskannya?
Ketakutan akan neraka dan obsesi akan keselamatan yang sering diinstitusionalisasikan dalam pendidikan agama telah mengubah iman menjadi alat kontrol. Alih-alih melahirkan kerendahan hati, ketakutan justru memupuk kesombongan dan memperkuat diskriminasi.
Gerakan perempuan Samin melawan tambang semen di Pegunungan Kendeng tidak hanya menjadi bentuk perlawanan terhadap eksploitasi, tetapi juga penolakan terhadap logika dualisme manusia-alam. Perjuangan tersebut merepresentasikan upaya mewujudkan kewargaan ekologis yang berangkat dari pengalaman tubuh perempuan.