Jika kolonialisme Eropa dulu datang membawa gold, glory, dan gospel; Indonesia tampaknya meluncurkan spin-off lokalnya: gold, glory, dan gus.
Selama berabad-abad budaya dan masyarakat Tionghoa telah hadir, melebur, dan menjadi bagian tak terpisahkan dari sejarah peradaban Nusantara. Jejak-jejak dinamika tersebut tersimpan dalam berbagai arsip seperti koran, surat, dan buku. Upaya penyelamatan arsip berarti membuka kembali ruang bagi narasi kebangsaan yang lebih inklusif.
Lebih dari seribu salib kayu berwarna merah berdiri di pelbagai titik tanah ulayat suku Awyu di Boven Digoel, Papua Selatan. Salib itu bukan sekadar penanda wilayah ulayat suku Awyu, melainkan juga sebagai bahasa keagamaan dan kultural yang melindungi mereka dari ancaman rencana pembangunan perkebunan sawit.
Upaya penyeragaman berbagai kategori agama leluhur dan keyakinan turun-temurun ke dalam satu payung "Kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa" berisiko melahirkan bentuk baru dari politik eksklusi: “politik kepercayaan”.
Salah satu pelajaran penting yang saya dapat dari CRCS adalah soal paradigma beragama dengan pendekatan intersubjektivitas. Ini adalah cara berpikir yang menolak relasi kuasa sepihak, dan sebaliknya membangun hubungan yang setara dan kesalingan.
Di samping mengandung unsur-unsur protektif yang dapat menurunkan gejala depresi, agama juga dekat dengan risiko-risiko tertentu yang berpotensi memperburuk kesehatan mental